Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Ketahuan Femi


__ADS_3

Femi rupanya mengutus seseorang untuk mengikuti kemana Tefan pergi di jam-jam makan siang. Benarkah untuk meeting atau untuk hal lain yang semakin membuat Femi penasaran. Kali ini Pak Bono kecolongan. Belum tahu kalau Femi memiliki seribu satu cara untuk tahu apa yang dilakukan Tefan di luar sana tanpanya.


Seorang laki-laki yang merupakan suruhan Femi, meletakkan amplop cokelat di depan Femi. Mereka bertemu saat makan siang di sebuah restoran di Bali.


"Cepat juga. Kerja yang bagus." Femi membuka amplop itu dan menemukan foto Tefan bersama seorang wanita dan satu orang anak.


Siapa perempuan ini? Setahu aku, Tefan belum berkeluarga. Jika pun sudah, maka statusnya sekarang adalah duda. Tidak mungkin Tefan menyembunyikan seorang perempuan dan menikahinya diam-diam. Jadi ini rupanya perempuan yang kamu temui saban hari tiap makan siang dan bahkan saat libur kerja. Benar-benar keterlaluan kamu, Tefan.


Femi meremas foto-foto itu kesal dan melemparkannya di atas meja.


"Sialan, jadi selama ini mereka bersekongkol untuk membohongiku. Awas kau Pak Bono." Umpatnya kesal.


Femi menyodorkan amplop berisikan uang pada pria di depannya. Sebagai imbalan atas hasil kerjanya.


"Jika kamu bisa mencari tahu siapa perempuan ini, maka imbalannya akan aku naikkan dua kali lipat."


Pria yang bersamanya itu menatap dengan mata yang berbinar. Baginya bekerja dengan Femi ini adalah ladang uang segar. Tentu saja dia tak akan melewatkan kesempatan itu.


"Baik, Bos. Segera akan kulaporkan hasilnya."


"Pergilah! Aku tidak mau kau dilihat oleh siapapun. Ingat, rahasia ini tidak boleh bocor, atau kamu harus membayar harga dengan nyawamu."


Pria itu menunduk di depan Femi lalu pergi dengan senyum sumringah. Femi menatap makanan di depannya tanpa berselera lagi. Dia kembali ke kantor untuk mencari keberadaan Tefan.


Setibanya di kantor, dia melihat Pak Bono sedang berjaga di luar ruangan.


"Mana Tefan?" Tanya Femi tak sabar.


"Tuan ada di dalam, sedang ada tamu dari luar negeri."


"Aku tidak percaya, Pak Bono." Ucapnya memaksa untuk masuk.


"Maaf Nona, Nona tidak bisa berbuat seenaknya seperti itu. Jika Nona masuk itu akan mengganggu pembicaraan mereka."


"Apa? Mengganggu. Serius? Ini cuma akal-akalan Pak Bono saja kan? Pak Bono sengaja melarang aku untuk ini itu, karena Tefan sedang dekat dengan seorang perempuan. Jangan-jangan di dalam sana, tamu Tefan adalah perempuan itu. Biarkan aku masuk!" Paksa Femi


Pak Bono segera mencegah namun Femi berhasil mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.


Tefan terkejut, begitu juga dengan tamu yang sedang bersamanya. Heran mengapa ada perempuan yang mendorong pintu begitu keras.


"Any problems?" Tanya orang itu.


Femi tercengang. Dia tak menyangka Tefan benar-benar sedang bersama tamu dari luar negeri. Emosi sudah membuatnya kehilangan akal. Dia membuat malu dirinya sendiri sekaligus Tefan.


"Ma..., Maaf...!"


Tefan langsung berdiri dari duduknya dan menarik Femi keluar.


"Apa-apaan kamu, Femi? Tidak sepantasnya kamu melakukan hal seperti tadi. Kamu membuatku malu di hadapan tamuku sendiri."


"Tefan, maaf. Aku bisa jelasin."


"Pak Bono, bawa Femi keluar dari kantor ini dan jangan pernah biarkan dia menemuiku lagi. Selama ini aku sangat memberi kelonggaran padamu, tapi kali ini kamu sangat-sangat keterlaluan." Tefan marah besar pada Femi.


"Fan, Tefan..., please! Aku bisa jelasin semuanya. Tolong jangan seperti ini."

__ADS_1


"Pak Bono, bawa dia!" Perintah Tefan yang kemudian kembali lagi ke ruangannya.


Pak Bono mengurus Femi dan berhasil membawanya keluar dari kantor Tefan. Sekaligus memberikan surat pemecatan padanya karena tidak disiplin dan mengganggu kenyamanan Bos.


"Nona Femi, kejadian hari ini kuharap tidak terulang lagi." Pungkasnya tegas.


Femi pergi dengan kekesalannya yang semakin memuncak.


Semua ini gara-gara perempuan itu. Awas kau!


***


Riana sedang kedatangan banyak pembeli, dia sampai sibuk melayani semuanya. Juga harus bolak balik menemani pembeli dan kasir. Namun dia sangat senang karena belakangan ini tokonya mulai ramai dikunjungi.


Dia pun segera kepikiran untuk mencari seorang asisten yang bisa membantunya di toko. Riana menulis sebuah papan pengumuman di depan tokonya.


MENERIMA KARYAWAN BARU. HUBUNGI NOMOR INI +62811XXXXXXX ATAU DATANG LANGSUNG KE TOKO.


Kiano sudah mulai sekolah dan dia sendiri di tokonya. Mungkin memang sudah waktunya perlu karyawan baru.


Di tengah-tengah dia melayani pelanggan, Jeni muncul membawa sekotak donat.


"Jeni...!" Pekik Riana.


Jeni tersenyum seraya meletakkan kotak donat itu dan berpelukan dengan Riana.


"Wahh, rame ya?"


"Iyah, belakangan ini ramai."


"Sekolah dia."


"Oh, jadi sudah sekolah? Dia pasti senang sekali."


"Bukan senang lagi, tiap dia pulang sekolah dia menceritakan semua yang terjadi di sekolahnya dengan semangat."


"Eh itu ada pembeli lagi, aku bantu melayani mereka ya."


"Kamu emang tidak sibuk?"


"Tenang, aku ada karyawan kok. Kamu juga lagi nyari karyawan ya? Aku lihat pengumumannya di depan. Mau aku cariin?"


"Boleh deh. Tolong ya, aku butuh cepat soalnya."


"Sip!"


Mereka pun akhirnya larut dalam kegiatan masing-masing. Suatu kebanggaan buat Riana karena berhasil membuat tokonya kini didatangi orang-orang. Jika diingat lagi dulu tak pernah seramai itu. Lagipula siapa yang mau mendatangi toko kecil pinggiran jalan yang berdebu seperti itu.


Itulah sebabnya dia sangat bersyukur dengan pengusaha yang datang padanya dan menawarkan kerjasama yang menggiurkan. Di sanalah titik balik bangkitnya Riana dalam hidupnya saat ini.


Semangatnya semakin bertambah, terlebih Kiano yang sudah sekolah dan tentu saja butuh biaya besar.


Sekitar setengah jam mereka melayani pelanggan, dimana membuat senyum Riana tak hentinya mengembang. Siapa yang tidak senang mendapatkan omzet dari hasil kerja keras sendiri.


Saat mereka duduk menikmati donat yang dibawa Jeni barusan, Tefan datang ke toko itu.

__ADS_1


"Selamat siang!" Ucapnya.


Jeni yang sedang memasukkan donat ke dalam mulutnya tak bisa menahan keterkejutannya.


"Tefan..."


Jeni menoleh ke arah Riana dan Tefan bergantian. Mereka saling tukar senyum yang hanya orang jatuh cinta saja yang bisa merasakan malu-malu seperti itu.


"Kalian..., kalian saling kenal?" Tanya Jeni penasaran.


Riana hanya tersenyum dan mengangguk.


Jeni menepuk lengan Riana.


"Dih, kenapa tidak bilang dari awal si?" Wajahnya terlihat kesal.


"Hehe, ceritanya panjang. Kapan-kapan aku ceritakan padamu, Jen. Fan, mau donat? Aku bikinin kopi buat kamu."


"Boleh."


Tefan pun duduk di kursi kosong dan mengulur lengan bajunya hingga ke lengan. Melonggarkan kancing baju bagian atas dengan membuka beberapa kancing. Memperlihatkan bulu-bulu halus di dadanya. Jeni yang melihatnya saja langsung menelan ludah.


Pak Tefan ini kenapa terlihat begitu menggoda iman si.


Tak lama kemudian, Riana datang dengan secangkir kopi.


"Sorry agak lama."


"Sepertinya kalian mau ngobrol berdua. Kalau begitu aku pamit pulang ke butik dulu ya." Ujar Jeni tahu diri kalau saat itu, mungkin saja dia sedang mengganggu mereka berdua.


"Buru-buru amat Jen, katanya ada karyawan yang jaga."


"Aku tidak mau mengganggu kalian. Hihi." Bisik Jeni di telinga Riana.


Sekarang tinggal mereka berdua. Menyisakan keheningan untuk beberapa saat lamanya.


"Kopi buatan kamu masih yang terbaik, Riana." Ucapnya usai menyesap kopi buatan Riana.


"Kamu datang ke sini hanya untuk menggodaku atau ada hal lain?"


"Haha..., tidak ada si. Aku ke sini mau jemput Kiano. Belakangan aku sibuk, jadi jarang bertemu anak itu. Biar aku kasih kejutan buat dia dengan datang menjemputnya di sekolah. Kamu tidak keberatan kan?"


"Tidak. Lagi pula belakangan toko ramai, jadi aku tidak bisa meninggalkan toko terlalu ramai. Ya sudah, makasih ya karena sudah mau jemput Kiano."


"Baiklah. Aku berangkat dulu."


Cup!


Riana bergeming di tempatnya. Terkejut dengan kecupan tiba-tiba di pipinya dari Tefan.


Untung tidak ada orang. Berani sekali kamu, Tefan...!


***


Jangan lupa like dan komennya ya Kaka...

__ADS_1


__ADS_2