Complicated Love #2

Complicated Love #2
Memaksakan Kehendak


__ADS_3

Pagi-pagi mood Riana sudah rusak gara-gara 'nenek lampir' yang bisa-bisanya ingin bersama Kiano padahal dia ke mana saat Riana dan Kiano terkatung-katung tanpa tempat tinggal. Seandainya dia peduli, dia tak akan mengusir Riana dari rumahnya. Bukan cuma mengusir, tapi juga menuduh Riana untuk sesuatu yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Kata-kata mantan mertua Riana yang mengatakan "Kau adalah pembawa sial, Riana. Kedua orang tuamu meninggal dalam waktu tak begitu jauh, sekarang kau juga sudah membuat Saka pergi dari dunia ini. Kalau itu bukan pembawa sial lantas apa namanya?"


Riana masih ingat betul, kata-kata mantan mertuanya itu. Memberikan luka yang teramat dalam di hati Riana. Meski sudah bertahun-tahun kejadian itu berlalu, bagi Riana luka itus selalu meninggalkan bekas. Sangat menyakitkan hingga napasnya mendadak sesak.


Riana menunjukkan ekspresi sangat kesal, emosinya terlihat jelas sekali di wajahnya. Nadia melihat bosnya seperti habis bertengkar dengan seseorang, dia segera mengambil air minum untuk diberikan pada Riana.


"Minum dulu, Bu. Apa yang terjadi?" tanya Nadia dengan kepala masih melihat keluar mencari sesuatu yang mungkin jadi penyebab bosnya seakan kekurangan oksigen.


"Terimakasih, Nadia. Kamu masih ingat dengan satu keluarga yang datang berbelanja di toko kita? Sempat terjadi keributan dan mereka mengaku Tante dan Nenek dari Kiano? Jika mereka datang lagi, tolong jangan biarkan dia tahu di mana aku dan Kiano tinggal. Kamu bilang saja, aku tidak lagi menjadi pemilik toko ini."


"Baik, Bu. Jika Ibu butuh istirahat, Ibu bisa naik dulu ke atas."


Riana mengangguk pelan. Untung saja belum ada customer yang datang, kalau tidak mungkin mereka akan menyaksikan perdebatan antara mantan menantu dan mantan mertua.

__ADS_1


***


"Dia tidak mengizinkan Mama untuk bersama Kiano walau hanya sehari." Mantan mertua Riana itu sedang berbicara dengan kedua anaknya saat tiba di villa tempat mereka menginap.


"Ma, sudahlah! Buat apa lagi sih? Wajar Mbak Riana tidak mengizinkan Mama. Kiano anaknya dan mereka sudah Mama usir karena tidak terima dengan kematian Mas Saka. Wanita manapun akan marah diperlakukan seperti itu, saat Kiano kecil kita ke mana? Bukankah Mama sendiri yang membiarkan mereka keluar dari rumah Mama." Shena mengatakan yang sebenarnya pada Mamanya.


"Tapi Kiano cucu Mama, apa tidak bisa dia memberi Mama kesempatan sekali saja?"


"Kalau sampai Mas Saka tahu tentang kebenaran bahwa dia sudah memiliki isteri dan anak Sebelumnya, aku tidak tahu apa yang bisa dia lakukan pada Mama."


"Shena tidak mengancam Mama, tapi Shena mengingatkan Mama."


"Pokoknya Mama tidak peduli, Kiano harus bisa bersama kita. Mama sangat merindukannya."


"Hhh ... terserah Mama."

__ADS_1


Shena meloyor pergi meninggalkan Mamanya di kamar seorang diri.


"Ada apa? Kamu sepertinya habis ribut dengan Mama?" tanya Sherly begitu melihat Shena keluar dari kamar dengan wajah marah.


"Mama baru saja menemui Riana. Dia meminta Kiano untuk bersama kita sehari saja di sini. Aku tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Mama. Apa dia tidak ingat bagaimana dulu dia mengusir Mbak Riana dari rumah dan Kiano yang masih kecil untuk bisa dibawa ke mana-mana."


"Sudahlah, mungkin Mama hanya rindu pada cucunya. Kita tidak bisa menyalahkan Mama seperti ini."


"Benar. Tapi kalau dia memaksakan kehendak itu salah besar Sherly. Kita tidak pernah tahu apa yang sudah dilewati Mbak Riana dan Kiano selama ini. Bagaimana mereka bertahan hidup dan Mbak Riana yang berjuang sendirian membesarkan Kiano. Jika kamu jadi Mba Riana belum tentu bisa sekuat dia."


"Iyah sih. Tapi aku tidak mau ikut campur. Biarkan Mama melakukan apa yang dia inginkan."


Shena menarik napas panjang. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran keluarganya.


Mungkin bagi beberapa orang itu terlihat sepele, apa susahnya membiarkan seorang nenek bermain bersama cucunya. Tapi masalahnya tidak sesederhana itu. Riana terusir dari rumahnya suaminya, mertuanya membencinya dan menganggap dirinya sebagai pembawa sial. Lantas sekarang begitu mudahnya meminta Kiano, jelas Riana tak akan pernah bisa membiarkan hal itu terjadi.

__ADS_1


^^^Ketika segala sesuatu terkesan dipaksakan, maka apapun hasilnya itu adalah sesuatu yang buruk. --Author ^^^


__ADS_2