Complicated Love #2

Complicated Love #2
Sheril Yang Malang


__ADS_3

"Sayang ada apa? Kenapa kamu meninggalkan Saka di luar?" Tefan bertanya saat Riana tiba-tiba masuk ke kamar. Kiano sudah diajak pergi oleh asisten rumah mereka untuk bermain.


"Terus kamu mau aku gimana, Fan? Kamu mau aku terus di sana dan membiarkan semuanya semakin sulit?" Riana menjawab dengan nada suara agak tinggi.


"Hei, aku nggak bermaksud begitu. Saka baru saja sembuh dari sakit, dia belum sepenuhnya mengingat semua yang terjadi. Pelan-pelan saja, sayang."


"Nggak bisa, Fan. Dia itu cepat atau lambat memang harus tahu yang sebenarnya. Aku tidak mau mamanya Saka memanfaatkan situasi antara aku dan Saka. Terus bagaimana dengan kamu? Bagaimana dengan Sheril, isteri Saka? Aku tahu yang dirasakan Sheril, karena aku juga perempuan, Fan."


"Oke tenangkan diri kamu dulu di sini. Biar aku yang temui mereka sebentar di luar."


Riana menghempas dirinya di atas tempat tidur seraya memijat pelipisnya karena kepalanya mendadak pusing.


Saat Tefan sampai di ruang tamu, dia mendapati tamu-tamunya sudah mau pulang.


"Kalian mau ke mana?"


"Maaf Pak, mungkin sebaiknya kita pulang saja." Shena yang menjawab pertanyaan dari Tefan.


Lalu tanpa disangka, Saka berbalik dan menarik kerah kemeja yang dipakai Tefan.


"Kamu ... kamu kenapa merebut Riana dariku? Kamu tidak pernah benar-benar mencintainya, kan? Kamu yang buat Riana sakit dulu, terus kenapa sekarang berlagak sok pahlawan dan menikahi isteri orang, hah?"


Beruntung Tefan sudah bukan lagi orang yang emosian seperti dulu. Dia pun menghadapi Saka tanpa emosi, dia membiarkan Saka meluapkan emosinya. Bagaimana pun terakhir mereka bertemu memang hububannya saling memanas.


"Mas, jangan begitu. Ini rumah orang." Sheril berusaha menenangkan Saka. Namun cengkeraman Saka terlalu kuat di kerah kemeja Saka.


"Cukup! Jangan ikut campur kamu, kamu tidak tahu apa-apa masalah ini." Bentak Saka pada Sheril.


Namun Sheril masih belum mau melepas tangannya dari lengan Saka. Hingga Saka semakin terpancing dan geram akan yang dilakukan Sheril. Dengan satu tangan dia hempaskan Sheril hingga terjatuh. Pelipis Sheril terbentur ujung meja dan dari sana mengalir darah segar.


Shena memekik histeris. "Mbak ... Mbak Sheril ...!" Dia meraih tubuh kakak iparnya itu. Sementara mamanya hanya diam saja menatap semua kejadian itu berlangsung.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, Shen."


"Tidak apa-apa bagaimana? Itu pelipis mbak berdarah. Tolong dong!"


Setelah Shena meminta tolong barulah Saka dan Tefan tersadar kalau Sheril terbentur dan berdarah.


"Astaga ...! Apa yang terjadi?" Riana berlari keluar karena mendengar keributan dan ketika sampai di ruang tamu dia mendapati semua kekacauan itu.


"Sheril, ada apa denganmu?" tanya Riana beralih pada Sheril yang wajahnya sudah berwarna merah karena darah yang mengalir.


"Kalian apa-apaan sih pakai berantem segala?"


"Bukan Pak Tefan yang salah mbak, Mas Saka yang salah. Dia yang mendorong tubuh Mbak Sheril hingga terjatuh padahal niat Mbak Sheril hanya meredam emosi Mas Saka."


Tatapan Riana beralih pada Saka yang memang wajahnya memerah dikarenakan emosi yang meledak-ledak.


"Tunggu apa lagi kalian? Bawa Sheril ke rumah sakit cepat!" teriak Riana.


"Aku tidak apa-apa, Ri. Ini hanya luka kecil."


"Iyah, luka kecil kayak gitu dibesar-besarkan. Pakai mau dibawa ke rumah sakit segala." potong mertuanya yang lantas membuat Shena menatap tajam mamanya.


"Mama emang gak punya hati ya, Mbak Sheril berdarah bisa-bisanya Mama berbicara seperti itu." Bentak Shena.


"Sudah jangan bertengkar lagi, aku memang tidak apa-apa." ucap Sheril yang berusaha menengahi perdebatan ibu dan anak itu.


***


Meski Sheril terus berkata tidak apa-apa, Riana tetap saja parnoan. Makanya dia bersikeras membawa Sheril ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Sheril segera ditangani dokter. Sheril mendapatkan beberapa jahitan akibat perbuatan Saka.


"Bagaimana masih sakit ya?" tanya Riana penuh perhatian.

__ADS_1


"Nggak kok mbak. Terimakasih ya."


"Saka keterlaluan sama kamu, Sher."


"Tidak mbak, mungkin ini adalah ganjaran untuk aku yang dulu sangat ingin dinikahi oleh Mas Saka. Posisinya waktu itu aku emang lagi down banget, jadi bertemu dengan Saka lagi itu seperti mood booster yang bikin semangat untuk hidup lagi. Nggak pernah terpikirkan akan resiko seperti ini, belum lagi Mama Saka meyakinkan aku bahwa mbak-lah yang meninggalkan Mas Saka saat sakit. Dulunya aku sempat benci banget sama Mbak, terus kepikiran ingin merebut Kiano dari Mbak. Tapi niat buruk memang nggak selalu mulus. Maafkan aku, mbak. Aku tahu gimana rasanya dijauhkan dari anak sendiri, karena itu aku berpikir lagi seribu kali ketika ingin memuluskan keinginan tersebut."


"Lalu ... sekarang bagaimana rencana kamu? Kamu tidak boleh nyerah Sher, kamu harus bisa menaklukkan Saka. Buat dia ingat semua tentang kalian, tentang pernikahan kalian."


"Aku akan berusaha, Mbak."


"Bagus. Kalau begitu, aku keluar dulu sekalian mau pulang. Aku tidak mau berlama-lama di sini jika Saka masih ada. Aku takut dia nekat lagi."


"Sekali lagi terimakasih, Mbak."


***


Saat Riana ingin pulang bersama Tefan, Saka masih sempat menarik pergelangan tangan Riana. Berusaha menghentikan wanita itu, wajahnya yang tampak mengiba, membuat pertahanan Riana nyaris runtuh. Dia juga kasihan pada Saka, bagaimana pun di sini dia hanya korban. Korban dari mamanya sendiri yang terlalu egois.


"Lepaskan aku, Mas. Aku mau pulang. Sebaiknya kamu temui Sheril di dalam, dia membutuhkan dirimu."


Riana perlahan melepas pegangan tangan Saka, lalu pergi. Air mata Riana hampir tumpah melihat wajah mantan suaminya itu. Tapi dia harus bagaimana? Nyatanya sekarang mereka tak punya hubungan apapun lagi.


Sepanjang perjalanan pulang, Riana terus membisu. Tefan juga tak berniat mengganggu Riana yang entah sedang memikirkan apa. Dia tahu isterinya itu sedang dalam masa paling kalut. Tefan selaku kepala keluarga tak boleh membiarkan Riana dalam keadaan terpuruk.


Dia hanya menempatkan tangannya di atas tangan Riana. Sesederhana itu perhatian yang diberikan kepada isterinya tersebut. Apa yang dirasakan Riana ketika sentuhan tangan Tefan bertemu dengan kulitnya. Rasa aman dan nyaman, dia menatap mata Tefan sejurus kemudian dan tersenyum kilas.


"Terimakasih selalu ada di saat aku dalam keadaan yang kurang baik."


"Always, sayang. Kamu adalah segalanya, jika kamu terus murung dan sedih seperti ini aku merasa telah gagal menjadi suami untukmu."


"Iyah, sekali lagi terimakasih sayang."

__ADS_1


Riana mengeratkan jemarinya ke jemari Tefan. Mereka pun saling merasakan perasaan satu sama lain. Merasakan bahwa hanya dengan sebuah sentuhan sederhana mampu membuat pasangan merasakan lebih baik.


__ADS_2