Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 22. Jauhi Tefan


__ADS_3

Aku tidak habis pikir denganmu Tefan, padahal baru saja kita bertemu setelah sekian bulan tak pernah berbagi kabar. Sekarang kita malah bertengkar dan aku memilih pulang kepada orangtuaku.


Kulihat Mama sedang menyuapi Papa di kamarnya. Raut wajah Papa seperti mengisyaratkan bahwa ia sangat terpukul. Maafkan aku Pa... ucapku lirih.


"Ma... Pa... Maafkan Riana, tidak seharusnya aku pergi mencari Tefan."


"Sudahlah Riana, semuanya sudah terjadi."


Aku melihat wajah Mama yang masih menyisakan kekesalan. Aku tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya.


"Maaf sudah membiarkan Papa Tefan menghina mama dan papa. Aku janji tidak akan berbuat kesalahan lagi."


"Kembalilah ke kamarmu dan mandi. Setelah itu baru kamu kembali ke sini. Papa dan Mama mau bicara sama kamu."


*Kediaman Keluarga Roy"


"Pulang juga akhirnya kamu anak sialan!" umpat Papa begitu melihatku memasuki rumah.


"Apa yang papa lakukan pada keluarga Riana?"


Aku mencecar Papa, tidak peduli dengan apa yang terjadi nanti. Aku hanya kesal karena masalah ini sudah merambat ke mana-mana. Bahkan sampai melibatkan orangtua Riana.


"Itu hanya peringatan kecil. Kalau kamu tidak mau menuruti apa kata Papa dan terus berhubungan dengan wanita jalang itu, maka tak hanya kamu yang tanggung akibatnya. Tapi mereka juga."


Papa berkata sangat lantang dan terlihat menahan emosi. Aku harus menjawab apa? Sedang Riana juga tengah marah padaku saat ini? Mengapa sebegitu rumitnya hidup yang dia jalani sekarang.


"Pa... Tidak bisakah Papa berpikir sedikit saja tentang perasaan Tefan?"


"Papa tidak ada hubungannya dengan perasaan kamu. Kamu sudah membuat kekacauan dalam keluarga kita. Itu juga karena perempuan jalang itu."


"Pa...!!!"


Aku tidak bisa menahan lagi emosiku mendengar Papa berulang kali menyebut Riana dengan kata Jalang.


"Pa... bisakah papa berhenti menyebut Riana perempuan jalang? Bagaimana pun dia adalah perempuan yang aku cintai. Cukup Pa, cukup!"

__ADS_1


"Rupanya kamu masih punya nyali membela perempuan itu. Sekarang lihat keadaan kamu, kamu mengacaukan pernikahan kamu, kamu membuat malu Papa di mata keluarga Nina, sekarang masih berani kamu melawan Papa Ha???"


Papa mengangkat tangannya hendak menamparku, namun mama muncul tiba-tiba.


"Sudah Pa, apa dengan memukul anak kita masalah akan selesai? Kamu Tefan, masuk kamar kamu."


Aku mengikuti kata Mama. Tidak mungkin terus-terusan berhadapan dengan monster seperti Papa. Dia tidak akan membuat lawannya menang dalam hal apapun. Sahabatnya saja bisa dia khianati, padahal mereka berjuang bersama dari nol. Tapi lihat apa yang terjadi sekarang? Dia mencampakkan Pak Johan yang tak lain adalah sahabatnya dan juga Papa dari Riana.


Aku menghempaskan tubuhku di atas kasur, hari ini merupakan hari yang teramat buruk bagiku. Bagaimana caranya aku minta maaf pada Riana?


Aku telah berbuat salah dengan berkata kasar padanya saat dia menghina Papa, dan sekarang apa yang kudapatkan? Dia malah menghina Riana dengan sebutan jalan terus menerus. Ini salahku. Maafkan aku Riana.


Tanpa kusadari aku menjadi lelaki paling lemah saat ini, lihatlah keadaanku sekarang, jangankan membela perempuan yang aku cintai, aku bahkan tidak bisa membela diriku sendiri di depan Papa. Sekarang air mata juga perlahan membanjiri wajahku. Apa yang harus kulakukan?


Aku meraih ponsel, menghubungi Riana berkali-kali namun tak ada jawaban. Ponselnya bahkan mati atau sengaja dimatikan.


SIALL !!!


*Kediaman Riana*


Mama membuka pembicaraan malam itu dengan penekanan di tiap kata yang diucapkan.


Aku diam. Papa akhirnya angkat bicara.


"Papa sangat hapal bagaimana watak Roy, dia tidak akan segan-segan melakukan apapun untuk mencapai keinginannya Riana. Kehidupan dia dulunya sangat keras, barangkali itulah yang membuat dia gelap mata dan akhirnya berubah drastis demi harta dan kekuasaan."


"Papa tidak apa-apa dia hina, dia rampas seluruh harta milik kita, Papa hanya tidak ingin kalau dia sampai menghancurkan keluarga kita. Aku tidak mau sesuatu terjadi pada kamu, pada mama kamu. Apalagi dalam kondisi papa yang seperti ini, harus duduk di kursi roda dan tidak punya kuasa apapun."


Aku terdiam, ini memang berat. Aku tidak boleh egois dan mementingkan perasaanku saja. Aku juga harus memperhatikan perasaan Mama dan Papa. Aku tidak tahu jelas apa yang terjadi tadi pagi di rumah ini, namun aku yakin Pak Roy sudah melakukan hal buruk pada Mama dan Papa.


Gurat wajah Mama masih menampakkan amarah dan kesal. Sedang Papa walau terlihat lebih santai, tapi dia juga tak bisa menyembunyikan perasaan terhina yang dia terima dari Papanya Tefan.


Aku menarik nafas dalam-dalam. Mencoba menata hatiku, mungkin ini yang terbaik sekarang, menghindari Tefan dan berusaha hidup lebih baik.


"Ma, Pa, tidak usah khawatir. Mulai sekarang aku tidak akan menemui Tefan lagi. Bahkan ketika dia datang padaku sekalipun, tak akan kuberi ruang untuk itu. Akulah yang akan berdiri paling depan, jika ada yang berani menghina Mama dan Papa lagi. Maafkan sikapku sebelumnya, aku terbawa perasaan."

__ADS_1


"Berjanjilah Riana." Mama berucap itu sembari menggenggam erat tanganku.


"Aku janji Ma."


Aku memeluk Mama dan Papa bergantian lalu kita berpelukan bertiga. Selama ini mereka sudah begitu mendukung hubunganku dengan Tefan dan sekaranglah saatnya aku mendukung keinginan Mama dan Papa. Meski keinginan itu bertolak belakang dengan sebelumnya.


Aku masuk ke kamar. Memikirkan pertengkaran sebelumnya dengan Tefan. Yah, wajar jika Tefan marah saat aku menghina Papanya, hanya saja aku tidak menyangka reaksi dia akan seperti itu. Aku lebih terkejut lagi dengan reaksiku yang tak terkendali lalu meninggalkan Tefan di sana.


Sekarang yang perlu kupikirkan adalah bagaimana kembali ke Villa di kawah putih dan membawa kembali mobilku. Kupikir semua akan baik-baik saja, maka kutinggalkan mobilku di sana. Yang terjadi justru malah sebaliknya, kekacauan terjadi di mana-mana.


*Sekarang bagaimana selanjutnya?


Akankah ini menjadi akhir hubungan aku dan Tefan?


Sekarang bukan lagi orangtua Tefan yang tidak sejutu, bahkan orangtuaku juga ikut-ikutan memintaku menjauhi Tefan.


Serumit inikah perjalanan cinta ini harus dijalani?


Sanggupkah aku menjalaninya?


Atau mampukah aku menahan perasaanku?


Bagaimana jika tidak?


Bagaimana jika aku bahkan tidak bisa menjaga amanah dari Mama dan Papa?


Barangkali apa yang terjadi hari ini adalah jawaban, bahwa impian akan bersama tidak akan pernah terjadi di masa depan.


Kenapa aku sakit memikirkannya Tuhan*...


--------


Hai trimakasih sudah sejauh ini mendukung cerita Complicated Love, saran dan kritik tetap kutunggu untuk memperbaiki tulisan dan cerita dari novel ini ke depannya. Jangan lupa untuk baca juga ceritaku yang lain, judulnya Jihan.


Eh iyah, jangan Lupa Like, komen dan vote yah. trimakasih sekali lagi karena sudah meluangkan membaca cerita ini. see uu....

__ADS_1


__ADS_2