Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 42. Menemani Papa Terapi


__ADS_3

"Jangan kira kau bisa lepas begitu saja Riana, aku tidak akan membiarkan itu terjadi."


Aku baru saja menerima pesan singkat, saat tengah malam begini pula. Membacanya membuatku merinding, ada ketakutan yang menjalari sarafku. Apa mungkin itu Tefan?


Aku mulai menerka-nerka siapa pengirim pesan tersebut. Dugaan kuat saat ini adalah Tefan, sebab hanya dia yang mengancamku belum lama ini. Aku pikir dia sudah melupakan ancaman itu dan melupakan kejadian beberapa waktu lalu itu.


"Jangan mengancamku seperti ini, jangan kira aku akan gentar."


Sengaja kubalas seperti itu, agar dia sadar bahwa yang dia hadapi sekarang bukan lagi Riana yang lemah.


Aku meletakkan ponselku sembarang, menjauhkan dia dariku agar malam ini aku dapat tidur dengan nyenyak. Kuabaikan ancaman tersebut meski ada kekhawatiran di sudut hatiku.


Aku lebih baik memilih tidur saja dan melupakan pesan tersebut. Baru saja aku menarik selimut, ponsel tersebut sudah bergetar tidak karu-karuan. Aku membenamkan bantal di kepalaku agar tak mendengar ponsel itu lagi bergetar.


Sampai kurasa ponsel tersebut sudah berhenti bergetar, barulah aku melepas bantal tersebut. Namun tak lama kemudian ponsel itu menggelepar lagi, akhirnya aku bangun dan mencari keberadannya.


Ketemu juga kau akhirnya.


Aku mengangkat telpon tersebut dengan malas dan tak berselera untuk bicara. Karena selain mengantuk, aku juga memiliki mood yang kurang bagus karena pesan dari Tefan barusan.


"Halo...!" ucapku malas


"Kamu sudah baca pesanku?"


Oh rupanya benar dugaanku, itu Tefan.


"Sudah. Lantas?"


"Aku tak menyangka kau bisa melupakan aku secepat itu Riana."


"Jangan curhat. Aku ngantuk, sebaiknya kau tutup saja telponnya."


"Riana, jangan mengabaikanku seperti ini. Kau tidak akan tahu kan apa yang bisa kulakukan?"


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Kamu sudah lupa, selama ini kamu bahkan tidak berbuat apa-apa untuk mempertahankan hubungan kita dulu."


"Riana, jangan menghinaku."


"Kenapa? Kamu marah? Tefan, apa yang ada di dalam pikiran kamu? Harusnya kamu bisa berpikir sekarang, bahwa cinta saja tidak akan pernah cukup."

__ADS_1


"Aku tidak peduli. Jika aku tidak bisa mendapatkan kamu maka siapapun tidak boleh mendekatimu."


"Apa hak kamu?"


"Aku tidak peduli."


Karena kesal aku mematikan telpon tersebut dan melempar ponselku ke ujung tempat tidur. Keterlaluan! umpatku.


Tefan bahkan sudah berubah jadi monster seperti papanya. Orang tua sama anak sama saja. Apa sih maunya mereka itu. Aku tidak habis pikir, bagaimana ceritanya aku jatuh cinta dulu padanya. Sekarang apa aku harus menyesali semuanya? Hhhh


***


Aku bangun telat, Mama sampai mengetuk pintu kamarku karena sudah jam sembilan, aku belum juga keluar dari kamar.


"Riana!" Panggil Mama dari balik pintu.


Aku mendengar suara Mama lantas bangun dan menggosok-gosok mata. Kaget saat melihat jam weker di meja ternyata sudah jam sembilan pagi. Ah telat!


"Ya Ma, maaf aku baru bangun."


Aku bergegas membukakan pintu untuk Mama.


"Iyah Ma, ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan."


Aku berbohong lagi kali ini, Mama tidak boleh tahu kalau Tefan kembali dan bahkan sekarang sudah melakukan hal yang tak seharusnya dia lakukan. Aku pikir semua masalah sudah selesai, ternyata datang satu masalah lagi.


"Kamu mandi dulu, Papa sudah menunggu kamu di bawah."


"Baik Ma."


Hari ini adalah jadwal terapi Papa dan aku sudah janji untuk menemani Papa terapi. Dua hari dalam seminggu adalah waktu berharga untuk Papa.


Tak lama kemudian aku pun selesai mandi dan pakaian, aku langsung menemui Papa di bawah.


"Pagi Pa, Ma! Sudah siap semua ya? Maaf Riana telat bangun." Aku mencium pipi kiri kanan Papa sebagai permintaan maaf.


"Tidak apa-apa sayang. Kamu tidak sarapan dulu? Kamu sarapan habis itu kita berangkat."


"Tunggu sebentar ya Pa."

__ADS_1


Papa mengangguk dan tersenyum, sementara aku sudah di meja makan untuk sarapan.


***


Sampai di rumah sakit, kita semua langsung menemui dokter yang menangani Papa dan berbicara sebentar sebelum terapi dimulai. Aku optimis terapi Papa berhasil dan bisa jalan lagi. Sebagaimana kata dokter kalau harapan itu masih ada dan harus optimis.


"Hari ini kita terapi pertama ya Pak, harus semangat." ucap dokter Dion.


"Iyah Dok, mohon petunjuknya." Jawab Papa.


Pertama area sekitar kaki Papa dilemaskan dulu oleh dokter, sekitar sepuluh menit berlangsung dan Papa diarahkan ke tempat terapi.


Kulihat wajah Papa yang kesakitan saat pertama kali dibantu berdiri oleh suster. Tangan Papa diminta pegangan di kedua sisi agar bisa melangkahkan kaki sedikit demi sedikit. Namun karena baru pertama kali, Papa mungkin bingung harus bagaimana, dia pun ragu mengangkat kakinya.


Aku mendekati Papa dan meletakkan tanganku di atas punggung tangannya, memegang bahunya, melihat ke dalam matanya. Mencoba meyakinkan Papa bahwa Papa pasti bisa dan semua akan baik-baik saja.


Aku menuntun Papa berlatih. Akhirnya Papa mendapatkan langkah pertamanya, Papa terlihat bahagia. Mama sampai terharu dan menitikkan air mata. Aku terus menyemangati Papa, jika langkah pertama sudah dimulai, maka akan ada langkah-langkah berikutnya.


"Pa, coba lagi. Semangat!"


Papa tersenyum dan aku terenyuh melihat semangat Papa. Ayo Pa, semangat, Papa mau mendampingi Riana saat menikah Kan?


Papa terus mencoba, walau susah payah tapi Papa tak menyerah. Dia sudah mendapatkan tiga langkah. Keringatnya terlihat membasahi sekitar wajah dan bagian dadanya.


Sepertinya Papa sudah mulai kelelahan. Aku pun menuntun Papa dibantu oleh satu suster untuk mendudukkan Papa di kursi rodanya.


"Papa capek yah?" tanyaku.


"Capek tapi Papa senang. Trimakasih sudah menyemangati Papa."


"Papa harus lebih semangat, demi mendampingi aku saat menikah nanti. Iya kan Ma?"


"Iya, Papa harus semangat. Mama yakin Papa bisa jalan lagi dan bisa menjadi wali nikah Riana nanti. Papa juga bisa mengantarkan Riana ke calonnya nanti. Jadi Papa pasti bisa."


Hari itu saat terapi telah selesai, kita pun makan siang sebelum akhirnya kembali ke rumah. Saka sempat menghubungi aku saat makan siang tadi, bertanya apakah terapinya berjalan dengan lancar. Sebelumnya aku memang sudah memberitahunya tentang agenda aku hari ini yang menemani Papa terapi dan family time.


Perihal Tefan, aku belum menceritakan apapun ke Saka. Biar nanti saja saat bertemu biar ngomongnya enak dan tidak terjadi salah paham.


Jika memang nanti Tefan akan berbuat sesuatu yang akan mencelakai Saka, aku yakin Saka bukanlah orang lemah dan bodoh untuk menghadapi orang seperti Tefan. Dia tentu tidak akan membiarkan itu, apa lagi aku kenal betul sifat Saka. Jika dia tidak diusik maka pantang baginya untuk mengusik orang lain.

__ADS_1


Yah, biarkan mengalir seperti air saja...


__ADS_2