Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 09. Tak Baik-Baik Saja


__ADS_3

“Aku tak baik-baik saja, maka bolehkah aku menangis sepanjang malam ini? Aku tak sanggup menahan laju air mataku...”


“Sebagai ucapan terimakasih karena kamu sudah mau temani aku makan malam keluarga, maka siang nanti kita habiskan di salon dan aku akan memberi gaun yang tak kalah indah dengan yang kupunya. Semua gratis tis tis....!” Nina bercerita dengan semangat, sementara aku belum pulih dari kebimbanganku.


“Yan... Rian... are you okay?”


“Eh gimana tadi?” Jawabku secepat mungkin.


“Pikiran kamu ke mana Yan? Kamu sakit? Kamu mau aku batalin aja makan malamnya?”


“Eh jangan, jangan dibatalin. Aku tidak apa-apa kok. Jadi tunggu apalagi ayo kita ke salon. Pastikan aku juga tak kalah cantik dan anggun daripada calon pengantinnya. Hehe...”


“Pasti!”


Walau baru saja sampai di rumah kontrakan, aku dan Nina sudah pergi lagi menuju Salon. Sebelum langsung ke salon kita berdua mampir makan dulu di warung padang. Kesukaan kami terhadap masakan padang tidak boleh ditawar-tawar lagi, sama-sama suka pedas.


Sekira setengah jam di warung Padang, kami berdua lanjut ke salon untuk mempersiapkan diri dalam perjamuan makan malam keluarga Nina dan Tefan. Nina sudah menyiapkan sekaligus gaun yang akan kami berdua pakai saat makan malam nanti. Ada dua kotak berisi gaun, satu berwarna Putih bersih satu lagi berwarna biru laut. Gaun putih untuk Nina dan aku diberi gaun yang berwarna biru laut, Nina tahu kalau aku memang suka warna biru apalagi biru laut. Dia selalu begitu, tahu apapun yang aku butuhkan meski ada satu hal yang sampai saat ini belum dia ketahui dan aku harus menutupnya rapat-rapat.


Di jalan menuju salon, Nina tak henti-hentinya bercerita tentang rasa gugupnya saat berhadapan langsung dengan orang tua Tefan. Meski ini bukan pertama kalinya mereka bertemu tapi dia mengaku masih selalu gugup. Terlebih karena saat makan malam nanti mungkin mereka akan menyinggung soal penetapan tanggal pernikahan. Antusiasme Nina dalam menceritakan semua yang dia rasakan, membuatku terenyuh. Dia begitu polos dan sangat menginginkan pernikahan tersebut. Bagaimana mungkin aku akan merusak pernikahan mereka kelak?


Menanggapi semua yang diceritakan Nina aku hanya bisa ikut berbahagia dan membesarkan hatinya. Walau di sudut hati terdalam ada bagian yang mungkin telah menangis lagi. Kami tiba di salon pukul empat sore. Lumayan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ketika membuka pintu salon, tiba-tiba saja HP-ku bergetar dan di layar tertera nama Tefan memanggil. Duh...


“Nin, kamu masuk duluan yah aku mau terima telpon dulu sebentar.”


“Ok. Aku tunggu di dalam yah.”


Setelah merasa cukup aman untuk mengangkat telponnya barulah aku menerima telpon dari Tefan.


“Ya Fan, aku lagi sama Nina. Ada apa?”


“Kalian di mana?”


“Di salon, baru saja sampai. Kamu belum jawab pertanyaanku, ada apa?”


“Tidak apa-apa hanya memastikan apakah kamu sudah kembali dari Kawah Putih atau belum.”


“Udah kok. Tadi Nina telpon dan minta ditemani ke salon demi mempersiapkan dirinya saat makan malam bersama keluarga kamu.”

__ADS_1


“Oh gitu. Ya sudah lanjutkan saja dulu urusan kalian.”


“Ok. Aku masuk dulu ya, bye...!”


“Bye...!”


Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas, kulihat Nina sudah telentang dan seorang pegawai salon hendak memijat keseluruhan tubuhnya. Akupun memberikan instruksi yang sama terhadap pegawai salon lainnya. Bersiap-siap dengan piyama salon agar lebih mudah melakukan perawatan tubuh.


“Telpon dari siapa tadi Yan?”


“Dari teman sekantor dulu. Ngajak ketemuan tapi aku bilang gak bisa karena harus temenin kamu malam ini.” Terpaksa harus berbohong demi kebaikan semua.


“Oh gitu.”


“Iyah.”


Pijatan demi pijatan yang memanjakan kulit memberikan rasa nyaman terhadap tubuh, membuatku tiba-tiba ingin terlelap walau sejenak. Kulihat Nina pun sama, dia sangat menikmati pijatan sampai harus memejam. Tidak salah salon ini ramai didatangi dan terkesan mahal, karena memang pelayanannya sangat baik dibanding salon-salon manapun.


Aku membuat diriku rileks sebentar untuk menikmati sentuhan demi sentuhan. Rasanya sudah lama sekali tidak merasakan surga dunia seperti ini, apalagi mengingat semalam aku dan Tefan... ups...! Nyaris membuatku roboh dan tumbang seketika. Untung saja kali ini ada sentuhan yang berbeda yang akan membuat peredaran darah jadi lebih lancar dari biasanya.


Pukul tujuh malam aku dan Nina on the way ke restoran yang sudah dipesan secara pribadi oleh keluarga Tefan. Hatiku makin tidak karu-karuan, aku masih belum bisa nyaman dengan pertemuan nanti. Nina terlihat sangat cantik dengan gaun terbuka warna putih yang tengah dipakainya. Dia tampak seperti putri raja dan aku hanyalah dayang-dayang yang siap melayani putri kapan saja. Hufth...


Fiuhhh... aku menarik dan membuang nafas yang panjang, perasaan deg degan masih terus menghantui. Bahkan aku lebih tegang dibandingkan Nina yang tampak nyaman dengan balutan gaunnya. Kami berdua memasuki pintu restoran sambil berpegangan tangan, seolah-olah sedang menguatkan hati masing-masing. Kami berdua masuk lift dan menuju lantai 3, di sanalah ruangan yang dipesan secara pribadi oleh keluarga Tefan.


Keluar dari lift akhirnya aku bisa menguasai diriku, tak lagi merasa tegang dan mencoba untuk sesantai mungkin. Bagaimanapun aku tak boleh terlihat tertindas oleh tatapan orang tua Tefan nantinya. Kami membuka pintu dan masuk dengan langkah yang pelan, orang tua Tefan tampak terkejut dengan kehadiranku. Terlebih Tefan yang seperti hendak memberi kode “Ngapain kamu di sini?”. Tapi aku tidak peduli lagi, toh aku sudah di sini dan menghadapi mereka adalah salah satu cara yang masuk akal.


“Selamat malam om, tante...!” Sapa Nina sopan dan senyum terkembang.


“Selamat malam Nina, ayo silahkan duduk.” Jawab Papa Tefan.


“Oh iya maaf nih Om, Tante, aku bawa temanku ke sini. Dia sudah seperti keluarga sendiri bagi aku. Kenalin, dia Riana.”


“Oh, kami sudah tahu. Dia juga teman Tefan bukan?” Mama Tefan menimpali.


“Iyah Tante, rupanya kalian sudah saling kenal. Jadi tidak perlu sungkan lagi.”


Aku duduk berdekatan dengan Nina diapit oleh Mama Tefan yang sejak tadi tatapannya tak pernah teduh menatapku. Tatapan teduh yang dulu pernah ada itu sudah hilang sejak lama. Aku menikmati sajian menu makan malam dengan sedikit canggung, walau begitu aku berusaha untuk menghindari tatapan Tefan yang seperti menuntut penjelasan. Nina dan kedua orang tua Tefan sibuk bercanda ria, aku hanya menimpali dengan senyum dan anggukan seperti biasa.

__ADS_1


Tefan tak bisa mengatakan banyak kecuali mengiyakan setiap perkataan Mama Papanya yang menuntutnya untuk memberikan jawaban. Tefan sama tegangnya denganku, apalagi saat orang tuanya seperti menaikkan bendera tanda perang. Hampir saja aku dibuat malu kalau saja Tefan tidak melerai perkataan orang tuanya. Ingin rasanya aku menghilang saat itu juga, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Untungnya Nina tak menyadari apapun, karena sudah tak tahan dengan situasi yang hendak memojokkan akupun pamit pergi ke toilet sebentar.


Tak lama setelah aku berada di toilet dan memandang lama ke kaca berukuran lebar di di depanku, kulihat Tefan muncul dengan gurat wajah yang sama gelisahnya denganku.


“Maafin sikap mama dan papa. Aku tahu kamu terluka, kamu marah dan kamu kesal pada mereka. Kamu sudah tahu jelas bahwa dengan datang ke sini itu artinya kamu harus siap dengan segala kondisi buruk yang mungkin terjadi.”


“Aku tahu.” Jawabku pendek.


“Kalau kamu tidak betah, kamu bisa pulang sekarang. Nanti aku yang bicara pada Nina.”


“Tidak usah, aku baik-baik saja. Sebaiknya kamu keluar secepatnya, sebelum mereka curiga dengan kita berdua.”


“Riana, please jangan keras kepala begini.”


“Fan, sudahlah aku baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir. Lagian kalau aku pergi dari mereka, itu akan menimbulkan tanda tanya besar. Selain itu mungkin aku akan dianggap lemah dan pengecut oleh orang tuamu seumur hidupku.”


“Aku harap kamu masih mau memaafkan mereka dengan semua yang sudah dilakukannya padamu.”


“Aku bukan tipe orang pendendam. Aku duluan...”


Saat aku kembali ke meja, Nina tampak akrab sekali dengan orang tua Tefan. Aku ingat dulu saat masih kecil, orang tua Tefan terutama Tante Venny sangat baik padaku. Dia selalu saja memberikan kue cokelat kesukaanku pabila bermain di rumahnya. Berbeda sekali dengan sekarang, jangankan memberi kue cokelat tersenyum saja kepadaku terasa mahal baginya. Bila ingat itu semua aku mendadak sedih dan hatiku koyak mengingat semuanya takkan bisa seperti dulu lagi.


“Kamu baik-baik saja Yan?” Tanya Nina begitu aku duduk.


“Iyah. Tadi mendadak sakit perut tapi sudah hilang kok. Kalian berdua lanjutkan saja ngobrolnya.”


Aku sahabat yang buruk barangkali, tidak bisa ikut bergabung dengan keseruan mereka yang sedang membahas konsep pernikahan. Kudengar mereka akan melakukan pertemuan keluarga besar bulan depan sekaligus membahas tanggal pernikahan. Sekarang, begitu dekat, begitu nyata bahwa aku sama sekali tak memiliki kesempatan untuk bersama Tefan lagi. Hari-hari yang indah akan segera pergi dan kesuraman akan segera datang. Aku ingin rebah di pelukan Mama sekarang.


Sekitar pukul sepuluh malam barulah kami semua pulang. Aku tak bisa berucap banyak, Nina juga tampak heran dengan sikapku malam itu. Lelah yang tiba-tiba hadir membuatku ingin segera bertemu kasur dan membenamkan kepala di bawah bantal secepat mungkin. Atau bahkan menghilang dari muka bumi ini jika itu diperlukan. Begitu sampai di rumah, aku lekas masuk kamar. Pamit pada Nina yang diliputi kebahagiaan.


“Nin, aku masuk kamar duluan yah. Aku ngerasa capek banget, mungkin karena baru sampai Bandung lagi siang tadi jadi cukup membuat lelah.”


“Iyah, kamu juga kelihatannya pucat banget. Istiraha duluan sana, jangan lupa minum obat atau vitamin. Kamu ada kan?”


“Iyah ada kok. Tenang saja.”


Jika tak bersama adalah akhir segalanya, bukankah sejak awal aku sudah tahu? Lantas kenapa aku masih bersedih? Tapi tak bisa dipungkiri, perasaan mendalam yang telah hadir membuat segala luka jauh lebih perih bila harus terpisah. Merelakan kekasih untuk sahabat jelas bukanlah hal yang akan membuat siapapun baik-baik saja. Aku tak baik-baik saja, maka bolehkah aku menangis sepanjang malam ini? Aku tak sanggup menahan laju air mataku...

__ADS_1


__ADS_2