Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 32. Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Akhirnya masalah toko selesai juga, semua barang berhasil dipindahkan ke toko cabang. Semua itu tak lepas dari bantuan Saka yang sejauh ini tak membiarkan aku menyelesaikan masalah sendirian.


Dia juga sudah melaporkan ke polisi tentang kekacauan yang sudah ditimbulkan oleh Om Roy. Biarkan saja, dia pantas mendapatkannya.


Saat ini aku sedang fokus ke pembangunan kantor pusat. Karyawan aku sebar ke setiap cabang sementara Nia tetap membantuku membereskan segala sesuatu. Aku juga sudah mengurus surat jual beli tanah dengan Saka. Aku bersyukur karena dia mau merelakan tanahnya demi aku.


Aku juga mendengar kabar baik dari Nina bahwa saham Papanya yang ada pada perusahaan milik Om Roy sudah dia tarik. Otomatis kekuatan perusahaan om Roy saat ini melemah. Sudah bisa dipastikan dia tidak akan punya waktu merecoki urusanku lagi. Perusahaannya bisa dibilang sedang sakit. Karena itu dia perlu tenaga yang banyak untuk menyembuhkannya terlebih dahulu. Apalagi saham Papa Nina bisa dibilang besar, mau tidak mau dia harus menerima kenyataan bahwa perusahaannya jika tidak ditanganin dengan baik mala sebentar lagi collaps.


"Kenapa Papa kamu mau saja mendengarkan keluhanmu Nin? Sampai dia menarik seluruh sahamnya tak tersisa." Ujarku siang itu saat bertemu di restoran pada jam makan siang.


"Kamu lupa ya aku ini anak kesayangan Papa? Lagi pula Papa sudah muak dengan sifat tamak om Roy. Tidak pernah menganggap orang lain dengan benar. Yah mungkin sudah nasib dia sekarang harus seperti itu."


"Mudah-mudahan saja dia kapok sekarang."


"Bagaimana urusan kantor pusat kamu?"


"Sejauh ini sudah berjalan lancar. Sedang dalam masa pembangunan. Mungkin dua atau tiga bulan lagi selesai, doain ya!"


"Pastilah. Terus aku kepo nih sama hubungan kamu dengan pria yang dijodohkan Mamamu. Cerita dong." Nina semakin semangat, pupil matanya membesar menandakan dia sudah tak sabar menunggu aku bercerita.


"Namanya Saka Rahadian. Orangnya baik, apalagi sejauh ini dia yang sudah nolongin aku. Walaupun pada awalnya dia itu nyebelin banget, tapi dia ganteng sih. Ha ha ha.. aku tidak bisa mengabaikan tatapan dia yang seakan membuat jantungku hendak melompat keluar."


"Kamu jatuh cinta ya Yan?"


"Entahlah! Aku rasa aku nyaman sama dia. Hanya saja mungkin sekarang mungkin lebih baik seperti ini dulu. Menjalani dengan santai sambil saling mengenal satu sama lain."


"Baguslah. Aku rasa sih dia bisa menempati posisi Tefan di hati kamu sekarang."


"Itu dua hal yang berbeda Nin. Siapapun yang sudah bersamaku selama ini, itu memiliki tempatnya masing-masing. Bagiku semua orang itu spesial. Jadi yah kita lihat saja nanti."


"Baiklah. Semoga kelak kamu mendapatkan jodoh yang terbaik."


"Amin."


Setelah menghabiskan makan siang, aku dan Nina berpisah. Aku harus bertemu klien untuk beberapa produk fashion. Setelah itu makan malam keluarga bersama keluarga Saka di rumahnya.


*

__ADS_1


*


*


Aku sedang berdua-siap. Aku memantaskan diri di depan cermin. Gaun berwarna biru lembut pemberian Nina sangat pas di tubuhku. Aku tidak pernah lagi berdandan atau mengenakan gaun malam seperti ini sejak pernikahan Nina dan Tefan. Semoga saja malam ini berjalan dengan lancar. Aku begitu gugup karena harus bertemu langsung dengan keluarga Saka. Walaupun ini hanya makan malam, tetap saja rasa gugup itu tak mau pergi.


Mama masuk ke dalam kama dan berkomentar soal gaunku.


"Kamu cantik sekali sayang." Ujarnya takjub melihatku.


"Ah Mama bisa saja."


"Iyah kamu pantas sekali mengenakan gaun itu. Aku yakin Saka akan panglin melihat kamu dengan gaun ini. Benarkan Pah?" Ucap Mama sambil meminta pendapat Papa yang secara bertepatan masuk ke dalam kamar.


"Tidak ada yang bisa menolak pesona anakku. Riana, Papa sangat bangga padamu."


"Makasih Pa, Ma."


Setelah obrolan singkat itu, kami bertiga pun siap berangkat ke rumah Saka.


Terkadang aku khawatir akan perasaanku, benarkah aku telah jatuh cinta (lagi)? Jika iya aku tidak menyangka seorang Saka dapat menaklukkan hatiku dalam waktu singkat. Yah, walau sebenarnya aku tidak memungkiri kalau seluruh yang ada pada Saka membuatku tertarik seolah ada magnet di sana.


"Ma, aku kok gugup ya?"


"Tenang sayang ini hanya makan malam."


"Iya Riana tahu, tapi tetap saja--


"Sudah kamu harus tenang. Jika tidak kamu akan membuat Mama malu ih. Masa umur sudah 30an lebih tapi masih saja seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta?"


"Ih Mama..."


Aku memperhatikan wajahku di cermin yang sengaja kubawa. Berkat Mama pipiku sekarang merona merah persis tomat yang lagi matang-matangnya.


Tapi apa iyah? Ah aku masih tidak yakin kalau aku sedang jatuh cinta. Gawat nih.


Dengan menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit tanpa drama macet, kami pun tiba di depan sebuah rumah yang terbilang cukup mewah.

__ADS_1


Aku turun dari mobil dan di sana telah berdiri pria tampan yang diam-diam sudah mencuri hatiku belakangan ini. Hatiku semakin tidak karuan mana kala dia memperlihatkan senyumnya. Tante Vera yang berdiri di sisinya menyambutku terlebih dahulu dengan pelukan dan cuim di pipi kiri dan kanan.


Sial kok aku makin gugup yah.


Aku dibuat berdecak kagum dengan interior rumah Saka yang dipenuhi lukisan. Seperti memasuki sebuah museum saja.


Mama dan Papa sudah berakrab ria dengan tante Vera dan suaminya. Sementara aku masih tertinggal di belakang sedang menikmati isi dan desain rumah ini yang sungguh menakjubkan.


Tak kalah menakjubkan mana kala Saka meraih jemariku dan mengisinya dengan jemarinya yang panjang. Duh, aku kok tidak bisa santai seperti dia sih.


Genggamannya yang hangat sedikit membuatku nyaman. Aku dan dia berjalan menghampiri meja makan yang mana sudah ada orang tua kami di sana.


Dia menarik kursi untukku lalu mempersilahkan aku duduk. Sikap dia sangat berbanding terbalik dengan pertama kali aku bertemu dengannya. Sikap dia sekarang jauh lebih manis dan lembut. Mana bisa sih aku mengabaikan itu semua.


Aku dan Saka duduk berhadapan. Sesekali kulihat dia sedang mencuri pandang ke arahku. Sekarang aku semakin yakin kalau dia tidak bisa membuatku tenang sedikit pun. Bagaimana tidak? Tatapannya itubi bikin aku tahan nafas saking gugupnya.


"Jadi gimana hubungan kalian? Apa sudah selangkah lebih maju?" Suara Papanya tiba-tiba memecah suasana makan malam itu.


"Biarkan kita berkenalan satu sama lain dulu Pa. Saka tidak mau perjodohan ini dilakukan sembarangan. Aku mau mengenal pasanganku dengan baik."


Jawabannya mewakili perasaanku, syukurlah jika dia tidak mau buru-buru.


"Nak Riana sendiri bagaimana?"


"Aku-- Aku akan berusaha mengenal Saka lebih baik lagi Om."


"Uruslah hubungan kalian dengan baik. Kita ini para orang tua hanya berharap yang terbaik. Terpenting adalah kalian berdua nyaman atas perjodohan ini."


Untunglah keluarga Saka tidak terlalu memaksa. Kupikir akan langsung seperti melamar calon mempelai perempuan.


Setelah perjamuan makan malam, aku diajak Saka berjalan-jalan ke taman belakang rumahnya yang bercahaya keemasan. Sementara para orang tua sedang ngobrol di ruang keluarga.


*Jika seseorang dengan mudah jatuh cinta, apakah kali ini aku juga sama?


*


*

__ADS_1


*


Bersambung*...


__ADS_2