
Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang lemas, bahkan terdapat memar-memar di bagian tubuhku. Aku meringkuk berbalut selimut di tempat tidur. Menangis dan menyesali apa yang sudah terjadi. Tefan kau sungguh Tega.
Ceklek! Suara gagang pintu dibuka. Aku tidak peduli pada siapa pun yang datang ke kamar ini. Bahkan untuk membuka mata saja, aku seolah tak mampu.
"Makanlah ini Nona, Tuan sudah berbaik hati mau memberimu makan."
Samar-samar kulihat wajahnya, postur tubuhnya kekar namun tak dapat ku kenali. Mungkin salah satu anak buah Tefan yang waktu itu mencegatku di jalan.
Makanan itu dia simpan di meja nakas samping tempat tidur. Bukannya keluar, dia masih saja berdiri di sana tak tahu malu.
"Mengapa kau masih di situ?" Tanyaku sedikit kesal.
"Saya harus memastikan Nona memakan makanan itu dulu barulah saya bisa meninggalkan Nona. Itu pesan dari Tuan selama dia tak ada di sini."
"Pergilah! Aku akan makan nanti."
"Tidak Nona, anda harus makan dulu."
"Kamu ini keras kepala sekali. Pergilah aku akan makan setelah tubuhku merasa enakan."
"Makanlah dulu Nona."
"Sudah kubilang keluarlah! Atau aku tidak akan makan sama sekali."
Aku dibuat geram oleh pengawal sialan itu. Dia sama sekali tak mau bergeming dari tempatnya. Akhirnya aku memaksakan tubuhku untuk bangkit dengan selimut yang masih membalut tubuhku sampai ke bagian dada.
Dengan tangan yang agak gemetar aku mengambil sendok di piring itu lalu makan. Rasanya tenggorokanku seperti tak mampu menelan makanan itu. Sehingga makanan itu kembali kumuntahkan lewat mulutku di sisi tempat tidur. Pengawal tersebut dengan cepat mengambil segelas air minum dan memberikannya padaku.
"Minumlah Nona!"
"Trimakasih. Bisakah aku minta tolong padamu. Keluarlah! Aku ingin membersihkan diri dulu. Berjagalah di depan pintu jika kamu takut aku akan kabur."
Akhirnya pengawal itu luluh dan keluar dari kamar. Sementara aku dengan langkah tertatih berjalan ke arah kamar mandi. Kubuka pintunya dan terlihatlah sebuah bak mandi yang begitu besar. Juga sebuah kaca cermin yang tertempel nyaris di semua sisi kamar mandi tersebut.
Aku menatap wajahku di cermin, rambutku acak-acakan ditambah lagi aku mengusapnya tiada henti karena mengingat perbuatan Tefan padaku yang seperti binatang. Aku menangis di depan cermin, menangisi hidupku yang terus diterpa cobaan. Sekarang bagaimana selanjutnya? Bagaimana dengan Saka? Apa yang harus kukatakan padanya?
"Arghh...." Teriakku frustasi di dalam kamar mandi. Aku sesegukan seorang diri. Kutekan tombol Shower dan seketika air mengguyur seluruh tubuhku.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam bak mandi dan membuat tubuhku rileks. Hampir seluruh tubuhku mengalami bengkak lebam. Entah apa yang diperbuat Tefan terhadap tubuhku. Aku hanya ingat dia berkali-kali menyerangku dengan nafsu yang memburu. Gairahnya seperti seekor binatang yang sudah lama tak melakukan hubungan intim.
Air mataku luruh bahkan di saat aku merasa aku tak punya tenaga lagi.
Saka, tolong temukan aku! Aku tidak sanggup menjalani permainan Tefan yang semakin beringas. Tolong! Rintihku.
Setelah merasa cukup lebih baik, aku keluar dari kamar mandi dan meraih satu persatu pakaianku yang tercecer di lantai. Kukenakan pakaian itu meski ada bagian yang robek karena perbuatan Tefan.
Sekarang apa yang harus kulakukan?
Bagaimana caraku menghubungi Papa dan Mama juga Saka, agar mereka tahu aku telah diculik oleh Tefan? Kumohon tunjukkan keajaibanMu Tuhan.
***
Sebuah derap langkah kembali terdengar berjalan mendekati kamar yang kini kutempati.
Ceklek!
Pintu terbuka dan di sana berdiri Tefan dengan senyum seringai yang membuatku ingin membunuhnya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu." jawabku ketus.
"Bukankah kau senang dengan panggilan itu? Kau juga memberikan aku panggilan romantis yang terdengar sangat manis jika kau ucapkan. My Lord, itu bukan panggilan sayangmu padaku? Ayolah Riana ucapkan sekarang untukku." Tangan Tefan sudah meraih daguku yang kemudian kupalingkan wajahku darinya agar dia tahu aku tidak suka dengan perlakuannya.
"Kamu ********, sama seperti Papamu. Aku menyesal pernah menjadi bagian hidup kamu." Ucapku dengan nada kesal.
"Jangan menentangku Riana. Sekarang kita lihat bagaimana reaksi tunanganmu itu."
Tefan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Telponnya tersambung dan terdengar suara berat Saka menjawab di seberang sana. Aku baru sadar kalau ternyata ponsel yang dipakai Tefan adalah ponsel milikku.
"Halo Riana! Riana! Apa kau di sana sayang? Kamu membuat semua orang cemas. Kamu di mana? Bicaralah sayang!" Suara Saka terdengar sangat cemas.
"Wow! Sungguh romantis. Kenapa Saka? Kamu terkejut dengan suaraku? Riana ada di tanganku. Jika kamu beruntung Riana akan kembali padamu dalam dua puluh empat jam, namun jika tidak maka Riana selamanya akan menjadi milikku. Aku beri kamu waktu untuk menyelamatkan dia dari cengkramanku."
"********! Kamu apakan Riana? Apa kamu sudah tidak punya harga diri? Sampai harus menculik tunangan orang? Tunggu saja, aku pasti mendapatkan Riana."
"Bicaralah pada tunanganmu Riana, ucapkan selamat tinggal padanya." Ucap Tefan menyodorkan ponsel itu ke arahku.
__ADS_1
"Saka, maafkan aku! Tolong Saka, selamatkan aku. Aku tidak ingin bersama dia." Ucapku dengan menangis.
"Kau bicara terlalu banyak Riana." Ponsel itu direbutnya dengan kasar dan kembali berbicara dengan Saka.
"Sekarang siapa yang menang? Bukankah sudah kubilang kau salah berurusan dengan siapa. Kamu masih punya waktu dua puluh tiga jam lewat empat puluh lima menit untuk menyelematkan tunanganmu atau dia tidak akan pernah lagi bertemu denganmu."
Klik!
Sambungan itu diputus begitu saja oleh Tefan sebelum Saka menjawabnya.
"Riana, bagaimana permainanku sepanjang waktu kemarin hingga tadi malam? Hebat bukan?"
Cuiih!!!
Aku meludah di wajahnya. Kulihat matanya memerah dan marah padaku. Dia sudah melayangkan tangannya untuk memukulku namun tiba-tiba saja dia urungkan dan malah mengangkat wajahku dengan kedua tangannya dan kembali mencium kedua bibirku secara paksa.
Aku mengerjap tak suka. Kudorong tubuh Tefan menjauh dan terlepas dari bibirku. Dia mengusap bibirnya yang di sana mungkin masih tersisa rasa dari bibirku yang baru saja dikecupnya.
"Bibirmu selalu saja terasa manis. Membuatku selalu ingin mengecupnya lagi dan lagi Riana."
"Keluarlah kumohon! Tubuhku masih sakit akibat perbuatanmu."
"Oke, kali ini aku mengampunimu. Kubiarkan kamu untuk istirahat namun setelah itu takkan kubiarkan kamu menolakku lagi."
Aku memalingkan wajahku dari menatap wajahnya. Kemudian dia mengambil sebuah plastik yang tadi diletakkannya di lantai. Dia melemparkan beberapa pakaian ke arahku.
"Pakai ini! Aku tidak mau kamu memakai pakaian yang sudah kurobek itu. Berpakaianlah yang layak, tunggu aku datang lagi dan memakanmu. Tentunya kamu sudah harus siap, karena kupastikan permainanku akan lebih hebat dari sebelumnya."
Dia tersenyum nakal ke arahku dan rasa benciku semakin bergejolak. Tefan, aku tidak akan pernah melupakan perlakuanmu ini padaku.
--------------
**Jadi akankah Saka menemukan Riana?
Sanggupkah Riana bertahan sampai Saka datang untuk menolongnya?
Nantikan episode selanjutnya**.
__ADS_1