
"Fan bangun... kita harus pergi! Kita harus cepat, sebelum semuanya terlambat."
Dengan mata sedikit merah, Tefan terbangun mengucek-ngucek matanya. Dengan santai ia menjawab.
"Ada apa?"
"Papamu ke sini, kita harus cepat."
"Tapi untuk apa?"
"Kamu mau dipukuli lagi hingga babak belur? Aku bahkan tak tahu apa yang akan dilakukan papamu padaku."
"Jangan takut Yan, ada aku."
"Fan, kita tidak harus berdiam di sini dan menunggu mereka datang kan? Papamu itu gila."
"Aku tidak mau lari lagi."
"Lalu untuk apa aku di sini sekarang? Jika bukan karena mencari kamu yang kabur?"
"Kamu benar-benar ingin pergi?"
"Setidaknya kita bisa memikirkan cara untuk menemui Papamu nanti. Pikirkanlah Fan."
Aku turun dari tempat tidur, mengambil jaket yang tergolek di sebuah kursi. Meraih kunci mobil dari tas dan hendak pergi.
"Baiklah, kita pergi bersama." ucap Tefan kemudian.
Mobil yang mereka kendarai melaju dengan cepat, pagi itu suasana masih sangat sepi. Mobil melaju membelah jalan, aku dan Tefan terdiam di dalamnya. Hati kami diselimuti cemas, juga rasa takut yang berusaha kami tutupi masing-masing.
Satu tangan Tefan mengendalikan setir, satu lagi menggenggam erat tanganku. Rasa hangat merasuk tiba-tiba, perlahan cemas itu berangsur berkurang.
Sementara di tempat yang berbeda, sebuah mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan rumah Riana diikuti beberapa mobil di belakangnya.
Nyonya Marina yang merupakan Mama Riana terkejut melihat rombongan mobil itu. Orang-orang berjas turun dari mobil, terakhir adalah mobil paling mentereng, pintu dibukakan untuknya dan keluarlah Lelaki tua berusia sekitar 60 tahunan yang tak lain adalah Pak Roy Papanya Tefan.
"Ada angin apa rupanya yang membawa anda datang ke rumah kami?"
"Kamu masih saja bisa menyombongkan diri padahal sudah tidak memiliki apa-apa Marina."
"Langsung saja, bukankah anda bukan orang yang pandai basa basi."
"Jadi begitu. Periksa rumahnya....!" Perintahnya kepada anak buahnya.
"Maksud anda apa?" Wajah nyonya Marina tampak menegang menahan marah.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi kalian? Periksa!"
Para suruhannya baru saja mau masuk rumah, namun di pintu telah ada Pak Johan yang merupakan Papa dari Riana.
"Beraninya kamu memeriksa rumah saya seperti ini. Memangnya apa lagi yang kamu curigai saya ambil dari kamu? Bukankah semua milik saya bahkan sudah kamu ambil?" Gertak Pak Johan dengan penuh amarah.
"Wah kejutan rupanya. Pantas saja anakmu semakin menggilai anakku, itu karena kalian sudah tidak punya apa-apa bukan? Sekarang bisa apa kamu Johan dengan kondisi cacat seperti itu."
"Jaga mulutmu Roy. Anak saya tidak pernah melacurkan diri untuk bermanis-manis pada anakmu. Anakmu yang datang padanya. Percuma jika hanya kekuasaan dan harta yang kamu tumpuk tapi kamu lupa menanam kasih sayang pada anakmu sendiri."
"Jangan banyak ceramah kamu Johan. Memangnya apa yang bisa kamu banggakan dari kondisi kamu yang seperti itu? Sudah kamu sebaiknya menyingkir dari sana. Biar anak buahku melakukan pekerjaannya."
Anak buah Pak Roy semakin memaksa masuk dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh kedua orang tua Riana kecuali berpasrah rumahnya digeledah oleh orang gila seperti Pak Roy itu.
Selama sepuluh menit mereka memeriksa dan hasilnya nihil.
"Tidak ada siapa-siapa Tuan." Jawab salah satu anak buahnya.
"Brengsek!!!" umpatnya.
"Di mana kamu sembunyikan anakku?"
"Tefan sudah dewasa, tentu dia memiliki jalannya sendiri. Kamu salah besar jika mencarinya di sini."
"Hubungi anak kamu yang jalang itu, jika dalam dua puluh empat jam dia tidak kembali bersama Tefan, kalian berdua harus tanggung akibatnya. Aku pastikan, kalian akan jauh lebih menderita dari sekarang. Camkan itu!"
Setelah mengumpat dan memaki dengan keras, akhirnya Pak Roy masuk ke mobilnya dan berlalu dari sana.
"Halo... Mah... ada apa? Mama diam?" Aku menerima telpon dari Mama tapi di sebrang sana, Mama malah diam.
"Mah..."
"Mamah baik-baik aja kan?"
....
"Ada apa?"
Suara Tefan memecah sunyi.
"Mamah telpon tapi belum bicara apa-apa. Aku takut sesuatu telah terjadi di sana."
.....
"Mah..."
__ADS_1
"Kamu di mana sayang?"
"Aku di jalan Mah. Ada apa? Papa sakit?"
"Kamu bersama Tefan?" Jawab Mama tanpa peduli akan Pertanyaanku.
"Iyah aku bersama Tefan."
"Bisakah kamu pulang sekarang sayang?"
"Ada apa Ma?"
"Papanya Tefan baru saja dari sini, ia mengancam jika kalian tidak pulang atau Tefan tidak pulang menemui orangtuanya maka hal buruk bisa saja ia lakukan pada Mama dan Papa."
"Astaga Ma.... Tapi Mama baik-baik saja kan?"
"Iyah sayang, tapi Papamu sepertinya mengalami trauma. Dari tadi dia hanya diam, mungkin memikirkan ucapan Papa Tefan yang menghinanya habis-habisan. Kamu pulang sayang."
"Baik Ma, aku pulang sekarang."
"Papa kamu benar-benar keterlaluan Fan. Barusan dia mendatangi rumahku, membuat kekacauan di sana dan mengancam jika aku tidak membawamu pulang maka dia tidak akan bermurah hati lagi pada Papa dan Mamaku. Aku tidak habis pikir, mengapa kamu bisa lahir di tengah keluarga gila seperti itu."
"Cukup Riana, kamu sudah menghina Papaku."
"Oh jadi sekarang kamu membela Papa kamu. Setelah apa yang sudah dia lakukan sama kamu, sama orangtua aku, apa itu semua tidak cukup?"
"Tapi kamu juga tidak boleh bicara sembarangan seperti itu Riana. Itu sama saja kamu menghina keluargaku."
"Hentikan mobilnya Fan...! Aku bilang hentikan!!!"
Mobil berhenti di pinggir jalan. Riana keluar dari mobil itu setelah mengucapkan kata-kata yang sangat menohok pasa Tefan.
"Kamu pulang sana ke keluarga kamu yang kejam itu. Jangan pernah temui aku lagi." Ucap Riana dengan marah dan membanting pintu mobil.
"Riana....!"
Panggil Tefan namun terlambat Riana sudah lebih dulu naik ke taksi yang kebetulan lewat.
Terlihat Tefan meremas rambutnya frustasi. Bagaimana bisa dia sampai salah bicara seperti itu.
Halo readers...
trimakasih karena kalian sudah mau membaca tulisan ini, saran dan kritiknya tetap aku tunggu ya. Semoga kalian dapat menarik nilai-nilai positif dari cerita ini.
Selamat membaca. Jangan lupa like dan komen ya!
__ADS_1
:)