Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 45. Penetapan Tanggal Pernikahan


__ADS_3

Pagi ini aku berencana menemani Mama untuk belanja ke supermarket. Mama ingin mengundang keluarga Saka untuk makan malam bersama. Sekaligus pembicaraan mengenai tanggal pernikahan aku dan Saka.


"Ma, aku sudah siap nih. Mama sudah belum?" Teriakku saat menuruni tangga menuju lantai satu.


"Mama sudah menunggu kamu dari tadi sayang, tapi kamu gak turun-turun." Jawab Mama dari arah dapur.


"Maaf ya Ma sudah buat Mama menunggu. Papa mana Ma?"


"Lagi kasih makan ikan di kolam, seperti biasa rutinitas pagi Papamu semenjak tidak bisa mengajak kamu mancing lagi."


"Oh! Yuk berangkat Ma. Ajak Papa deh sekalian, nanti dia bosan lagi di rumah."


"Ya sudah ajak Papamu sana."


Kami bertiga pun berangkat menuju supermarket. Wajah Papa kelihatan sumringah pagi ini. Syukurlah perkembangan kaki Papa cukup bagus sekarang sudah lumayan bisa digerakin.


Aku bilang ke Mama untuk mereka saja yang mengatur tanggal pernikahan, hanya saja aku dan Saka meminta agar dipercepat. Mama bahagia mendengar keputusan aku dan Saka, dia tak sabar melihatku akhirnya naik pelaminan.


Aku menyetir dengan tenang, lalu sampailah kami di supermarket yang dituju. Mama turun duluan membukakan pintu untuk Papa dan aku segera mengambilkan kursi roda Papa kemudian membantunya menaiki kursi roda.


Sewaktu aku mendorong kursi roda Papa dan Mama yang berjalan bersisian denganku, tiba-tiba saja sosok yang begitu kukenali itu muncul di depan kami. Mama shock begitu juga dengan Papa. Sama sekali tidak ada dalam benakku, akan bertemu dia di sini. Dia dengan santai menyapa Papa dan Mama yang kemudian disambut wajah tidak senang mereka kepada sosok pria itu.


"Berani sekali kamu muncul di depan kami." Ucap Mama ketus. Pelan namun mematikan.


Aku mengelus lengan Mama untuk menenangkannya, begitu juga dengan Papa yang kemudian berkata sama ketusnya dengan Mama.


"Apa belum cukup penderitaan yang kamu kasih ke anakku dan juga keluargaku? Sekarang kamu muncul di depan kami seolah tak pernah terjadi apa-apa."


Sosok yang kumaksud itu adalah Tefan. Mendengar Mama dan Papa berbicara dengan nada tidak suka, Tefan masih belum mau menyerah juga. Dia perlahan mendekat dan hendak mencium punggung tangan Papa tapi dihela oleh Papa.


"Sudahlah, langsung saja. Katakan apa tujuan kamu?" Papa berbicara tegas tanpa melihat wajah Tefan.


Aku tak tahu lagi harus berbicara apa pada Tefan, kali ini dia benar-benar nekad.


"Aku menyesal atas apa yang pernah terjadi Om, tante. Aku ingin memperbaiki semuanya bersama Riana. Aku janji tidak akan mengecewakan dia juga om dan tante."


"Telan bulat-bulat janjimu itu. Anakku tidak butuh janji, apalagi itu dari kamu. Sekarang minggirlah jangan ganggu waktu kami untuk bersama."

__ADS_1


Papa melajukan sendiri kursi rodanya disusul oleh Mama. Sementara aku hendak menyusul mereka, Tefan menarik lenganku dengan sangat kuat hingga aku kesakitan.


"Aww, lepasin Tefan!"


"Aku tidak akan lepas sebelum kamu ngasih aku waktu lima menit untuk bicara sama kamu."


Mama dan Papa berbalik dan melihat kejadian itu, Papa geram begitu juga dengan Mama namun aku segera memberi kode agar mereka tenang dan memastikan bahwa Tefan tidak akan berbuat macam-macam.


"Sekarang lepaskan, aku kasih kamu waktu untuk bicara. Bicaralah!"


"Kenapa kamu jadi galak begini Riana? Membuatku semakin ingin untuk memilikimu."


"Bicara apa kamu, langsung saja ke intinya!"


"Kamu hanya harus menikah denganku."


"Mengapa aku harus menikah dengan kamu? Itu tidak mungkin terjadi."


"Menikah denganku atau kamu tidak akan pernah bahagia dengan siapapun Riana."


Kulihat wajah Tefan menguat dan tatapannya tajam. Dia seperti ingin memakanku. Tapi aku tidak gentar dengan ancaman semacam itu.


Akupun pergi dari sana dan tidak peduli dengan apa yang ingin Tefan lakukan. Darahku benar-benar mendidih dibuatnya.


"Riana...!!! Aku pasti mendapatkanmu!" Teriak Tefan di tengah keramaian tanpa rasa malu.


Aku menghiraukannya dan persetan dengan semua itu. Aku segera menyusul Mama dan Papa.


"Mengapa pria itu kembali lagi Riana?" tanya Mama sesaat aku sudah menemukannya.


"Hhh, aku juga tidak tahu Mah. Dia muncul begitu saja."


"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengannya Riana? Apakah belakangan ini kamu sering bertemu dengannya?"


"Ma, kita bicarakan ini di rumah. Lebih baik kita berbelanja dan pulang."


Akhirnya Mama setuju untuk tidak membahas persoalan Tefan di tempat ramai seperti ini. Lagipula itu hanya akan membuat keruh suasana, sekarang saja kami berjalan tanpa suara. Seolah menyimpan beribu-ribu tanya di dalam benak, mengapa sosok Tefan harus kembali lagi.

__ADS_1


Setelah belanja keperluan dapur selesai, kita semua pulang dengan masih hanya saling diam. Di dalam mobil akhirnya Mama angkat bicara lagi.


"Jangan bilang ini alasan kamu dan Saka untuk mempercepat pernikahan kalian?"


Kuhela nafas panjang, terasa berat sekali untuk menceritakan ke mereka berdua. Bahwa benar Tefan adalah alasan aku dan Saka mempercepat semuanya. Aku sesungguhnya tidak ingin melibatkan Tefan dalam setiap obrolan karena itu membuat hatiku sakit untuk mendengarnya.


"Sejujurnya Iya Ma, karena Tefan belakangan ini seringkali meneror Riana. Aku sudah menceritakan semuanya pada Saka dan dia setuju untuk mempercepat pernikahan kami."


"Jika itu sudah menjadi keputusan kalian, Mama dan juga Papa setuju sayang. Mama dan Papa akan berbicara kepada orangtua Saka agar menetapkan tanggal pernikahan kalian. Jika perlu bulan ini juga, tinggal pilih tanggal yang cocok, gimana Pa?"


"Papa terserah Mama dan juga Riana. Papa tidak ingin lagi terlibat dengan keluarga Tefan apalagi dengan Roy."


"Baiklah kalau begitu."


***


Kami menyambut kedatangan keluarga Saka di rumah dengan penuh kegembiraan. Malam ini Saka terlihat beda, dia tampan sekali. Setidaknya itu yang ditangkap oleh mataku. Apa karena potongan rambutnya yang baru? Serta wajahnya yang kini bersih dan mulus dari penampakan bulu-bulu halus. Entahlah, yang pasti malam ini aku melihatnya seperti akulah perempuan yang beruntung yang mendapatkan hatinya.


Makan malam dimulai dengan obrolan ringan di meja makan. Semuanya tertawa jika ternyata ada hal lucu yang akhirnya menghangatkan suasana malam itu. Usai makan malam, dilanjutkan dengan obrolan serius mengenai pernikahan aku dan Tefan.


Setelah perundingan yang cukup memakan waktu, telah disepakati pernikahan akan digelar secara tertutup di salah satu hotel milik kenalan Mama Saka. Hanya mengundang keluarga terdekat dan kolega yang cukup lama telah bekerjasama dengan kedua keluarga.


Sementara tanggal pernikahan disetujui tanggal 20 Mei bulan ini. Saka terlihat tak lepas memandangiku, tatapannya hanya tertuju padaku yang membuat wajahku seperti bersemu merah. Ah, kenapa jadi malu begini ya?


Acara makan malam dan perundingan penetapan tanggal pernikahan berlangsung mulus dan tidak ada kendala. Keluarga Saka pamit namun sebelumnya Saka malah mengajakku untuk keluar sebentar ke taman di samping rumah. Di sana terdapat tempat duduk yang sangat nyaman untuk bersantai.


"Ada apa? Kenapa kamu malah membawa aku ke sini?" tanyaku pada Saka penasaran.


"Kamu menggodaku ya dengan pakaian kamu seperti itu?"


Aku lantas memeriksa gaun yang kukenakan, kupikir ada yang salah. Namun tidak ada sesuatu yang membuat ini ganjil dan seperti menggoda persis perkataan Saka barusan.


"Apaan?"


"Kamu itu seksi banget malam ini. Ahh, aku tidak sabar ingin memilikimu seutuhnya Riana."


Lalu menit berikutnya yang terjadi adalah Saka malah melumat bibirku. Dia tanpa memberi kode apa-apa langsung saja mengambil alih bibirku dengan bibirnya. Membuat aku bergetar dan merasakan sensasi yang terbakar.

__ADS_1


Namun ciuman itu tak berlangsung lama karena tiba-tiba terdengar suara Mama memanggil.


Malam ini berlalu dengan indah, akankah keindahan ini tetap utuh suatu saat nanti?


__ADS_2