
“Laki-laki yang sedang jatuh cinta padamu, akan melakukan apapun agar kalian bisa bersama. Bukannya pergi....”
Pernikahan Tefan dan Nina semakin dekat, tinggal hitungan minggu terhitung sejak sekarang. Aku masih ada di rumah Mama, pada awalnya aku memang melarikan diri, lari dari mereka dan lari dari kenyataan. Namun aku tidak akan lari lagi, dari mereka, dari orang tua Tefan dari hubungan aku dan Tefan. Mama dan Papa telah mengajarkan banyak hal selama aku tinggal di rumah ini. Setidaknya hati dan kepalaku sudah mulai terbuka, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan sekarang kecuali merelakan.
Papa benar, jika Tefan benar-benar jatuh cinta padaku dan bukan Nina, maka dia akan datang mencariku. Paling tidak tahu aku baik-baik saja atau tidak, menanyakan perasaanku dan apa saja yang bisa membuktikan bahwa dia jatuh cinta padaku. Nyatanya Tefan tak pernah datang, Tefan tak pernah mencariku. Akhirnya aku telah sampai pada kesimpulan, aku tak mau lari lagi. Aku akan datang ke acara pernikahan mereka sebagai sahabat bagi keduanya. Bohong kalau tidak ada perasaan terluka melihat mereka bersanding, bohong jika aku tak ingin menghambur ke arah Tefan dan menariknya menjauh dari Nina. Aku sudah memiliki pengendalian diri, setidaknya tidak lagi merusak apapun.
Rabu pagi aku berangkat dari rumah Mama dan menuju apartemen yang ada di pusat kota Bandung. Aku tidak langsung ke rumah kontrakan, aku memilih untuk menempati apartemen yang sudah dibelikan Papa waktu itu. Mama dan Papa telah setuju dengan tindakanku yang akan hadir di acara pernikahan mereka. Bukan apa-apa yang ingin kutunjukkan, semata-mata karena aku ingin membuktikan bahwa aku tidak semudah itu goyah. Sedari dulu aku sudah tahu hubungan dengan Tefan tidak akan ke mana-mana. Jadi semestinya aku tidak lagi terluka.
Sesampai di apartemen aku mengaktifkan kembali HP yang sudah lama mati suri. Ada banyak email masuk jugan pesan singkat. Kebanyakan pesan yang masuk adalah dari Tefan dan Nina yang menanyakan aku di mana. Lalu aku membalas satu pesan yang dikirim Nina.
I’m back...
Pesan terkirim. Melihat status pesan tersebut baru saja sampai tapi belum dibaca oleh Nina. Tak lama berselang HP –ku bergetar, Nina menelpon.
“Hai dear....” Sapaku.
“Rian... kamu dari mana aja? Dihubungi susah banget ih. Aku butuh kamu banget, pernikahan aku sebentar lagi berlangsung dan aku hampir saja gila karena harus mengurus segala sesuatunya sendirian. Tefan sibuk di kantornya dan kebanyakan aku yang diminta mengurus semuanya. Padahal aku juga lagi banyak kerjaan di butik, terpaksa butik aku serahin ke asisten dan konsen ke pernikahan aku. Kamu di mana sekarang? Bilang, aku mau ke tempat kamu dan menculik kamu saat itu juga.”
Baru saja menjawab, Nina sudah menodong dengan segudang cerita tentang pernikahannya. Kalau dia mengurus semuanya sendiri, lantas Tefan ngapain saja?
“Rian... kok diam sih?”
“Iyah Nin, aku dengar kok. Aku ada di apartemen. Bilang saja kamu di mana nanti aku yang samperin kamu.”
“Aku lagi di kantor Dewa, dia yang ngurus EO-nya. Tahu kan tempatnya?”
“Iyah. Kalau gitu aku siap-siap dulu yah, nanti kita lanjut ngobrolnya di sana.”
“Oke dahling. Bybye...!”
“Bye...”
30 Menit kemudian aku dan Nina bertemu di kantor Dewa. Dia kelihatan sedang serius membahas konsep pernikahannya.
“Hai...” Sapaku.
Nina bukannya balas menyapa dia malah berangsur memeluk, membuat aku nyaris tak bisa bernafas. Dia memang selalu seperti ini, begitu polos untuk terluka.
“Nin... Nina... jangan kencang-kencang, aku tidak bisa bernafas.”
“Ehh... iyah hihi. Habisnya aku sudah lama nunggu kamu datang. Kangen tahu, aku pikir kamu akan menghilang selamanya dan tak akan pernah datang ke pernikahanku.” Wajahnya dikerut sedemikian rupa melihatkan gurat kesedihan karena aku sempat pergi dan tak pernah mengabarinya.
“Hai Wa...” Sapaku pada Dewa yang tengah tersenyum sumringah melihat aku dan Nina melepas rindu.
“Hai Ri. Gimana kabar kamu? Sehat?” Pertanyaan Dewa seperti menyiratkan sesuatu, aku belum tahu apa tapi dia seolah tahu tentang aku yang tak banyak orang tahu.
“Sehat. Kamu sendiri?”
__ADS_1
“Seperti yang terlihat, segar bugar hasil fitnes rutin. Hahaha...”
“Haha. Jadi itu karena fitnes? Kirain udah bawaan orok. Eh persiapan pernikahan Nina sudah berapa persen?”
“Kurang lebih delapan puluh lima persen. Crew aku sedang mengurus segala yang masih kurang.”
“Hayoo pada ngobrolin aku ya?” Nina baru saja bergabung setelah tadi pamit ke kamar kecil.
“Iyah lagi ngobrolin kamu dan persiapan pernikahan kamu Kare...” Jawabku menggoda dia seperti yang sering kita lakukan di rumah.
“Ish... Pelecehan deh manggil nama orang di singkat begitu. Memangnya aku mie rasa kare apa.”
“Yee... itu sih kamu saja yang merasa kayak mie. Padahal gak ada mie rasa kare, yang ada “Kari” hahaha...”
“Puas yah setelah lama menghilang akhirnya muncul di permukaan bumi ini hanya untuk nge-bully.”
“Hahaha....”
“Hahaha....”
Aku dan Dewa tertawa bersama demi melihat ekspresi Nina yang kekanak-kanakan.
“Oh ya kamu sudah ketemu Tefan belum? Belakangan dia jadi sensitif banget kalau aku nyebut nama kamu di depan dia. Heran. Kalian gak berantem kan?” Tanya Nina penasaran.
“Nggak. Aku sama dia baik-baik saja. Kena syindrom mau nikah kali makanya gitu.” Jawabku asal.
“Ihh serius Rian...”
“Udah-udah kok kalian jadi pada ngomongin hal yang tidak penting sih. Mendingan sini duduk di depan meja aku dan kita ngonmongin masalah persiapan pernikahannya. Okay!” Dewa memotong begitu saja.
“Nah benar tuh ucapan Dewa.” Aku menimpali.
Akhirnya Nina mengalah dan ikut duduk pula di depan Dewa. Selama mereka berdua ngobrol aku memperhatikan Dewa, ada sesuatu dari tatapannya tadi. Aku harus cari tahu, tapi bagaimana caranya kalau Nina selesai urusannya dengan Dewa dia pasti akan langsung mengajakku pulang bersamanya. Hufth...
Beberapa puluh menit ngobrol banyak hal Nina setuju dengan sentuhan terakhir yang akan diberikan oleh Dewa di gedung pernikahannya nanti. Semua akan di desain dengan mewah tapi terkesan lembut. Sesuai permintaan Nina yang lebih ingin nuansa putih dan biru langit seperti warna kesukaan dia dan Tefan.
Saat hendak beranjak meninggalkan kantor Dewa, dia tiba-tiba memanggilku dan meminta waktu sebentar pada Nina agar mau menungguku selesai bicara dengan Dewa. Nina terlihat menaruh tanda tanya dengan ekspresi menyelidiknya itu tapi aku bilang ke dia untuk menunggu saja sebentar. Tidak akan lama, paling hanya lima menit dan setelah itu kita bisa pulang bersama.
“Ada apa Wa?” Tanyaku pada Dewa yang penasaran.
“Aku tahu hubungan kamu dan Tefan.” Jawabnya singkat dan jantungku bergetar begitu mendengarnya.
“Apa maksud kamu?” tanyaku lagi ingin memastikan pernyataannya barusan.
“Aku tahu semuanya Ri. Aku sering melihat beberapa kali kalian jalan bareng dan kelihatan mesra. Tadinya aku juga tidak ingin percaya tapi aku melihatnya beberapa kali di depan mataku sendiri. Kenapa kamu mau melepas Tefan?”
“Bukan urusan kamu.” Jawabku dengan penekanan.
__ADS_1
“Ri, tidakkah kamu terluka karena kamu sudah memaksakan kehendak?”
“Kehendak mana yang aku paksakan? Jangan merasa kamu tahu banyak hal sementara kamu sesungguhnya tak tahu apa-apa.”
“Karena Tefan adalah sahabatku, dia juga terluka menghadapi pernikahannya dengan Nina. Papanya menjadikannya alat untuk memperbesar nama dan perusahaannya. Tidakkah kamu mau mengerti sedikit perasaannya?”
“Aku sudah mengerti. Tefan bukanlah laki-laki yang sedang jatuh cinta padaku. Jika dia jatuh cinta padaku, ketika aku menghilang dan terluka karena pernikahan dia dan Nina maka dia akan mencariku. Tapi Tefan tidak pernah melakukan itu. Tefan lebih memilih egois dan keras kepalanya beserta keluarganya. Sudah cukup Wa, aku tidak mau membicarakan ini lagi, aku dan Tefan sudah selesai. Lagi pula pernikahan mereka sebentar lagi, aku tidak mau merusak kebahagiaan Nina.”
“Meski itu dilakukan Tefan karena kamu?”
“Maksud kamu? Kamu sudah terlalu jauh Wa.”
“Tefan tidak mencarimu, Tefan tidak datang padamu, Tefan diam saja saat kamu pergi, karena dia berusaha melindungi kamu. Papanya mengancam akan membahayakan kamu jika dia tidak mau menurut saja pada kehendak Papanya. Dia melakukannya demi kamu Ri. Tefan menceritakan semuanya padaku, itu sebabnya juga semua urusan pernikahannya diserahkan ke aku dan Nina. Karena dia tidak sanggup melewati prosesnya Ri. Dia juga terluka sama seperti kamu.”
“Kamu sudah bicara terlalu banyak Wa. Nina sudah lama menunggu di luar, aku sebaiknya pergi sekarang.”
“Temui Tefan sekali lagi, dia sudah menunggumu cukup lama di Villa yang sering kalian sewa di Kawah Putih. Ini permintaan terakhirnya yang dia minta disampaikan padamu melalui aku.”
Aku tak menghiraukan kalimat Dewa yang terakhir dan bergegas menemui Nina. Dia sudah lebih dari sepuluh menit menunggu dan aku yakin dia pasti akan penasaran setengah mati bila tidak diberi tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Dewa di dalam sana.
“Lama amat sih? Ngapain aja kalian?” Tanya Nina setelah aku berhasil mendudukkan bokong di dalam mobil.
Tahu tuh Dewa, naksir kali sama aku sampai dia memohon-mohon di dalam sana.”
“Memohon untuk apa?”
“Memohon agar aku mau jadi pasangannya nanti saat datang ke acara pernikahan kamu.”
“Hahaha... yang benar saja? Dewa? Ya Tuhan... ternyata diam-diam dia punya perasaan sama kamu. Ini pasti jadi berita yang bagus buat Tefan, mereka kan sudah lama sekali bersahabat. Tefan pasti akan senang mendengar kalau Dewa ternyata menyukai kamu.”
Aku tak menanggapi seruan Nina, pikiranku justru melayang ke ucapan-ucapan Dewa barusan. Benarkah Tefan sudah menceritakan semuanya? Benarkah Tefan jauh lebih terluka atas pernikahannya dengan Nina? Bukannya dia juga memiliki perasaan pada Nina? Lantas kenapa harus terluka? Sejak awal kita berdua sudah tahu tidak ada yang bisa diharapkan dari hubungan ini, tapi kenapa sekarang dia mulai goyah?
Benarkah dia tidak mencariku karena dia berusaha melindungiku dari orangtuanya? Jika iya, apa tujuannya Papa Tefan membahayakan hidup aku? Sebegitu bencinyakah dia terhadapku dan keluargaku? Mengapa manusia begitu angkuh dengan yang dimilikinya? Hhh.... pertanyaan demi pertanyaan menyerang kepalaku tanpa ampun, membuat pusing tapi aku memilih untuk diam. Nina sadar dengan apa yang terjadi, diapun melambatkan laju mobilnya dan bertanya.
“Kamu tidak apa-apa? Wajah kamu pucat banget Yan.”
“Nggak tahu nih kayaknya aku perlu istirahat.”
“Aku langsung antar ke apartemen kamu yah.”
“Iyah.”
Terkadang cara menunjukkan rasa cinta, sayang dan peduli itu memiliki cara dan proses yang berbeda. Barangkali kita menganggap orang tersebut tidak peduli, padahal dia adalah orang yang paling peduli akan kita. Seringkali karena kita menganggap bahwa kita yang paling terluka, padahal asa seseorang di luar sana yang jauh lebih terluka. Jadi, tentang rasa biarlah ia mengalir apa adanya, hidup memang harus terus dijalani, bagaiamanapun warnanya, bagaimanapun inginnya, kita hanya perlu menjadi pemeran terbaik atas semua yang terjadi.
*
*
__ADS_1
*
Note: selamat membaca semoga terhibur, nantikan kisah berikutnya.