Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 61. 5 Bulan Kemudian


__ADS_3

Aku merasa mules banget. Tengah malam. Aku lirik jam di dinding. Jam 2 dini hari. Belakangan ini aku merasa mules memang dan kata Mama mungkin aku mulai mengalami kontraksi palsu jelang melahirkan. Hal tersebut wajar terjadi.


Malam ini rasanya perutku sakit banget. Susah tidur, miring sana miring sini. Mendadak kayak pengen pipis dan buang air besar. Akhirnya aku ke kamar mandi. Aku sengaja tidak membangunkan Saka, kupikir masih kontraksi palsu.


Lalu kagetlah aku pas di kamar mandi, jongkok dan ada bercak darah keluar. Panik. Aku berdiri dengan hati-hati karena sakitnya datang lagi. Pelan aku berjalan ke tempat tidur. Lantas membangunkan Saka yang tidur pulas.


"Yang, sayang...! Bangun!" Posisi aku sedang menahan sakit dan memegangi perut besarku.


Saka terjaga dan kaget melihatku sedang menahan sakit bagian bawah perut. Kupegangi bagian yang sakit dan memegangi pinggang belakangku yang seolah nyaris putus. Aku gak kuat. Huh.


"Yang, sayang...! Jangan-jangan kamu mau melahirkan." Ucap Saka panik.


Dia bangun dari tempat tidur dan segera menyiapkan segala sesuatunya. Beberapa perlengkapan lahiran sudah kusiapkan, jadi sewaktu-waktu jika momen lahiran itu datang, tinggal angkut dan pergi.


Saka menggendongku ke lantai bawah. Menggedor pintu kamar Mama.


"Ma...!" Teriaknya.


"Ma..., Mama!!" Teriaknya lagi.


Tak lama, Mama keluar dengan mata yang setengah terpicing. Namun membelalak saat melihatku kesakitan di gendongan Saka.


"Ada apa?" Tanyanya sedikit kaget.


"Ma, tolong bawa tas yang sudah kusiapkan di atas ya. Mama bisakan menyusul nanti? Biar aku ke rumah sakit duluan." Ucap Saka cepat. Aku berkali-kali meremas kuat apapun bagian tubuh dari Saka yang tergapai oleh tanganku saking sakitnya.


"Eh, sudah waktunya ya? Kalian cepat pergi, Mama siap-siap dulu. Mama akan segera membawa keperluan kalian.


Mendadak semua orang panik. Saka sudah menghubungi Mamanya pagi buta begini saat nyetir.


"Tunggu sebentar sayang, kita sudah hampir sampai."


"Aaarkhh... Sakit!!!"


"Tahan dulu. Ini aku sudah cepat sayang."


"Mas, buruan! Sepertinya air ketubanku pecah."


"Sebentar lagi sayang."


"Aamm... Sakiiittt! Aarghh...!"


Aku terus melenguh dan menjerit kesakitan. Bagian belakang dan jalan lahirku sakit sekali. Nafasku makin cepat dan pendek-pendek. Aku ingat pesan dokter kalau tetap menjaga irama nafas.


Saka mempercepat laju mobilnya. Sampai di rumah sakit, dengan cepat Saka minta bantuan suster yang malam itu berjaga.

__ADS_1


"Tolong sus, isteri saya mau melahirkan."


Dengan cepat suster-suster itu bergerak membawa kursi roda.


"Bu, apa sudah pecah ketuban?" Tanya salah seorang suster.


"Tadi ada cairan keluar pas perjalanan ke rumah sakit. Apa itu yang suster maksud?"


"Kalau gitu harus cepat."


Semua suster bergerak cepat. Mempersiapkan segala sesuatunya. Memanggil dokter dan semua bekerja seusai job desk masing-masing.


Aku mengerang kesakitan.


"Sudah bukaan terakhir ini. Semuanya siap." Ucap dokter. "Ibu ikuti instruksi saya."


Aku menggeleng kesakitan. Satu tanganku berpegangan pada Mas Saka. Satu lagi berpegangan pada tempat tidur rumah sakit bersalin.


"Siap! Ngeden Bu."


"Mphhtttthhh..."


"Lagi Bu. Sekarang lebih cepat dan panjang. Tarik nafas lalu ngeden di bagian perut."


"Ayo sayang kamu pasti bisa. Berjuanglah demi anak kita." Ucapnya.


"Sekali lagi ya Bu, kepalanya sudah menyembul." Aku menarik nafas dalam dan ngeden sekuat yang kubisa, tanganku mencengkram lengan Saka dengan sangat kuat.


"Bagus, lagi Bu lagi! Sudah hampir keluar. Nah sekarang yang panjang Bu!" Instruksi dokter.


"Hemmmppthhhh..... Arhhhh!!!!"


"Eaaaakkk....eaaakk...." Suara tangis bayi, kencang memecah suasana rumah sakit.


Aku merasa perutku langsung kosong dan air mata basah di pipiku.


Sungguh luar biasa kenikmatan melahirkan ini. Setelah rasa sakit usai, diganti dengan kenikmatan yang tidak terhitung begitu melihat tubuh merah nan kecil itu digendong suster.


"Hhh, akhirnya..! Ucap Saka lega.


"Selamat ya Bu, Pak, bayi kalian laki-laki. Berat 3.8 kilogram, panjang 50cm."


Saka terus mencium kening dan puncak kepalaku, sembari tersenyum dan berbisik.


"Terimakasih sayang, sudah melahirkan anakku. Sekarang kamu adalah seorang Mama dan aku seorang Papa."

__ADS_1


Aku tidak bisa berkata apapun lagi. Kebahagiaan yang kurasakan tidak bisa diutarakan. Bayiku tengah dibersihkan, aku memulihkan tubuhku dengan minum teh kotak dan nyemil makanan kaya protein. Agar air susuku mengalir dan banyak.


Kalian tahu bagaimana rasanya saat pertama kali bayimu diletakkan di atas dadamu? Ah, hanya seorang Ibu yang bisa merasakan betapa indahnya momen itu.


Wajahnya mirip sekali dengan Saka. Gemas. Lucu. Apalagi ketika mulutnya monyong-monyong mencari ****** susuku.


Bayi kecil kamu sangat menggemaskan. Ah, betapa beruntungnya aku mengalami semua proses ini.


Untuk pertama kalinya aku menyusui langsung bayiku. Awalnya belum keluar, namun setelah dilakukan pijatan-pijatan sekitar payudara, akhirnya airnya keluar juga.


Sedikit nyeri begitu pertama kali mulut kecilnya itu menghisap ****** susuku. Namun lama kelamaan jadi terbiasa. Aku hanya bisa menatapnya dengan penuh takjub.


Saka di sisiku sedang mengelus-elus pipi dan lengan bayi kecil yang kini kupangku.


"Lihatlah betapa miripnya dia denganmu sayang."


"Dia akan jadi jagoan seperti Papanya."


Tak lama kemudian, Mama dan juga keluarga dari Saka satu persatu masuk ke dalam ruang bersalin.


"Selamat jadi Nenek Ma." Ucapku pada Mama dan Mama mertuaku.


"Ah andai saja Papamu masih ada sayang. Tentunya dia sangat bahagia. Dia sudah lama menantikan kelahiran cucunya."


Air mata Mama berurai tanpa bisa dicegah. Ada rasa haru, bahagia dan juga sedih di sana. Bercampur aduk jadi satu, namun tentu saja kebahagiaan lebih besar daripada kesedihan itu sendiri.


"Ma...!" Aku mengelus punggung tangan Mama untuk menguatkan.


"Hei cucu Oma, apa kabar? Gimana rasanya terlahir di dunia? Hehe jadi anak yang baik yah, cerdas dan jago masak seperi Papamu." Ucap Mama mertua yang disambut senyum oleh semuanya.


Alangkah kebahagiaan semakin bertambah sejak kelahiranmu di dunia ini sayang. Malaikat kecilku yang sangat berharga. Saat kau masih di kandung badan Mama, aku selalu berdoa semoga kelak kau lahir dan tumbuh dengan baik. Menjadi orang yang pengasih dan penyayang.


"Kalian sudah siapin nama?" Tanya Mama.


"Sudah Ma. Namanya Kiano Putra Saka. Semoga menjadi anak yang berhasil, cerdas dan beruntung sesuai namanya. Aamiin."


"Nama yang bagus. Hai bayi kecil Kiano..." Ucap Mama mertua seraya menguyel-uyel pipi merah Kiano.


Jika ada hal yang paling membahagiakan dari menikah, maka jawabannya adalah memiliki anak. Tak dapat diukur betapa besar dan banyaknya rasa bahagia yang bertambah dari hari ke hari.


SELAMAT DATANG KIANO PUTRA SAKA KE DUNIA INI. JADI ANAK YANG BERHASIL, CERDAS DAN BERUNTUNG.


***


Novel ini sudah memasuki masa akan selesai ya. Mohon maaf jika tulisan saya kurang memenuhi rasa puas bagi pembaca. Kritikan dan sarannya ditunggu. Hehe

__ADS_1


__ADS_2