Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Diserang Orang Tak Dikenal


__ADS_3

Dua orang berbadan besar membawa kayu pemukul bola kasti mendatangi ruko Riana.


**Prannggg...!


Prannggg**...!!!


Pecahan kaca memenuhi lantai setelah dipukul beberapa kali oleh dua orang tadi. Pengunjung tampak panik dan ketakutan, Nadia yang kebetulan berjaga sendirian di toko kaget sampai ingin menangis. Dengan cepat dia menghubungi Riana yang sedang menghadiri rapat orang tua di sekolah Kiano.


"Bu..., cepat pulang, Bu! Toko..., toko kita hancur, Bu. Dihancurkan sama orang, cepat ke sini, Bu!" Ucap Nadia dengan nada bergetar dan ketakutan.


"Semuanya diam dan merunduk. Kumpul di sana!" Perintah salah seorang yang melakukan pemukulan pada kaca toko.


Semua pengunjung mengikuti instruksi tersebut. Nadia semakin ketakutan karena hampir seluruh toko tersebut sudah dihancurkan dan dia tak dapat berbuat apa-apa.


Riana sudah meninggalkan ruang rapat di sekolah Kiano. Dia menghubungi polisi dan segera pulang.


Sampai di toko, semuanya sudah berantakan. Polisi terlambat datang dan kekacauan tak dapat dicegah. Pengunjung sudah bubar, di pojok ruangan hanya ada Nadia yang duduk menangis seraya menundukkan kepalanya takut. Dia mengalami sedikit trauma akibat kejadian barusan.


Riana mendekati Nadia yang sedang sesegukan.


**Hiks.


Hiks.


Hiks**.


"Nadia..., apa yang terjadi?"


Mendengar suara Riana menyebut namanya, Nadia berangsur mendongakkan kepalanya. Begitu sadar orang di depannya benar bosnya, dia pun segera memeluk perempuan yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri itu.


"Ibu...!" Peluk Nadia dengan wajah sembab.


"Apa yang terjadi?"


"Dua orang berbadan besar, datang-datang tanpa ba-bi-bu langsung menghancurkan toko kita, Bu. Maafkan aku tidak bisa melakukan apapun."


"Tap..., tapi kenapa? Apa kita ada masalah sama mereka?"


"Nadia tidak tahu, Bu. Mereka cuma bilang, beritahu bosmu untuk berhenti menggoda kekasih bos saya, begitu katanya."


Riana terdiam, dia langsung mengerti siapa dalang dari semua kekacauan itu.


"Sudahlah, tidak usah merasa bersalah seperti itu. Terpenting kamu tidak apa-apa, kamu selamat dan tidak terluka sedikitpun. Bangunlah!"

__ADS_1


Riana membantu Nadia berdiri. Nadia masih ketakutan, tubuhnya lemas dan Riana harus membantunya minum untuk menghilangkan rasa takut dan lemasnya itu.


Setelah Nadia merasa lebih baik, Riana pun menghampiri polisi yang baru saja datang dan mengecek kerusakan yang terjadi.


"Saya ingin semuanya diusut hingga tuntas, Pak. Kerusakannya tidak sedikit, memerlukan waktu beberapa Minggu untuk bisa kembali seperti semula." Ucap Riana.


"Baik, Bu. Untuk sementara anggota kami akan melakukan investigasi untuk mengetahui motif dari penyerangan terhadap toko Ibu. Sekaligus mencari para pelaku."


"Terimakasih atas bantuan Bapak. Untuk sementara pegawai saya belum bisa dimintai keterangan. Dia masih shock."


"Baik, Bu."


***


"Kerja bagus." Ucap Femi dengan melempar amplop berisikan uang.


Kedua orang suruhannya itu cengar-cengir kesenangan melihat uang sebanyak itu di tangannya. Femi pun segera meninggalkan orang suruhannya itu agar tak ketahuan. Dia pergi menemui Tefan di kantornya.


"Hai, Fan sudah lama tak bertemu."


Tefan kelihatan tak suka. Dia cukup terkejut karena Femi bisa masuk begitu saja ke ruangannya.


"Di mana, Pak Bono?"


"Baiklah, cepat kembali! Di sini ada kecoa, sangat mengganggu."


Tefan pun mematikan teleponnya, menyisakan tanda tanya di hati Pak Bono. Kecoa? Pak Bono pun ingat sesuatu, itu sebabnya dia bergegas untuk pulang ke kantor saat itu juga. Dia paham akan maksud tuannya.


"Ngapain ke sini?" tanya Tefan


"Tentu saja untuk bertemu denganmu, sudah lama sekali tak bertemu. Aku rindu padamu."


Femi sudah mendekat ke arah Tefan, mengusap bahu Tefan dan mendekatkan wajahnya ke telinga Tefan. Membuat Tefan sedikit risih dengan aksi murahan yang dilakukan Femi padanya.


"Jika kau kira aku akan tergiur dengan caramu menyentuhku, maka kau salah besar Fem. Aku masih bisa menahan diri, apalagi kau jelas-jelas bukan tipeku."


Wajah Femi berubah kesal.


"Tidak masalah, lama-lama kau juga akan terbiasa. Aku sangat mencintaimu, Tefan. Tidak bisakah kau bersikap manis padaku sedikit saja seperti dulu?"


"Itu karena aku masih menganggapmu seorang adik, tapi sekarang aku cabut semua kata-kata itu."


Femi berusaha lebih dekat dan lebih intim lagi, dia sengaha memakai rok mini agar lebih mudah menggoda Tefan. Femi naik ke atas meja kerja Tefan, baru hendak mendekatkan wajahnya. Pintu tiba-tiba terbuka lebar. Mengejutkan Femi yang baru saja ingin melancarkan aksinya.

__ADS_1


"Di mana kecoanya, Tuan?" tanya Pak Bono yang datang bersama dua petugas kebersihan.


Tefan nyaris saja tertawa dengan aksi Pak Bono yang datang sedikit terlambat itu namun benar-benar bisa diandalkan. Petugas kebersihan itu, masuk dan menyemprot beberapa tempat. Femi merapikan kembali pakaiannya, dia menatap kesal ke arah Pak Bono. Sedangkan Pak Bono masih dengan wajah datarnya seperti biasa.


Dasar tua bangka mengganggu saja. Awas kau nanti. Siapapun yang mengganggu hubunganku dengan Tefan, maka akan jadi musuhku juga. Batin Femi.


Tefan berdiri dari duduknya, merapikan jasnya dan keluar meninggalkan ruangannya tanpa berkata apapun pada Femi. Femi tak sempat lagi mengejarnya karena terus dihalangi sama petugas kebersihan.


***


Tefan terkejut begitu turun dari mobilnya. Toko Riana sudah dipasangi garis polisi, dia juga melihat bagian depan toko itu hancur. Kacanya berantakan memenuhi lantai, Tefan pun bergerak cepat dan masuk ke dalam toko.


Dia melihat Nadia dan Riana sedang membersihkan kaca-kaca yang berserakan. Juga aksesoris yang berceceran ke mana-mana.


"Riana, ada apa?" tanya Tefan.


Riana tak menjawab, dia meneruskan pekerjaannya. Nadia sedikit tak enak karena situasinya begitu ganjil menurutnya karena dia ada di situ.


"Maaf, Bu. Izin ke toilet dulu." Ucap Nadia.


Riana hanya mengangguk. Tefan tak mengerti mengapa Riana menjadi begitu pendiam padanya. Tefan mengambil sapu yang tengah dipegang Riana, meminta Riana agar duduk dengannya dan berharap menjelaskan apa yang terjadi.


"Lepasin, Fan!"


"Hei, ada apa?" tanya Tefan lembut dan penuh perhatian.


Tak lama kemudian, Kiano muncul dari arah tangga.


"Om Ganteng, tolong jangan ganggu Bunda dulu. Menyingkirlah dari Bunda." Ucap Kiano yang mengejutkan Tefan.


Ada apa ini? Mengapa Kiano bersikap seperti tak senang dengan kedatanganku sekarang?


"Ada apa, sayang? Kenapa Kiano melarang Om untuk mendekat kepada Bunda?"


"Teman Om jahat, dia yang menyebabkan semua kesedihan Bunda. Lihat apa yang terjadi di toko Bunda, berantakan semuanya."


Riana terkejut sendiri dengan ucapan Kiano. Dari mana anak itu tahu dan bisa berbicara seperti itu.


"Sayang, Bunda mau bicara dulu sama Om. Jadi Kiano ke atas dulu ya, ini tidak baik untuk didengar Kiano." Bujuk Riana.


"Iya, Bunda. Tapi Bunda harus janji kalau butuh apa-apa panggil Kiano."


Anak itu bicaranya dewasa sekali, dia paham dengan kondisi bundanya. Bahkan tahu kapan dia harus bersikap baik dan bersikap menjaga diri apapun dan siapapun.

__ADS_1


__ADS_2