
“Tidak semua cinta harus bersama, beberapa ada yang harus saling merelakan dan melepas cintanya untuk yang lain.”
Aku tak menemukan Tefan di manapun. Seharian berkeliling mendatangi tempat-tempat yang mungkin dikunjunginya tapi tak ketemu. Sekarang yang kulakukan hanya berbaring di atas tempat tidur dengan godaan empuknya. Seperti mengajak untuk segera rebah merasakan kelembutan yang ditawarkannya. Namun baru saja hendak memejam, Hp-ku kemudian menjerit-jerit bagai kena gigit. Kupikir telpon dari Tefan, ternyata dari Nina.
Ada perasaan enggan untuk menjawab tapi mengingat aku butuh mencari tahu keberadaan Tefan akupun menjawab telpon tersebut.
“Ya Nin, ada apa?”
“Kamu tahu keberadaan Tefan nggak? Sudah dua hari aku tidak bisa menghubungi nomornya.” Dari Nada suaranya ketahuan bahwa Nina sedang sangat khawatir.
“Nggak Nin, aku belum ketemu dia semenjak kembali. Kamu sudah cari ke rumah orang tuanya? Atau menghubungi orang tua dan teman-temannya mungkin.” Terpaksa aku berbohong pada Nina, lagi dan lagi.
“Teman-temannya satupun tidak ada yang tahu. Orang tuanya juga bilang dia belum pulang sejak kemarin. Tapi akan aku coba lagi, semoga dia sudah pulang dan baik-baik saja.” Kudengar nada suara Nina yang berusaha untuk terdengar baik-baik saja. Karena itu aku menjadi iba dengan sendirinya.
“Amin, mudah-mudahan. Kamu tenang saja, jangan terlalu khawatir.” Aku coba menghibur Nina, berharap bisa membuat dia tenang.
“Iyah aku hanya takut terjadi apa-apa dengannya. Belakangan ini dia menjadi sangat berbeda, dia menarik diri dari urusan pernikahan sehingga aku harus mengurusnya sendirian. Tapi tidak apa-apa kok, mungkin ini hanya sedikit cobaan sebelum pernikahan.”
Nina, kamu tidak tahu perasaan Tefan yang sebenarnya. Dia juga tidak ingin menyakitimu, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan perasaannya sendiri.
“Iyah. Semoga saja bukan cobaan yang terlalu sulit untuk dilewati.”
Aku berpikir lama hanya untuk memikirkan apa yang sebenarnya dilakukan Tefan sampai bertingkah seperti orang aneh. Ketakutan Nina sama dengan ketakutanku, bagaimana jika Tefan benar-benar nekad? Apa dia serius dengan ucapannya yang menyebut bahwa dia takkan menikah dengan Nina? Jika itu terjadi bahkan akupun takkan bisa menghentikan kemauannya. Dia sangat keras kepala jika berkaitan dengan prinsip.
Tak lama setelah Nina menelpon, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal terpampang di layar monitor HP. Aku agak ragu untuk menerimanya tapi bisa saja orang yang menelpon itu adalah Tefan.
“Halo...” Jawabku.
__ADS_1
“Racun apa yang sudah kamu berikan pada Tefan sampai dia berpikir untuk membatalkan pernikahannya hah???” Sebuah suara bagai berteriak mengagetkanku di seberang telpon sana.
Aku tergelak untuk beberapa saat hingga aku sadar bahwa yang menelpon adalah Papa Tefan.
“Dasar perempuan jalang. Sudah kukatakan sebelumnya jauhi Tefan!” Suara itu bagai menjerit di telingaku. Terdegar memekakkan telinga. Apalagi saat dia memanggilku jalang, aku sungguh tidak terima dengan sebutan itu.
“Aku sudah melakukannya. Dia yang bersikeras tidak mau meninggalkanku, lagi pula Bapak macam apa anda yang tega memperalat anaknya hanya untuk sebuah harta dan kedudukan?”
Aku tidak kalah galaknya, nada bicaraku juga ikut meninggi. Aku tidak mau membiarkan orang merendahkanku seperti ini, bahkan orangtua Tefan sekalipun.
“Beraninya kamu bicara seperti itu pada saya. Kuperingatkan sekali lagi, jauhi Tefan atau kau tidak akan pernah bisa melihat Tefan lagi. Tidak hanya itu, kamu dan keluarga kamu juga tidak akan hidup dengan tenang.”
Orangtua ini memang luar biasa, dia bahkan tak hanya mengancamku tapi juga mengancam keluargaku. Apa dia sudah lupa, kalau dia sudah pernah menghancurkan keluargaku hingga titik terendah. Sekarang dia juga berani mengancam keselamatan keluargaku.
“Sebaiknya anda juga memperingatkan anak anda.”
Kalimat terakhir yang bernada ancaman itu nyaris membuatku roboh, apa yang terjadi pada Tefan? Apa yang sudah dilakukannya sampai dia harus menerima hukuman seperti itu dari Papanya? Semua ini harus diakhiri dan hanya aku yang bisa. Jika tidak, semua orang akan berada di bawah tekanan Papanya. Akan ada banyak orang lagi yang terluka, aku tidak mau membahayakan hidup mereka hanya karena Cinta dan perasaan yang tak pernah beroleh restu.
Dengan tangan gemetar dan rasa takut yang perlahan menjalari sarafku, aku memberanikan diri menghubungi kembali nomor Papa Tefan. Nada sambung mulai terdengar, tak lama akhirnya aku terhubung dengan Papa Tefan.
“Halo... Bisakah anda memberikan padaku waktu untuk bertemu Tefan terakhir kalinya? Setelah itu, aku akan menghilang selamanya dari hidup dia dan orang-orang yang berkaitan dengannya.”
Aku bernegoisasi dengannya, lebih tepatnya mengorbankan perasaanku. Biarlah takdir yang bekerja selanjutnya. Jika takdir menginginkan aku dan Tefan bersama, maka halangan seperti apapun bentuknya itu tidak jadi hal yang berarti untuk menyatukan kami berdua kembali.
“Kamu janji atau selamanya kamu akan menyesal.” Jawab Papa Tefan memperingatkan.
“Aku janji.”
__ADS_1
“Kuberikan waktu 5 menit untuk bertemu dengannya di rumah sakit jam lima sore nanti. Jangan terlambat atau kamu tidak akan pernah bertemu dia bahkan untuk yang terakhir kali.”
Akhirnya aku lega mendengar izin itu. Walau itu menjadi pertemuanku yang terakhir dengan Tefan.
“Baiklah.” Jawabku yang berarti menyanggupi permintaan Papa Tefan untuk menjauhi anaknya untuk selama-lamanya.
Aku menutup telpon dengan perasaan yang campur aduk. Entah harus bahagia, atau bersedih. Di sisi lain aku senang karena akhirnya berkesempatan bertemu Tefan tapi di sisi lainnya lagi yang merupakan terberat adalah bahwa aku harus melepaskan Tefan saat itu juga.
Tidak ada cara lain, Papa Tefan adalah orang yang nekat. Semua bisa saja dia lakukan tanpa berbelas kasih sedikitpun. Terbayang peristiwa beberapa tahun silam, saat Papa Tefan menendang Papaku keluar dari perusahaan yang mereka rintis bersama-sama dari nol.
Bagi Papa, dia tak pernah menyangka kalau akan dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Tapi Papa adalah orang yang berbesar hati. Dia bahkan tak melakukan perlawanan apapun, dia membiarkan Papa Tefan mengambil semua miliknya.
Papa percaya bahwa harta masih bisa dicari, bisa saja hari ini dia adalah manusia paling miskin di dunia tapi suatu saat nanti, dialah yang paling ditinggikan derajatnya oleh Tuhan. Aku bangga sama Papa.
\*
sungguh menyakitkan sekali jika harus dalam situasi seperti ini. Cinta memang selalu butuh pengorbanan. Tefan bahkan rela membiarkan tubuhnya babak belur oleh papanya demi kekuasaan yang diinginkannya. Tidak pernah sebelumnya Riana merasa sebersalah ini pada Tefan, karena dirinyalah Tefan harus mendapatkan perlakuan buruk dari orangtuanya sendiri.
Maafkan aku...
Biarkan aku membantumu menyudahi semuanya*.
*
*
__ADS_1
*