Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 40. Jujur


__ADS_3

Hatiku menjadi hangat tiap kali dipeluk olehnya, perasaan dilindungi, perasaan berharga terasa lebih lengkap. Tidak dapat kupungkiri bahwa kehadirannya memberi warna tersendiri. Perasaan gigil seperti musim hujan di bulan desember, berangsur menghilang saat kedua tangannya menggenapkan tubuhku di dadanya.


"Hei, ada apa kau memintaku kemari?" Tanyaku melirik wajah Saka yang terlihat lebih tinggi.


"Aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu. Tapi sebelumnya kamu harus makan dulu, biar kamu punya tenaga yang cukup untuk mendengarnya."


"Hanya mendengar bukan? Itu tentu mudah sekali, sebaiknya berceritalah dulu baru kita makan. Lagi pula ini belum waktunya makan siang kan."


"Baiklah jika itu maumu, ayo kita ke ruangan ku."


Aku mengikuti langkah kecil Saka di sampingnya. Berjalan seperti ini saja dia bahkan tak ingin melepasku, lihat saja tangannya yang sudah menggenggam erat jemariku sejak tadi.


Setelah di dalam ruangan, aku pun memilih duduk di sofa yang cukup lebar. Saka kemudian ikut duduk di sampingku, ekspresinya tampak berbeda dari sebelumnya. Aku berharap apa yang akan dikatakannya nanti bukanlah sesuatu yang menyakitkan.


"Riana, karena kamu sudah jujur padaku sebelumnya. Mengisahkan semua masa lalumu dengan pria kemarin yang kuhajar habis-habisan, maka biarkan kali ini giliran aku yang berkata jujur padamu." Saka menatapku lekat-lekat, sementara aku hanya terdiam mendengar dia memulai ceritanya.


"Ceritalah!" Pintaku.


"Masa lalu itu bagai mata pisau, siap menghunus tubuhmu kapan saja. Bahkan bisa menyakitimu hingga menangis pun kamu tidak lagi mampu. Dulu, aku menjalin sebuah hubungan dengan seorang perempuan bernama Sheril. Dia orang yang baik, selama kurun waktu lima tahun aku berhubungan dengannya. Namun sesuatu terjadi diantara kami, dia adalah Peter." Saka berhenti sejenak, menghela napas dan mengumpulkannya kembali.


Terlihat bahwa dia tengah nenanggung beban masa lalu yang cukup berat.


"Peter adalah kerabat jauh keluarga dari ayahku, dia datang dari USA. Dia memang lahir dan tinggal di sana, tapi karena satu dan lain hal, Peter dikirim oleh keluarganya untuk ke Indonesia. Dia pun kami terima dengan baik di rumah kami, bahkan kuanggap seperti saudara sendiri. Singkat cerita, Peter dan Sheril bertemu suatu waktu."

__ADS_1


Saka terdiam kembali.


"Diam-diam Peter ternyata menyukai Sheril dan Sheril pun sepertinya merespon baik perasaan Peter. Tanpa sepengetahuan aku, mereka sering bertemu. Sehingga aku memiliki waktu yang sangat jarang bersama Sheril. Terlebih karena aku sedang awal merintis karirku, aku tidak menaruh curiga sedikit pun. Sheril banyak berbohong padaku, dia selalu memiliki alasan agar aku percaya pada setiap omongannya."


"Puncaknya adalah ketika aku memergoki mereka sedang bercumbu di salah satu ruangan di rumahku. Itu sebabnya aku tidak ingin tinggal di rumah itu. Sebab aroma perselingkuhan itu selalu saja tercium dan aku muak karena itu. Sejak saat itulah, kepercayaanku padanya seketika hilang, bahkan untuk menghajar Peter pun tidak pernah aku lakukan, karena semua itu sia-sia. Mungkin salahku juga karena terlalu sibuk. Sampai suatu ketika, aku dengar Sheril hamil, dia datang menangis ke rumah di depan orang tuaku. Saat itu Peter sudah kembali ke USA. Dia dicampakkan oleh Peter, tapi aku sama sekali tidak iba padanya. Biarlah dia tanggung sendiri akibat dari perbuatannya."


"Jadi bagaimana nasib Sheril?" Tanyaku penasaran.


"Setelah tidak mendapatkan apa yang dia mau, akhirnya aku membuat kesepakatan dengannya. Anak yang dia kandung akan aku biayai sampai kuliah, asal dia tidak membunuhnya dalam kandungan. Aku juga memberikan uang subsidi pada Sheril tiap bulan untuk kehidupannya. Dengan catatan dia tidak pernah muncul lagi di depanku."


"Riana, perasaan cinta itu akan muncul saat kau benar-benar telah merasa siap untuk mencintai dan dicintai. Begitu aku bertemu denganmu, debar itu untuk pertama kalinya aku rasakan kembali sejak perisitiwa berapa tahun silam. Aku tidak berani mendekati perempuan mana pun, itu menjadi alasan yang cukup mengapa aku belum menikah sampai saat ini. Riana maukah kau menerima masa laluku?"


"Kamu jujur padaku saja itu sudah sangat istimewa Saka. Aku punya masa lalu, kamu juga punya, semua orang punya masa lalu. Hanya saja apakah kita bisa menerima itu dengan layak, itu yang terkadang sulit untuk dilakukan. Aku menerima masa lalumu Saka, semua cerita tentangmu itu adalah sesuatu yang membuatku tersadar bahwa setiap orang memiliki ujian cintanya masing-masing. Sekarang marilah kita belajar memaafkan masa lalu itu. " Jawabku menggenggam jemarinya yang besar dan jenjang.


"Trimakasih, sayang." ucapnya lalu mencium keningku.


"Bolehkah aku jujur satu hal lagi, ini berat tapi bagaimana pun aku harus mengatakannya padamu. Setelah kukatakan ini padamu, selanjutnya terserah kamu akan mengambil langkah seperti apa ke depannya."


"Apa itu Riana? Kau membuatku khawatir dan tidak tenang."


"Saka, mungkin sebagian orang ini menganggap ini adalah aib. Ya, kesalahan ini teramat besar, hingga terkadang aku merutuki diriku sendiri. Menangis terisak sendiri di malam hari. Aku sadar betul akan kesalahan ini." Air mataku entah kenapa tiba-tiba saja jatuh menetes.


"Ada apa ini Riana? Bicaralah, kenapa kamu menangis?" Tanya Saka mulai gusar.

__ADS_1


"Aku melakukan kesalahan di masa lalu, aku tidak yakin kamu akan menerim itu."


"Iyah tapi apa?"


"Aku tidak lagi perawan."


Deggg!!!


Akhirnya apa yang telah kusimpan rapat selama ini telah terbongkar juga. Aku tidak mengapa nanti Saka kecewa dsn meninggalkanku. Akan lebih kecewa lagi jika dia tahu saat kami sudah berstatus suami isteri nanti. Biarlah, biarlah, aku telah memikirkan semuanya.


Kulihat mimik wajah Saka tak berubah sedikit pun, masih sama dan tidak menanggapi dengan berlebihan.


Reaksi Saka malah sebaliknya, dia berangsur mendekat dan memelukku begitu saja. Apa maksudnya ini? sebaliknya justru aku yang dihinggapi pertanyaan karena reaksi yang kuharapkan sungguh berbeda.


"Sudah cukup, kamu jangan menangis lagi. Walaupun aku bukan yang pertama untukmu kelak, maka Izinkan aku jadi yang terakhir menghabiskan waktu untuk bersamamu. Dengar Riana, apa kamu perawan apa kamu tidak perawan, biarlah toh itu sudah terjadi. Aku saja bahkan tidak bisa memastikan apakah aku masih perjaka atau tidak?"


Mendengar dia mengucapkan itu, aku yang terisak malah tersenyum. Saka ini memang berbeda. Trimakasih Tuhan. Dia kembali memelukku sangat erat, dia juga berkali-kali mengecup keningku. Mungkin dia sedang berupaya menenangkanku dari perasaan tertekan karena menyimpan masalah ini sendirian.


Setelah puas memelukku, dia beralih ke bibirku. Dengan lembut dia membenamkan bibirnya, melakukan lumatan-lumatan kecil. Darahku berdesir hebat, dengan pelan aku membalas ciumannya dan tercipta semacam decapan dan lenguhan yang sesekali keluar di bibirku di sela lumatan itu.


.


.

__ADS_1


.


Bukankah setiap orang punya masa lalu, tapi memang hanya sedikit yang bersedia memaafkan masa lalu itu lalu belajar bahwasanya hidup terus berjalan. Suka atau tidak suka, masa lalu tetaplah bagian dari perjalanan yang mewarnai hidup kita.


__ADS_2