Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 14. Ucapan Perpisahan


__ADS_3

Mobilku melaju ke arah rumah sakit yang disebutkan Papa Tefan. Aku menyanggupi syaratnya untuk berpisah dengan Tefan asal ia mengizinkanku menemuinya dan mengetahui kondisinya untuk yang terakhir kalinya. Walau aku berat hati melakukannya, bagaimanapun harus ada yang mengakhiri. Mau atau tidak, suka atau tidak suka.


Aku memikirkan banyak hal sepanjang perjalanan, termasuk memikirkan kalimat seperti apa yang harus aku katakan pada Tefan agar dia mengerti, bahwa situasinya tidak akan pernah berpihak pada cinta yang sedang mengikat kami sekarang.


Aku sudah sampai di halaman rumah sakit. Kutarik nafas dalam-dalam. Mencoba menenangkan diri, berharap semua akan berjalan sesuai rencana. Aku tidak tahu apakah aku bisa menahan diri bila melihat kondisi Tefan nantinya. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin.


Aku keluar dari mobil, bersiap masuk dan menghadapi kenyataan pahit yang sebentar lagi terjadi. Langkahku mantap berjalan masuk, mecoba abai terhadap perasaan khawatir.


Suasana rumah sakit sore itu begitu lengang, aku berjalan menyusuri koridor demi koridor dengan langkah yang sedikit dipercepat. Walau hanya memiliki waktu lima menit, namun kuharap Tefan mau mengerti ucapanku dan kita berpisah dengan cara yang baik.


Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menginginkan perpisahan dengan orang yang dicintainya. Pengorbanan kerap kali dibutuhkan demi kebahagiaan salah satunya, atau kebahagiaan orang-orang sekeliling kita yang juga mencintai kita.


Aku mencari kamar sesuai dengan tanda yang diberikan oleh Papa Tefan lewat sms. Setelah menaiki beberapa lantai tepat di ujung koridor kulihat ada beberapa orang dengan tubuh tegap sedang berjaga di luar pintu kamar rawat pasien. Aku yakin itulah kamarnya.


Aku berjalan mendekat, tatapan curiga para penjaga mengawasi langkahku hingga berhenti di depan pintu kamar.


“Maaf, aku sudah ada janji dengan Tefan dan atas persetujuan Papanya.” Ucapku pada salah satu orang yang berdiri di depan pintu dengan kacamata hitam.


“Waktu kamu lima menit.”


Tanpa basa basi dan menunjukkan sikap ramah, hal itu benar-benar membuatku bergidik. Orang-orang suruhan Papa Tefan terlihat kejam-kejam semua. Hanya menurut pada satu orang, Siapa lagi kalau bukan Papa Tefan yang merupakan bos besarnya.


“Aku tahu.” jawabku ringkas.

__ADS_1


Aku masuk ke dalam dan kulihat kondisi Tefan yang terbaring lumayan parah. Melihatnya seperti itu, ingin rasanya aku berlari ke arahnya dan memeluknya saat itu juga. Namun bukan itu tujuan kedatanganku, aku datang menemuinya untuk tujuan lain.


Sebuah pertemuan untuk meyakinkan dia akan satu hal. Waktu yang kupunya sangat terbatas, Papa Tefan memberi waktu tidak lebih dari lima menit. Aku berusaha setegar mungkin menghadapi Tefan, dia tidak boleh melihat ketegangan yang saat ini sedang kurasakan. Dia menoleh ke arahku dengan tatapan layu.


“Maafkan aku.” Ucapnya lemah. Sekujur tubuhnya lebam-lebam bahkan wajahnya tampak terluka parah.


“Maaf untuk apa?” jawabku mencoba mencari jawaban.


“Aku tidak bisa meyakinkan Papa. Tapi aku tidak akan pernah menyerah Riana. Tidak akan.” Wajah Tefan sekilas tampak berusaha dengan baik menunjukkan padaku bahwa dirinya akan berhasil membujuk Papanya. Padahal kenyataannya adalah hal itu akan berakhir sia-sia.


“Ssssttt.... Jangan bicara lagi Fan. Lihat kondisi kamu sedang tidak baik, kamu dengarkan aku saja. Karena aku tidak akan mengulang kalimat ini.”


“Kamu bicara apa Riana.” tanyanya heran.


“Kamu tidak salah Riana. Logika dari mana yang kamu dapat sampai kamu menyalahkan diri kamu seperti itu?”


“Fan, waktu aku tidak banyak aku harus pergi. Kumohon ikutilah permintaanku ini, satu-satunya yang kuinginkan sekarang adalah melihat Nina bahagia bersama kamu. Tidak peduli apapun, kamu harus menikahinya. Hubungan kita, sudah berakhir.”


Aku menahan diriku agar tangisku tidak pecah di kamar pasien tempat dia dirawat. Sekuat tenaga aku mencobanya.


“Tidak Riana. Kamu tidak boleh menyerah seperti ini.”


Aku tidak sanggup menatap wajah Tefan. Wajahnya begitu muram, belum lagi matanya yang kelihatan memerah berkaca-kaca, antara dipenuhi amarah dan kesedihan. Waktuku telah habis aku harus pergi, jika aku lebih lama di sana, mungkin saja aku akan berubah pikiran.

__ADS_1


“Fan... penuhi permintaanku. Kumohon! Sekarang aku sudah harus pergi.”


Aku bergegas meninggalkan ruang rawat inap itu, aku tak sanggup berada di sana lagi untuk melihat wajah Tefan yang bagai frustasi. Setelah pintu kamar itu tertutup aku berlari tanpa tujuan, membawa luka di hatiku yang memar dan lebam. Tak hanya mataku yang menangis tapi hatiku juga ikut menangis.


Kutinggalkan kamar itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku tahu perasaan kamu juga hancur Fan, tapi ini semua demi kebaikan kamu. Sudah seharusnya kamu bersama Nina. Abaikan perasaanku, abaikan perasan kita.


Tidak pernah aku merasa sesakit ini sebelumnya. Seperti kehilangan sebagian diriku, hingga aku berjalan seperti tak memijak bumi. Oh Tuhan, kumohon kuatkan aku. Aku tidak sanggup membayangkan, hari-hari ke depan yang aku lalui dan yang akan Tefan lalui.


Seberapa besar perasaanku pada Tefan hanya Kau yang tahu Tuhan. Aku melakukan semua ini demi kebaikan bersama. Aku tidak mungkin membiarkan Tefan menderita di bawah tekanan Papanya. Oleh karena itu, aku rela pergi darinya agar ia tidak lagi mendapatkan perlakuan kasar dari papanya itu.


Orangtua macam apa yang tega membuat anaknya terbaring sebegitu parahnya karena dipukuli oleh anak buahnya sendiri. Melihat wajah Tefan, sama tidak sanggupnya aku untuk tak melihatnya. Tapi aku harus bagaimana? Aku bisa apa terhadap takdir yang menyambut kami tak berpihak kepada kami.


Maafkan aku....


*


*


Sampai di sebuah taman rumah sakit, aku terduduk lemas dengan mata yang sembab dan belum usai mengeluarkan air mata.


Sesakit inikah sebuah perpisahan? Aku ingin waktu bertolak ke belakang dan tak ada lagi kesedihan seperti ini. Apakah yang salah dari dua insan yang saling mencintai?


Waktu yang mempertemukan dan waktu pula yang memisahkan begitu juga dengan luka kuharap waktu bisa menyembuhkannya tak peduli selama apa. Satu hal yang kutahu saat ini adalah Tefan telah jatuh cinta padaku. Mengetahui hal itu, aku sudah cukup tenang meski tak bisa saling memeluk lagi satu sama lain.

__ADS_1


Tidak semua cinta harus bersama, beberapa ada yang harus saling merelakan dan melepas cintanya untuk yang lain. Seperti hujan yang jatuh ke bumi, beberapa ada yang menderap ke tanah beberapa lainnya tidak. Tidak peduli lagi apa yang terjadi nanti, sebagaimana yang hatiku katakan. Mencintai atau tak mencintai, hidup haruslah tetap berjalan semestinya.


__ADS_2