Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Kedatangan Tefan


__ADS_3

"Bunda..., Kiano kangen deh sama Om Ganteng. Kapan-kapan undang Om Ganteng ke rumah kita ya, Bun."


Riana yang sedang menata aksesoris langsung berbalik ke arah Kiano, dia kaget mendengar celoteh anak semata wayangnya itu.


Astaga, kenapa anak ini tiba-tiba kepikiran Tefan si.


Riana menatap Kiano dengan tatapan penuh keibuan.


"Sayang, Om Ganteng sibuk. Dia tidak ada waktu untuk bermain ke rumah kita yang sempit ini."


"Siapa bilang? Aku tidak sibuk dan akan selalu punya waktu buat anak ganteng yang duduk di sana itu." Suara berat itu mengejutkan ibu dan anak yang sedang ngobrol dari hati ke hati.


Kiano segera turun dari kursinya dan berlari ke arah Tefan. Tidak peduli dengan wajah bundanya yang seketika berubah melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam tokonya.


Tefan masih memakai pakaian kantor, kurang jas tentunya. Lengan baju berwarna biru laut itu digulung hingga sikut. Memamerkan otot-otot lengan Tefan yang tentu saja sangat terlihat seksi itu. Riana menelan salivanya.


Tefan membuka kacamata hitam yang sejak tadi membungkus matanya. Kini Kiano sudah berada di gendongannya.


"Kiano, turun!" Ucap Riana


Wajah Kiano tersirat rasa kecewa, namun dia tidak mau membantah bundanya. Dia pun segera turun dari gendongan Tefan.


"Om, duduk di sana yuk! Temani Kiano main." Ajak Kiano bersemangat, seakan tidak mau kehilangan momen pertemuan lagi dengan lelaki yang dipanggilnya Om Ganteng itu.


"Baiklah! Kiano main apa?"


"Kiano sedang main Lego, Om Ganteng."


"Sayang, kamu main sendiri saja dulu ya. Bunda mau bicara sebentar dengan Om Ganteng!"


Lidah Riana sesungguhnya kelu bila harus ikut memanggil Tefan dengan sebutan Om Ganteng.


Hhh, apa? Om Ganteng. Astaga kenapa aku jadi ikutan Kiano memanggilnya Om Ganteng. Hmm, namun jika dilihat-lihat, Tefan memang sungguh berbeda sekarang. Dia semakin... Ishhh mikirin apa si aku ini.


Lagi-lagi Kiano merasa kecewa, namun dia tak bisa membantah Bundanya.


"Om, katanya Bunda mau bicara dulu sama Om. Nanti kita main ya. Om sini deh!" Kiano memanggil Tefan untuk mendekat, sepertinya akan membisikkan sesuatu.


"Kiano sayang banget sama Bunda, Om bisa sayang juga kan sama Bundanya Kiano?"

__ADS_1


Betapa terkejutnya Tefan mendengar ucapan polos Kiano. Tefan tersenyum dan menaikkan tinjunya untuk berjanji pada Kiano. Merekapun saling mempertemukan tinju sebagai tanda bahwa mereka telah sepakat.


Riana sudah menunggu di meja kerjanya, letaknya tidak terlalu jauh dari posisi Kiano bermain. Riana sudah mendidik Kiano dengan baik, bahwa jika terjadi percakapan antara orang dewasa maka Kiano tidak boleh nguping apalagi berada di sana.


Tefan segera duduk di kursi depan Riana. Terlihat santai dengan melipat kedua tangannya ke dada. Serta menautkan kaki panjangnya untuk segera mendengar apa yang akan dibicarakan oleh Riana.


"Bagaimana kabar kamu, Riana?"


"Baik. Sangat baik."


"Aku turut berduka atas kabar yang kudengar bahwa Saka sudah meninggal."


"Tolong jangan bahas itu."


"Ah, iya maaf..., maaf! Aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaanmu."


"Jadi, ini kamu yang sekarang?" Tanya Riana tanpa basa basi.


"Seperti yang kamu lihat. Inilah aku sekarang." Tefan sebenarnya tidak bermaksud untuk menyombongkan diri. Dia hanya ingin Riana melihat perbedaan yang ada pada dirinya sejauh ini.


"Banyak berubah."


"Aku berubah. Semuanya berubah. Bisa kamu lihat sendiri kan?"


"Riana, bukan itu maksudku. Ah, iya apa kalian sudah makan siang?"


"Belum. Tapi aku tidak mau makan siang bersama kamu di luar." Sergah Riana lebih dulu. Dia yakin kalau kini Tefan akan memanfaatkan keadaan.


...


"Bunda..., Kiano lapar!" Seru Kiano dengan suara sedikit lebih keras.


"Baiklah sayang, ayo kita ke atas. Bunda akan masakan sesuatu buat Kiano."


"Bunda, Om Ganteng boleh ikut kan? Kasihan, Kiano rasa Om Ganteng juga lapar Bunda."


Tefan tersenyum. Dia merasa menang dan terbantu oleh Kiano.


"Baiklah, karena Kiano sudah memutuskan. Maka aku akan ikut makan siang bersama Kiano di sini. Kiano, ayo ke atas!"

__ADS_1


Riana menghela nafas panjang. Dua lelaki itu sudah berjalan menjauh darinya menuju tangga ke lantai atas.


Pintar sekali dia memanfaatkan situasi. Oke, kali ini kamu memiliki kesempatan itu. Tapi jangan harap dapat kesempatan kedua.


Riana masih saja malu mengakui, kalau sebenarnya dia juga senang dengan kehadiran Tefan hari ini di ruko mereka.


Dengan gontai, dia pun berjalan menaiki tangga. Sesaat kemudian, dia sudah melihat dua lelaki itu sedang menikmati permainan robot-robotan.


Riana segera ke dapur untuk menyiapkan makanan. Mungkin sebaiknya dia membuat sup saja. Sepertinya masih ada bahannya di kulkas. Begitu pikir Riana.


Tak lama kemudian, makanan sudah tersaji di atas meja makan. Aromanya sangat menggoda selera, bahkan Tefan menelan ludahnya sendiri begitu aroma sup itu sampai ke indera penciumannya.


Ini aku yang salah cium atau memang Riana sengaja masak sup karena tahu aku suka sup? Apa dia masih ingat masakan kesukaanku? Duh, jadi GeEr sendiri kan.


"Ayo, Om! Masakan bunda sepertinya enak sekali." Kiano sudah menarik tangan Tefan untuk berdiri.


"Kiano sabar dulu ya, Bunda sedang siapin semuanya dulu. Duduk yang manis di kursi kamu."


"Iya, Bunda."


Tefan sedang mengamati Riana yang sibuk sekali di dapur.


Sudah lama sekali rasanya sejak aku bisa melihat kamu dari jarak sedekat ini. Sekarang, terasa bagai mimpi. Bahwa kini, aku makan satu meja dengan kamu bersama anakmu yang lucu itu.


"Om, Om! Melamun ya? Makan yuk!"


Kiano membuyarkan semua hal yang ada di kepalanya tentang Riana. Dia pun jadi salah tingkah, apalagi dia sedang tersorot oleh ekor mata Riana yang seperti tak suka dengan situasi sekarang.


"Maaf, maaf! Wah..., sepertimya enak sekali."


"Enak dong, Om! Siapa dulu kokinya, Bunda...!"


Mereka pun menikmati makan siang diselingi celoteh Kiano yang seakan tak bisa berhenti. Bisa dilihat bahwa dia sangat senang Tefan bisa berada di antara mereka saat ini.


Harusnya bukan dia yang duduk di antara kami. Makan bersama seperti ini, seperti keluarga utuh. Saka, maafkan aku jika kali ini kamu merasa cemburu dengan apa yang terjadi di meja makan ini. Semua Kiano yang meminta. Dia sangat rindu kasih sayang seorang ayah. Mungkin dia menemukan itu dari sosok Tefan, namun aku takut, aku takut suatu saat aku bisa terjatuh lagi untuk kesekian kalinya.


Suasana meja makan hari itu terasa riuh. Kiano sangat-sangat bersemangat. Tidak bisa dipungkiri bahwa hari itu adalah momen terbaik yang pernah dimiliki Kiano, anaknya.


"Terimakasih ya, Om!"

__ADS_1


Tefan mengangguk seraya mengelus puncak kepala Kiano penuh sayang.


__ADS_2