
Rencananya sore ini aku dan Saka akan berangkat ke Lombok setelah urusan aku dan dia selesai. Siapa sangka saat aku dalam perjalanan menuju bandara bersama Saka, sebuah mobil seperti mengikuti dari belakang. Aku memperhatikan itu dari kaca spion, meski sudah diberi jalan oleh Saka untuk lewat tapi mobil sedan hitam itu tetap teratur menjaga jarak di belakang mobil Saka.
"Kayaknya mobil di belakang kita ngikutin deh," ucapku pada Saka yang kemudian memandang ke arah spion.
"Kurang kerjaan kali." Jawab Saka santai.
Namun di jalan yang mulai terlihat sepi, mobil itu tiba-tiba mencegat mobil Saka di depan. Untung saja Saka memiliki keahlian mengemudi yang cukup baik. Dia menekan pedal rem dengan sangat cepat hingga tidak menabrak mobil di depannya itu.
"Demi Tuhan, siapa yang sudah menghalangi jalanku seperti ini. Bersiaplah untuk kuhajar." Umpat saga emosi.
Saka keluar dari mobil penuh marah, aku berusaha mencegah dan menenangkan tapi dia sudah menggedor pintu kaca mobil orang itu.
Tak lama kemudian keluarlah seorang pria yang tidak lain adalah Tefan. Astaga!
Aku berdiri di sisi Saka yang matanya sudah memerah menahan marah.
"Apa mau kamu?" Tanya Saka dengan mencekal kerah baju Tefan kuat-kuat.
Aku tak menyangka Saka akan bereaksi seperti itu, aku menarik tangan Saka, namun tenagaku tidak cukup kuat. Sampai akhirnya tangan besarnya itu merenggang dan melepas kerah baju Tefan.
"Santai Bro, saya tidak punya urusan dengan anda. Urusan saya dengan perempuan yang bersama anda." Tefan menjawab santai dan wajah yang cukup menyebalkan.
"Urusan dia adalah urusan saya juga. Kamu mau apa?"
"Oh hebat sekali. Tapi saya tidak punya waktu mengurus urusan dengan anda. Biarkan saya bicara padanya terlebih dulu."
"Jika saya tidak mau?"
"Aku bukan mau bicara sama kamu, saya mau bicara pada Riana. Riana please, kasih aku waktu sebentar." Raut wajah Tefan seketika berubah saat memohon padaku.
"Riana apa kamu mengenalnya?"
"Iyah aku kenal. Beri kami waktu sebentar, biar aku bicara padanya."
"Baiklah jika kamu yang meminta. Aku tunggu di sini."
Tefan tersenyum puas ke arah Saka yang dibalas dengan tatapan penuh marah.
Aku berusaha menenangkan Saka dengan tersenyum padanya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Sekarang kamu bilang, kamu mau apa?" Ucapku kemudian pada Tefan setelah berjarak agak jauh dari Saka.
"Aku mau kita kayak dulu lagi." jawabnya pelan dan penuh harap.
"Tidak bisa Fan." aku hanya menjawab pendek dan memalingkan wajah darinya.
"Tapi kenapa Riana?" Dia berusaha meraih jemariku namun aku mengelak. Aku tidak mau Saka berpikiran macam-macam. Setidaknya aku menjaga perasaan Saka.
"Semua sudah berbeda, terlebih lagi orang tua kamu."
__ADS_1
"Apa yang berbeda Riana? Jangan bilang kamu tak mencintai aku lagi? Masalah orang tua kita, aku sendiri yang akan bicara sama mereka. Please, kasih aku kesempatan."
"Tidak Fan, ke mana kamu saat orang tua kamu kembali memporak-porandakan usahaku? Orang tua kamu tidak akan pernah segan untuk menghancurkan aku Fan. Jadi cukup, berhentilah."
"Apa Papa melakukan itu lagi sama kamu?"
"Lebih dari itu."
"Arghh..... shit!!!"
"Kalau tidak ada lagi yang mau kamu bicarakan sebaiknya kita berpisah sekarang dan jangan pernah menemuiku lagi."
"Aku Mencintaimu Riana."
"Fan cukup."
"Apa hubungan kamu dengan dia?" Tanya Tefan sembari menunjuk ke arah Saka.
"Bukan urusan kamu."
Aku pun berlalu meninggalkan dia sendirian, aku jalan ke arah Saka. Tapi tangan Saka menarikku paksa dan ingin merengkuhku dalam pelukannya. Aku terkejut dan berusaha berontak. Melihat itu, Saka tidak tinggal diam. Dia menghajar wajah Tefan dan mengambilku dari tangan Tefan.
Akhirnya tanpa pikir panjang Tefan membalas pukulan itu dan mengenai pipi kiri Saka. Mereka saling memukul satu sama lain, saling menjatuhkan dan tidak sadar kalau mereka sudah sama-sama babak belur.
Aku yang menyaksikan itu tak bisa berbuat apa-apa. Aku membiarkan mereka bergumul di tanah, mungkin dengan begitu baru mereka sadar kalau tindakan mereka terlalu kekanakan.
"SUDAH CUKUP!!!"
"Sekarang kalian puas? Kalian persis anak kecil."
Keduanya tidak ada yang menjawab, mereka hanya memegangi wajah mereka yang sudah babak belur.
"Kamu pergilah dari sini." ucapku pada Tefan.
"Saka, bisakah kita pulang saja? Aku tidak lagi berminat untuk liburan sekarang. Mungkin lain kali, antarkan aku pulang. Kamu juga sebaiknya mengobati luka kamu."
Ucapku berlalu di hadapan pria besar tapi bersifat kekanakan itu. Aku masuk ke dalam mobil, menunggu Saka di sana.
Kulihat dia berjalan ke arahku dengan kaki agak pincang, dia masih memegangi wajahnya, sementara Tefan masih duduk di sana macam ayam kalah sabung.
"Maafkan aku Riana." Saka memulai bicara setelah terdiam cukup lama."
Aku bergeming dan hanya mengedarkan pandangan ke arah jalan. Kita terpaksa putar balik dan tak jadi ke bandara. Aku tidak habis pikir kenapa sampai Tefan menyusul dan tahu aku akan ke bandara.
"Bicaralah Riana, jangan diam seperti ini."
"Menyetirlah dengan benar."
Suasana menjadi hening, Saka akhirnya berhenti bicara. Saka tidak mengantarku pulang terlebih dahulu, melainkan langsung ke apartemennya.
__ADS_1
"Ikutlah denganku sebentar ke apartemen."
"Kita sudah di sini, apa aku harus menolak?"
Jawabku sekenanya karena menolak pun percuma, toh aku kita berdua sudah sampai di parkiran apartemen tempatnya tinggal.
Sampai di Apartemennya yang terbilang luas, Saka menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Berbaringlah, katakan di mana kota P3K-mu. Biar aku mengobati lukamu."
"Di sana."
Saka menunjukkan tempat kotak P3K itu dan aku berangsur mengambilnya. Aku mengobati luka lebam Saka di wajahnya, sesekali dia meringis karena kesakitan.
"Diamlah! Berhentilah merengek seperti anak kecil."
"Pelan-pelan Riana."
"Sudah tahu berkelahi itu menyebabkan luka, lagian kamu ngapain sih pakai berkelahi segala."
"Aku tidak suka dia memaksa kamu Riana."
"Ya setidaknya jangan main pukul seperti tadi Saka."
"Aku tidak bisa membiarkan dia menyentuh kamu, aku tidak bisa. Tahukah kamu Riana, aku cemburu. Sekalipun aku tidak tahu hubungan kalian di masa lalu seperti apa? Tetap saja aku tidak mau ada laki-laki lain yang bertindak seenaknya terhadap kamu."
Aku terdiam mendengar penuturan Saka, kurasakan ada ketulusan dari caranya bicara. Namun tetap saja aku kesal padanya karena harus berakhir seperti tadi.
Bukan cuma terluka, lihatlah rencana liburan kita juga gagal. Akhirnya semua jadi percuma.
"Istirahatlah, aku pulang dulu. Kamu harus rawat dirimu dengan benar."
"Biar aku mengantarmu."
"Sudah kubilang kamu istirahat, jangan memaksakan diri. Aku bisa pesan taksi."
"Riana, kamu berhutang cerita padaku."
Aku menatapnya sesaat lalu akhirnya melangkah keluar dari apartemennya.
.
.
.
*Hhh... Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Kehadiran Tefan membuat semuanya bertambah rumit. Bisakah sekali ini saja, jangan sesatkan aku dalam kisah percintaan yang lebih rumit dari sebelumnya?
...
__ADS_1
Bersambung*...