Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 23. Pergilah


__ADS_3

Ponsel baru saja kuaktifkan, banyak sekali notifikasi yang masuk. Beberapa pesan dari Tefan yang tidak pernah kubaca lalu aku hapus semuanya. Mulai sekarang aku harus belajar menata hatiku dengan baik, cinta ini memang rumit. Olehnya itu aku harus belajar bagaimana menghadapi situasi dan kondisi ke depannya. Aku tidak mau lebih banyak lagi yang terluka.


Saat ponsel itu akan aku simpan kembali di atas nakas, ponselnya bergetar. Terpampang di layar nama Nina. Aku ragu untuk mengangkatnya tapi aku juga tidak bisa mengabaikan Nina. Dia sahabatku.


Mengangkat telpon.


"Halo Nin, aku di sini ada apa?"


"Bagaimana kalian?" Jawab Nina dari sebrang telpon sana.


Mendengar pertanyaan itu, rasanya aku sama sekali tidak berniat untuk membahas ini.


"Buruk." Jawabku pendek dengan nada lemas.


"Maksud kamu?"


"Iyah. Aku dan Tefan bertengkar hebat di jalan. Papanya ternyata tidak datang ke Villa, dia datang bersama anak buahnya ke rumah orang tuaku lalu mengancam mereka."


"Hah! Serius?"


Nina kaget dengan apa yang kusampaikan, dia bahkan terdiam cukup lama lalu melanjutkan kembali kalimatnya.


"Lalu bagaimana dengan kalian?"


"Terlalu rumit Nin. Aku tidak tahu harus bagaimana. Jika kamu ada peluang bertemu Tefan, temuilah, hibur dia."


"Yan..."


"Bagaimana pun aku tidak mungkin menemuinya lagi. Mama dan Papa, aku sudah berjanji padanya untuk tidak menjalin hubungan apapun dengan Tefan. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada keluargaku. Om Roy itu orangnya nekat, kalau dia tidak nekat dan kejam, dia tidak mungkin mendepak Papa dari perusahaan yang mereka bangun bersama dari Nol."


"Aku juga sudah janji sama Papa dan Mama untuk tidak berhubungan lagi dengan keluarga Tefan. Orang tuaku cukup mendapat malu atas semua yang sudah terjadi. Mungkin memang sebaiknya kita jalani hidup ini masing-masing saja. Kamu baik-baik ya Yan, kapan-kapan kita ngobrol lagi."


"Iya Nin. Kamu juga baik-baik ya. Maaf atas semua kekacauan ini."


"Sudahlah, ayo bangkit bersama."


----


Akhirnya tibalah aku pada masa seperti dulu, berpisah oleh suatu hal. Jika dulu berpisah saat perasaan sedang mekar-mekarnya. Sekarang, berpisah karena memang hal itulah yang terbaik di antara kita.


Bukan lagi rasa sakit atau rasa cinta yang menjadi prioritas, melainkan keluarga yang hingga kapan pun barangkali tak pernah bisa akur seperti dulu. Kini keduanya memilih untuk saling menyakiti daripada berdamai. Sebagai imbasnya hubunganku dengan Tefan entah seperti apa akhirnya.


Biarlah kali ini kujalani saja, rencana Tuhan adalah yang terbaik.


Aku berjalan menuju dapur begitu mendengar suara gaduh di sana. Ah rupanya Mama sedang memasak namun disambi dengan cuci piring.

__ADS_1


"Sini Ma, biar aku saja." Aku mendekat ke Mama yang mencuci piring. Masih ada beberapa yang belum, tapi Mama menolak tawaran bantuan dariku.


"Kamu beresin saja sayuran yang ada di meja itu. Mama mau masak sayur bening kesukaan Papa kamu."


Segera aku menghampiri meja yang dimaksud Mama lalu mengerjakan sesuai instruksi Mama. Momen seperti ini adalah momen langka. Biasanya aku hanya tinggal makan, jarang ikut bantu-bantu Mama seperti ini di dapur.


Papa yang kebetulan baru saja keluar kamar lalu berseru.


"Nah gitu dong. Sekali-kali bantu Mama masak, kalau gini kan Papa jadi senang ngeliatnya."


"Papa...mulai deh. Iyah aku tahu Riana jarang di rumah kalaupun di rumah hanya tinggal menikmati masakan Mama yang enak ini."


Mama hanya tersenyum melihat kami berdua. Sedang Papa malam tertawa melihatku yang sedikit kaku saat memotong-motong sayuran.


"Mah...anak ini belum bisa nikah nih kalau begini. Liat tuh!" Papa menggodaku lagi.


Papa protes caraku motong sayur. Tapi Mama hanya gelem kepala liat kami berdua ledek-ledekan kayak anak kecil.


"Sudah Pa, ke ruang keluarga sana. Jangan ganggu Riana yang sedang mau belajar masak."


"Mama juga sama aja, cuma Caranya lebih halus dari Papa."


Papa dan Mama tertawa bersama. Bahagia rasanya melihat adegan ini. Rupanya banyak waktu yang kulewati tidak dihabiskan bersama Papa dan Mama.


Akhirnya setelah berjibaku di dapur bersama Mama, makan siang pun siap dihidangkan. Tapi ada satu kejadian lagi yang bikin acara makan siang hari ini gagal total. Rusak.


"Yan... ada yang cari kamu."


"Siapa Pa? Teriakku dari dapur."


"Cepat ke sini."


Aku pun segera keluar untuk memastikan apa yang terjadi, soalnya dari suara Papa seperti ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa sabar.


"Selesaikan urusan kalian berdua, lalu kamu masuk Yan."


Papa hanya berucap kalimat itu lalu masuk meninggalkanku begitu saja yang berdiri kaku setelah melihat siapa yang datang.


Tefan.


Aku mengajak Tefan bicara di teras. Tapi bukannya bicara, kita berdua malah diam dan asyik dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang berani memulai, Tefan hanya menunduk, tidak berani menatap mataku.


Akhirnya aku tidak sabar lagi lalu mulai berbicara padanya.


"Mau apa kamu ke sini?" Ucapku datar dan dingin.

__ADS_1


"Maaf untuk setiap kalimatku kemarin. Aku bersalah." Tefan masih tidak sanggup menatapku.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kita impas. Aku yang menghina Papamu. Tapi itu semua tidak penting lagi sekarang. Sebaiknya kamu pergi, kita selesai."


Aku memberikan penekanan pada kata SELESAI. Tefan kaget dan mengangkat kepalanya lalu akhirnya menatapku. Ah mata itu, kenapa sekarang jadi aku yang bergetar melihat mata itu.


"Apa maksud kamu?"


"Apa kamu tidak mendengar kata-kataku?"


Aku berusaha sebaik mungkin menahan perasaanku.


"Tapi kenapa Riana?"


"Kamu masih bertanya kenapa setelah apa yang sudah Papa kamu lakukan sama orang tuaku? Benar-benar tidak berperasaan."


"Aku tidak mau kita selesai."


"Pergilah!"


"Riana..."


Aku berdiri dan hendak meninggalkan Tefan begitu saja. Tapi dia menahan tanganku, menggenggamnya.


"Kumohon jangan seperti ini."


Aku yang sudah posisi membelakangi dia, diam-diam menitikkan air mata. Karena sejujurnya aku juga tidak sanggup menghadapi situasi seperti ini.


"Pergilah Fan! Demi kebaikan dua keluarga kita, tak ada lagi yang bisa kita pertahankan dari hubungan ini. Aku hanya tidak mau, hal yang lebih buruk terjadi suatu saat nanti."


"Riana..."


"Pergilah!"


Aku melepaskan tangannya dan segera ingin masuk ke dalam rumah. Namun yang terjadi selanjutnya adalah Tefan menghambur memelukku dari arah belakang. Apa-apaan ini? Gila ya dia.


Saat Tefan memelukku, kesedihan luar biasa kurasakan. Aku tak sanggup lagi menahan isakku. Barangkali dia juga mendengarnya, kudengar dia juga terisak. Tapi aku tidak boleh lemah dan membalas pelukannya. Itu tidak boleh terjadi.


"Baiklah, jika itu keinginanmu. Kita berpisah. Tapi aku akan menunggumu sampai kamu siap. Maafkan sikap orang tuaku, maafkan aku yang berulang kali menyakitimu. Hiduplah dengan bahagia Riana. Aku melepasmu."


Seketika hatiku hancur mendengar kata terakhir yang diucapkannya.


Aku juga melepasmu Tefan.


Hatiku remuk. Semua sudah berakhir.

__ADS_1


------


Hai hai... Terimakasih tetap membaca cerita Complicated Love sejauh ini. Jangan lupa beri like atau komen ya...


__ADS_2