Complicated Love #2

Complicated Love #2
Di mana Anak dan Isteriku?


__ADS_3

Keesokan harinya, Saka terbangun dengan kepala yang terasa berat. Di sampingnya, Sheril masih terlelap setelah semalaman dia tak tidur memikirkan bagaimana nasibnya kelak.


Saka menyibak selimut yang menutup setengah badannya. Kemudian dia melepas selang infus yang terpasang di tangannya. Karena sisa alat tersebut yang masih terpasang ketika dia telah bangun dari koma.


Dia berjalan keluar ruang perawatan, semuanya tampak asing baginya. Melihat banyak orang lalu lalang dan semuanya tidak dia kenali, membuatnya bertanya-tanya di mana Riana dan Kiano anaknya.


"Maaf saya mau bertanya, ini di mana?" Saka mencoba bertanya ke salah satu orang yang kebetulan lewat di depannya.


"Maksud bapak?"


"Iyah ini kok suasananya tidak seperti di tempat tinggal saya. Ini seperti di Bali."


"Memang di Bali, Pak. Bapak pasien di rumah sakit ini? Keluarga Bapak di mana?"


"Saya juga tidak tahu, saya baru saja mengalami kecelakaan dan saya mencari anak dan isteri saya."


"Waduh, bapak coba cari tahu ke pihak informasi rumah sakit. Siapa tahu bisa membantu."


"Baik, terimakasih Pak."


Saka mencari-cari di mana ruang informasi itu, sementara di kamar rawat Sheril terbangun dan terkejut karena Saka sudah tidak berada di tempat tidurnya.


Dengan cepat dia berlari keluar, menanyakan pada suster namun tak ada yang tahu Saka pergi ke mana.


"Sus, tolong bantu saya mencari suami saya. Dia baru saja bangun dari koma, aku takut terjadi hal buruk padanya."


"Ibu tenang dulu, kami akan membantu ibu untuk mencari pasien."


Hati Sheril diselimuti rasa cemas. Saka pasti merasa masih sangat asing dengan tempat ini. Apalagi ini di Bali, bukan di Bandung atau di Jakarta.


Sheril menghubungi adik iparnya, mengarbakan kalau Saka sudah bangun dari koma.


"Shena, Mas Saka sudah sadar. Tapi ..."


"Tapi kenapa mbak?"


"Dia mengingatku ..."


"Loh bagus berarti."


"Dia hanya mengingat mbak sebagai mantan pacarnya, bukan sebagai isterinya."

__ADS_1


"Hah? Kok bisa?"


"Dan ... dan sekarang Saka kabur dari ruang rawatnya. Aku sedang mencarinya ke mana-mana namun belum ketemu juga."


"Mbak ... Mbak Sheril tenang dulu. Sudah minta bantuan ke suster atau pihak rumah sakit?"


"Sudah, ini sekarang mereka lagi bantuin mbak mencari Mas Saka."


"Oke, terus kabari aku ya mbak. Aku akan menyusul ke Bali sekarang juga. Mbak tenang dulu dan jangan cemas berlebihan."


Detik terakhir obrolan mereka, rupanya mamanya muncul dan sudah memberondong Shena dengan pertanyaan.


"Apa? Jadi Saka sudah sadar? Shena, cepat kita ke Bali sekarang juga."


"Mama ... biar Shena yang ke Bali. Mama tunggu saja di Jakarta. Shena akan mengabari mama tentang kabar terbaru Mas Saka."


"Tidak bisa, Mama harus tetap ke sana. Mama adalah Mamanya, kamu tidak berhak melarang Mama."


"Ma ... please ...! Mas Saka pasti baik-baik saja. Jadi tolong menurut untuk kali ini."


"Shena, pokoknya Mama harus ikut. Mama tidak mau tahu."


Percuma jika melanjutkan tawar menawar dengan mamanya. Itu tidak akan efektif sama sekali. Shena pun pasrah bila mamanya harus ikut. Dia hanya merasa khawatir jika mamanya ikut maka masalah akan semakin runyam nantinya.


Sementara di tempat berbeda, Sheril masih terus mencari keberadaan Saka di rumah sakit. Keringat mengalir di pelipisnya karena kelelahan berjalan ke sana ke mari untuk mencari suaminya itu.


Lalu matanya tertuju pada sosok yang sedang berdiri di taman. Mirip sekali dengan Saka. Sheril pun mendekati pria itu, ketika dia sampai di sana mata Sheril lalu beralih ke perempuan yang tengah menggendong anaknya.


"Riana ... kamu di mana sayang?" ucapan itu serta merta keluar dari mulut Saka. Menghentikan langkah Sheril yang ingin menegur Saka.


"Apa itu kau dan anak kita?" Saka semakin dekat dengan perempuan yang membelakangi dirinya sambil menggendong bayi kecil.


Perempuan itu berbalik dan langkah Saka terhenti. "Ternyata bukan kamu, Riana." Dia tertunduk lesu menghadapi kenyataan kalau perempuan itu bukanlah Riana.


"Saka ..." panggil Sheril.


"Sheril, kamu masih di sini? Ah iya, apa kamu tahu di mana anak dan Isteriku?"


Dada Sheril seperti tertusuk sembilu. Sakit namun tak mengalirkan darah.


"Riana tidak di sini, aku yang ada di sini untuk kamu sekarang."

__ADS_1


"Maksud kamu?"


"Aku yang menyelamatkan kamu dari kecelakaan itu. Aku Sheril, isterimu."


"Tidak ... kapan kita menikah? Isteriku hanya Riana, bukan kamu."


Hati Sheril semakin sakit mendengar pengakuan Saka. Dia ingin menangis, berontak, namun sepertinya semua itu akan sia-sia saja.


"Aku isteri kamu, Mas. Aku yang jagain kamu di sini." Sheril menarik tangan Saka, namun pria itu mengibasnya hingga pegangan tangan Sheril terlepas.


"Kita tidak pernah menikah, Sheril. Kamu salah. Kamu yang memilih pergi dengan lelaki itu. Jangan coba-coba membohongi aku."


"Aku tidak berbohong padamu, Mas. Ini lihat ... lihat siapa yang ada di foto ini. Ini aku dan kamu saat pernikahan kita."


Sheril menyodorkan hapenya untuk dilihat oleh Saka. Saka melihatnya dengan tatapan tak percaya.


"Tidak mungkin. Ini pasti rekayasa kamu kan? Kamu mau menghancurkan keluarga aku kan?"


"Nggak ... ini semua nyata. Aku isteri kamu, Mas...."


Mereka berdua pun menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat di taman itu. Sebagian besar iba pada Sheril yang tak diakui sebagai isteri.


"Di mana Riana? Di mana Kiano anakku? Mama mana?"


"Mereka semua tidak di sini, aku yang ada di sini. Aku yang tiap hari bersama kamu, menunggu kamu bangun dari koma. Aku ... aku yang menemani kamu, bukan Riana ..."


Putus asa, Sheril mengatakan perasannya. Ternyata sesakit ini tidak diakui oleh suami sendiri. Walau kondisinya memang sangat berbeda. Situasinya adalah, Saka sedang dalam masa amnesia di mana ingatannya hanya mengingat peristiwa sebelum kecelakaan itu.


"Kamu ... kamu pasti berbohong."


"Untuk apa aku berbohong padamu, Mas."


"Aku mau bertemu isteri dan anakku."


"Okey, aku akan membawa kamu bertemu dengannya. Tapi setelah semua urusan di rumah sakit ini selesai. Kumohon, kembalilah ke kamar rawat kamu."


"Aku pegang ucapan kamu, setelah ini bawa aku bertemu istri dan anakku. Aku merindukan mereka, kasihan Kiano masih sangat kecil. Dia pasti sangat rindu pada papanya."


Sheril tak lagi menjawab setiap ucapan Saka, karena kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut pria itu seperti pil pahit yang harus ditelannya bulat-bulat.


"Ya Tuhan, aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Apa yang akan terjadi nanti saat Saka bertemu Riana dan tahu bahwa status Riana sudah berubah. Dia sudah menikah. Beri aku kekuatan dan kesabaran menghadapi ujian-Mu kali ini, Tuhan."

__ADS_1


Saka sudah tak sabar ingin keluar dari rumah sakit. Berkali-kali dia menagih janji Sheril untuk membawanya bertemu Riana dan anaknya.


__ADS_2