
Pernikahan dilakukan di rumah Tefan. Semuanya serba tertutup. Hanya kolega penting yang diundang dan hadir dalam acara tersebut. Bahkan keluarga dari Tefan tak satupun yang diundang. Papa atau Mama Tefan tak nampak di sana. Mungkin saja Tefan sengaja melakukannya, Riana mungkin tak nyaman dengan kehadiran mereka. Mengingat sebelumnya bagaimana Papa Tefan menolak dengan keras hubungan mereka.
Tefan sudah bersiap di depan penghulu. Setelan jas berwarna hitam kombinasi putih, membuatnya tampak gagah. Riana belum kelihatan, mungkin masih sibuk dengan riasan di wajah juga gaun pengantinnya.
Tidak sampai tiga puluh orang yang hadir di sana. Pernikahan yang digelar tertutup ini, sangat terlihat sakral. Seperti permintaan Riana yang tak mau banyak orang yang hadir atau diundang. Baginya usai ijab Qabul maka semua prosesi acara pun selesai.
"Anda cantik sekali, Nyonya!" puji perias wajah yang menangani Riana.
"Tak lepas dari skill mumpuni darimu yang bisa mengubahku secantik ini. Terimakasih."
Sejujurnya, Riana gugup. Walau bukan pernikahan pertama, tetap saja dia merasa hatinya berdebar keras.
"Bunda, sudah siap?" tanya Kiano tiba-tiba muncul dari pintu.
"Anak bunda ganteng sekali hari ini!" seru Riana seraya meminta Kiano mendekat.
"Jangan cium bunda, nanti lipstik bunda nempel!" protes Kiano. Padahal itu bukan alasan satu-satunya kenapa dia menolak. Belakangan Kiano sudah mulai sungkan dipeluk atau dicium. Apalagi di depan teman sekolahnya. Kiano akan bilang, Kiano kan sudah besar bunda, tidak enak dilihat teman-teman!
"Jadi gitu nih, sama bundanya?" goda Riana pada anak semata wayangnya.
"Ya sudah deh, biar Kiano aja yang cium Bunda."
Satu kecupan mendarat di pipi Riana.
"Ayo bunda, Kiano antar keluar. Semua orang sudah menunggu. Om Ganteng pasti terpana melihat kecantikan bunda hari ini."
Kiano terus ngoceh sepanjang dia keluar dari kamar. Namun semakin dekat dari tempat ijab kabul, Kiano pun diam dan hanya menggenggam tangan bundanya hingga duduk di samping Tefan.
Ya Tuhan, kenapa aku gugup sekali? Riana, mengapa dia cantik sekali hari ini? Membuat konsentrasiku hampir buyar. Telapak tanganku seperti dibanjiri keringat. Keningku apa lagi. Kenapa bisa segugup ini si.
Tefan melirik sebentar ke arah Riana, wanita itu terlihat tenang-tenang saja. Apa karena dia yang akan dinikahi makanya tenang, apalagi tugas dia hanya duduk di samping mempelai pria saja. Sementara Tefan harus merasakan ketegangan luar biasa akibat takut jika dia salah dalam melafazkan kalimat ijab kabul.
Suasana yang tadi sedikit ramai, kini menjadi tenang dan sunyi. Hampir tak ada suara siapapun yang justru semakin membuat Tefan tegang, gugup dan penuh kecemasan. Itu tergambar jelas di wajahnya.
Sang penghulu yang melihat hal itu, berusaha untuk mencairkan suasana. Hari ini, Tefan nikah diwakili oleh kolega bisnisnya yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Sedangkan Riana, karena tak ada siapapun lagi tersisa dari keluarganya maka dia hanya wakili bapak penghulu langsung. Tidak tahu apa itu boleh atau tidak.
__ADS_1
Suasana ijab kabul menjadi tenang. Orang-orang menunggu dengan khidmat. Dimulailah dengan si Bapak Penghulu yang langsung mengambil alih acara nikah tersebut.
"Siap?" tanyanya pada Tefan.
"Siap!" jawabnya mantap.
"Siap apa?"
"Siap menikah. Siap dinikahkan!"
"Sudah hafal ijab Kabulnya?"
Suasana seketika menimbulkan gelak tawa. Hilanglah semua rasa tegang itu. Raut wajah Tefan yang tegang sedikit mengendur.
"Sudah."
"Berapa lama menghapalnya?"
Tefan tak menjawab, dia sungguh malu jika harus bilang dia menghapalnya sejak melamar Riana dan sampai sekarang masih suka gugup.
Riana tersenyum kecil. Sejujurnya pak ustadz penghulu hanya berusaha agar suasana pernikahan hari itu lebih cair saja.
"Baik, ikut saya untuk mengingatkan lagi ya."
"SAYA NIKAHKAN ENGKAU TEFAN BIN ROY DENGAN SEORANG PEREMPUAN BERNAMA RIANA LARASATI BINTI AHMAD DENGAN MAHAR SEPERANGKAT ALAT SHALAT DIBAYAR TUNAI."
"Lanjut!" pinta Ustadz
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA RIANA LARASATI BINTI AHMAD DENGAN MAHAR SEPERANGKAT ALAT SHALAT DIBAYAR TUNAI!"
"Baik kita mulai sekarang ya!"
...
""SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA RIANA LARASATI BINTI AHMAD DENGAN MAHAR SEPERANGKAT ALAT SHALAT DIBAYAR TUNAI!" Ucap Tefan dengan lancar dan satu nafas.
__ADS_1
Sengaja dia meminta hapalan ijab kabul yang pendek karena takut dia lupa di tengah. Ada-ada saja.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"SAHHHH!!!" teriak semua orang di ruangan itu dengan tawa setelahnya.
"Alhamdulillah!"
Di hadapan para tamu, sang ustadz mulai berbicara bahwa pernikahan adalah hal yang sakral. Sebisa mungkin, sekali dalam seumur hidup, seperti janji dalam kalimat ijab kabul tersebut.
Menikah sejatinya adalah bagian dari naluri kemanusiaan. Jika naluri tersebut tidak terpenuhi dengan jalan yang baik dan diridhoi Allah yaitu pernikahan, maka yang bersangkutan telah mencari jalan keliru, atau ke jalan lembah dosa.
Esensi dari pesan penghulu berujung pada sebuah pesan bahwa pernikahan itu haruslah membuahkan keluarga sakinah, mawadah wa rahmah. Damai, tenang dan tentram dalam rajut cinta dan kasih sayang yang sejuk dan abadi hingga hari tua.
Terkadang pernikahan itu seperti sedang berlayar. Dalam perjalanannya, mungkin saja ada ombak kecil yang menggoyahkan perahu dan bahtera rumah tangga. Mungkin juga ombak besar datang dan meluluhlantakkan semuanya, seperti badai menakutkan. Namun ketika sang nahkoda dan penumpang bisa melewatinya dengan ikhlas maka rumah tangga bisa tetap terbingkai dalam jalinan kasih yang abadi.
Pesan-pesan dari penghulu sangatlah menyentuh. Terlebih mereka berdua adalah dua orang yang pernah gagal dan pernah memiliki hubungan dengan orang lain. Entah gagal karena tak cocok, atau semuanya menjadi sendiri ketika suami meninggal.
Itu sebabnya, air mata Riana jatuh menetes. Membasahi tubing pipinya yang mulus. Dia teramat terharu karena bisa sampai pada saat ini. Momen sakral pernikahannya antara dia dan Tefan. Sesuatu yang pernah menjadi sangat diimpikannya di masa lalu. Namun karena belum waktunya hal itu pun tak terjadi.
Lalu kini, mereka sampai pada gerbang pintu berumah tangga yang sebelumnya tak pernah terlintas bahwa keduanya akan saling bertemu lagi dan merajut hubungan yang pernah luluh lantak dulu.
Tefan berbalik, menghadap Riana yang menunduk malu. Kedua tangannya memegang bahu Riana, mengangkat wajah Riana. Sehingga kini mereka saling bertatapan mata untuk tahu isi hati masing-masing.
Riana mencium punggung tangan Tefan sebagai penghormatan kepada orang yang kini sudah menjadi suaminya. Setelah itu, Tefan pun kembali memegang bahu Riana dan menariknya sedikit lebih dekat lalu mendaratkan kecupan lama di di kening Riana.
Diakhiri dengan sebuah pelukan antara Riana, Tefan dan juga Kiano. Sempurnalah pernikahan mereka saat ini. Semua orang bertepuk tangan, riuh sekali. Kemudian, satu-persatu tamu yang datang menyalami mereka masing-masing. Berlanjut dengan prosesi makan bersama.
....
Hey baby, I think I wanna marry you
Is it the look in your eyes,
or is it this dancing juice
__ADS_1
Who cares baby, I think I wanna marry you
__Bruno Mars