Complicated Love #2

Complicated Love #2
Pindah Rumah


__ADS_3

"Ibu ...!" pekik Nadia begitu melihat Riana muncul dari balik pintu toko.


Dia berlari dan lepas kontrol langsung memeluk Riana di depan Tefan yang sedang menggendong Kiano.


"Kangen, Bu." Dia nyengir setelah melepas pelukannya di tubuh Riana.


"Baru juga 2 hari nggak ketemu sudah kangen lagi, Nad."


"Hehe, bener loh Bu. Soalnya toko sepi nggak ada Ibu sama dedek Kiano yang ganteng ini." Nadia menjawil pipi Kiano yang seketika diberi tatapan tajam oleh anak itu.


"Ihh, jangan! Kiano udah gede, nggak boleh cubit-cubit pipi Kiano lagi." Seketika ucapannya itu mengundang tawa semua orang yang mendengarnya. Tak terkecuali Tefan, dia terkekeh mendengar Kiano bicara seperti orang besar.


"Dia emang gitu sekarang, Nad. Udah nggak mau dicium lagi, dipeluk dan dicubit pipinya. Udah gede katanya, Nad."


"Bukan gitu, Bunda. Tapi kan Kiano malu."


Semuanya kembali tertawa melihat wajah cemberut Kiano. Dia turun dari gendongan Tefan dan melihat mainannya masih ada di sudut toko. Tak seberapa lama dia sudah sibuk dengan mainannya.

__ADS_1


"Gimana Nad, sudah siap pindah ke ruko?"


"Sudah, Bu. Ibu kapan pindah?"


"Hari ini, sekarang mau beres-beres dulu di atas. Kamu layani aja pembeli di toko, aku naik dulu ya?"


"Baik, Bu. Pak Tefan ..." sapa Nadia pada Tefan dengan perasaan sungkan. Dia masih malu-malu kalau bicara dengan Tefan. Suami dari bosnya itu.


***


"Barang kamu dikit amat sayang? Apa Sebelumnya kamu nggak pernah beli apa-apa?" tanya Tefan seraya membantu Riana memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.


"Terus uang kamu diapain?"


"Uangnya aku tabung buat sekolah dan masa depan Kiano."


"Mulai sekarang, kamu tidak perlu repot-repot mikirin itu. Untuk urusan jangka panjang biar menjadi tanggungjawab aku. Jangka pendek pun biar aku yang penuhi. Uang dari hasil toko kamu, disimpan saja dan jadikan tokomu lebih besar lagi jika memungkinkan."

__ADS_1


Riana berhenti melipat bajunya dan menatap Tefan kilas. Tatapannya hangat dan menenangkan.


"Terimakasih, sayang."


Setelah keduanya selesai beres-beres, koper pun di pinggirkan. Riana duduk di tepi tempat tidurnya dan mengingat lagi awal-awal perjuangannya sampai di Bali dan akhirnya membeli ruko ini. Setelah terkatung-katung beberapa tahun dari kontrakan satu ke kontrakan lainnya.


Dapat dilihat dengan jelas oleh Tefan, kalau Riana sedang menghapus air mata yang menggantung di kelopak matanya. Dia pun beranjak duduk di samping Riana dan memegang bahu isterinya.


"Kau sudah melewati banyak hal, aku tahu itu Riana. Namun, aku bangga padamu yang bisa survive hingga saat ini. Kamu perempuan yang luar biasa. Tentu saja akulah orang yang paling beruntung karena bisa mendapatkanmu pada akhirnya."


Riana malu karena kedapatan sedang menangis. Sebenarnya dia hanya mengenang perjuangannya bersama anak semata wayangnya, Kiano. Anak itu begitu sabar menemani bundanya berpindah dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya.


Belum lagi, Kiano yang tak pernah rewel, seolah dia itu diciptakan untuk menemani Riana dalam kondisi apapun. Membantunya untuk kuat menghadapi segala cobaan yang ada dalam hidupnya.


"Aku senang, akhirnya kita bertemu lagi Fan. Aku merasa tidak sendirian lagi di belahan bumi Bali ini."


"Tentu saja, jika jodoh Tuhan pasti pertemukan kembali meski telah dipisah lautan, gunung, atau daratan luas. Sekarang apa kau percaya keajaiban Riana?"

__ADS_1


Riana mengangguk pelan dan meraih pinggang Tefan dan membenamkan kepala di dada bidang suaminya itu.


^^^Tuhan tahu kapan mempertemukan hamba-Nya. Bisa jadi dipisahkan untuk dapat saling mengerti bahwa setiap kondisi tak bisa dipaksakan, melainkan menunggu waktu yang tepat. ^^^


__ADS_2