Complicated Love #2

Complicated Love #2
Makan Malam Tak Terduga


__ADS_3

Riana terkejut begitu melihat Tefan jalan ke arahnya bersama seorang lelaki yang tak lain adalah Saka, mantan suaminya. Sendok dan garpu yang semula dipegangnya telah terlepas dari pegangannya.


Tefan tersenyum pada Riana begitu sampai di meja tempat mereka makan. Saka ikut tersenyum walau agak sungkan.


"Selamat malam ..." Saka menyapa dengan kaku.


Riana menengok ke arah Tefan, namun suaminya itu hanya memberi kode berupa anggukan.


"Silakan duduk, Saka." Tefan menggeser kursi untuk Saka yang disambut dengan anggukan yang masih sangat sungkan dari Saka. Dia merasa tidak enak bergabung.


"Duduklah, Mas." Akhirnya Riana bicara juga.


"Silakan duduk, Om." Kiano tiba-tiba ikut berceloteh karena melihat Saka yang masih saja berdiri.


"Te ... terimakasih."


"Tidak perlu sungkan-sungkan, anggap kita ini adalah keluarga." Tefan berusaha agar suasana menjadi tidak kaku dan dingin. Riana terlihat salah tingkah dan tidak tahu harus mengatakan apa.


Dari sorot mata Riana, seolah meminta penjelasan pada Tefan. Itu sebabnya dia hanya memberikan tatapan untuk meyakinkan Riana bahwa sekaranglah saatnya. Untuk jujur pada Kiano.


Riana sempat menggeleng namun Tefan terus meyakinkan Riana. Di bawah meja makan itu, ada dua tangan yang saling menggenggam. Tefan berusaha menguatkan Riana, bagaimana pun Kiano harus tahu bahwa ayahnya masih hidup.


Sementara Kiano terus tersenyum pada Saka, tentu saja hal itu tak lepas dari didikan Riana. Bahwa bertemu orang baru harus ramah dan murah senyum. Apalagi jika orang itu adalah orang yang dikenal bundanya.


"Om sama siapa di sini?" suara kecil nan menggemaskan Kiano menyapa Saka. Membuat ketiga orang dewasa yang ada di situ dibuat untuk menyimak kata apalagi yang selanjutnya akan diucapkan oleh Kiano.


"Sendiri."


"Anak dan isteri Om ke mana?"


Saka terdiam. Dia pasti sedang mencari kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan dari Kiano.


Saka tersenyum, "Anak Om sebesar Kiano sekarang. Dia juga pintar kayak Kiano."


"Oyah? Siapa namanya, Om?"


Saka mau menjawab namun Riana dengan cepat menyela obrolan ayah anak yang belum saling kenal itu.


"Sayang, biarkan Om pesan makanan dulu ya. Mungkin saja Om-nya belum makan, biar bisa makan bareng kita semua."


"Iyah, Om. Silakan pesan makanan dulu. Makan bersama kami saja di sini, ya."

__ADS_1


Saka mengangguk, dia menyembunyikan haru yang menyeruak dari dalam dadanya.


"Ya Tuhan, anakku sudah sebesar ini dan dia tumbuh dengan sangat baik. Aku ingin sekali memeluknya. Kiano ... ini Papa sayang."


Seorang pelayan datang ke meja mereka setelah diberi kode oleh Tefan.


"Mau pesan apa, Pak?"


"Sama aja dengan yang dimakan oleh keluarga di sini."


Saka berusaha menghormati Riana dan Tefan yang sudah mengajaknya bergabung bersama mereka.


"Baik, silakan ditunggu pesanannya ya."


Suasana sempat hening seketika. Namun, Tefan menyadari jika mereka terus berdiam seperti itu, maka tak akan menyelesaikan masalah antara Saka dan Riana. Dia sangat paham betul, bahwa Saka masih mencintai Riana. Untuk Riana, meski dia tak tahu isi hati isterinya itu namun dia yakin Riana tak akan meninggalkan dirinya.


"Jika ada yang ingin kalian bicarakan, silakan bicarakan baik-baik. Aku tidak apa-apa, bagaimanapun kalian pernah bersama."


Di sini, Tefan mungkin terlalu baik. Dia tak ada pilihan lain, kecuali membuat Riana senyaman mungkin bersamanya.


"Fan ...." Riana mencoba mengingatkan Tefan agar tidak membahas hal seperti ini jika ada Kiano.


Lalu pesanan Saka pun datang dan mereka melanjutkan makan malam bersama. Semuanya sibuk dengan piring dan sendok serta pikiran masing-masing. Bibir Riana terlalu keluh untuk mengatakan pada Kiano. Tapi Tefan benar, cepat atau lambat Kiano pasti akan tahu juga. Alangkah lebih baik jika dia mengetahuinya sendiri dari mulut bundanya. Bukan dari orang lain yang tentu saja akan berbeda rasanya.


Usai makan siang, Riana mencoba berkomunikasi dengan Kiano.


"Sayang, dengerin bunda ya. Bunda mau membicarakan hal penting pada Kiano." Riana berucap pelan kepada Kiano. Tatapan matanya seperti menembus ke dalam mata Kiano.


"Iyah, bunda. Kiano akan dengerin apapun yang bunda bicarakan."


"Bagus, anak pintar."


"Kiano, lihat papa Tefan sebentar. Kiano sayang nggak sama Papa?"


"Sayang ... sayang banget. Papa Ganteng kan juga sayang sama Kiano."


"Kalau ke Papa kandung Kiano gimana?"


"..."


Kiano terdiam. Mungkin dia bingung mengartikan ucapan Tefan. Itu sebabnya, Riana mengambil alih obrolan tersebut.

__ADS_1


"Kiano, jika Papa Kiano masih hidup, Kiano senang nggak sayang?"


"Papa Kiano? Memangnya Papa Kiano masih hidup? Bunda kan bilang Papa pergi ke surga, kembalinya lama."


Semua terdiam. Terlebih Saka yang sejak tadi hanya diam menyimak setiap obrolan mereka.


"Kiano, boleh Om gendong sebentar?"


Saka akhirnya berani berbicara pada Kiano, sebelumnya dia sedikit sungkan.


"Kiano berat Om, hehe ..." Gigi-gigi kecil Kiano nampak menyembul dari balik senyumnya.


"Om bisa gendong Kiano, seberat apapun itu."


Lalu tanpa tunggu waktu lama, Kiano sudah mengalungkan tangannya pada leher Saka. Air mata Saka mengalir begitu saja, tentu saja itu terjadi saat Kiano sedang dalam pelukannya.


Terlihat Riana juga ikut meneteskan mata. Tefan juga tahu bagaimana perasaan Saka, dia saja yang bukan papa kandung Kiano merasa sangat beruntung dicintai dengan besar oleh Kiano.


"Om, kenapa nangis?" pertanyaan Kiano mengentak pikiran Saka, dia tak tahu kalau dirinya telah tertangkap basah.


"Iyah, Om ingat anak Om. Dia sangat lucu dan menggemaskan, sama kayak Kiano."


"Oya? Di mana dia sekarang, Om?"


Air mata Saka sudah tak kuasa dibendungnya, dia menangis sejadinya seraya memeluk Kiano. Kiano pun kebingungan menyaksikan kejadian tersebut. Lalu Riana berdiri dari duduknya dan mengajak Kiano untuk berpindah ke pelukannya.


"Sayang ... Bunda mau jujur tentang sesuatu pada Kiano. Namun sebelumnya, Kiano mau kan maafin bunda? Kiano harus janji, tidak akan marah sama bunda ya nak ya?"


"Kok bunda juga ikutan nangis? Papa Ganteng juga nangis? Kenapa semua orang menangis?"


"Dengerin bunda baik-baik, lihat ke Om di depan kamu sebentar. Di sini, (tunjuk Riana pada dada Kiano) selalu ada Ayah kan? Bunda tahu, sejak dulu Kiano sayang dan sering merindukan Ayah. Sekarang, ayah Kiano ada di depan Kiano." Riana berucap pelan dan agak terbata karena perasaan sesak mendadak menghimpit dadanya.


"Maksud bunda? Ayah Kiano masih hidup? Terus ... Om di depan Kiano ini ... Ayah Kiano?"


Wajah kebingungan Kiano terlihat lucu melihat Saka dan Riana secara bergantian. Tefan berdiri dan ikut memeluk Kiano.


"Iyah, sayang. Om di depan Kiano ini adalah Ayah Kiano. Papa kandung Kiano. Lihat betapa miripnya kalian ..."


Saka sudah tak bisa menyembunyikan tangisnya lagi. Menyeruak begitu saja tanpa bisa dicegahnya.


"TIDAK ...!" teriak Kiano tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2