Complicated Love #2

Complicated Love #2
Waktu Yang Berhenti


__ADS_3

Tibalah hari yang dinantikan, hari yang membuat Riana tak bisa tidur semalaman. Dia masih terus membayangkan bagaimana reaksi Saka.


Hari ini, Tefan pun tak pergi bekerja. Dia sudah janji pada Riana untuk menemaninya bertemu Saka.


"Kenapa? Kelihatannya kamu cemas sekali?" Tefan bertanya seraya menyentuh bahu isterinya.


"Iyah, aku cemas padamu."


"Lah, kenapa?"


"Aku takut kamu akan kecewa padaku."


"Hei ... hubungan kita bukan hanya satu dua tahun Riana. Kita sudah lama saling kenal dan berhubungan. Aku yakin kita bisa atasi masalah ini sama-sama."


Tefan mencoba meyakinkan Riana dengan memberi support lewat genggaman tangan. Dia menatap Riana dengan tatapan lekat dan penuh makna.


"Kau hanya perlu percaya padaku, sebab aku yakin kamu tidak akan menyia-nyiakan kepercayaanku padamu."


Riana tersenyum dan memeluk Tefan. Dia merasa beruntung, semenjak menikah Tefan sudah jauh lebih banyak berubah. Mungkin karena faktor usia dan juga perjalanan hidup yang dia lalui membuatnya jadi lebih dewasa.


Di tempat yang berbeda, Sheril, juga Saka dan keluarganya telah bersiap-siap akan ke rumah Riana. Namun baru saja akan berangkat, Sheril mendapatkan sebuah kiriman foto. Membuat langkahnya terhenti sebentar demi melihat foto tersebut.


Foto itu merupakan foto anaknya yang hak asuhnya jatuh pada mantan suaminya. Bukan karena dia tak bisa merawat anaknya, hanya saja mantan suaminya melakukan segala cara agar bisa mendapatkan hak asuh tersebut.


Mengenai foto anaknya barusan, itu dikirimkan oleh penjaga anaknya yang selalu memberi Sheril kabar tentang perkembangan anak perempuannya yang bernama Vania. Sekarang dia sudah remaja, kelas satu high school. Mereka terpisah ribuan jarak karena anaknya Vania tinggal bersama Papanya di luar negeri.


Sejak menikah dengan Saka, Sheril sedikit bisa mengurangi kesedihannya karena hak asuh anak yang tak bisa dia peroleh. Sekarang, dia pun terjebak oleh sebuah kenyataan bahwa orang yang menikahinya saat ini tak lagi menganggap dirinya sebagai seorang isteri.


"Mbak ... ada apa? Kok diem?"


"Tidak apa-apa, ayo lanjutkan saja jalannya. Riana dan keluarganya sudah menunggu di rumahnya. Kita harus cepat."


"Eh cepetan! Kenapa kalian jadi tinggal ngobrol seperti itu. Riana pasti sudah menunggu aku." Saka berbalik ke belakang dan menegur Sheril dan Shena yang terlibat sedikit obrolan.

__ADS_1


"Iyah, Mas tunggu sebentar."


"Kalian kenapa sih? Sheril, kamu jangan coba-coba menghalangi pertemuan mereka." Mama Saka berkata dengan ketus. Padahal Sheril tidak bermaksud begitu.


"Ma ...." teriak Shena seolah mengingatkan mamanya.


"Sudah, tidak apa-apa Na. Ayo jalan."


***


Saka tak hentinya tersenyum sendiri, girang di dalam mobil dengan perasaan deg degan yang kerap dia pamerkan di depan semua orang yang mengantarnya bertemu Riana.


"Berapa lama lagi kita akan sampai, Ma?" tanya Saka pada Mamanya.


"Sebentar lagi, siapkan dirimu."


Sheril merasa cemburu, namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Untuk saat ini dia hanya bisa menuruti kemauan Saka.


"Apakah setelah ini, Saka akan benar-benar meninggalkan aku? Kenapa semakin dekat pertemuan itu, rasa takut semakin menyerangku. Rasa cemburu kian besar, Saka terus menerus membicarakan Riana. Tahu begini, apa tak sebaiknya dia tak usah sadar saja sekalian? Mengapa hanya aku yang harus menanggung sakitnya sendirian? Semua ini gara-gara Mama kamu Saka, dialah penyebab semua kekacauan yang terjadi dalam rumah tangga kita."


"Mbak baik-baik saja?" tanya Shena.


"Entahlah, kita lihat saja bagaimana nanti. Aku tidak bisa bilang aku baik-baik saja padahal di dalam sudut hatiku yang lain hanya bisa menangis."


Shena menggenggam salah satu tangan Sheril untuk menguatkan Kakak iparnya tersebut.


Lalu tak terasa mobil semakin mendekati pintu gerbang rumah milik Riana dan Tefan. Hati Sheril semakin gundah dan cemas, apalagi saat mobil tersebut ternyata sudah memasuki halaman rumah Riana.


"Apa ini rumahnya, Ma? Wah ... Riana tinggal di rumah sebesar ini? Terus Mama dan juga adik-adik Saka tinggal di Jakarta ya?"


"Iyah."


"Dari mana Riana dapat uang sebanyak itu, Ma? Aku sudah tak sabar untuk bertemu dengannya. Rasanya sudah lama sekali aku tak bertemu dengannya. Padahal aku hanya keluar kota untuk keperluan bisnis. Kiano sehat-sehat saja kan, Ma? Kalian masih sering berkomunikasi bukan?"

__ADS_1


Mamanya bungkam. Bahkan Shena dan Sheril juga ikut bungkam. Terlalu banyak pertanyaan yang dilontarkan Saka sehingga tak ada yang mau menjawab apapun.


Mobil berhenti dan satu persatu dari mereka pun turun. Saka merapikan pakaian dan juga rambutnya.


"Tunggu, Ma. Aku harus terlihat gagah dan tampan juga rapi saat bertemu Riana."


Sheril sudah menunggu di luar. Mamanya bahkan membantu Saka memperbaiki penampilannya.


Selang beberapa saat kemudian, mereka dibukakan pintu oleh seorang asisten rumah tangga di rumah itu. Mereka dipersilakan masuk dan langsung ke ruang tengah.


"Tuan dan Nyonya sudah menunggu di dalam. Silakan masuk."


Saka sempat merasakan hal aneh ketika mendengar kata Tuan dan Nyonya.


"Maksudnya apa Tuan dan Nyonya?"


Namun karena perasaan rindu dalam hati Saka sudah merajalela, sejenak dia pun tak peduli dengan kata-kata tersebut. Wajahnya sangat ceria, dia bahkan mengaku merasa gugup pada Mamanya.


Lagi-lagi Sheril hanya bisa diam. Walau dalam hatinya, sebenarnya dia sedang menangis. Bahkan dia yang mengantarkan sendiri suaminya pada mantan isterinya.


"Riana ... astaga ... ini kamu sayang? Aku sangat merindukan kamu. Aku akhirnya bisa pulang. Aku merindukanmu ...."


Saka berlari memeluk tubuh Riana, Tefan yang berada di samping Riana hanya bisa duduk tenang. Seolah tak terganggu oleh pertemuan dua orang yang sebelumnya berstatus suami isteri itu.


Pelukan Saka semakin erat di tubuh Riana. Namun Riana bergeming, pelukan tersebut tak dibalas olehnya. Dia hanya mematung, tak merasakan apapun.


"Riana ... kenapa diam saja? Apa kau tak merindukan aku? Aku sudah pulang, sayang."


Semua orang yang ada di sana hanya bisa terpaku. Mereka terjebak dalam situasi yang memberatkan bagi kedua belah pihak.


"Syukurlah, akhirnya kamu bisa pulang." Hanya se-kalimat itu yang keluar dari mulut Riana.


"Mana Kiano? Mana anak kita sayang?" tanya Saka antusias lalu tatapannya tiba-tiba berhenti menatap Tefan yang duduk di samping Riana. "Mengapa pria brengsek ini ada di sini? Bukankah kamu sangat membencinya Riana? Bukankah kalian sudah tak ada hubungan apa-apa lagi? Tefan, ngapain kamu di sini?"

__ADS_1


Riana kaget. Saka ternyata bisa mengenali Tefan. Kemudian salah satu yang tak kalah membuat semua orang seperti waktu berhenti seketika adalah, kemunculan Kiano.


"Bunda ... Papa Ganteng ...!"


__ADS_2