Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 51. Menikah


__ADS_3

Satu bulan setelah kejadian penculikan itu, akhirnya secara resmi aku akan menikah dengan Saka. Saat ini aku sedang berada di depan sebuah kaca besar, kupandangi setiap inchi tubuhku yang berbalut gaun putih tulang yang terasa sangat pas di badanku.


Aku mematut diri di depan cermin, lama. Sangat lama. Hingga Nina tak sabar dan segera menjemputku ke dalam kamar. Tergesa, aku hapus air mata yang tersisa di pelupuk mataku. Aku tak mau siapapun tahu aku sedang menangisi diriku. Bukan menangis sedih, tapi aku menangis terharu, akhirnya waktu itu telah tiba.


"Hei, kamu cantik sekali Riana. Gaun itu sangat pas di kamu, semakin memperlihatkan aura kecantikanmu yang terpancar sangat memesona."


"Kamu berlebihan Nin, ini semua karena kamu. Karena gaunmu, gaun yang dibuat khusus oleh tanganmu yang tak berhenti menghasilkan karya-karya yang hebat. Terimakasih sudah memberikanku gaun cantik ini."


"Ayo keluar, semua orang sudah menunggu. Saka terlihat sangat tampan, tapi dia agak gugup. Sebentar lagi, kamu akan menjadi nyonya Saka. Jadi bersiaplah!"


Akhirnya aku keluar dari kamar dan menemui para tamu yang sudah hadir untuk menyaksikan pelaksanaan akad nikah pada hari ini. Dua keluarga sudah berkumpul, termasuk tamu-tamu undangan dari pada kolega, teman-teman dan juga sanak saudara yang datang jauh-jauh hanya untuk menyaksikanku menikah secara langsung.


Tak lama kemudian seorang penghulu menginstruksikan bahwa acara akad akan segera dimulai. Seluruh tamu yang hadir menjadi hening dan acara tersebut semakin terasa sakral.


Salah satu tangan Pak Penghulu memegang tangan Saka. Memastikan bahwa Saka telah siap mengucapkan kalimat akad dan bersedia melaksanakan apa yang akan diucapkannya itu.


"Saya terima Nikah dan Kawinnya Riana Binti Johan, dengan seperangkat alat shalat dibayar tunai."


**SAH!!!


SAAAAHHHH**!!!


Ucap seluruh tamu bersamaan dan seketika air mataku tak bisa ditahan lagi. Aku terharu bahagia dan bahkan rasa bahagia itu tak dapat ku ucapkan lagi. Hanya tergambar lewat raut wajah dan tatapan yang penuh cinta kepada lelaki di sampingku yang kini telah resmi menjadi suamiku.


Papa dan Mama kulihat juga sedang menangis. Begitu juga kedua orang tua Saka, terlihat sedang mengusap air matanya.

__ADS_1


Setelah penandatanganan buku nikah, dan pemasangan cincin, kami berdua bersimpuh di bawah kaki orang tua masing-masing untuk meminta doa juga restu agar ke depannya pernikahan kami dapat memperoleh berkah, sakinah mawadah warahmah.


Mama memeluk aku sangat erat, aku juga sebaliknya. Kita berdua saling berbagi kebahagiaan, mungkin di pikiran Mama 'akhirnya anakku menemukan pelabuhan terakhirnya'. Aku memeluk Papa dan menangis di pangkuannya. Papa juga merasakan hal yang sama.


Selanjutnya kami berdua menuju Mama dan Papa Saka yang kini jadi mertuaku. Doa yang sama juga dipanjatkan oleh mereka, semoga kelak pernikahan kami berbuah kebaikan dan saling menjaga satu sama lain.


Terakhir aku memeluk sahabatku erat, sahabat seperjuangan yang tak pernah meninggalkanku baik dalam kondisi apapun. Nina, ya Karenina. Kami berpelukan cukup lama, mengingat banyak perjalanan hidup yang kita lewati bersama. Susah senangnya kita bagi sama-sama, bahkan pernah berbagi kekasih. Tapi itu dulu, sekarang kita berdua mantap menatap masa depan yang pasti.


***


Setelah acara Akad selesai, dilanjutkan dengan resepsi pernikahan di sebuah gedung milik rekan orang tua Saka. Kami berdua berdiri di pelaminan di sisi kanan dan kiri berdiri kedua orang tua kami. Akhirnya Papa bisa mendampingiku hingga sekarang ini, kaki Papa berangsur sembuh dan dapat berjalan lagi. Sebuah berkah dari Tuhan.


Acara berlangsung khidmat dan bahagia, tamu-tamu satu persatu naik ke pelaminan untuk bersalaman, berfoto dan memberikan doa kepada kita berdua. Tak henti aku mengucap syukur untuk semua anugerah Tuhan sejauh ini. Sekalipun aku tak pernah ragu atas rencanaMu Tuhan.


Hingga malam berangsur datang, tamu-tamu pun satu persatu meninggalkan gedung. Hingga aku merasa lelah luar biasa karena harus berdiri lama melayani para tamu yang sudah hadir.


"Sayang, kamu pasti capek ya?"


"Sangat." Jawabku sembari menekan-nekan tengkukku yang terasa kaku.


"Sini aku bantu kamu lepas gaunmu. Pasti sejak tadi kamu tersiksa karena ini."


"Tidak apa-apa sayang, tidak sebanding dengan kebahagiaan yang tengah kurasakan saat ini. Sebuah gaun tak akan bisa menyakiti hatiku yang sedang bahagia karena telah dipersunting pria baik dan tampan sepertimu."


"Kamu menggodaku ya?"

__ADS_1


"Siapa bilang? Sudah buruan, katanya mau bantu aku lepasin gaun."


Akhirnya Saka pasrah dan membantuku membuka gaun, seketika tubuhku bergetar saat dia menyentuh bagian bawah leherku. Mungkin tangannya tak sengaja sedang menyentuh bagian sensitif itu bagiku. Aku menelan Salivaku. Begitu juga dengan Saka, kulihat dia berusaha untuk terlihat biasa, padahal aku yakin sekali dia sudah tak bisa berlama-lama menanhan gejolak di hatinya.


"Sayang, aku mandi dulu yah." Ucapku yang kemudian membuat dia tersadar dari memandangi tubuhku.


"Boleh aku ikut?"


"Ikut ke mana?"


"Mandi." Jawabnya tersenyum nakal.


Akhirnya aku memberi kode bahwa dia boleh ikut mandi bersamaku. Kita pun berada di dalam satu bak mandi besar yang mungkin didesain khusus untuk berdua. Rupanya Saka sudah memperhitungkan ini. Makanya dia mau-mau saja meminta ikut masuk dan mandi bersama.


Pelan-pelan Saka mengusapkan sabun di punggungku, perlahan memijatnya memberikan sensasi enak pada tubuhku. Awalnya pijatannya terasa normal, namun lama kelamaan, pijatan tangannya berangsur berpindah tempat ke depan dan sudah menyentuh dadaku.


Ada gelenyar hebat yang kurasakan, bukannya menolak aku malah membiarkan dia bermain-main di area itu. Hingga aku sedikit mengerang karena mendapatkan sensasi yang berbeda dari biasanya.


Karena merasa tangan Saka sudah kemana-mana, bibirnya juga tak lagi bisa dikondisikan, mencium semua tempat di tubuhku dan memberikan bekas di sana. Akhirnya kita berdua segera membersihkan badan dan melanjutkannya di tempat tidur.


Dengan tergesa Saka menggendongku ke tempat tidur, bahkan di saat dia menggendongku, sama sekali tidak ingin membiarkan bibirku menganggur. Dia terus mengecup, menghisap dan memainkan lidahnya ke dalam mulutku. Hingga aku merasa tak sanggup bernafas karena tak bisa mengimbangi permainannya.


Secepat kilat kini kita berdua sudah berada di tempat tidur. Melanjutkan pertempuran dua insan yang kini sudah dimabuk asmara. Saka tidak membiarkan se-inchi pun tubuhku lepas dari pagutannya. Dari atas ke bawah, depan ke belakang semua diberi stempel kepemilikan. Membuatku mengerang dan mendesah hebat, tak kuat menahan sensasi sentuhannya yang luar biasa nikmat.


Hingga aku merasa tak sanggup lagi menahan, seperti ada sesuatu yang hendak meledak dari dalam tubuhku. Aku pun meminta Saka untuk cepat menyatukan miliknya dengan milikku. Dengan pelan dia pun melakukannya dan mengatur ritme hingga akhirnya dia memacu lebih cepat dan keras dan satu hentakan membuat aku dan dia mengerang bersamaan dan akhirnya kami sampai di puncak kepuasan asmara itu.

__ADS_1


Saka tergolek di sisiku. Dia mengecup keningku untuk terakhir kali sebelum kita menutup malam itu dengan tertidur dalam balutan selimut.


__ADS_2