Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 50. Tefan Mendekam di Penjara


__ADS_3

Hari ini Saka pamit ke aku untuk mengurus persoalan Tefan di kantor polisi. Terlihat jelas raut wajah Saka teramat marah, meski dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depanku.


Tefan dikenai pasal penculikan, pelecehan, dan penganiayaan. Semua bukti sudah dikumpulkan Saka dan disetor ke pihak berwenang, termasuk hasil Visum dari rumah sakit. Semua bukti itu akan menjerat Tefan dan Saka sama sekali tidak berniat mengampuni orang yang telah menghancurkan tunangannya. Yaitu Aku.


Aku telah keluar dari rumah sakit sejak dua hari yang lalu. Aku hanya istirahat di rumah sembari memeriksa laporan yang dikirim asistenku lewat email. Perlahan-lahan tubuhku mulai pulih, termasuk lebam-lebam biru keunguan di beberapa tempat bagian tubuhku yang sekarang sudah terlihat samar-samar.


Saka setiap saat menemaniku, jika tak bisa menemani, dia selalu menghubungiku. Video call atau hanya sekedar ngobrol di telpon. Dia benar-benar tidak pernah meninggalkanku, bahkan setelah kondisiku seperti ini. Nyaris tak punya harga diri lagi. Saka-lah yang akhirnya pelan-pelan membangun harga diri dan rasa percaya diriku. Aku tidak tahu lagi, seandainya bukan Saka pria yang dikirim Tuhan menjadi tunanganku, entah apa yang akan terjadi. Masihkah dia ingin bersamaku setelah kejadian ini, atau malah meninggalkanku begitu saja.


Aku sedang mengamati satu persatu foto aku dan Saka di ponsel. Senyumnya sangat menyejukkan, dia tidak hanya menjadi pria yang bertanggung jawab tapi juga pria yang sangat mengerti tentang kondisi pasangannya.


Saka sangat protektif terhadap makananku akhir-akhir ini, semua yang kumakan hanya boleh dari olahan tangan dia. Bahkan Mama tak dibiarkan masak untukku. Dia yang selalu membawakannya ke rumah atau akan masak di rumah jika kebetulan dia membeli bahannya saat dalam perjalanan menuju rumah.


Aku harap Saka menyelesaikan masalah ini dengan baik. Mengingat keluarga Tefan yang licik, aku takut Tefan akan keluar begitu saja dari penjara tanpa merasakan hukuman yang setimpal atas perbuatannya.


Aku mengirimkan satu foto kita berdua kepada Saka, foto dengan ekspresi aneh namun sangat mengundang gelak tawa. Tak lupa kububuhi caption I Love U. Dengan senyum-senyum sendiri, aku menunggu balasan dari Saka. Tak lama kemudian ponselku berbunyi dan rupanya dia sama sekali tak bisa bersabar ingin mendengar suaraku. Karena itu dia langsung saja menelpon.

__ADS_1


"Hai Sayang," sapaku.


"Kamu iseng deh. Tapi aku juga senang mendapat kiriman foto itu. Aku masih di kantor polisi sekarang."


"Bagaimana urusannya? Semuanya berjalan lancar?"


"Lancar. Polisi bekerja sangat baik, Tefan bahkan sudah berada di dalam sel tahanan sejak penangkapan hari itu di Villa. Baru saja aku menemuinya, rupanya belum ada satupun keluarga dia yang datang menjenguknya. Tapi jangan kira aku akan kasian, perbuatan dia pada kamu tidak bisa aku maafkan, bahkan jika dia berlutut sekalipun di bawah kakimu atau kakiku."


"Aku harap dia berhenti mengganggu kita sayang."


"Oyah??"


"Kamu ragu akan ketulusan cintaku?


"Tidak sayang aku bercanda. Hehe. Aku bahkan sangat yakin akan ketulusanmu. Jika itu maumu aku akan menikah kapanpun kamu mau, asal kamu yang minta dan kamu yang akan menikahiku."

__ADS_1


"Kamu sudah pandai merayu sekarang ya?"


"Kamu yang ngajarin.


"Kok aku? Ya sudah kamu istirahat ya, biar aku beresin dulu urusan di sini. Aku tidak mau berlama-lama di sini, aku ingin segera pulang dan memelukmu saja."


"Nakal. Okeh, aku menunggumu sayang."


"See U."


Percakapan di telpon pun usai, aku lagi-lagi sudah seperti orang gila senyum sendiri. Jika saja Saka tak meyakinkan aku, mungkin sampai saat ini aku masih trauma dengan kejadian penculikan itu. Tapi Saka selalu membesarkan hatiku, agar aku mau memaafkan semua kejadian itu dan memulai lagi lembaran baru bersama.


Trimakasih Tuhan atas nikmat yang kau berikan, saat hati tengah terpuruk kau mengirimkan pendamping yang hatinya bak malaikat. Semoga Kau menjaga hubungan kami, hingga waktu itu tiba. Pernikahan.


Dan untuk Tefan, selamat mendekam di dalam penjara. Aku bahkan menyesali hubungan kita yang pernah terjadi dulu. Tak mengapa, karena sekarang aku lebih memilih bahagia daripada harus memikirkan persoalan tentangmu. Mungkin ini adalah balasan setimpal atas semua perbuatanmu, perbuatan Papamu, jadi nikmatilah!

__ADS_1


__ADS_2