
Seorang wanita bernama Sheril, menggandeng tangan seorang lelaki. Menyusuri pasir pantai Kuta Bali, sesekali ombak berkejaran menggapai kaki mereka yang tanpa alas kaki.
Keduanya terlihat seperti sepasang kekasih atau mungkin suami isteri yang saling menyayangi. Terlihat dari cara mereka saling menatap, tersenyum dan dari cara lelaki itu memperlakukan wanita itu dengan sangat baik.
"Aku tidak menyangka, hari ini kita bisa berjalan seperti ini. Menikmati deburan ombak, hamparan pasir putih dan juga mentari senja. Sejak pertemuan kita yang pertama waktu itu di rumah sakit. Meski wajahmu penuh luka tapi aku masih dapat mengenalimu dengan baik."
"Sheril, aku beruntung bisa memilikimu. Menjadi suamimu saat ini." ucap pria yang tengah memegang bahu wanita itu dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
Ternyata aku pernah melakukan kesalahan, meninggalkanmu saat itu demi pria brengsek yang bahkan tak bisa bertanggung jawab atas perbuatannya. Aku ingin menebus semua kesalahan itu, Tuhan Maha baik, telah mempertemukan kita kembali dan aku bersyukur mendampingi dirimu saat ini.
Sheril, wanita itu seperti mendapatkan berkat yang tak terhingga dari Tuhan. Setelah kegagalannya menikah dengan pria yang bersamanya saat itu, merasa putus asa. Depresi dan berkali-kali bolak-balik rumah sakit untuk menjalani terapi dan konsultasi.
Sebuah kebetulan atau takdir entah bagaimana dia harus menyebutnya. Dia melewati pintu masuk Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit tempatnya menjalani terapi. Matanya tertumbuk pada sosok yang terbaring dengan penuh luka di sekujur tubuhnya.
Sejak itulah, dia percaya Tuhan teramat sangat baik padanya.
"Hei ... kok diam?" tepuk pria itu dibahunya untuk menyadarkan wanita di depannya yang sejak tadi hanya diam, mungkin melamun.
"Maaf ... tadi aku sedang mengingat-ingat lagi bagaimana kita bertemu. Aku bahagia, sangat bahagia!"
Pria itu menariknya ke dalam pelukan, mencium aroma rambut wanita itu dan mengecup kening Sheril lembut seiring terbenamnya matahari sore.
***
"Saka ...!" ucap Riana terkejut. Suaranya sangat lirih, hampir tak terdengar.
Riana tak sengaja melihat orang yang mirip sekali dengan Saka. Berjalan dengan seorang perempuan di pinggir pantai tempat di mana dia dan Tefan serta Kiano menghabiskan waktu sepanjang sore.
"Ri ... ada apa?" Tefan menepuk bahu Riana lembut.
"Nggak ada apa-apa. Aku cuma tersihir dengan warna senja saat matahari terbenam di sana. Sangat indah! Terimakasih sudah mengajak aku dan Kiano berjalan-jalan sore ini dan menikmati terbenamnya matahari.
"Aku harap, akan banyak hari-hari seperti ini denganmu, juga dengan Kiano."
__ADS_1
Tefan memeluk pinggang Riana seraya menemani wanita itu menikmati matahari terbenam. Langit perlahan menjadi gelap, Kiano berlari ke arah mereka setelah puas bermain pasir.
"Sayang ... sudah puas mainnya?" tanya Riana.
"Sudah, Bun. Habis ini kita mau ke mana lagi, Om?"
"Makan malam mau?"
"Mau ...!" serunya senang.
Mereka pulang untuk mempersiapkan acara makan malam di rumah Tefan. Sebuah acara makan malam yang sudah dipersiapkan Tefan dengan sangat baik dan istimewa. Tentu saja, Pak Bono yang jadi seksi sibuk mempersiapkan segalanya.
Tefan ingin memberi kejutan kecil pada Riana. Ingin melamar Riana secara resmi, bertahun-tahun dia memimpikan momen ini dan mungkin inilah saatnya.
"Aku jemput kalian tepat jam 8 malam. Bersiaplaah!" ucap Tefan begitu mereka sampai di rumah Riana.
"Iyah. Kami siap-siap dulu."
Tefan pun pergi dan sudah tak sabar menantikan acara yang dipersiapkannya sejak tadi siang.
Riana mencoba untuk menghalau pikirannya yang memikirkan orang yang mirip dengan Saka tadi. Mencoba agar fokus pada malam penting karena malam ini dia akan makan malam bersama Tefan.
Dia memilih beberapa baju yang akan dikenakannya. Namun entah sudah berapa pasang baju yang sudah dia coba belum ada yang menarik dan cocok untuknya. Selalu saja ada cela di mana dia merasa tidak bagus mengenakan pakaian itu.
Gaun saja, dia memiliki koleksi yang sedikit. Sebab dia tak tahu kapan terakhir dia menggunakan gaun. Hari-hari semenjak dia menjadi single parent hampir tidak pernah dia memikirkan membeli baju-baju untuk pesta ataupun acara makan malam.
Jangankan membeli gaun, membeli pakaian yang dia rasa cukup mahal pun dia masih mikir. Ah, lebih baik nabung untuk sekolah dan masa depan Kiano saja. Pikirannya tak pernah jauh dari memikirkan bagaimana agar masa depan Kiano nanti lebih baik dan terjamin. Jarang sekali dia berpikir untuk kebutuhannya sendiri. Baginya Kiano adalah lebih penting dari semua urusannya.
"Bunda ... Kiano sudah siap! Kok Bunda masih belum ganti juga?" ucap Kiano yang memegangi ujung baju Riana sambil mendongak ke arah bundanya yang berdiri di depan sebuah lemari pakaian.
"Bunda lagi milih baju, tapi kok rasanya nggak ada yang cocok ya buat Bunda?"
"Perasaan Bunda aja kali, Bunda mau pakai apa aja tetap kelihatan cantik kok.".
__ADS_1
Astaga Kiano bahkan sudah bisa memujinya berlebihan seperti itu. Sungguh menggemaskan sekali.
"Benar?"
"Iya, Bunda. Coba tanya Om Ganteng, dia pasti bilang seperti yang Kiano bilang ke Bunda."
"Ya sudah, sekarang coba Kiano pilihin Bunda mana yang cocok buat Bunda pakai?"
Riana menarik lebih dekat tubuh Kiano, memintanya melihat isi baju Riana dan Kiano keliatan mulai berpikir.
"Bunda ... ini cantik! Cocok deh buat Bunda."
Kiano menunjuk satu dress selutut yang modelnya biasa saja tapi potongannya cukup terlihat elegan jika dipakai. Warnanya hitam, namun ada semacam blink-blink ketika disentuh.
Riana pun mencoba dress selutut tersebut. Terasa pas. Dari tadi padahal dia sudah kebingungan mau pakai yang mana. Pilihan Kiano ternyata tidak terlalu buruk.
"Nah, apa Kiano bilang. Bunda akan selalu cantik memakai baju apapun."
Riana tersenyum dan berterimakasih pada Kiano yang sudah memilihkan baju untuknya.
"Sayang, itu suara mobil Om Tefan! Sudah siap kan? Turun yuk!"
Kiano tentu saja senang, Riana masih merasakan betapa dia sangat gelisah. Deg-degan, padahal tadi juga masih ketemu Tefan. Rambutnya yang sebahu itu diselipkan ke belakang telinga di sisi kanan. Riana berjalan sedikit menunduk dan agak malu bila dia harus jujur.
Tefan menyambutnya dengan senyuman lebar khas dia ketika lagi bahagia.
"Om Ganteng!" panggil Kiano seraya berlari.
Sekarang Kiano sudah berdiri dan berpegangan tangan dengan Tefan.
"Sudah siap?" tanya Tefan.
Riana mengangguk. Tefan membukakan pintu untuk Riana, "Kamu cantik sekali malam ini." Tefan berbisik di telinganya. Membuat sipuan kecil di wajahnya.
__ADS_1
Tefan berjalan memutari depan mobil dan masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi. Wajahnya tak berhenti tersenyum, seolah sudah diset bahwa selama kalian bersama senyum kamu tak boleh pudar. Kira-kira seperti itu. Kelihatan bahwa dia sangat bahagia.