
“Terkadang kita perlu benturan keras untuk menyadari ada sesuatu yang seharusnya kita perjuangkan bukan hanya meratapi takdir tapi berusaha untuk melampaui takdir itu sendiri.”
*
*
*
Tiga bulan kemudian...
Tiga bulan kemudian, Nina menghubungi aku lewat Mama. Dia memintaku untuk bertemu dengannya. Belum tahu apa yang ingin disampaikannya, tapi semenjak mendengar suara dia pertama kali, aku yakin ada sesuatu yang terjadi. Akupun mengabulkan permintaannya untuk bertemu. Tapi aku baru bisa ketemu dia di akhir pekan. Akhirnya sepakat bertemu di sebuah restoran yang tak seberapa jauh dari rumah.
Selama tiga bulan terakhir sejak pernikahan mereka, aku memang jarang sekali berkomunikasi dengannya apalagi Tefan. Tidak pernah sama sekali. Aku juga tidak tahu apa-apa soal pernikahan mereka, bahagiakah, atau sebaliknya. Tapi aku sangat berharap mereka baik-baik saja, hidup rukun dan bahagia terlepas dari urusan Tefan dan Papanya.
Sejak datang telpon dari Nina setiap harinya aku jadi tidak tenang. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya tapi semakin kucoba, pikiran tentang Nina dan Tefan terus saja mengganggu. Papa dan Mama belum tahu kalau sebenarnya Tefan dan Nina sudah menikah. Aku tidak pernah membahas keduanya semenjak aku datang ke sini tiga bulan yang lalu dan mereka juga tidak pernah menyinggung-nyinggung soal Tefan lagi.
“Ada apa Riana? Kamu terlihat tegang.” Tanya Mama.
“Tidak apa-apa Ma. Nina minta ketemu dan aku penasaran kenapa dia tiba-tiba minta bertemu dan tidak langsung datang saja ke rumah.”
“Kapan kalian akan bertemu?”
“Akhir pekan nanti Ma.”
“Temui saja, semoga tidak ada apa-apa.”
“Iya Ma.”
Di rumah aku punya kebiasaan baru. Menyulam. Mama yang ngajarin. Hasil buah tangan Mama cantik-cantik, beberapa pajangan di rumah juga hasil karya sulaman Mama.
Tangannya ajaib, dia bahkan bisa menyulam sambil nonton TV. Matanya ke TV tapi tangannya terus saja bergerak dengan lincahnya. Aku belum bisa menyamai kehebatannya, justru aku malah beberapa kali tertusuk karena tidak benar melihat lubangnya.
Selain menyulam, Mama juga bisa merajut. Entah dari mana keahlian itu bisa dia dapatkan. Padahal seingatku dulu semasa kecil beliau tidak pernah memegang barang-barang beginian.
Belakangan aku tahu kalau Mama ternyata pernah ikut kursus yang diadain RT karena dia bosan di rumah terus tidak ada kerjaan. Hehe. Mama ada-ada saja. Dari perasaan jenuh malah menghasilkan karya bagus seperti sekarang.
Mama juga kerap kali mendapat pesanan tapi dia tidak mau dengan alasan dia hanya mengerjakan sebagai hobby bukan untuk urusan bisnis. Jadi setiap orderan yang datang semua di kasih ke teman-teman Mama yang tergabung dalam komunitas handmade yang diusung oleh RT.
\*
Aku janji ketemu Nina saat jam makan siang. Aku sudah menunggu lebih dulu di restoran tempat kami janjian. Sekitar sepuluh menit menunggu, Nina sudah datang dengan gayanya yang santai. Tidak ada yang berubah banyak dari dia sejak pernikahannya, kecuali wajahnya yang tampak pucat dan tidak bersemangat seperti dulu.
“Hai...” sapaku.
“Hai, sudah lama menunggu?” Balasnya.
“Belum terlalu lama kok. Silahkan duduk.”
Nina duduk tapi dia tidak mengucapkan kata-kata satupun. Dia hanya diam dan aku jadi tambah curiga saat melihat ekspresi wajah dia yang terlihat sedih.
__ADS_1
“Nin, kamu baik-baik saja? Kenapa kok jadi sedih begitu? Kamu sama Tefan baik-baik saja kan? Dia menyakiti kamu?” Cecarku dengan pertanyaan, begitu melihat ada genangan di kedua matanya dan ada semacam emosi yang coba ditahannya.
“Kenapa kamu tidak bilang Yan.” Ucapnya setengah terisak.
“Bilang apa? Kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Apa yang terjadi?”
“Tefan sudah menceritakan semuanya.”
“Cerita apa?”
“Tentang kalian. Tentang perasaannya, tentang Papanya dan semuanya.” Tangis Nina pecah.
Aku tertegun memandangi perempuan yang kukenal dekat sebagai sahabat ini menangis.
Apa?
*Dia sudah tahu semuanya?
Kenapa Tefan begitu bodoh menceritakan semuanya dan menyakiti perempuan yang tidak pernah menyakitinya*?
Aku gugup dan tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata seperti raib dari kerongkonganku dan lidahku kelu untuk berucap apapun.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita Yan? Kenapa kamu malah memilih menjauh seperti ini?”
“Tidak ada pilihan lain Nin. Aku tahu kamu sangat mencintai Tefan dan aku juga yakin Tefan akan melakukan hal yang sama untuk kamu.”
“Tidak setelah dia tahu kalau ternyata perjodohanku dengannya hanya menyangkut soal bisnis Yan. Dia marah besar ke Papanya, tidak hanya itu, dia juga bahkan sudah bilang ke Papa dan Mamaku. Dia benar-benar jadi tidak terkendali.”
“Kapan dia menceritakan semuanya?”
“Ya Tuhan...! Aku membekap mulutku sendiri.
"Kenapa dia melakukan semua itu?” aku melanjutkan kalimatku setelah sebelumnya benar-benar shock mendengar penuturan Nina.
“Semua untuk kamu Yan. Dia sangat mencintai kamu. Tadinya aku pikir aku bisa megubah persepsi dia, dan membuatnya jatuh cinta sama aku seperti ketika pertama kali kita bertemu. Tapi usaha yang kulakukan selama berminggu-minggu tidak pernah membuahkan hasil. Dia pergi ke kantor dan pulang ke rumah tanpa menatapku sedikitpun. Menjadi sangat dingin dan dia bahkan memunggungiku saat kita berdua tengah tidur di satu tempat tidur. Tidak hanya itu, dia memilih untuk tidur di luar jika saja aku berusaha untuk mencoba menyentuhnya.”
Nina semakin berurai air mata. Aku tidak sanggup melihatnya.
“Aku tidak percaya dia bisa melakukan itu sama kamu Nin.”
“Tadinya juga kupikir begitu. Aku sempat membencimu sangat membenci kamu. Tapi ketika melihat wajah Tefan yang hampir tidak pernah ada semangat sejak pernikahan kami. Aku berpikir tidak ada yang salah sama kamu, aku tidak pantas membenci kamu. Karena kamu bahkan sudah menyerahkan Tefan sama aku, tapi aku yang tidak bisa memenangkan hatinya. Dia masih saja mencintai kamu, terkadang saat dia tertidur dan aku terjaga, dia sering kali mengigau dan memanggil nama kamu. Kamu tahu Yan, betapa remuknya hatiku saat itu. Aku merasa tidak berguna sama sekali, suamiku menyebut nama perempuan lain saat kita berdua sedang di tempat tidur yang sama.”
“Seharusnya aku menyadari ini lebih dulu. Menyadari perasaan kalian yang pada akhirnya membuat kalian saling melukai. Kamu seharusnya tidak melepas Tefan apapun alasannya Yan. Bahkan dengan alasan Papanya sekalipun.”
“Nin, aku minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa Yan? Tidak ada yang perlu dimaafin. Semua terjadi karena sudah ada jalannya. Mungkin ini juga teguran buat aku, teguran buat kamu, Tefan dan semuanya. Bahwa tidak baik memaksakan sesuatu jika sesuatu itu belum menjadi milik kita. Sebab bisa jadi apa yang kita sangka telah menjadi milik kita, justru itu adalah milik orang lain. Tuhan hanya belum menunjukkannya.”
“Bagaimana keadaan dia Nin?”
“Buruk. Sangat buruk. Dia berantakan, kurus dan aku bisa pastikan dia setiap malam hanya minum. Dia pulang ke rumah kadang mabuk dan sangat kacau. Beberapa kali sempat diantarkan oleh Dewa karena dia khawatir terjadi sesuatu pada Tefan jika membiarkannya menyetir sendirian. Sekarang aku serahkan semuanya sama kamu Yan. Kembalikan Tefan yang dulu, hanya kamu yang dibutuhkannya. Aku relakan dia sebagaimana kamu pernah merelakannya untukku.”
“Tapi kalian suami isteri. Tidak seharusnya kamu menyerah begitu saja Nin.”
__ADS_1
“Aku tidak menyerah Yan. Aku sudah berusaha dan semua keadaan malah menjadi rumit. Aku berusaha memperbaiki Yan, aku tidak menyerah.”
“Apa yang harus aku lakukan padanya Nin? Tidak ada.”
“Ada. Pergilah bersamanya.”
“Tidak bisa. Aku perlu merawat Papa.”
“Yan. Ini kesempatan terakhir kamu. Jika apa yang kuberi sekarangpun tidak mau kamu genggam maka selamanya aku tidak akan pernah membiarkan Tefan bersamamu. Aku sudah membicarakannya dengan pengacaraku, aku akan mengajukan gugat cerai pada Tefan.”
“Nin, jangan gegabah.”
“Tidak. Keputusanku sudah bulat Yan. Bahagiakan dia Yan, karena hanya kamu yang ingin dibahagiakannya seumur hidupnya.”
“Nin. Ini tidak seharusnya seperti ini. Aku tidak mau.”
“Yan. Ingat baik-baik kata-kataku, aku ingin memperbaiki segalanya, memperbaiki kesalahan yang kubuat. Bukan menyerah.”
Nina pergi begitu saja tanpa menyentuh makanannya sedikitpun. Semua ini terjadi begitu cepat, Nina bahkan tidak memberiku banyak kesempatan untuk berbicara atau bahkan berpikir. Hhh... apa yang harus kulakukan? Bagaimana mungkin Tefan melakukan hal semacam ini?
Aku belum bisa mencerna dengan baik setiap kalimat Nina. Tapi dari cara dia mengungkapkan keinginan dan keputusannya dia begitu serius dan tenang. Haruskah dia melakukan semua ini demi Tefan dan juga aku? Aku sama sekali tidak mengerti dengan skenario Tuhan yang satu ini. Tidak kusangka kejadiannya akan sebegitu rumitnya.
Jika Tefan sudah berani mabuk-mabukan, itu artinya dia benar-benar tersiksa dengan apa yang dia jalani sekarang. Apa yang dituturkan Nina membuatku tak habis pikir.
\*
“Kamu sudah ketemu Nina?” Tanya Mama saat santai di halaman belakang.
“Sudah Ma.”
“Kalian membicarakan tentang apa?”
“Tefan.”
“Ada apa lagi?”
“Tiga bulan yang lalu seminggu sebelum Mama telpon kalau Papa sakit, Tefan dan Nina menikah. Ceritanya panjang Ma. Banyak yang terjadi dan aku tidak bisa menceritakan semuanya dengan sederhana. Semua terjadi begitu saja, begitu singkat, seolah tidak ada waktu lagi. Tefan terpaksa menikahi Nina atas kehendak orang tua masing-masing. Tefan pikir perjodohan mereka murni karena persahabatan orang tuanya di masa lalu. Ternyata lebih dari pada itu. Tefan akhirnya tahu kalau perjodohan mereka tidak lebih hanyalah untuk urusan bisnis. Tefan menikahi Nina juga karena aku memintanya Ma. Semua untuk kebaikan bersama, Papa Tefan terus menekanku, memaksaku dan bahkan mengancamku.”
“Aku bukan orang yang mudah diancam atau ditekan begitu saja, tapi jika ini menyangkut Tefan dan keluarga aku lebih baik menukar semuanya daripada keselamatan Tefan, Papa dan Mama terancam. Papanya pernah melakukan penganiayaan terhadap Tefan, mengingat bahkan sama anak semata wayang dia sendiri sampai melakukan hal seperti itu apalagi sama orang lain. Terlebih karena kebenciannya terhadap aku dan keluarga kita Ma, dia bisa saja melakukan sesuatu yang tidak pernah kita duga. Papanya tuh psycho gila harta dan memanfaatkan apa saja agar tujuannya tercapai, termasuk memanfaatkan Tefan dan Nina. Mereka berdua hanya alat.”
“Tefan menceritakan semuanya pada Nina. Nina berusaha mempertahankan rumah tangganya yang baru berumur beberapa jam sudah digoyahkan dengan persoalan sulit. Dia mempertaruhkan kehormatannya untuk mendapatkan hati Tefan, tapi yang dia peroleh hanya pengabaian dari Tefan. Dia bahkan mengaku belum pernah disentuh sedikitpun oleh Tefan sejak pernikahan mereka. Tefan begitu dingin padanya, walau tidak pernah berbuat kasar, Nina mengaku sudah tidak tahan lagi. Dia ingin mengajukan cerai pada Tefan, Ma. Nina bahkan memintaku untuk kembali pada Tefan lagi demi menyelamatkan kewarasan Tefan yang menurutnya sudah tak bersama Tefan lagi. Tefan berubah seratus delapan puluh derajat sejak pernikahannya. Menurut dia, keputusannya sudah bulat. Apa yang dia putuskan itulah yang terbaik karena baginya dia sedang melakukan usaha memperbaiki kesalahannya. Apa yang harus aku lakukan Ma...”
Di depan Mama aku menceritakan semuanya, berurai air mata dan bahkan sampai sesegukan. Mama beralih memeluk aku tidak mengatakan apapun hanya memeluk. Ternyata benar, pelukan bisa berarti apa saja. Dan pelukan Mama saat ini seperti obat ajaib yang membuat aku merasa sangat tenang. Hanya di pelukan Mama aku bagai menemukan surga. Mama apa yang harus kulakukan? Ucapku membathin.
“Sekarang Mama tanya, kamu masih mencintai Tefan? Masih ingin bersama Tefan? Kamu tahu resiko apa yang akan kamu temui jika seandainya kamu tetap ingin bersama Tefan? Jika kamu tahu semuanya, kamu hanya perlu bertindak dan mengambil keputusan sayang. Keputusan yang tidak akan membuatmu menyesal seumur hidup untuk kedua kalinya. Karena Mama yakin saat kamu menyerahkan Tefan pada Nina, ada sebagian dari hati kamu yang hilang.”
“Lalu aku harus bagaimana Ma?”
“Bukan harus bagaimana, tapi lakukan apa yang hati kamu minta. Kejar apa yang menurut kamu pantas untuk dikejar. Jangan diam saja dan hanya menyesal, kamu pantas mendapatkan lebih. Kalau kamu sudah menemukan jawaban yang diinginkan hati kamu, Mama dan Papa tidak akan pernah menahan kamu sayang. Mama mendukung kamu begitu halnya Papa yang akan selalu mendukung kamu tidak peduli apapun yang akan mengejar kamu nanti. Semua akan baik-baik saja, ada Mama dan Papa yang bersama kamu, doa kami akan selalu di nadimu. Lakukanlah sayang.”
__ADS_1
Aku memeluk Mama. Ucapan Mama memberiku kekuatan lagi. Sekarang aku tahu apa yang harus kuperjuangkan.