
^^^"Pernikahan bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur : selalu berubah dan semakin indah setiap hari."^^^
^^^--Quotes from Google.^^^
Seperti pasangan pengantin baru lainnya, Tefan dan Riana harus mengalami yang namanya bangun kesiangan. Kalau saja Kiano tidak berkali-kali mengetuk pintu kamar mereka, mungkin pasangan pengantin baru ini belum juga bangun.
"Bunda ...! Papa Ganteng ...!" begitu suara yang diteriakkan Kiano saat mengetuk pintu kamar orang tuanya.
Tok. Tok. Tok.
"Bunda ...! Papa Ganteng ...!"
Lagi, Kiano berteriak memanggil nama bundanya dan juga Papa barunya. Tefan sekarang bukan lagi dipanggil Om Ganteng, melainkan Papa Ganteng. Kedengarannya sangat manis dan terkesan lucu.
"Bunda ...!"
Riana mengerjap dari tidurnya, dia menggosok matanya dan mencari jam Beker yang ada di atas meja nakas.
"Astaga! Fan ... sudah jam sembilan!" pekik Riana kaget.
Tefan tidak peduli. Dia masih tidur tengkurap tanpa reaksi. Sementara Riana sudah menyibak selimut dan mencari baju kaos longgar milik Tefan. Mengingat bahwa dia sama sekali tak membawa pakaian apapun ke rumah itu.
"Bunda ...!"
Riana baru sadar kalau Kiano sedang memanggilnya. Dia pun segera membuka pintu kamar dan melihat wajah putra semata wayangnya itu sudah rapi sekali pagi ini.
"Sayang ...!" Riana berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Kiano. Dia mencium kedua pipi putranya, tapi ada kesan enggan di wajah Kiano.
"Bunda, tidak boleh sembarangan mencium Kiano lagi. Kiano sudah besar, Bunda. Nanti kalau di depan teman-teman Kiano, Bunda nggak boleh gitu."
Kiano cute sekali kalau lagi ngambek seperti itu. Bukannya menuruti permintaan Kiano, Riana malah semakin gencar ingin mencium pipi Kiano.
"Jadi, sekarang anak Bunda udah gede nih? Sudah nggak mau dicium Bundanya lagi? Oke." Riana berdiri pura-pura ikut ngambek dan melipat tangannya ke dada.
"Bukan gitu, Bunda. Tapi kan Kiano malu. Oh iya, Bunda tidurnya nyenyak?"
Riana hampir saja tertawa mendengar pertanyaan Kiano. Bukan nyenyak lagi, tidur Riana lebih dari nyenyak Kiano. Haha.
"Nyenyak sayang, Kiano senang tinggal di sini? Oh iya, masuk yuk! Kita bangunin Papa Ganteng."
Kiano mengangguk cepat, segera berlari dan melompat naik ke tempat tidur.
"Papa ... Papa ... Papa ... Ganteng! Bangun dong!"
Suara Kiano begitu menggelitik telinga Tefan, sehingga dia pun mengangkat kepalanya dan membuka mata pelan untuk dapat melihat wajah Kiano.
"Morning, boy!" sapanya pada Kiano.
"Morning too, Papa Ganteng!"
__ADS_1
"Sudah tidak pagi lagi, udah siang ini. Sayang, cepat bangun! Nanti kamu mau ke kantor kan?" ucap Riana menarik selimut panjang yang menutupi tubuh Tefan.
Betapa terkejutnya Riana, sebab Tefan hanya menggunakan boxer ketat sisa semalam. Kiano terkekeh melihat bundanya harus melepas selimut itu dan menutup matanya.
"Hahaha ... Bunda lucu! Masa gitu aja tutup mata, itu kan Papa bukan orang lain."
"Tahu nih, Bunda. Masa gitu aja malu."
Tefan mengerling nakal ke arah Riana, sebelum akhirnya beranjak turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Bunda, itu bajunya Papa?" tunjuk Kiano pada baju yang dikenakan Riana. Terlihat kedodoran untuk tubuhnya yang kecil dan agak pendek.
"Iyah sayang, Bunda lupa bawa baju ke sini. Makanya nanti habis ini kita mampir ke ruko ya. Buat ambil baju dulu dan sekalian kasih tahu kak Nadia kalah dia sudah boleh tinggal di ruko. Jadi biar dia bisa buka toko lebih awal."
"Baiklah, Bunda. Kalau gitu, Kiano main di luar dulu ya. Sambil menunggu Bunda dan Papa Ganteng bersiap-siap."
"Oke anak bunda yang tampan."
Kiano pun keluar dari kamar Riana bersamaan dengan Tefan yang baru saja selesai mencuci muka.
"Kiano mana?"
"Di luar, mau main dulu katanya. Kenapa gak sekalian mandi sih sayang, kita kan mau ke ruko."
"Mandi bareng ya?" Tefan menaikkan alisnya untuk menggoda Riana lagi.
"Nggak ngerti deh sama otak kamu sayang, nggak jauh-jauh dari--
"Fan ...." Napas Riana tersengal menyebut nama Tefan di sela ciuman mereka.
Tefan membungkam mulut Riana, mendesaknya masuk dan isterinya itu berulang ulang memukul bahu Tefan karena dia hampir saja tak bisa bernapas.
"Kamu gila ya!"
"Hehe ... habisnya bibir kamu manis banget. Bikin aku pengen lagi dan lagi."
"Dasar rakus!"
Riana pun berjalan masuk ke kamar mandi, tidak menghiraukan Tefan yang masih inginkan lebih darinya.
***
"Sayang ...!" teriak Riana dari dalam kamar mandi.
"Kok handuknya satupun nggak ada sih?" lanjutnya masih dengan berteriak.
Tefan terkekeh sendiri di tempat tidur. Dia sengaja menyembunyikan handuk itu tadi sebelum disadari oleh Riana.
"Fan ... bawain handuknya dong."
__ADS_1
"Tunggu!"
Tefan bergegas mengambil handuk, dia mengetuk pintu agar Riana membukakan untuknya. Kepala Riana menyembul keluar dari balik pintu.
"Mana?" pinta Riana dengan mengeluarkan satu tangannya. Dia menjadikan pintu sebagai penghalang untuk tubuhnya yang sedang dalam keadaan polos.
"Apanya?" jawab Tefan pura-pura tidak tahu.
"Ish ... sayang, cepat! Dingin nih."
"Buka dulu!"
"Mau ngapain sih?"
"Buka dulu."
"Oke, fine!"
Riana pun membuka pintu kamar mandi dan Tefan dapat melihat semuanya.
"Puas sekarang?" tanya Riana cemberut lalu merebut handuk di tangan Tefan.
"Belum. Hehe."
Tefan menarik tubuh Riana lebih dekat. Riana sedikit terkejut karena Tefan tiba-tiba saja menariknya.
"Fan, geli Fan!" ucap Riana saat Tefan mulai menyusuri lekuk leher Riana kemudian bahunya dan berakhir di bagian atas dada Riana.
"Ssthh ..." Suara desahan Riana mengalun pelan. Pintu kamar mandi ditutup dengan cepat oleh Tefan.
Dia membuka keran dari shower dan kini mereka berciuman di bawah siraman air. Mata sayu Riana mengerjap begitu Tefan semakin dalam memasuki dirinya. Suara erangan mereka yang halus dan kasar teredam oleh suara gemericik air yang menerpa tubuh mereka serta memantul-mantul di lantai.
Lalu pagi mereka yang sempat kesiangan itu pun semakin kesiangan. Mereka melanjutkan ekstra part di tempat yang sangat tak biasa.
Tefan tersenyum begitu mereka selesai. Riana membersihkan dirinya di bawah shower. Wajahnya tak bisa menampik kalau dia juga menikmati setiap sentuhan dari Tefan.
^^^***Aku tidak pernah segila ini mencintaimu, menginginkankanmu. Seolah tak ada waktu yang sia-sia jika itu denganmu. ^^^
^^^Kau tahu, aku hanya ingin menghabiskan seluruh waktu itu hanya untuk bersamamu. Tidak ada yang lain lagi. ^^^
^^^Sekarang aku paham, bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk jatuh cinta lagi dan lagi sepanjang hari, setiap hari kepada orang yang sama. ^^^
^^^Dan itu kamu ... ^^^
^^^Bidadariku. ^^^
^^^- Tefan ^^^
Sekarang aku tahu, mengapa Tuhan menciptakan perpisahan diantara kita. Hanya agar kita saling mengenali diri masing-masing, untuk bertemu lagi dalam satu kesempatan bernama pernikahan.
__ADS_1
-- Riana***.