
“Aku tahu semua akan baik-baik saja, selama ada kamu di sisiku, aku tak perlu takut apapun. Yang kutakutkan hanyalah kepergianmu.”
---
Beberapa hari berikutnya Tefan telah keluar dari rumah sakit namun masih perlu istirahat sehingga belum diperbolehkan untuk bekerja ataupun kemana-mana. Orang tuanya sangat protektif untuk satu hal itu. Maklum anak tunggal dan pewaris kekayaan satu-satunya jadi wajar kalau mereka sangat menjaga Tefan. Bagi orang tua Tefan kecelakaan yang hampir menewaskan anaknya itu cukup terjadi hanya sekali dan tidak ada lagi kecelakaan-kecelakaan yang lain. Padahal harta, nyawa dan kekayaan itu sudah diatur sama Tuhan. Yah begitulah.
Atas kecelakaan yang terjadi pada Tefan itu, mencuat kabar yang cukup membuat aku kaget dan diam sejenak. Diam dan mencoba mencerna kabar tersebut. Pernikahan Tefan akan dipercepat, padahal seharusnya ada acara pertunangan terlebih dahulu. Aku yakin yang merencanakan ini semua adalah Papa Tefan. Dengan berbagai alasan yang mungkin salah satunya adalah ada kaitannya dengan kehadiranku. Setelah diam beberapa saat, aku menghubungi Nina ingin memastikan kabar yang beredar.
“Hei...” Sapaku di telpon setelah Nina menerima panggilanku.
“Hei darling...!!! Kebetulan sekali kamu telpon, aku mau ngasih tahu kamu kabar gembira.” Suara Nina di telpon kedengaran sangat bahagia, akupun mengurungkan niatku untuk bertanya dan memilih mendengar cerita bahagia dari Nina.
“Apa??” Tanyaku tidak sabar dan ikut merasakan kegembiraannya.
“Aku dan Tefan akan segera menikah...aaakhh senangnya. Sudah lama aku menanti-nantikan moment bahagia ini. Akhirnya datang juga.”
Deeggg--
Seperti ada sengatan yang cukup mengejutkan, tapi sejak Nina menyebut kata menikah, aku malah terdiam dan kalimat-kalimat Nina selanjutnya hanya terdengar kosong.
MENIKAH???
“Na... Riana...??? Kamu masih di sana kan? Kenapa?” Tanya Nina membuyarkan lamunanku.
__ADS_1
“Ii--ya Nin, aku masih di sini. Turut berbahagia ya atas pernikahan kalian. Aku senang banget mendengarnya.” Jawabku berusaha terdengar bahagia mendengar berita itu. Padahal sebagian dari hatiku terasa pedih dan sangat sakit.
“Tadi kamu telpon aku mau ngomong apa?” Tanya Nina kemudian.
“Ee--tidak ada apa-apa, hanya ingin menyapa.” Jawabku sudah berbohong. Padahal tadinya aku mau cari tahu berita yang beredar, namun itu semua sudah tidak perlu lagi. Aku sudah dapat jawabannya langsung dari yang bersangkutan tanpa harus bertanya.
“Ya sudah aku lanjut kerja dulu ya, kerjaanku masih banyak nih.”
“Oke. Selamat ya Nin.”
“Sama-sama Na, kuharap kamu juga bakal menyusul nanti. Aku harus jadi orang pertama yang kamu kenalkan ke cowok kamu nanti. Jangan kelamaan jomblo, nanti jadi perawan tua loh, mau?” ucapnya bercanda.
“Ya enggak. Oke deh, lanjut dulu sana.”
Sambungan telpon pun terputus, aku tahu waktu itu akan tiba, hanya saja aku tidak menyangka akan secepat ini. Rasanya kebersamaan yang tercipta di antara aku dan Tefan belum seberapa tapi harus berjarak lagi. Aku tahu pada akhirnya mereka akan menikah dan aku berusaha menyiapkan hatiku untuk kemungkinan tersebut. Tapi aku butuh waktu, bukan waktu secepat ini. Pertahananku bobol sudah, untuk pertama kali aku menangis hingga terisak dan tubuhku bergetar.
Ternyata lebih sakit dari yang kukira.
Aku putuskan untuk pulang lebih awal, restoran aku titip ke asistenku. Aku butuh tempat yang nyaman dan jauh dari keramaian. Aku ingin menyepi dan menepi, berpikir langkah apakah yang seharusnya aku ambil ke depannya. Aku juga perlu bicara pada Tefan tentang masalah ini. Aku tidak mau menanggungnya sendirian. Lalu dalam perjalanan aku menghubungi Tefan, meminta bertemu di suatu tempat. Tempat di mana aku dan dia sering bertemu dan membicarakan banyak hal tanpa perlu takut terganggu.
Aku menyetir ke arah Ciwidey, kurang lebih sekitar 50 kilometer arah selatan kota Bandung. Tempat yang aku tuju adalah Kawah Putih, arus lalu lintas ramai lancar sehingga bisa kupastikan akan sampai di Kawah Putih kurang lebih satu atau dua jam kemudian. Pemandangan Danau yang terbentuk akibat dari letusan Gunung Patuha ini benar-benar mempesona. Membuat siapa saja yang datang ke sana akan merasa lebih baik. Yah, suasana alam yang bersih dan indah memang selalu menjadi pilihan bagi yang ingin menjauh dari penatnya kota dan segala permasalahan yang menghampiri.
Disebut Kawah putih karena tanahnya berwarna putih, akibat dari pencampuran unsur belerang. Air danaunya juga berwarna putih kehijauan dan dapat berubah warna sesuai dengan kadar belerang yang terkandung, suhu dan juga cuaca.
__ADS_1
Sampai di Kawah Putih aku mampir sebentar untuk menikmati keindahan alam yang tiada tara ini. Kabut di kawasan wisata ini terbilang cukup tebal dan suhunyapun sangat dingin, tapi itu tak menghalangi keinginanku untuk menyapu seluruh pemandangan tersebut. Pikiran mengenai kemungkinan pernikahan Tefan akan dipercepat semakin mendominasi kepalaku. Aku tidak menyangka hal itu akan datang lebih awal dari perkiraanku. Sementara perasaan memiliki Tefan semakin tumbuh subur di dalam hatiku. Aku tidak sanggup melepasnya meski dengan alasan apapun, namun saat ini di situasi ini, aku seakan tidak mampu berbuat apa-apa. Wanita yang akan dinikahi Tefan kelak adalah sahabatku sendiri, sahabat yang begitu baik dan tidak layak mendapatkan rasa sakit.
Cukup lama aku berdiri di sini, sembari menunggu kedatangan Tefan yang sebentar lagi mungkin sampai. Seorang Bapak Tua menghampiriku yang sudah kukenal akrab, memberitahukan bahwa Villa yang kupesan beberapa jam yang lalu sudah siap. Aku hanya mengangguk sopan ke arahnya dan mempersilahkan dia agar lebih dulu. Lima menit kemudian, Tefan muncul dengan jaket tebalnya. Jaket yang selalu ada di mobilnya dan mungkin tanpa sepengetahuan Nina. Jaket yang hampir tak pernah lepas darinya untuk dipakai ke Kawah Putih. Nampaknya Tefan sudah mempersiapkan diri untuk menemuiku di sini. Aku tidak tahu alasan apa yang dia berikan ke Nina.
Sekilas dia tersenyum padaku yang beranjak mendekat. Langkah-langkah kakinya yang lebar membuat dia tak butuh waktu lama untuk bisa berdiri di sampingku.
“Maaf sudah membuat kamu menunggu.” Ucapnya
Aku tak menjawab dan situasi itu membuat dia jadi salah tingkah. Terjadi jeda beberapa saat sampai aku berucap selamat padanya. Kini giliran dia yang diam seribu bahasa, aku tak bisa membaca pikirannya. Bahkan hanya untuk menebak apa yang sedang dia rasakan saat ini. Kulihat dia hanya menatap lurus dan jauh ke depan, menembus ke hutan belantara, jauh dan tak terjangkau. Situasi seperti ini hanya terjadi ketika aku dan dia sedang membicarakan hal serius mengenai hubungan kami. Selama ini cukup jarang terjadi, hubungan kaku dan perasaan tidak enak satu sama lain.
“Aku tidak tahu harus bahagia ataukah bersedih, kita berdua sama-sama tahu bahwa pernikahan antara aku Nina cepat atau lambat akan terjadi. Bisakah aku bahagia dan bersedih di saat yang bersamaan? Laki-laki macam apa aku ini?” Kulihat perubahan mimik di wajahnya. Aku tahu dia sama setresnya denganku.
“Harusnya aku minta maaf padamu karena telah membawamu pada situasi yang serba sulit ini. Sebelumnya aku terlalu egois untuk membiarkan perasaan ini tumbuh tak terkendali yang akhirnya membuat kita terjebak dalam situasi pelik. Fan, apa yang harus aku lakukan?”
Kesedihan ini aku tak tahu datang dari mana, menyeruak begitu saja dan menghasilkan bulir-bulir bening di kedua mataku. Aku tergugu dari tempatku berdiri, Tefan perlahan mendekat dan menarikku ke dalam pelukannya. Kalian tidak akan pernah tahu seberapa menenangkannya bila berada di dalam kedua lengan lelaki yang kau cintai sampai kau melakukannya. Pertama kalinya aku menangis sesegukan di dadanya, air mataku bahkan merembes di kemejanya yang masih beraroma parfum khas laki-laki.
“Menangislah Riana, jangan pernah tahan airmatamu untuk mengalir. Aku tahu ini sama sulitnya bagi kita berdua. Kamu tidak tahu apa yang harus dilakukan, akupun begitu dan aku sebagai laki-laki merasa tidak berguna karena tak bisa mengambil sikap atas persoalan ini. Kita berdua bagai berada dalam labirin, terjebak di sana dan tak pernah menemukan jalan pulang sampai kita berdua akhirnya menyerah pada keadaan. Aku tahu ini sulit, aku tahu...”
Di dalam pelukannya aku menangis sepuasnya, Tefan terus mengecup puncak kepalaku dan mengelus bahuku mencoba menenangkan. Dia membuka pelukannya dan menatapku lamat-lamat setelah tangisku sedikit reda. Dia berusaha meyakinkanku bahwa semua pasti baik-baik saja. Aku mencoba mempercayai itu dan langkah-langkah kecil kami perlahan menuju ke Villa.
***
***Note: Jangan lupa jadiin cerita ini favorit ya agar tidak ketinggalan cerita selanjutnya. Jangan lupa like, koment dan vote. trimakasih.
__ADS_1
regard: Sri Pulang Sari***