
Ada yang bilang menikmati senja berdua adalah hal paling romantis di dunia ini. Apalagi ketika menatap senja di sebuah pantai, air laut berlarian ke tepi menyisakan buih di ujung kaki. Debur ombak menjadi backsound terindah, seperti nyanyian para pencinta karena mendapatkan cinta seorang gadis.
Tefan dan Riana, berjalan di pinggir pantai masing-masing memegang satu tangan kecil Kiano yang berada di tengah. Potret itu, seperti sebuah keluarga kecil yang sedang menikmati senja sembari menunggu waktu malam tiba.
Kiano tampak sumringah, ditatapnya wajah dua orang yang teramat berarti baginya saat ini. Seorang bunda dan seorang yang ia sebut Om Ganteng.
"Bunda, Om Ganteng, Kiano senanngggg banget hari ini." Ucap Kiano dengan senyum bahagia tak luput dari wajahnya.
Tefan berhenti dan mensejajari tubuh kecil Kiano.
"Senang kenapa sayang?"
"Soalnya, Kiano akhirnya bisa merasakan bagaimana jalan bertiga dengan seorang Papa."
Riana tercekat. Kiano ini suka sekali membuat Bundanya kehabisan kata-kata.
"Jadi, Kiano mau Om jadi Papa Kiano ya?"
"Memangnya Om Ganteng mau?"
Tawa Tefan hampir saja meledak andai saja dia tak bisa menguasai dirinya yang teramat bahagia mendengar ucapan Kiano.
"Sayang, pulang yuk! Lihat tuh mataharinya sudah mau tenggelam. Bunda belum siapin apapun buat makan malam nanti." Riana mengalihkan topik.
"Bunda..., boleh tidak Om ganteng jadi Papa Kiano?"
Lagi-lagi Riana dibuat bergeming. Dia tak tahu lagi bagaimana menghadapi bocah kecilnya itu.
"Sayang, pulang yuk!" Bujuk Riana.
"Bunda..., Bunda mesti kasih jawaban buat Kiano. Om ganteng akan jadi Papa Kiano." Anak itu cemberut dan merajuk pada Bundanya.
Tefan hanya tersenyum karena Riana kehabisan bahan untuk menjelaskan kepada Kiano.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan." Hibur Tefan pada Riana dengan menepuk bahu Riana pelan.
"Kamu si. Dia itu masih terlalu kecil, Fan. Kamu terlalu dekat dan memanjakan dia."
"Oh, jadi sekarang aku yang salah ni? Hehe."
"Siapa lagi?"
__ADS_1
"Tapi jujur, aku kasihan padanya Ri. Dia sangat mendambakan sosok Papa dalam hidupnya. Mestinya di usianya yang sekarang dia memiliki waktu berharga bersama seorang Papa. Namun aku juga sadar, tak semudah itu bagimu untuk menerimaku lagi atau menerima orang baru dalam kehidupan kalian. Jadi aku minta maaf jika itu mengganggu kamu sejauh ini."
"Sudahlah, yuk pulang!"
Kiano sudah berjalan menjauhi mereka. Riana berlari kecil menghampiri Kiano. Tefan mengawasi dari belakang, menatap siluet Riana bersama matahari tenggelam.
Senja ini adalah senja terbaik dalam hidupku. Kupikir tak akan pernah bisa lagi bertemu dan melihat apalagi berada sedekat ini dengan Riana. Namun takdir berkata bahwa aku masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
***
"Kita makan di sini saja, suasananya lebih mendukung. Sebuah makan malam keluarga kecil." Ucap Tefan melirik salah satu restoran yang letaknya tak jauh dari pantai.
"Bener itu, Om. Bunda, makan malamnya di sini aja ya? Om Ganteng yang traktir ya." Kiano sepertinya sudah melupakan perihal tadi. Sekarang dia sangat bersemangat untuk makan malam.
Riana mengangguk pasrah, karena jika dia menolak maka Kiano akan ngambek lagi dan semakin menyulitkan Riana nanti setelah sampai di rumah mereka.
"Baiklah. Terserah kalian saja." Ucap Riana.
Tefan memandu Kiano masuk ke dalam restoran dengan memegangi satu tangannya. Riana berjalan di belakangnya, melihat dua laki-laki yang beda usia jauh itu perlahan memasuki restoran.
Memilih tempat adalah kegembiraan bagi Kiano. Dia akan selalu memilih tempat di mana dia bisa menjadi pusat perhatian. Tentu saja tujuannya buat pamer, bahwa Kiano kini punya seorang Papa. Meski itu belum resmi dan tidak ada juga yang mengenal mereka. Kecuali Tefan, mungkin saja ada yang mengenalnya apalagi dia seorang pengusaha besar di Bali.
Mereka sangat manis sekali. Hubungan Kiano dan Tefan sudah seperti ayah dan anak. Tefan terkadang mengusap puncak kepala Kiano saat anak itu berhasil melahap makanannya dengan cepat.
"Sudah biarin saja, dia sangat menyukai steak itu."
"Aku sungkan loh ditraktir terus sama kamu. Lain kali biar aku saja yang bayar."
"Jangan. Pantang bagi seorang laki-laki dibayarkan oleh perempuan. Itu tak ada dalam kamus ku, kamu tahu itu kan?"
"Tapi aku gak enak, Fan."
"Simpan saja rasa tidak enakmu itu. Sudah, makan dulu!"
Mereka pun menghabiskan makanannya dengan penuh rasa syukur.
"Bunda..., perut Kiano sakit."
"Sakit? Kok bisa sih sayang? Kamu si makannya banyak-banyak. Mana gak pelan-pelan lagi. Ya sudah ayo ke toilet dulu."
"Gak mau, Bunda. Kiano gak mau sama Bunda. Masa Kiano harus masuk toilet wanita si. Kiano kan laki-laki, Bunda." Protes Kiano.
__ADS_1
"Baiklah, Om saja yang anterin Kiano ke toilet. Yuk!"
Astaga, dia sampai rela mengantar Kiano ke toilet. Memangnya dia bisa mengurusi anak kecil? Ya sudahlah, kita lihat saja hasilnya gimana nanti. Tefan, kamu banyak sekali berubah. Kita memang tidak bisa menyalahkan takdir karena dulu sempat mengalami masa krisis hubungan. Namun, aku tak pernah menyalahkan kamu atas semuanya. Semua sudah diatur, melihat kamu yang sekarang sering aku membayangkan bahwa inilah keluarga yang kita idamkan dulu. Astaga, bagaimana bisa aku berpikir seperti ini. Ingat Riana, kamu adalah milik Saka.
Sekitar sepuluh menit kemudian barulah mereka kembali dari toilet. Kiano bersemangat sekali, wajahnya sejak tadi memancarkan kegembiraan.
"Bunda, Kiano sudah selesai. Pulang yuk!"
Riana mengangguk. "Gimana repot tidak tadi?" Tanya Riana pada Tefan.
"Tidak sama sekali. Kamu meragukan Kiano atau meragukan kemampuanku menjadi Papisitter? Hehe."
"Dua-duanya. Tapi kerjamu bagus juga. Haha."
"Sudah pantas menyandang predikat sebutan Papa belum?"
Riana meninju lengan kokoh Tefan.
"Dasar tak tahu malu." Ucapnya.
Tefan mengantar ibu dan anak itu hingga ke rumah. Kiano mengucapkan rasa terimakasihnya karena hari ini sudah diajak jalan-jalan dan menikmati matahari terbenam. Senja bersamamu istilah dari Tefan.
"Om Ganteng, terimakasih ya. Sampai jumpa lagi. Kumohon jadilah papaku di masa depan."
"Sama-sama, jagoan. Habis ini kamu mandi dan tidur ya. Besok mesti sekolah."
"Siap, Om!"
Tefan pun pergi dan Riana dan Kiano masuk ke rumah. Kiano berhati-hati naik ke lantai atas. Membuka bajunya dan masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelah itu dia pun berpakaian piyama lalu tidur. Persis seperti yang diinstruksikan Tefan padanya.
Tak disangka dia bahkan menuruti setiap ucapan Tefan. Kiano sudah terlelap, hari ini dia banyak bermain dan bersenang-senang karena itu mungkin dia kelelahan. Selamat tidur sayang, mimpi yang indah. Maaf jika sejauh ini Bunda belum bisa memberikan semua yang terbaik untuk Kiano.
CUP!
Riana mengecup kening putranya dan kemudian kembali ke kamarnya sendiri untuk bersih-bersih dan berisitirahat.
*
*
*
__ADS_1
Menurut kalian apa yang harus dikembangkan dalam novel ini? Ditunggu ya.