Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Hangatnya Sebuah Pelukan


__ADS_3

Riana sedikit mendorong tubuh Tefan. Ciuman mereka berhenti begitu saja. Terpancar rasa kecewa di sudut mata Tefan, baru saja dia akan mengecap bibir Riana kembali setelah sekian lama. Riana menjadi gugup, dia heran mengapa dia bisa bersikap setenang itu. Harusnya dia sudah menampar wajah Tefan karena berlaku kurang ajar padanya. Berani mencium wanita single begitu saja. Namun Riana bahkan tak bisa menolak lebih cepat.


Jika saja dia teruskan, dia tak tahu lagi akan seperti apa selanjutnya. Riana mengusap ujung bibirnya, seperti remaja yang baru pertama kali merasai sebuah ciuman. Antara gugup, marah dan menginginkannya lagi.


Ada apa dengan diriku ini? Tidak bisa menolak ketika bibir Tefan sudah ******* habis bibirku. Bahkan ketika dia sudah mulai bermain dalam rongga mulutku, mengapa tak kudorong saja tubuhnya ke belakang. Agar aku tak perlu merasa bahwa ciuman ini berarti.


Huh, aku memang payah. Sejak dulu selalu tak bisa menolak jika itu Tefan. Sekarang, apakah aku berdosa karena sejenak melupakan mantan suamiku? Semoga saja tidak. Dia terlalu sulit untuk bisa kutolak. Tak bisa dipungkiri bahwa aku juga merindukan masa-masa bersama dia dulu.


"Maaf!" Hanya kata itu yang terlontar dari bibir Tefan.


Riana terdiam. Wajah itu kembali di angkat oleh Tefan, menatap langsung ke mata Riana, mencari benarkah perempuan di depannya ini tak menginginkan dirinya lagi atau justru sebaliknya.


"Kamu sedang apa?" Tanya Riana.


"Mencari kejujuran di mata kamu Riana."


"Maksud kamu?"


"Sejak pertama melihatmu, aku sudah tak bisa menahan diri. Aku senang bisa melihatmu kembali, bahkan jaraknya teramat dekat. Bodohnya aku, baru mengetahui bahwa ternyata selama ini kamu sangat dekat denganku. Riana, aku selalu merindukan mata ini. Teduh, seakan aku ingin bersembunyi selamanya di matamu." Tefan berbicara seraya mengurai anak rambut Riana yang jatuh mengenai wajahnya.


"Tidakkah kamu memiliki keinginan untuk kembali bersama? Bolehkah aku mengatakan bahwa ini adalah takdir untuk kita. Berpisah lalu bertemu kembali. Entah, ini hanya kebetulan belaka, atau memang kenyataan bahwa kita adalah jodoh yang disatukan setelah melewati banyak rintangan. Kumohon, kali ini jangan bohongi perasaanmu. Jangan tutup dirimu, karena aku selalu menunggu untukmu."


Riana semakin gugup dibuatnya, pasalnya kini kedua tangan Tefan telah menariknya ke dalam pelukannya. Riana lagi-lagi tak menolak, justru merasakan sebuah kehangatan dan rasa nyaman yang perlahan mengaliri tubuhnya.


"Tolong jangan lepas! Sebentar saja, Riana. Hanya sebentar."


Kedua tangan Riana yang semula menggantung, kini bergerak naik, membalas pelukan Tefan yang semakin erat memeluk tubuhnya. Ada setetes air mata jatuh ke pipi Riana, entah mewakili perasannya yang mana.


Selama beberapa menit hanya berpelukan, Tefan akhirnya melonggarkan pelukannya. Ada setitik bening menggantung di pelupuk mata Riana, Tefan mengecup bagian itu dengan lembut.


"Jangan pernah menangis di depanku lagi, karena air matamu adalah kesakitanku. Rasa bersalah akan muncul tanpa kuminta, sekarang aku hanya ingin melihatmu tersenyum."

__ADS_1


Riana mengulas senyumnya sedikit, membuat Tefan kehilangan kendali lagi karena gemas melihat tingkah Riana yang seolah anak remaja baru jatuh cinta.


Sekali lagi, bibir itu kembali bersentuhan. Kedua tangan Tefan membingkai pangkal leher Riana. Perlahan mengusap anak rambut Riana di seputaran lehernya. Ciuman yang semula selembut gulali itu, kini perlahan mulai menuntut satu sama lain.


Nafas mereka tersengal, "Mmmphtthh...!"


"Bunda, Om Ganteng!"


.... Dan suara Kiano membuyarkan ciuman yang berlangsung panas itu. Bagai tertangkap basah, keduanya mendadak bisu. Keduanya salah tingkah, Riana memilih ke dapur mengambil air minum. Tefan menemani Kiano bermain, berharap agar Kiano melupakan kejadian tadi.


"Sangat memalukan! Kenapa ini bisa terjadi si? Mana dilihat Kiano lagi." Riana merutuki dirinya sendiri.


Sudah gelas kedua yang dia teguk, air minum itu seperti tak menghentikan rasa haus serta keringnya tenggorokan dia setelah terpergok berciuman.


Tak lama kemudian, Riana bergabung bersama Tefan dan Kiano. Berusaha bersikap normal seolah tak terjadi apa-apa.


"Kalian sedang main apa?"


Riana dan Tefan saling tatap. Kiano seperti sedang menyindir Tefan. Mungin maksud Kiano adalah, karena Tefan sudah berani mencium Bunda Kiano, maka Tefan tidak boleh menyakiti Bundanya atau Kiano yang akan bertindak langsung menghajar Tefan. Ah, anak ini sunggug menggemaskan.


"Terimakasih, sayang!" Ucap Riana seraya memberikan kecupan di puncak kepala Kiano.


"Bunda tinggal dulu ya, Bunda mau ke bawah bantuin Kak Nadia."


Kiano hanya mengangguk. Sekarang tinggallah dua orang lelaki kecil dan lelaki dewasa itu.


"Om Ganteng, tolong jangan sakiti bunda Kiano ya."


Tatapan mata Kiano seperti memukul telak tepat di wajah Tefan.


Astaga, anak ini benar-benar mencintai ibunya. Dia bahkan mengiba di depanku agar aku berjanji tak akan menyakiti ibunya. Andai saja kamu tahu Kiano, bahwa akulah lelaki paling brengsek itu. Lelaki yang pernah menyakiti ibu kamu berkali-kali dan saat kamu tahu itu, apakah kamu masih mau memaafkan aku?

__ADS_1


"Om, kenapa diam?" Kiano menepuk tangan Tefan.


"Ah, tidak. Om hanya sedang memikirkan sesuatu. Kamu jangan khawatir, Bunda Kiano akan selalu aman selama ada Om."


"Om ini janji antara laki-laki dan laki-laki. Jadi, kuharap Om menepati itu."


Tak disangka usianya yang masih bocah itu , sudah terlalu jauh memikirkan banyak hal. Kini dia sedang khawatir tentang bundanya, meski di satu sisi dia senang karena Tefan akan selangkah lebih dekat untuk menjadi Papanya.


"Om janji, akan menjaga kalian berdua. Kiano, apapun yang terjadi di sini, jika itu membahayakan buat kalian berdua jangan tunggu lama untuk langsung menghubungi Om."


"Iyah, Om. Kiano janji."


Keduanya pun tersenyum dan melanjutkan kembali permainannya. Tefan sudah lupa akan pekerjaan yang sudah menumpuk di atas mejanya.


Sebuah getaran dari saku celananya membuat permainan harus berhenti.


"Ada apa?" Tanya Tefan melalui telepon.


"Tuan, ada rapat sore nanti. Dalam tiga puluh menit, Tuan sudah harus berada di sini untuk memimpin rapat."


"Saya segera ke sana!"


Sambungan telepon terputus, Tefan pamit pada Kiano juga pada Riana. Walau ada sebersit kecewa di wajah Kiano namun dia mencoba untuk tersenyum.


"Selamat bekerja, Om. Semangat!"


Tefan melambaikan tangannya ke arah Kiano yang mengikuti dirinya hingga ke depan toko.


Sejak kapan perasaan itu ada, aku tidak pernah tahu. Ketika aku sadar, semuanya sudah terasa nyaman. Sulit terlepas, bahkan dari pelukan hangat yang begitu candu bagiku.


***

__ADS_1


Mampir untuk beri like dan komen ya. Terimakasih


__ADS_2