Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 28. Dia Menghancurkan Milikku.


__ADS_3

.


.


.


"Sepertinya kamu jago juga ya dalam hal negoisasi. Aku mendengar beberapa percakapan kalian barusan, aku akui kamu sangat menunjukkan siapa dirimu. Kamu sangat pantas untuk urusan marketing. Pantas saja kudengar dari Mama, bisnis kamu hanya dalam beberapa tahun saja sudah memiliki cabang di mana-mana."


Dia berbicara begitu saja saat aku telah berpindah meja ke tempat dia sedang menikmati segelas minuman.


"Biasa saja, aku melakukannya tanpa merasa aku ini begitu hebat dalam bisnis tersebut. Mungkin bukan aku yang jago, tapi kliennya memang membutuhkan kerjasama denganku."


"Apa bedanya. Lagian aku menyaksikan sendiri bagaimana kamu begitu menguasai bahan pembicaraan barusan."


"Mau pesan apa?" Tanyaku tanpa memperpanjang obrolan barusan.


"Apa saja, kamu yang pesankan."


Apa-apaan sih.


"Bagaimana aku tahu apa yang kamu sukai?"


Akhirnya setelah berdebat cukup lama, dia mengalah dan memutuskan dia yang memesan makanan termasuk makanan untukku dan aku tidak boleh protes, katanya. Pria ini kenapa bisa menyebalkan sekali.


"Aku akan antar kamu kembali ke kantor, aku harus mengurus restoranku." ucapnya kemudian.


Padahal dari awal tidak ada yang meminta dia untuk mengantarku ketemu klien. Dia harusnya bersyukur aku sudah mau dia ajak makan. Sombong sekali pria ini. Huh!


Aku hanya mengangguk, membiarkan dia melakukan apapun yang dia sukai. Di dalam mobil suasana menjadi senyap, aku tidak mau terlibat lagi pembicaraan dengannya. Kubiarkan Saka fokus menyetir sampai tidak kusangka aku sudah berada di depan tokoku.


"Turunlah! Aku akan parkirkan mobilmu."


Aku melakukan seperti yang dia minta. Setelah aku mengambil kunci mobil darinya, aku pun segera masuk ke dalam toko tanpa mengecek apakah dia sudah pergi atau belum. Mungkin sikapku ini sedikit berlebihan, tapi aku rasa ini setimpal buat dia.

__ADS_1


Aku baru saja menghempaskan tubuhku ke sofa ketika ponselku tiba-tiba menjerit.


"Halo!"


"Bagaimana kesan pertama kamu ketemu dia?"


Tidak disangka suara di sebrang telpon itu langsung menembak begitu saja. Bahkan ucapan halo yang kuucapkan pun tak dibalas olehnya. Mama benar-benar tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya.


"Biasa saja Ma, memangnya Mama berharap kesan seperti apa?"


"Ya apa kek. Tapi kamu senang tidak ketemu dia?"


"Dia terlalu mendominasi, pemaksa, dia bahkan tidak membiarkan aku berpikir sejenak untuk mempertimbangkan ajakan makan siangnya. Apa itu bisa dibilang suatu kesan yang baik Mam?"


"Paling tidak dia sudah menunjukkan siapa dirinya, Mama harap kamu bisa berbaik hati padanya. Lagi pula aku yakin dia bisa mendampingi kamu."


"Mama sebaiknya jangan terlalu berharap, aku tidak mau Mama kecewa nantinya."


Fiuh!! Sepertinya Mama benar-benar ingin aku berbaik hati pada Saka. Tak kusangka Mama sangat ingin aku bersama dengan pria ini. Tapi bagaimana bisa? Bukankah untuk saling tahu satu sama lain itu butuh proses? Apalagi keinginan Mama adalah agar aku bisa segera menikah dengan pria itu.


Setelah berdiam cukup lama di dalam ruangan, salah satu karyawan mengetuk pintu dan aku mempersilakannya masuk. Kulihat wajahnya seperti sedang khawatir atau gelisah.


"Bu, ada yang mencari Ibu di luar. Sebaiknya Ibu temui, sebelum Bapak itu menghancurkan isi toko karena dia sepertinya membawa banyak pengawal."


"Apa maksud kamu? Bapak siapa yang kamu bicarakan?"


"Cepat Bu!"


Tak lama kudengar ada sebuah keributan di luar. Aku segera ke sana dan melihat apa yang telah terjadi.


"Apa-apaan ini" Teriakku.


Akhirnya mereka berhenti melakukan pengrusakan. Pelanggan berhamburan keluar toko dan satpam yang kupercayakan menjaga toko ini juga rupanya tidak berkutik di tangan para pengawalnya.

__ADS_1


"Akhirnya kita bertemu lagi. Rupanya hidupmu cukup baik, kudengar usahamu sekarang lebih berkembang. Tapi sayang hal itu tidak akan berlangsung lebih lama lagi. Sebaiknya kamu bereskan tempat ini, karena aku tidak mau ada bangunan lusuh dan jelek berdiri di atas tanahku."


Nada sombong dan mengancam itu sangat membuatku marah. Aku ingin sekali meludahi wajah mantan sahabat Papa ini. Yah, pria tua bangka ini lagi-lagi kembali ingin merusak apa yang kumiliki.


"Apa maksud anda? Tanah ini sudah kubeli dari pemiliknya, jangan harap anda bisa melakukan hal sewenang-wenang. Ini milik saya, jadi mengapa saya harus mendengar kata-kata anda yang menjijikan itu."


"Rupanya kamu banyak kemajuan, sekarang kamu bahkan berani berkata lancang di hadapanku. Sungguh perempuan yang tidak tahu malu. Cepat bereskan atau anak buahku menghancurkan semuanya."


Gigiku gemeretak menahan amarah. Sementara itu anak buahnya mulai melakukan aksi pengrusakan. Aku segera meminta pada karyawanku agar segera menelpon polisi.


"Kamu mau menelpon polisi? Sebelum kamu melakukan itu, baca ini terlebih dahulu. Biar kamu tidak begitu sombong di depanku."


Pak Roy melemparkan sebuah amplop cokelat dan aku segera membuka amplop itu. Mataku membelalak setelah membaca isinya. "Tanah tersebut adalah milik Roy Rahadian". Bagaimana bisa? Bukankah sebelum aku membangun bangunan di atas tanah ini, semua urusan telah selesai? Bagaimana bisa tanah ini tiba-tiba menjadi miliknya. Sialan!


"Kamu sudah membacanya? Sekarang kamu paham kan mengapa aku mengusirmu dari sini. Aku beri kamu waktu tiga hari untuk membereskan semuanya. Makanya jangan pernah bermain-main denganku."


Aku melemparkan amplop coklat itu di hadapannya, namun dia hanya tersenyum sinis seperti menghinaku. Lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukanku lagi.


Seluruh karyawan mendekat padaku dan memberikan semangat, berusaha menghibur diriku yang baru saja mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan.


Aku tidak percaya pemilik tanah yang semula telah memberikan kuasa pada lelaki tua itu dan menggunakannya untum menghancurkanku. Nina benar, mulai sekarang aku harus benar-benar menggunakan strategi yang jitu untuk menghadapi Pak Roy. Karena dia tidak akan melepaskan aku begitu saja.


Aku meminta karyawan untuk pulang terlebih dahulu, tapi aku berpesan pada mereka agar kembali lagi esok hari dan mulai membantuku memindahkan segala isi toko dengan cepat. Menaruhnya ke setiap cabang dan mencari lokasi kantor pusat yang tak akan mungkin disentuh oleh orang jahat seperti lelaki tua itu.


Aku tidak habis pikir, mengapa sekarang segalanya menjadi lebih sulit. Tidak bisakah lelaki tua itu membiarkan aku saja, aku tidak lagi mengusik anaknya, apa aku begitu mengancam hidupnya sampai segala sesuatu yang berhubungan denganku akan segera dihancurkannya begitu saja.


.


.


.


Halo teman-teman pembaca, tetap dukung cerita ini yah dengan cara like, coment and vote. Trimakasih sudah membaca tulisanku sejauh ini. Semoga kalian suka. Oh iya, jangan lupa untuk mampir juga ke tulisanku yang lainnya yang berjudul Jihan. Selamat membaca dan selamat tahun baru ya.... :*

__ADS_1


__ADS_2