Complicated Love #2

Complicated Love #2
Tragedi Malam Pertama


__ADS_3

Blammp!


Tiba-tiba saja lampu mati. Riana yang sejak tadi bersembunyi di balik selimut segera membuka selimut itu dan mencari Tefan. Dia takut akan gelap.


Meraba sekitarnya dan Tefan tak ada di sisinya.


"Fan ...! Ini kok gelap ya? Kamu matiin lampunya? Jahat ih."


Tidak ada sahutan dari Tefan, Riana ingin turun dari tempat tidur tapi dia takut. Apalagi sejak tadi dia hanya memakai handuk untuk menutupi dirinya.


"Fan ...! Kamu di mana? Jangan main-main dong, aku takut gelap. Kamu kan tahu."


Masih tak ada jawaban. Riana meraba-raba meja nakas yang ada di sisi tempat tidur untuk mencari ponselnya. Meski dia sudah meraba semua permukaan meja, ponsel itu tetap tak ada di sana.


"Mana sih ponselnya, perasaan aku taruh di sini deh. Kok bisa hilang."


Tak lama kemudian, pintu kamarnya berderit menandakan ada seseorang yang mendorong atau membukanya. Riana mulai waspada, keadaan di kamar itu sangat-sangat gelap. Dia menarik selimutnya dan duduk memeluk lutut di ujung kepala tempat tidur.


"Fan, apa itu kamu?" ucapnya lagi dengan suara bergetar ketakutan.


Sama sekali tak ada jawaban atas setiap pertanyaan Riana. Dia semakin ketakutan dan di saat bersamaan dia merasakan ada seseorang menyentuh atau hendak naik ke tempat tidurnya.


"Siapa itu?"


"Aaaaakk ...!" teriak Riana kencang dan melompat dari tempat tidur karena dia merasa ada seseorang menyentuh kakinya.


Di saat bersamaan sebuah cahaya senter menyala di kegelapan. Semakin membuat Riana gelagapan dan ingin bersembunyi ke dalam kamar mandi.


"Sayang, ini aku."


Cahaya senter mengenai wajah Tefan, bukannya terlihat menenangkan justeru bagi Riana itu menyeramkan.


"Tefan ...! Jangan bercanda dong. Kamu kan tahu aku ketakutan jika lampunya padam. Cepat nyalain."

__ADS_1


"Aku sudah berusaha sayang, tidak tahu kenapa aliran listrik ke villa ini malah mati. Kamu di mana?"


Di saat bersamaan ketika Tefan berjalan mendekati Riana, lampu akhirnya menyala. Lalu apa yang dilihat Tefan saat itu membuat matanya membelalak hendak melompat keluar.


"Sayang ..., itu ...!"


Tefan menunjuk ke arah bawah Riana. Saat itulah Riana baru sadar kalau sejak tadi handuk yang dipakainya sudah terjatuh entah di mana dan kini dia polos tanpa sehelai pakaian pun.


"Jangan lihat!" Riana segera berbalik dan menutup bagian dada serta bagian bawah perutnya dan berjalan mundur mendekati tempat tidur.


Tefan emang jahil banget, dia pun berdiri di sisi tempat tidur saat Riana hendak duduk dan posisi mereka sekarang sedang pangku-pangkuan.


Alangkah kesalnya Riana pada Tefan.


"Sayang, kok bisa duduk di situ sih.


"Makanya kalau jalan lihat-lihat dong sayang, jangan jalan mundur begitu kayak undur-undur aja."


Tefan memangku Riana dalam keadaan polos. Dia lagi-lagi menelan ludahnya demi melihat tubuh isterinya yang tak memakai sehelai kain pun.


Tefan merangkak naik ke tempat tidur dan berbaring di sisi Riana dengan satu tangan menjadi tumpuan untuk menopang kepalanya.


"Apa kau sudah siap, sayang?" bisik Tefan di telinga Riana.


Riana bergidik dan menatap tajam ke arah Tefan. Wajah mereka kini sangat dekat, hanya beberapa senti saja. Membuat Riana bisa dengan jelas merasakan hembusan napas Tefan di wajahnya.


"Nggak ada siap-siap segala, aku masih ngambek. Masa sampai pagi aku telanjang bulat kayak gini? Kamu tega, Fan. Tega banget."


"Bukannya malah bagus sayang, aku kan jadi nggak perlu susah-susah untuk merobek pakaian kamu. Hihi."


"Matamu."


Riana berbalik lagi dan memunggungi Tefan. Namun segera Tefan mengambil tindakan untuk membuat isterinya itu kembali berhadapan dengannya.

__ADS_1


Kini mereka saling tatap, badan Riana panas dingin menghadapi mata cokelat keemasan milik Tefan. Dia selalu tak bisa menghindari tatapan itu. Seperti ada magnet yang memaksanya untuk tetap di sana dan tak berpaling lagi.


"I Love You, Riana." Tefan mengucapkan kalimat cinta itu seraya mengusap wajah Riana dengan lembut.


"Aku mencintaimu dengan seluruh waktu yang kupunya. Sampai habis napasku, sampai ruang dan waktu bergerak meninggalkanku. Aku tidak peduli semua itu, selama kau tetap di sisiku."


"Aku juga mencintaimu, aku malu pada diriku sendiri. Pernah tak percaya bahwa cinta akan membawamu kembali ke sisiku. Menuai setiap rindu yang pernah hilang di antara kita."


Tefan tak ragu lagi, dia pun menarik tubuh Riana semakin dekat dengannya. Bersentuhan kulit dengan kulit, bibir dengan bibir. Setiap kecupan dan sentuhan Tefan di kulitnya memberikan sengatan yang tak biasa. Dia sudah lama mendambakan Riana, menginginkan momen seperti ini. Di mana bibirnya menelusuri lekuk bibir Riana yang rekah dan manis itu.


"Aku menginginkanmu."


Riana berbisik dan membuat Tefan tersenyum nakal. Akhirnya Riana mau mengakui di depannya betapa dia sangat menginginkan dirinya.


Lengan dan kaki melilit satu sama lain, selimut tergelincir dari tubuh mereka karena kulit yang begitu panas, rasanya seperti sedang terbakar hidup-hidup. Tefan terus mencium Riana dan berbisik di telinganya, "seberapa besar kau menginginkanku? Dan oh, aku pun menginginkanmu, sayang."


Tefan menekan bibirnya semakin dalam. Merasakan betapa kenyal dan manisnya bibir perempuan yang selama ini dia inginkan. Petualangan yang sangat mendebarkan namun dinantikannya selama bertahun-tahun.


Hasrat jahiliahnya bergelora. Matanya membuka dan terlihat bingung dan dia menatap Riana dengan pandangannya yang intens. Pandangan yang membuatnya merasa seolah dia bisa melihat semua hal yang tersembunyi di dalam diri Riana.


“Hanya itu yang kau punya?”


Riana menggoda Tefan dengan binar matanya, dan bibirnya yang menyeringai sekilas.


"Sial, aku ingin menciumnya lagi," ucap Tefan membatin.


Kali ini, dia menyelinapkan tangannya ke balik punggung Riana. Mengusap pelan punggung isterinya itu dan membelai rambutnya selagi bibir mereka bertemu lagi dan lagi. Sentuhannya terasa nikmat dirasakan Riana. Erangan kecil lepas dari mulut mereka, Riana membuka bibirnya, membuka dirinya untuk Tefan dan mengambil seluruh keuntungan itu.


"Aku tersesat dalam sentuhannya, aku tersesat ketika tubuhnya meliuk di tubuhku, pada rasa bibirnya, pada bunyi nafasnya." -- Tefan


"Seperti hasrat yang telah lama terpenjara, kini dia terlepas begitu saja. Aku menatap wajahnya yang bulat penuh, berbinar seakan berkata kau luar biasa. Dan, ya aku akui dia terlihat sangat tampan.


Malam terus menjauh, seiring semakin bergairahnya mereka. Mengirim keduanya menghabiskan malam pengantin baru.

__ADS_1


Ketika aku melihatmu aku jatuh cinta dan kau tersenyum karena kau tahu.


-William Shakespeare-


__ADS_2