Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Kedatangan Keluarga Saka


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya, dua orang gadis turun dari mobil tepat di depan sebuah toko perhiasan milik Riana. Ketiganya berjalan masuk, mereka disambut oleh Nadia dengan ramah.


"Mari silakan masuk dan melihat-lihat dulu!" sapa Nadia.


Kedua gadis tadi nampak antusias, namun berbeda dengan ibu paruh baya yang hanya berdiri dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko. Nadia memperhatikan ibu itu dengan sorot mata penasaran.


"Maaf, Bu! Silakan dilihat-lihat dulu, barangkali ada yang menarik minat Ibu."


"Mana bos kamu?"


"Maksud Ibu, Ibu Riana?"


Jadi benar kata Shena dan Serly, Riana tinggal di Bali dan memiliki toko perhiasan. Yah ... tidak buruk! Setidaknya dia masih bisa bertahan dalam kondisi sulit. Bagaimana pun, aku harus membuat dia tak bisa menemui Saka.


"Iyah, Riana."


"Ibu Riana sedang menjemput anaknya, Bu. Maaf jika boleh tahu, Ibu siapa ya?" tanya Nadia agak sungkan karena rasa penasarannya.


Anaknya? Berarti cucuku, Kiano?


Bibir Ibu paruh baya tadi bergetar mendengar nama Kiano cucunya disebut.


"Jam berapa mereka akan kembali?"


"Sebentar lagi, Bu. Mohon ditunggu saja."


Dalam hati, Nadia memiliki firasat buruk tentang ibu paruh baya itu. Sementara kedua gadis yang bersamanya tadi masih sibuk memilih-milih aksesoris.


Nadia merasa kondisi di toko itu menolongnya, hari ini toko sepi pengunjung. Hanya satu dua orang selain ibu paruh baya itu dan kedua anak gadisnya.


"Nadia ... siapa yang datang? Ada mobil parkir di depan."


Riana belum lagi menoleh pada seseorang yang telah menunggunya sejak tadi. Menit pertama matanya bersirobok dengan mata ibu paruh baya itu, Riana sudah tertegun di tempatnya. Campuran antara rasa shock dan emosi yang mendadak meluap dari dadanya.


"Mama ...!" ucap Riana lirih masih terpaku di tempatnya.


Ibu paruh baya yang ternyata adalah Mamanya Saka, menghampiri Riana dan Kiano. Kiano menengok ke atas, ke arah bundanya. Mencari jawaban, tentang siapa nenek-nenek yang saat ini tengah memeluk dirinya.


"Maaf, Nek! Apa kita pernah bertemu?" tanya Kiano polos.

__ADS_1


Setengah mati Riana menahan agar air matanya tak jebol. Pertahanannya tidak boleh runtuh di depan mertua yang sudah mengusirnya beberapa tahun silam itu.


"Kiano ... astaga kamu sudah besar sayang! Cucuku!" Mama Saka berulang kali memeluk dan melihat sekali lagi wajah Kiano. Kerinduannya pada cucunya itu seakan terobati.


Shena dan Serly juga tak bisa menahan perasaan gemasnya ketika melihat Kiano. Mereka berdua mendekat dan menatap Kiano tak percaya, kini tumbuh menjadi anak laki-laki yang sangat tampan. Wajahnya mirip sekali dengan Saka.


"Kiano ... ini Tante Shena sayang."


"Ini Tante Serly."


Ucap kedua gadis itu bergantian.


Kiano semakin bingung. Orang-orang asing di depannya ini berganti-ganti mencubit pipinya yang gembul itu. Setiap kali pipinya dicubit, dia menghapus lagi bekasnya. Sangat-sangat menggemaskan.


"Nadia ... tolong antar Kiano ke atas untuk ganti baju!" panggil Riana pada Nadia


Nadia yang sejak tadi turut bingung dengan yang terjadi, gelagapan karena tiba-tiba dipanggil.


"I-iya, Bu. Kiano sayang, ikut kakak!"


Kiano menurut dan ikut naik ke lantai atas bersama Nadia. Sekarang mantan menantu dan mertua itu sedang duduk berhadap-hadapan di ruang kerja Riana. Ada keheningan yang cukup lama di antara mereka.


"Mama ke sini untuk memberitahu kamu, agar jangan pernah hadir lagi ke dalam hidup Saka. Saat ini, dia sudah menikah bersama Sheril mantan pacarnya dulu. Berkat Sheril-lah, akhirnya Saka bisa selama dan hidup sampai saat ini. Lagi pula, percuma kamu menemuinya, dia tak akan mengenalimu."


Mama Saka seperti menegaskan bahwa tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara Riana dan Saka. Semua sudah usai.


"Setidaknya, aku tahu jika dia masih hidup."


Susah payah Riana menjaga agar air matanya tak tumpah di depan Mama mertuanya. Namun rasa sakit di dadanya begitu menghimpit sehingga dia merasa nafasnya menjadi sesak.


"Riana ... lebih baik jika kalian hidup masing-masing."


Akhirnya, Riana tak sanggup lagi menahan emosi yang menyesaki dadanya. Dia mengangkat kepalanya, menatap langsung ke mata Mama mertuanya.


Antara ingin tertawa dan sedih. Riana mengungkapkan perasaannya. "Aku tahu, tapi itu tak mudah. Melihat suami sendiri, berjalan dengan perempuan lain itu sangat menyakitkan. Pernahkah Mama berpikir akan hal itu?"


"Kamu jangan egois, Riana! Saka sudah memiliki kehidupannya sendiri bersama Sheril. Dia bahkan tak mengingatmu sama sekali! Jadi jangan berharap apapun padanya." Suara Mama Saka meninggi.


"Minimal, izinkan aku bertemu dengannya sekali saja. Setelah itu, aku tidak akan mengganggu kehidupan dia lagi. Namun, aku juga memiliki syarat. Jangan pernah meminta Kiano dariku!" wajah Riana menegang.

__ADS_1


"Kamu tidak boleh memisahkan seorang anak dan ayah Riana!"


"Lantas apa boleh memisahkan seorang isteri dengan suaminya?" Riana membalas cukup telak.


"Toh, Saka juga tidak ingat memiliki seorang anak. Sama seperti yang Mama katakan bahwa dia sama sekali tak memiliki ingatan tentangku." Riana melanjutkan kalimatnya.


"Namun, sekali ini biarkan aku berbicara sebentar dengan Kiano, cucuku."


Mama mertuanya meminta dengan sedikit memohon.


"Silakan, namun jangan pernah beranggapan bahwa Mama boleh membawanya bertemu Saka."


Akhirnya, mereka berdua pun keluar dari ruangan itu. Menemui Kiano.


Di luar, rupanya Shena dan Serly sedang berusaha mengakrabkan diri dengan Kiano. Anak itu sedikit tak nyaman. Betapa tidak, tante-tantenya itu seperti ketagihan untuk mencubit pipi Kiano.


"Kiano, kenalin ini Oma!"


"Oma?" tanya Kiano bingung. "Bunda, emang Kiano punya Oma yang masih hidup?"


"Tentu, buktinya Oma di sini sekarang!" jawab Mama Saka tanpa menunggu Riana yang menjawab.


"Tapi kata Bunda, Kiano tak punya Oma, apalagi punya tante seperti yang dibilang kakak-kakak ini."


Kiano menunjuk Shena dan Serly bergantian.


Mama Saka menatap ke arah Riana, dia membuang muka. Memang Kiano tak memiliki Oma lagi kan. Omanya sudah mengusirnya dari rumahnya. Terus kenapa sekarang baru mengakui punya cucu?


"Sayang, itu memang Oma dan tante-tante dari Kiano. Ayo salim!"


Karena bundanya yang bilang, Kiano pun menurut. "Mereka adalah keluarga dari almarhum Papa sayang."


Dalam hatinya Riana menangis harus menyebut suaminya almarhum. Tidak salah, karena dia sendiri menyaksikan tubuh kaku suaminya terbujur. Dimandikan, dikafankan dan terakhir dikuburkan. Tapi kenyataannya, Saka masih hidup dan kini memiliki keluarga sendiri. Lantas aku hanya dipaksa untuk menerima kenyataan. Bisakah aku berkata bahwa ini tidak adil?


"Jadi ini, Oma, ini Tante Shena dan ini Tante Serly. Salam Oma, Tante!"


Kini Kiano tak lagi canggung! Dia langsung akrab dengan mereka semua. Lalu suara dari pintu mengejutkan mereka!


"Kalian semua di sini?" tanya wanita yang baru saja masuk ke dalam toko. Menyusul di belakangnya seorang pria berbadan tegap, tinggi, atletis, yang tak lain adalah Saka atau Raka.

__ADS_1


Ini kali pertama, Riana bertemu langsung dengan Saka.


__ADS_2