Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 48. Diculik Bag. 3


__ADS_3

Sudah dua belas jam berlalu sejak Tefan menelepon Saka dan belum ada tanda-tanda aku akan segera mendapatkan pertolongan. Apakah ini akhir perjalanan hidupku? Harus hidup bersama seorang pria yang dulunya memang kucintai namun kini berubah menjadi seorang Psikopat.


Aku berdiri dekat jendela memandang keluar, di depanku yang kulihat hanya hutan belantara. Entah aku berada di mana sekarang. Barangkali rumah ini merupakan villa milik keluarga Tefan yang letaknya di tengah hutan.


Aku meraba jendela berharap dapat membuka jendela itu dan kabur dari sana. Kamar ini seperti ruang isolasi karena tak ada celah sedikitpun untuk bisa keluar selain pintu yang letaknya juga dijaga ketat oleh dua orang pengawal.


Aku hampir mati karena bosan mondar-mandir di dalam kamar. Resah dan gelisah nyaris membuatku putus asa akan datangnya pertolongan.


Kurebahkan diri di tempat tidur dan terdengar suara derap kaki mendekat.


Ceklek!!!


Pintu terbuka dan seorang pengawal masuk membawa senampan makanan.


"Ini makanan anda Nona, makanlah!"


"Taruh di meja, aku belum lapar. Di mana Tuanmu?"


"Tuan sedang pergi."


"Keluarlah! Jangan khawatir makanannya pasti kumakan."


Pengawal itu kemudian keluar dan tak berkata apa-apa lagi. Aku kemudian mencari-cari sesuatu di seluruh kamar. Namun aku tak menemukan apapun, sepertinya Tefan sudah menduga sebelumnya. Makanya tak ada benda apapun yang bisa kugunakan untuk berencana kabur di sana. Dasar licik! Sifatnya sudah mirip sekali seperti Papanya.


Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 16.00 waktu sore. Tadi aku sempat tertidur mungkin karena rasa bosan dan kelelahan menangis. Saat bangun dan bercermin aku baru sadar, mataku telah bengkak.


Aku ke kamar mandi untuk mencuci muka dan seseorang baru saja masuk ke kamar. Air menyapu seluruh wajahku yang membengkak. Terasa perih karena sisa-sisa tamparan tangan besar Tefan waktu itu.


Aku menatap wajahku yang basah, mataku sayu dan tak lagi memancarkan cahaya kehidupan. Kali ini hidupku benar-benar hancur. Tefan bahkan memperkosaku dengan kasar dan tak peduli akan perasaanku lagi. Dia tidak memiliki belas kasih seperti yang dulu dia miliki.


"Riana!" Suara Tefan berteriak marah. Dia sepertinya mengira kalau aku telah kabur.


"Rianna!!!" Suaranya semakin meninggi.


"Kau tidak perlu teriak seperti itu, aku masih di sini." Jawabku ketus ke arahnya.


"Oh Tuhan my lady! Aku kira aku sudah kehilanganmu." Dia mendekatiku dengan tatapan yang membuatku bergidik.

__ADS_1


"Sampai kapan kamu akan mengurungku di sini?"


"Sabarlah sebentar lagi, kita akan pergi dari sini dan menjauh dari orang-orang yang akan mengganggu hubungan kita."


"Kau tidak sadar diri sekali ya, bukannya kamulah pengganggu yang sebenarnya? Menculik tunangan orang dan memperkosanya."


"Siapa bilang aku memperkosamu? Bukankah kau juga menikmatinya, kau mengerang di bawahku Riana. Membuatku semakin ingin menikmati tubuhmu yang kian seksi itu."


"Bahkan perbuatanmu sudah melebihi binatang!"


"Diam Riana! Jangan membuat aku berbuat kasar padamu."


"Kenapa Tefan? Kenapa? Kau mau kasar padaku? Ayo! Silahkan! Bila perlu kau ambil saja nyawaku." Aku menatapnya dengan tatapan penuh marah.


Dia membuang pandangannya, tidak berani menatapku.


"Mengapa kamu berubah seperti ini? Siapa yang membuat kamu begini?"


"Ini semua karenamu. Kamu yang membuatku berubah Riana. Karena itu ikutlah bersamaku sayang."


"Keluarlah dari kamar ini, aku ingin sendiri." Jawabku melepaskan kedua tangannya.


"Baiklah! Kamu istirahat."


Dia keluar dari kamar, meninggalkan aku yang terduduk di sisi ranjang. Yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya untuk kabur.


"Gori, bawakan aku beberapa minuman!" Sayup-sayup kudengar suara Tefan meminta minuman kepada salah satu anak buahnya yang bernama Gori.


Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. Saka, apa kau mencariku? Tolong temukan aku Saka.


Waktu terus berlalu dan sekarang sudah menjelang malam. Aku mendengar suara Tefan meracau, Riana aku mencintaimu. Kau hanya milikku. Tidak ada yang boleh bersamamu kecuali denganku. Kata-kata itu terus dia ulang, dan perlahan kudengar suara itu mendekat ke arah kamar.


Aku semakin dihinggapi rasa takut. Tefan pasti sedang mabuk.


Bruggg!!!


Pintu terbuka bersamaan dengan tubuh Tefan yang tergeletak di lantai. Pengawal yang berjaga segera menolongnya tapi setelah berdiri Tefan malah mengibaskan tangan pengawalnya dan menyuruhnya pergi.

__ADS_1


Dia membanting daun pintu kamar dengan sangat keras. Aku bersembunyi di samping lemari, aku tidak mau dia menemukanku dan berbuat sesuatu yang lebih kasar.


Keringatku mulai membasahi dahiku, wajah Tefan seperti iblis yang sedang kehausan. Dia menyeringai memanggil namaku terus menerus. Dia mulai kesal karena tak menemukan aku di tempat tidur.


"Di mana kau Riana? Kau tidak bisa bersembunyi dariku. Keluarlah!"


"Riana!"


"Riaaannaa!!! Aku hitung sampai tiga jika kamu tidak keluar maka kau rasakan sendiri akibatnya. Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."


Aku terduduk pasrah di samping lemari pakaian yang menjulang hingga ke langit-langit kamar itu. Tefan mulai mencari-cari di setiap sudut, nafasku seakan berhenti saat dia mencariku di dalam lemari. Dia semakin kesal karena tak menemukan aku.


Sampai aku merasa bahwa dia sudah tak mencariku, aku pun bernafas lega. Baru saja aku akan berdiri dari persembunyianku, Tefan sudah berdiri di depanku dengan tatapan seperti orang kelaparan.


"Di sini kau rupanya My Lady, Kau ingin bermain petak umpet denganku ya? Sayangnya aku sedang tidak mood untuk melakukan permainan bodoh semacam itu. Bangun!!!" Bentaknya.


Dia lalu mengangkat tubuhku dan melemparku ke tempat tidur. Aku berusaha melawan dia, namun berapa kuat seorang wanita melawan tak akan mampu mengalahkan kekuatan seorang laki-laki. Apalagi Tefan yang berbadan besar dan tinggi, dia dengan leluasa bisa mengunciku dengan tangan dan kakinya.


Aku terus meronta tapi dia tidak peduli. Dia mengunci kedua tanganku ke atas dan mulutnya mulai menjelajahi leher serta tengkukku. Dia melakukannya berulang kali membuat nafasku tersengal. Karena aku terus meronta dia pun lagi-lagi menamparku. Hingga aku merasakan pedih di satu sisi wajahku.


Aku hanya bisa menangis pasrah. Tefan terus menjelajahi setiap lekuk tubuhku, meninggalkan bekas di sana. Dari leher hingga kini dia bermain di perutku, membuat aku menggelinjang. Bukan rasa nikmat yang kudapati, tapi luka yang semakin membesar di dasar hatiku.


Dia terus bermain di atasku, hingga tatapanku berkunang-kunang dan menit berikutnya aku sudah tak sadarkan diri. Tak lama kemudian, kurasakan tubuhku bergerak seiring permainan Tefan yang menggila. Dia memasukiku semakin dalam dan akhirnya lemas di sisiku karena mendapatkan puncak kenikmatannya.


Saat bersamaan keributan terjadi di luar, seperti ada perkelahian. Namun tubuhku tidak bisa bergerak walau hanya untuk menggeser tubuh Tefan agar menjauh dan aku bisa sedikit bernafas.


"Tefan! Keluar kau ********!"


"Riana...!"


Seketika aku merasa lega, akhirnya pertolongan itu datang. Saka. Ya, itu Saka.


Dengan susah payah aku meraih gagang pintu untuk membukanya. Aku melilitkan selimut di tubuhku karena aku tidak mengenakan apapun.


Langkahku gemetar, belum sampai aku meraih gagang pintu, aku sudah ambruk. Namun aku terus berusaha, suaraku yang lemah hanya bisa memanggil nama Saka dengan lirih.


Tak lama kemudian pintu dibongkar paksa dengan sekali tendangan. Saat itulah aku melihat wajah Saka dan aku jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2