
Tefan ikut meringis ketika ekspresi Riana menunjukkan bahwa dia tengah menahan perih. Tefan ingin mengatakan sesuatu, tapi nggak jadi karena Riana keburu memalingkan wajahnya darinya. Wanita itu menatap ke luar dari balik kaca mobil yang melaju mengantarnya pulang.
Tefan tak berani mengganggu Riana, wanita itu menyukai keheningan. Dia ingat ketika mereka bertengkar adu mulut, Riana memilih diam selama beberapa hari. Tidak bicara pada Tefan, juga tidak bicara pada siapapun. Karenanya, pria itu memilih tak menggubris Riana dan menyetir dengan tenang.
*Kapan terakhir kali aku melihat dia kayak gini? Wajahnya kelihatan tenang tapi menyimpan begitu banyak kesedihan di dalam hatinya. Aku tidak tahu apa yang dilewatinya selama bertahun-tahun saat tak bersamanya. Namun dia mungkin saja melewati begitu banyak hal pahit. Belum lagi, duka-duka yang aku berikan untuknya di masa lalu. Rasanya dosaku tak pernah habis kepada Riana. Seperti cintaku padanya yang tak bisa kuhentikan. *
Beberapa orang pengunjung menoleh ke arah mereka, tangan Riana bengkak dan terdapat obat oles di punggung tangannya. Tefan membantu wanita itu untuk memegang tangannya yang sakit itu.
"Bu ... ada apa?" Nadia segera menghampiri mereka.
"Nggak apa-apa Nad, kamu lanjutkan saja pekerjaanmu. Maaf Fan, aku harus tinggal ke atas dulu. Aku ingin istirahat." Tefan mengerti meski dia kecewa karena sikap Riana sedikit menjaga jarak darinya.
"Okey. Selamat istirahat Riana."
Tefan mempercepat langkahnya menuju mobil. Riana mengintip dari balik jendela di lantai dua untuk melihat kepergian Tefan. Mobil itu melaju cepat hingga meninggalkan suara decit di jalan beraspal. Kelihatannya Tefan agak tergesa. Mobilnya pun meluncur dengan cepat, menyalip beberapa kendaraan di depannya dan tiba pada sebuah villa di mana Femi tinggal.
Tefan mendorong dengan keras pintu rumah itu. Amarahnya sudah di ubun-ubun. Dia tahu wanita itu ada di dalam karena pintunya tidak terkunci. Terkejut Femi berlari menuruni tangga.
"Tefan ...!" pekiknya senang.
Namun ekspresinya berubah ketika melihat wajah Tefan yang terlihat sangat emosi. Dia baru sadar jika sikap pria itu ada hubungannya dengan apa yang dia lakukan di coffee shop.
"Aaaak ... saa ... kit ...!" Femi tercekat kesakitan. Rupanya lehernya dicengkram dengan kuat oleh Tefan. Wanita itu kesulitan untuk bernafas.
"Sudah berapa kali kubilang, jangan pernah mengganggu Riana." Tatapan Tefan begitu geram. Kuku-kukunya tertancap tajam ke leher Femi. Membuat wanita itu semakin meringis kesakitan.
"Fa ... nn ...! Sa ... kit ...!"
__ADS_1
Tefan tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia mendorong Femi dengan sangat keras hingga wanita itu terhempas ke sofa. Untung saja jatuh ke sofa, jika terjatuh ke lantai mungkin akan beda lagi ceritanya.
"Gila kamu ya! Kamu bisa membunuh aku, Fan!" teriak Femi setelah terlepas dari cengkraman tangan Tefan di lehernya.
"Iyya ... aku bisa saja membunuhmu jika kamu tak berhenti mengganggu Riana dan anaknya. Selama ini, aku baik padamu bukan berarti aku tak bisa kasar padamu. Meski kamu seorang perempuan. Kuperingatkan sekali lagi, atau aku benar-benar tidak bisa menahan diri."
Tefan pergi begitu saja setelah melampiaskan amarahnya.
"Argghhh ... sial! Sekarang dia semakin membenciku. Wanita itu sudah benar-benar meracuni pikirannya. Tefan, meski aku akan mati sekalipun, aku tidak akan menyerah!" ucap Femi berteriak di kekosongan di rumahnya.
Dia menangis tertunduk. Bukan karena sakit bekas cengkraman tangan Tefan di lehernya. Tapi karena harga dirinya sudah tidak ada lagi di hadapan pria itu.
***
"Bunda ... tangan Bunda kenapa?" tanya Kiano polos melihat Bundanya memegangi tangannya yang bengkak.
"Kena air panas, sayang. Tidak usah khawatir, Bunda baik-baik saja kok. Beberapa hari kemudian juga pasti sembuh." Riana berusaha menenangkan Kiano.
"Cerita apa sayang? Tentang sekolah Kiano ya?"
"Tapi sebelumnya, Kiano mau minta maaf sama Bunda." Anak itu tertunduk, takut apa yang akan dikatakannya nanti akan membuat Bundanya marah.
"Minta maaf apa sayang? Kenapa Kiano harus minta maaf segala?"
"Karena ..." anak itu berhenti sebentar. "Tapi Bunda janji ya, tidak akan marah sama Kiano!" tawarnya.
"Oke, Bunda janji."
__ADS_1
Kiano mengambil nafas panjag, seolah yang akan diceritakannya teramat serius. Bundanya jadi penasaran.
"Tadi Kiano diejek lagi sama teman, mereka bilang aku anak yang lahir tidak punya Papa. Kiano sedih tapi juga ingat ucapan Bunda yang bilang kalau Kiano tidak boleh membalas ejekan teman. Tapi juga Kiano marah, Bun. Kiano mendorong teman Kiano sampai jatuh. Lalu Kiano bilang, siapa bilang Kiano tidak punya Papa. Kiano punya Papa ganteng kok. Namanya Papa Tefan. Maaf ya Bun, karena sudah mengakui Om Ganteng papanya Kiano!" Kiano seperti bisa bernafas lega setelah menceritakan masalahnya pada Kiano.
"Hemm ..." Riana menjawab singkat seperti itu.
Kiano merasa cemas pada dirinya. Wajah polosnya itu menggambarkan ketakutan seorang anak di hadapan ibunya.
"Bunda ...!" panggilnya.
"Bunda tidak marah sayang, tapi Kiano harus ingat bahwa bermain kasar pada teman itu tidak boleh ya." Riana pelan-pelan menasehati Kiano, bagaimana pun anak itu masih kecil. Cuma memang anak itu terkadang lebih dewasa dari usianya.
"Soal ... Om ganteng yang Kiano akui Papa ... Bunda juga tidak marah kan?" Kiano menangkup pipi bundanya. Membuat Riana terharu dan seolah tidak akan pernah bisa memarahi anaknya itu.
"Tidak sayang, Bunda tidak marah. Nanti Kiano bilang ke Om Ganteng juga apa Om gantengnya marah jika diakui Papa sama Kiano atau tidak. Kalau tidak marah, Kiano harus izin dulu sama Om ganteng. Oke?"
"Okey, bunda! Makasih, Bun." Kiano mengecup pipi bundanya dengan sayang.
Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu sampai kapan Kiano haru diejek oleh teman-temannya karena tak punya Papa. Namun menerima Tefan sebagai suami, juga bukan hal mudah untuk menerimanya.
Riana memijit-mijit pelipisnya dengan satu tangan karena terasa sakit di bagian itu. Belum lagi tangannya yang bengkak dan nyeri saat bergerak.
"Wanita itu benar-benar nekat. Hari ini hanya tumpahan kopi, besok-besok dia bisa saja melakukan hal ekstrim lainnya!" ucap Riana lirih pada dirinya sendiri.
Kiano bemain mobil-mobilan tak jauh darinya. Ditatapnya cukup lama anaknya itu, tak terasa dia sudah besar. Ingatannya kembali lagi pada Saka yang ternyata sudah meninggalkan dirinya cukup lama.
Andai saja kamu ada sayang, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini. Saka ... aku rindu.
__ADS_1
Ingatan itu memberi ruang kosong di dalam dirinya. Hatinya sakit saat mengingat semua tentang Saka yang begitu singkat. Pertemuan mereka yang ternyata tak bisa terjalin lama karena Saka harus pergi dari hidupnya untuk selamanya.
Air bening mengalir di sudut mata Riana. Terkadang kesepian dan kerinduan lebih sakit dari apapun di dunia ini. Terlebih jika orang yang dirindukan ternyata sudah tak berada di dunia yang sama.