
Akhirnya kami sampai di Apartemen dengan lelah. Lelah karena perjalanan yang jauh dan memakan waktu berjam-jam. Lelah di pesawat dan juga mobil. Hingga tiba di apartemen aku hanya bisa berbaring menelentang, meluruskan segala persendian yang terasa kaku.
Kulihat Saka sudah berganti pakaian, aku masih mengumpulkan tenaga dan bermalas-malasan untuk bangun. Aku tidak habis pikir dengan mataku yang selalu ingin terpejam. Tidur. Tidur. Hanya itu yang ingin kulakukan. Sampai Saka terus menarik selimutku dan memaksaku untuk segera mandi dan berganti pakaian.
Dengan malas kuloloskan selimut dari tubuhku dan perlahan berjalan masuk ke kamar mandi. Saka menatapku dengan senyum nakalnya. Baginya aku ini sangat menggemaskan sampai dipelototi sedemikian rupa dengan maksud terselubungnya.
Aku selesai membersihkan diri dan berganti pakaian santai. Aku meraih ponsel untuk mengabarkan pada Mama kalau aku sudah kembali dari berbulan madu. Belum sempat kucari nomor Mama, ponselku sudah berdering. Mama.
Dengan senang kuangkat telpon dari Mama. Lalu percakapan berikutnya berlangsung sunyi. Aku hanya terdiam tak percaya dengan kabar yang baru saja kudengar.
"Papa..." Air mataku sudah terburai di pipi, Saka yang melihat itu segera berlari ke arahku dan menanyakan apa yang terjadi.
"Papa..." Jawabku masih dengan matai berlinang.
"Ada apa dengan Papa?" Tanya Saka heran.
"Ayo Mas, kita harus segera pergi. Papa. Papa dalam keadaan buruk. Mama baru saja menelpon."
Perlahan kesadaranku mulai kembali, dengan cepat aku meraih sweater dan mengajak Saka untuk segera ambil kunci mobil dan berangkat ke rumah sakit.
Aku meremas tanganku, kesedihan begitu memburu, dadaku naik turun, penuh sesak oleh rasa sakit yang begitu tiba-tiba. Mengapa harus secepat ini Tuhan?
"Mas, cepat sedikit."
"Aku sudah berusaha sayang, tenanglah Papa akan baik-baik saja."
__ADS_1
Wajah Saka berpaling ke arahku dan tersenyum menguatkan, lalu setelah itu dia kembali fokus dengan kemudi di tangannya.
Bagaimana aku bisa tenang, Papa yang kusayangi sedang meregang nyawa tanpa ada sakit sebelumnya.
Belum lama setelah Mama menelpon tadi, ponselku kembali berdering. Mama. Aku gemetaran mengangkat telpon itu. Aku takut.
"Mama."
"Papa sudah tidak ada."
Aku mematung, ponselku sudah jatuh. Saka mempercepat laju mobilnya, seakan mengerti sesuatu yang buruk telah terjadi pada Papa. Tidak lama kemudian, kami tiba di rumah sakit. Aroma rumah sakit menyambut kedatanganku, tanpa menunggu aku berlari mencari keberadaan Mama.
Melihat Mama tergugu di atas jenazah Papa, aku tak membuang waktu.
Mama masih menangis, aku meraih tubuh Mama dan kita berdua berpelukan. Mama terlihat berusaha menegarkan diri, namun kutahu dia begitu rapuh di dalam. Oleh karena itu, tidak sepantasnya aku terlalu larut dalam kesedihan. Aku mencium Mama berkali-kali, memeluk dan berusaha menguatkannya.
Saka selalu ada di sisiku, siap untuk mengurus segalanya. Bahkan tanpa diminta, dia sudah mengurus mengenai administrasi pemulangan jenazah Papa ke rumah. Saka juga sudah menghubungi orang tuanya. Mungkin sekarang sudah menuju rumah sakit.
Apa ini? Mengapa semua begitu tiba-tiba, tanpa pertanda, tanpa diduga. Mengapa disaat Papa sudah dalam keadaan sehat, bisa berjalan kembali, Tuhan malah mengambilnya. Papa, aku mencintaimu.
Jenazah Papa sedang diurus pihak rumah sakit saat keluarga Saka tiba di rumah sakit. Mama Saka yang juga merupakan sahabat Mama, memeluk Mama dan menguatkan Mama. Dia juga sangat terkejut dengan kabar duka yang begitu tiba-tiba.
Untung saja, aku sudah pulang berbulan madu. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana jika Papa pergi di saat aku masih di sana. Ah, aku takut membayangkannya sekalipun. Aku terus memeluk Mama, membantunya untuk duduk dan memapahnya ketika kita semua hendak meninggalkan rumah sakit.
Di jalan Mama sempat bercerita, jika tak ada tanda-tanda bahwa Papa sakit, lalu secara mengejutkan dia meninggalkan kita semua. Papa masih sempat minum kopi sebelum masuk kamar dan akan bersiap tidur. Mama sedang menyiapkan beberapa pakaian untuk besok, karena akan berencana makan bersama denganku. Namun sebelum itu terjadi, saat Mama telah selesai dengan pakaian itu, Mama melihat Papa sudah dengan mulut berbusa.
__ADS_1
Dalam suasana dipenuhi rasa cemas dan takut terjadi sesuatu, Mama menguhubungi rumah sakit. Begitu tiba di rumah sakit, dilakukan tindakan pertolongan pertama. Namun saat itu jantung Papa sudah berhenti berdetak.
Mendengar cerita itu, aku terus menggenggam erat tangan Mama. Mama harus kuat, Mama kuat. Kuat. Tapi bagaimana denganku? Aku juga tak kuasa menghadapi kenyataan ini. Namun keinginan Papa di masa hidupnya telah kupenuhi, dia ingin sekali melihatku menikah dan dia menjadi wali nikahku. Oh Papa, terimakasih sudah menjadi Papaku. Sudah menyayangiku selama ini.
Malam itu, aku tidur di rumah Mama dan Papa. Terakhir kalinya tidur bersama Papa yang dalam hitungan jam jasadnya sudah tak bersama kami lagi..
Tahukah kau Papa, betapa beruntungnya aku menjadi anakmu. Papa yang selalu melindungi aku, tidak peduli seberapa kau akan menderita, kau hanya peduli padaku dan Mama. Kau adalah Papa terhebat untukku dan juga suami terhebat untuk Mama. Selamat jalan Papa, aku janji akan menjaga Mama, cinta sejatimu.
Untuk kesekian kalinya, aku mencium kening Papa. Sebisa mungkin menahan agar air mataku tak jatuh mengenai kulitnya. Katanya air mata kita untuk seorang yang sudah meninggal, tak boleh mengenai kulitnya, jika tak ingin mereka merasakan sakit yang teramat sakit di alam kubur.
Kucium kening Papa dengan doa-doa untuk keselamatan Papa menuju haribaan Tuhan. Saka mengangkat tubuhku yang terus menangis dan semakin lama semakin lemah. Dia menuntunku untuk berjarak sedikit dari Papa. Dia memapah tubuhku dan duduk seraya menyenderkan kepalaku di bahunya. Sesekali dia menarikku ke dalam dada bidangnya dan merasakan kehangatan di sana.
"Bagaimana ini? Mengapa Papa begitu cepat pergi?"
"Sayang, relakan Papa. Papa juga pasti tidak mau melihat kamu terus-terusan sedih begini. Papa pasti ingin kamu kuat agar bisa menjaga Mama. Ayo ikhlaskanlah!"
"Baru kemarin Papa mengantarku ke pelaminan dan itu adalah salah satu harapan terbesarnya. Tapi mengapa Papa pergi bahkan di saat aku belum memberikan cucu untuknya." Aku menangis terisak di pelukan Saka.
Kurasakan Saka semakin menarikku ke dalam pelukannya. Mencium puncak kepalaku dengan lembut dan dalam.
Papa adalah cinta pertamaku, laki-laki pertama yang memeluk tubuh mungilku. Mengajariku apa itu arti cinta, mengajariku tentang bersabar dan pelajaran hidup lainnya yang tak mungkin kulupakan begitu saja seumur hidupku. Papa adalah laki-laki pertama yang meletakkan tangannya di puncak kepalaku dan mengusapnya dengan lembut. Seraya mengatakan 'Nak, jika besar nanti jadilah berguna untuk sesama, jangan merepotkan apalagi membuat masalah pada orang lain.'
Dan sekarang, nasehat itu tak akan pernah kutemui lagi. Selamat jalan Papa, pesan-pesanmu akan senantiasa kuingat.
****
__ADS_1