Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 53. Bulan Madu 2


__ADS_3

Sejak kedatangan kami di pulau ini, memang banyak orang yang berkunjung. Bagaimana tidak, pulau ini memanjakan para pengunjung dengan pemandangan laut yang membentang sepanjang garis pantai di pulau itu. Pasirnya putih bersih, di kelilingi banyak pohon kelapa, Villa yang dibangun juga memberikan kesan romantis karena tertuju ke arah laut lepas. Sehingga saat ingin rileks dan menyegarkan pandangan, tinggal duduk di balkon dan kamu akan melihat betapa indahnya semua ciptaan Tuhan dari sini.


Saka sedang duduk di balkon, menungguku datang membawakannya segelas kopi hangat untuk pagi hari yang agak dingin ini. Dia masih mengenakan handuk di pinggangnya, sementara tubuh bagian atas terbuka memperlihatkan otot-otot perutnya yang membentuk sempurna hasil dari rutin olahraga yang kadang juga dilakukan di apartemennya.


Kopi kuletakkan di atas sebuah meja di depannya. Aku ingin duduk di kursi di sampingnya tapi dia malah memintaku untuk duduk di pangkuannya.


"Duduk di sini, aku ingin mencium aroma rambutmu yang habis disampho-in. Terasa segar pastinya."


Aku pun menurut dan kini sudah di pangkuannya. Ujung rambutku terus dimainkan olehnya dan diendus-endus seperti mencium aroma masakan saat dia memasak. Dasar aneh.


"Apa rencana kita selanjutnya sayang?" Tanyaku.


"Menurut kamu apa?"


"Apa kamu tak ingin menambah jumlah restoran kamu, di pulau ini misalnya."


"Sayang jangan bahas kerjaan sekarang, kita sedang bulan madu. Aku hanya ingin membahas kita berdua, kamu harus segera hamil anakku."


Aku terkekeh mendengar ucapannya. Bagaimana bisa dipercepat, semua kan terserah Tuhan.


"Ya selama kita berusaha kenapa tidak. Tapi kan yang namanya rezeki, anak itu semua sudah di atur sama Tuhan. Berdoalah sayang, semoga usaha kita segera berbuah manis. Aku juga tak sabar hamil anakmu."


Kita berdua akhirnya tertawa bersama, dilanjutkan dengan ciuman-ciuman singkat, disaksikan birunya lautan.


Saka terus bermanja, kadang bukan hanya menguyel-uyel rambutku, tapi tangannya kadang tak bisa dikontrol. Sering sekali tangannya malah mendarat begitu saja di dadaku. Sehingga membuatku gemas dan ingin sekali meneriakinya nakal.


"Kamu tak puas-puas ya." Ucapku.


"Aku gak puas sebelum kamu hamil sayang."


"Dasar mesum."


"Sama isteri sendiri bukan mesum namanya, tapi ingin dimanja. Ha ha..."


"Kayak lagu saja."


Saka tertawa melihat tingkahku yang agak cemberut. Tapi setelah itu dia malah membuatku terkejut karena dengan sigap dia menggendongku ke tempat tidur lagi.


"Mau ngapain?" Tanyaku mewanti-wanti.

__ADS_1


"Emang kamu mau diapain?" Jawab Saka jail.


"Ihh... Kamu ih. Aku capek."


"Emangnya mau ngapain?"


"Itu kan?"


"Ih itu kamu yang mesum. Masa aku gendong ke tempat tidur saja pikiran kamu malah ke situ. Kamu cepat pakai baju, kita jalan-jalan."


"Kemana?"


"Makanya jangan salah paham, menjurus mulu sih pikirannya."


"Kamu yang duluan. Keluar sebentar, aku mau pakai baju."


"Aku kan sudah jadi suami kamu sayang, masa masih disuruh keluar kamar. Aku bahkan sudah lihat semuanya loh, sampai ke dalam-dalamnya." Ucapnya masih terus berusaha menggodaku.


"Biarin. Tetap saja aku malu sayang."


"Tapi kan aku juga mau pakaian? Masa pergi dengan memakai handuk begini."


"Ya sudah kamu duluan, habis itu tunggu aku di luar."


***


Kita berdua jalan-jalan di sekitar pantai, melihat-lihat panorama. Sesekali melempar senyum kepada orang yang berlalu lalang yang juga tersenyum ramah padaku. Saka menggandeng tanganku mesra sekali, bukan hanya mengandeng tapi juga menggenggam erat jemariku.


Berhenti sebentar di sebuah cafe pinggir pantai untuk menikmati es kelapa. Bahkan saat duduk berhadapan seperti ini di kelilingi banyak orang, dia masih saja tak lepas untuk menatapku.


"Kamu dari tadi ngeliatin aku mulu deh. Aku jadi grogi sayang."


"Soalnya kamu manis banget, setiap hari aku seperti makin cinta sama kamu."


"Gombal."


"Ini beneran sayang. Kamu bidadari yang menyelamatkan aku dari kesendirian di dunia ini. Terimakasih ya." Ucapnya seraya mengusap jemariku kemudian mencium punggung tanganku.


"Dan kamu pangeran yang menyelamatkan aku dari cengkeraman seorang psikopat. Terimakasih sayang."

__ADS_1


"Jangan bahas itu. Aku gak mau kamu mengungkit luka lama kamu. Sekarang waktu ha menatap masa depan."


"Iyah. Maaf sayang. Habis ini kita kemana?"


"Jalan-jalan saja. Kalau capek ya balik lagi ke Villa. Berhubung besok kita sudah kembali ke rutinitas seperti biasa. Padahal baru seminggu yang lalu kita tinggalkan. Fiuuhh!"


"Kalau begitu bagaimana kalau kita belanja-belanja sekarang, beli oleh-oleh buat keluarga dan karyawan-karyawan kita."


"Boleh deh, hayuk!!"


***


Akhirnya belanja-belanja, membeli barang-barang kerajinan tangan khas daerah pulau ini. Dari aksesoris seperti kalung, gelang, yang terbuat dari kekayaan alam daerah tersebut. Kreatif sekali.


Setelah puas belanja dan waktu juga sudah semakin sore, kita berdua pulang ke Villa untuk istirahat. Karena memang sudah lelah sekali seharian jalan-jalan.


Bulan madu yang kurasakan begitu indah, terkadang jika flashback lagi, aku tidak percaya bahwa aku sudah sampai di titik seperti sekarang. Tidak menyangka hingga seringkali menangis terharu. Apalagi yang akhirnya aku mendapatkan suami yang seperti aku impikan.


Terkadang, Tuhan menguji kita dengan banyak cobaan. Bukan karena Tuhan tak sayang, tapi Tuhan hanya mau agar kita bisa bertahan untuk cobaan hidup selanjutnya dan menggapai bahagia yang telah lama dirindukan.


Aku baru saja selesai mandi saat Saka masuk kamar dengan minuman segar di tangannya. Sepertinya dia baru saja meracik Alpukat, aku memang suka jus dari buah tersebut.


"Dibuat dengan penuh cinta, untuk istriku tersayang." Ucapnya dengan menyodorkan segelas tinggi Jus Alpukat.


"Trimakasih suamiku tercinta yang baiknya melebihi siapapun yang kukenal di dunia ini."


"Minumlah!"


Akupun meminum jus buatannya yang terasa lembut banget turun di tenggorakan, juga sangat segar tentunya. Selesai minum, Saka yang sejak tadi duduk melihatnya kemudian berdiri dan kembali memeluk pinggangku erat. Dagunya diletakkan di bahuku dan nafasnya terasa menderu ditengkukku saat dia baru saja menciumi rambutku.


Aku ingin melepaskan pelukannya karena hanya memakai handuk mandi. Ternyata tangannya lagi-lagi melakukan hal jail di sekitar dada. Belum lagi bibirnya yang terus-menerus menciumi leherku itu. Membuatku sedikit kesal tapi juga dibuat enak olehnya.


"Boleh?"


Huh dia masih sempat bertanya sementara handukku telah dilepasnya. Dasar nakal.


Dia melanjutkan ciumannya ke bibirku, terasa lembut dan kenyal. Kemudian perlahan dia semakin meminta, semakin masuk menjelajahi rongga mulutku dengan lidahnya. Menghisap, mengecup bibir bawah dan atasku. Aku dibuat mendesah tak karuan.


Pakaiannya telah terlepas satu demi satu dan kembali kita sama-sama polos tanpa sehelai benangpun. Dia menjelajah setiap inchi tubuhku tanpa sisa, dia sangat senang memainkan bagian dadaku. Hingga aku melenguh karena geli dan terasa nikmat.

__ADS_1


Pelan-pelan dia memasukiku dengan sekali hentakan. Kami kembali menyatu untuk kesekian kalinya. Saka memakanku dengan rakus, dia sama sekali tak memberiku kesempatan untuk tak mendesah. Aku terus meracau hingga akhirnya aku mendesah hebat karena kenikmatan.


Dia sungguh hebat dalam segala hal. Termasuk hal yang satu itu. Hehe


__ADS_2