Complicated Love #2

Complicated Love #2
Penantian Yang Tertunda


__ADS_3

Keesokan paginya, Tefan masih pulas dalam tidurnya. Rasa lelah bekerja membuat dia tidur dalam keadaan nyenyak. Seperti janjinya, Riana pagi ini akan melakukan tes pack. Untuk mengetahui apakah dia mual muntah yang dialami sebelumnya ada hubungannya dengan dia sedang berbadan dua atau tidak.


Alat tes pack tersebut kebetulan meminta si Bibi untuk membelikannya di apotek. Riana turun dari tempat tidur dengan pelan, tidak mau gerak geriknya malah membangunkan suaminya itu. Mengapa dia lakukan pagi buta, karena menurut kata orang jika ingin hasil yang maksimal maka lakukan test packnya pas pagi-pagi. Saat buang air kecil pertama kali ketika bangun tidur.


Riana membuka laci meja samping tempat tidurnya. Mengambil kemasan berwarna dominan putih itu dan tak lupa sebuah cawan kecil yang sudah dia persiapkan dari semalam. Sebenarnya dia juga deg degan menunggu hasilnya, benarkah dia tengah hamil atau tidak.


Dengan hati-hati setelah menampung air seninya, Riana pun membersihkan diri lalu keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya mencelupkan alat test pack ke dalam cawan berisi air seni miliknya.


Sembari menunggu hasilnya yang akan keluar beberapa menit lagi, Riana melakukan olahraga ringan pada tangan dan kakinya. Setelah itu, dia kembali mengintip alat test pack tersebut.


Bersamaan dengan itu, Tefan terbangun dan mendapati Riana tidak ada di sampingnya. Dia menggosok matanya dan mencari keberadaan isterinya tersebut.


"Sayang ... kamu di mana?"


"Sebentar, aku di kamar mandi." Riana berteriak dari dalam.


Tak lama kemudian, dia keluar dengan membawa hasil tes pack yang sebenarnya belum juga dia lihat. Kebetulan Tefan sudah bangun dan mereka ingin melihatnya bersama-sama.


"Sayang ... aku sudah test."


"Apa hasilnya?" tanya Tefan antusias.


Itu sebabnya, Riana takut mengecewakan Tefan. Tapi mau gimana lagi, hasil tesnya apapun itu harus dihadapi sama-sama.


"Kita lihat sama-sama ya, apapun hasilnya kita nggak boleh kecewa apalagi merutuki keadaan. Hanya belum dikasih aja, okey?" ucap Riana mengingatkan Tefan yang memang sangat ingin anak.


"Iyah, apapun hasilnya akan aku terima sayang."


Satu ... dua ... tiga ...


Belum sempat mereka melihat hasil tesnya, dalam hitungan ketiga mereka sudah dikejutkan dengan suara telepon yang berdering nyaring dari ponsel Tefan.


"Tunggu sebentar sayang, mungkin dari pak Bono. Biasanya dia tidak akan menelpon sepagi ini kalau tidak ada apa-apa."


Akhirnya mereka pun menunda melihat hasil tes tersebut. Mereka lebih penasaran pada si penelpon dan kabar yang akan dibawanya.

__ADS_1


"Ya Pak Bono, ada apa?"


"Maaf Tuan, mengganggu sepagi ini. Namun, ada seorang ibu-ibu yang sedang memaksa masuk ke rumah Tuan. Kebetulan saya datang ke sini untuk mengurus sesuatu dan satpam di rumah Tuan sudah tidak bisa lagi menenangkan ibu tersebut."


"Hah? Kamu tahu siapa orangnya?"


"Jika diperhatikan dari setiap ucapannya, sepertinya ada hubungannya dengan Nyonya, Tuan."


"Baiklah, saya mengerti. Pak Bono tunggu di situ, saya dan Riana akan segera keluar."


"Siapa?" tanya Riana pelan namun penasaran.


"Kayaknya ... mantan mertua kamu sayang."


"Apa? Ngapain dia ke sini? Lagi pula dari mana dia tahu kita tinggal di sini?" Riana terlihat sangat tidak suka, bahkan dia ingin segera keluar dan mengusir mantan mertuanya itu.


"Biarkan aku menemui dia sekarang!"


"Sayang ... hey! Jangan emosi begitu. Kita temui dia sama-sama. Kamu tenang dulu."


Riana masih terlihat menahan amarah. Diafragmanya naik turun menandakan emosi dalam dadanya masih terus berlangsung.


"Riana ...!" serunya cepat begitu melihat Riana muncul dari pintu.


"Maaf Tuan, Nyonya, saya sudah berusaha untuk menahan ibu ini namun dia bersikeras." Pak satpam yang sejak tadi berjaga pun meminta maaf.


Tefan hanya menaikkan tangannya satu pertanda itu bukan masalah, kamu sudah melaksanakan tugas dengan baik. Begitulah kira-kira.


Pak Bono berdiri tak jauh dari posisi mantan mertua Riana. Berjaga-jaga kalau ada pergerakan yang akan merugikan Nyonya besar di rumah itu.


"Bu, silakan masuk dulu. Kita bicara di dalam." Tefan mengajak mantan mertua Riana untuk masuk ke dalam rumah.


Riana yang ingin bicara terpaksa menahan diri karena Tefan sudah memutuskan. Dia pun kembali diam, mantan mertuanya sudah lebih dulu masuk dan duduk di sofa ruang tamu.


"Katakan, ada apa sampai Ibu jauh-jauh mendatangi kami di sini?" tanya Tefan mengambil alih pembicaraan.

__ADS_1


"Saya hanya ingin agar cucu saya mau menemui Papanya. Supaya dia tahu kalau papanya masih hidup."


"Apa sebelumnya hal ini pernah terbersit di pikiran Ibu? Apakah ibu memikirkan Kiano yang hidup tanpa seorang ayah selama ini? Tidakkah ibu memikirkan perasaan isteri saya atau bunda Kiano, saat ibu mengusir mereka dari rumah Anda. Pernahkah kepikiran bahwa Kiano suatu saat harus tahu papanya masih hidup atau tidak? Maaf Bu, saya lancang. Tapi jika ibu terus menerus seperti ini, maka bukan cuma ibu kehilangan Kiano tapi juga akan kehilangan anak yaitu papanya Kiano." Tefan berucap tegas di depan mantan mertua Riana.


"Saya mohon, maukah kalian datang menemui Saka di rumah sakit? Mungkin dengan begitu, dia bisa sadar dari komanya."


"Bu, kami akan datang. Sekarang ibu bisa pulang dulu."


"Riana ... Mama mohon, tolong datang dan lihat Saka. Mungkin jika kamu datang ke sana dan berada di dekatnya, dia akan segera sadar dari koma."


Riana tak dapat menjawab apa-apa, dia memang prihatin dengan kondisi Saka tapi bukan berarti Riana juga harus jadi alasan dia sadar dari koma. Apa kabar isteri Saka nanti?"


Untungnya Mamanya Saka akhirnya bisa diajak kooperatif setelah Tefan menjanjikan akan datang ke rumah sakit. Bersama Riana dan juga Kiano.


"Kenapa kamu menuruti kemauan dia, sayang?" protes Riana.


"Tidak apa-apa, kita akan ke sana. Jangan lupa untuk membawa Kiano juga. Kita ke sana setelah makan siang nanti. Sekarang, aku masih mau manja-manja dulu sama kamu."


Tefan tersenyum genit ke arah Riana, dia melakukan lirikan-lirikan tidak jelas tapi tentu saja Riana tahu maksudnya. Lalu ketika tiba di kamar tidur, mereka pun akhirnya tersadar kalau sudah melupakan satu hal.


"Sayang ... mana hasil tes pack-nya tadi?" tanya Tefan.


"Ah iya, kenapa kita bisa lupa sih. Itu dia di sana."


Riana pun mengambil benda kecil itu dan masih menutupi dengan tangan hasilnya.


"Sekarang, kita lihat sama-sama."


Jantung keduanya perlahan berdebar makin kencang. Mereka penasaran dengan hasilnya, dua gariskah atau hanya satu garis.


Seketika ekspresi mereka berubah. Apa yang mereka lihat membuat keduanya terdiam. Namun, Tefan dengan cepat mendekap Riana.


"Tidak apa-apa, mungkin belum saatnya saja sayang." Tefan berusaha menghibur Riana. Padahal tadi Tefanlah yang sangat antusias menantikan hasilnya.


"Maafkan aku ..."

__ADS_1


"Hei tidak masalah, kita bisa melakukannya lagi dan lagi sampai akhirnya Tuhan memberikan kepercayaan itu lagi pada kita berdua. Mungkin ini hanyalah kado indah yang tertunda. Jangan murung begitu, senyum dong ..."


Riana pun terpaksa tersenyum, meski sebenarnya dia kecewa pada dirinya sendiri. Tidak apa-apa, mungkin hanya rejeki yang tertunda. Akan selalu indah pada waktunya nanti.


__ADS_2