
1 bulan kemudian...
Hubungan aku dan Saka bisa dibilang sangat lancar, bahkan ketakutan akan ancaman Tefan juga perlahan menghilang. Karena nyatanya Tefan tidak pernah lagi menghubungi atau menemuiku zsnam peristiwa perkelahian menuju bandara itu.
Semakin hari aku merasa sangat dicintai oleh Saka, aku bahkan sering ke restorannya karena melakukan kursus memasak atas permintaanku sendiri. Karena aku tidak mau kelak jika benar berjodoh, Saka terus-terusan memasak untukku. Sebagai perempuan dan sebagai istri kelak, aku juga ingin memanjakan lidah suami dengan masakan yang enak. Sehingga dia tidak perlu mencari jajanan di luar sana karena selalu akan rindu dengan masakan isteri di rumah.
Membayangkan itu saja hatiku berubah menghangat, seperti ada aliran listrik yang memenuhi tubuhku namun tidak terlalu menyengat. Saka sangat telaten mengajariku masak, hingga hari ini adalah hari pengujian masakan itu. Saka akan menjadi penilai bagaimana rasa dari masakan yang kumasak.
Sebelumnya Saka mengantarku ke swalayan untuk memilih langsung bahan-bahan yang akan kumasak. Dia juga mengenalkan cara memilih sayuran, daging atau ikan yang sudah tidak layak konsumsi atau tidak bagus lagi dimasak.
Aku sangat menikmati hari-hari seperti ini, berjalan beriringan dan tertawa bersama. Trimakasih Tuhan sudah mengirimkan orang sebaik Saka dalam kehidupanku.
Proses masak memasak berjalan dengan lancar. Aku diajari masak Steak agar dagingnya lembut jika digigit dan tentunya matang sampai ke bagian dalam.
Beberapa karyawan yang menyaksikan kami tampak tersenyum malu-malu. Bahkan ada yang sampai berani berceloteh "Semangat Mba, jangan sampai kendor." Mendengar itu aku sampai tertawa lebar, Saka pun demikian.
Tak lama kemudian semuanya beres dan aku menata semuanya di meja yang sudah disediakan. Saka sudah bersiap untuk melakukan penilaian. Kok jadi deg degan gini yah? Gimana kalau rasanya tidak enak? Arghh...
Baru saja Saka mencicipi bagian Steak aku memilih untuk menutup mata tapi tetap mengintip di balik sela-sela jari saking penasarannya dengan respon Saka saat itu.
"Gimana?" Tanyaku antara antusias dan juga gugup.
Saka terdiam, membuat aku semakin gugup dan membayangkan rasanya tak seenak yang kubayangkan. Padahal tadi aku sempat cicipi rasanya enak kok. Hhh
"Emm, enak lumayan!" Akhirnya Saka memberikan komentarnya juga.
"Jadi menurut kamu nilainya berapa, dari angka 10?" Tanyaku lagi harap-harap cemas.
"Nilai 7 dari 10."
"Serius?"
__ADS_1
Arghh... aku bahagia mendengarnya. Akhirnya aku bisa masak ya steak juga. Biasanya gosong di luar terus dalamnya tidak masak. Ini sih luar biasa menurutku. hihi
"Serius Riana. Enak. Oh iyah aku punya sesuatu buat kamu. Tunggu di sini sebentar." Aku menurut apa yang diucapkannya.
Sama sekali tidak terlintas curiga atau pertanyaan apapun di benakku. Aku memilih ikut menikmati steak masakanku itu dan rasanya memang lumayan enak. Berbeda dengan steak yang pernah aku bikin sebelum sebelumnya.
Tak lama kemudian sekitar sepuluh orang pelayan masuk ke dalam ruangan Saka, masing-masing membawa satu buket bunga besar berwarna pink muda. Aku sontak kaget dan berdiri dari tempatku duduk.
"Maaf apa kalian tidak salah masuk ruangan?" Tanyaku pada mereka.
"Tidak Bu, ini semua dipersiapkan untuk Ibu. Silahkan Ibu terima dan kami akan keluar dari ruangan ini."
Gimana caranya aku terima, bunganya banyak begitu. Ini kerjaan siapa sih? Saka mana lagi? bathinku. Aku bingung apa harus terima atau malah meminta mereka membawa semua bunga itu keluar ruangan.
"Ya sudah kalian taruh di kursi panjang di sana saja. Soalnya kalau di meja ini tidak mungkin muat menampung semua bunga itu."
"Baik Bu."
"Ada apa ini?" Tanyaku penasaran.
Eh, Saka tiba-tiba bersujud di depanku dan mendongak ke arahku.
"Riana, maukah kau menikah denganku?"
Hah??
Aku melongo di tempatku, mulutku terkunci, aku hanya menatap ke arah Saka tak percaya. Apa dia melamarku? Pria ini benar melamarku?
"Aku tak bisa menjanjikan apapun, tapi aku pastikan akan selalu ada di sisi kamu dalam situasi dan kondisi apapun."
"Riana, maukah kau jadi istriku?"
__ADS_1
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan tak percaya, air mataku perlahan memenuhi pipiku. Ah apa ini mimpi?
Tak lama kemudian, Mama, Papa, orang tua Saka dan juga adik-adiknya muncul dari balik pintu dan serentak berkata.
"Terima... terima... terima...!"
Aku semakin tidak bisa menahan rasa haru dan bahagiaku, aku berangsur mengangguk karena tak sanggup berkata apapun lagi. Aku terlalu bahagia hingga menitikkan air mata, ternyata ini bukan mimpi.
"Iyah, aku mau jadi istri kamu."
Saka berdiri dan memelukku sangat erat, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya dan mengeluarkan sebuah cincin berlian yang ukurannya sangat imut, cantik dan berkilau. Dia perlahan memasukkan cincin itu ke jariku dan berangsur mencium keningku khusuk.
"Trimakasih Riana." Bisiknya lirih.
Semua orang bertepuk tangan, aku semakin terharu mana kala melihat wajah berkaca-kaca dari wajah Mama dan Papa. Aku bergerak memeluk mereka dan dua keluarga akhirnya sepakat untuk pernikahan kami.
Hari ini adalah hari paling bahagia bagiku, hari paling berharga dan telah aku nanti nantikan. Akhirnya ada seorang pria yang melamarku dengan caranya yang unik. Ah ternyata Saka sudah mempersiapkan segalanya tanpa sepengetahuanku.
"Kamu curang ih gak ngasih tahu aku," protesku pada Saka.
"Kalau ngasih tahu bukan surprise namanya." Ujarnya sambil menyentil hidungku. Kebiasaan deh.
"Selamat ya Kak untuk kalian berdua." Ucap kedua adik Saka. Mereka tampak bahagia dengan acara lamaran mendadak ini.
"Trimakasih sayang," balasku sembari memeluknya.
Setelah lamaran dadakan itu usai, kita semua makan bersama dan ngobrol seputar pernikahan. Mulai dari obrolan lamaran resminya kapan dan di mana, apakah langsung nikah saja atau ada pertunangan lagi. Terus di gedung mana, konsepnya apa, semuanya dibahas dengan gembira.
*Kau tahu perempuan mana yang tak bahagia jika dilamar seperti ini? Dengan orang yang juga mencintai kita dan menerima kita dalam kondisi apapun. Barangkali aku adalah satu dari sekian banyak perempuan di luar sana yang beruntung mendapatkan kesempatan seperti ini. Aku merasa sangat dicintai dan berharga. Awalnya ini memang perjodohan tanpa seizin aku, tapi aku tak menyangkan endingnya pun akan seperti ini. Saka ternyata jauh dari bayanganku dulu. Dia pria yang sangat baik.
...
__ADS_1
Bersambung*