Complicated Love #2

Complicated Love #2
CL - 59.


__ADS_3

Masih pagi buta drama mual mual dimulai. Saka terbangun dari tidurnya dan menyusul aku ke kamar mandi.


"Yang, gimana? Udah enakan?" Tanyanya.


"Belum. Perut mules dan lidah pahit banget."


"Tunggu sebentar aku ambilin minum ya."


Keluar dari kamar mandi aku duduk di ujung tempat tidur. Lemas kayak ayam mabok. Keringat dingin bermunculan dan perasaanku sedikit tidak enak.


Saka datang membawa segelas minum air putih. Dia menyodorkan gelas berisi air itu untuk kuminum. Setelahnya dia ambil minyak kayu putih dari kotak obat. Bermaksud hendak memberi di bagian tengkuk agar merasa lebih baik.


Yang terjadi malah sebaliknya. Baru saja botol minyak itu dibuka dan baunya menguasai Indra penciumanku, aku lantas mual lagi. Berlari lagi ke kamar mandi yang disusul oleh Saka.


"Baunya ngengat banget Yang. Bisa bawa keluar dulu gak minyak itu. Aku gak sanggup nyium baunya."


Saka keluar kamar lagi dan melakukan apa yang kuminta. Setelah itu aku keluar dari kamar mandi dan mendadak lapar. Pengen makan sesuatu.


"Yang mau sate." Ucapku polos.


Saka yang setengah tidur setengah melek di atas tempat tidur, kaget.


"Hah! Apa?"


"Mau sate."


"SATE? Pagi buta begini mau sate? Astaga sayang mau dapat di mana kita?"


"Bukan aku yang mau, tapi anak kita nih."


"Kamu ini ada-ada saja sih Yang. Tunggu di sini sebentar, aku lihat persediaan daging di kulkas dulu."


Saka berjalan pelan melewatiku. Sebenarnya tidak tega, tapi gimana bawaan ngidam. Aku saja suka heran sama perubahan-perubahan yang terjadi sama aku. Kadang di luar nalarku. Setelah drama gak mau kena sinar matahari, sekarang drama wangi-wangian. Saka terpaksa tak memakai parfum apapun begitu dekat denganku. Karena aku bisa mual dan muntah begitu saja saat mencium wangi-wangian.


Lima menit, sepuluh menit, Saka tak kunjung kembali. Akhirnya aku ke dapur, kulihat dia sedang sibuk meracik bumbu.


"Itu untuk apa?"


"Ya untuk oles di sate yang nanti kubakar Yang."


"Masih lama gak Yang? Boleh ganti menu gak? Aku mendadak pengen makan soto ayam."


Seketika aktifitas Saka terhenti.


Soto? Astaga apalagi ini? Belum selesai satu minta satu lagi. Bini aku ngidam gini banget ya? Bikin aku snewen pagi-pagi. Untung saja aku ini pintar masak. Kalau tidak, betapa frustasinya aku jadi suamimu Riana. Huhh....


Begitulah isi hati Saka saat itu.


"Yang kamu duduk saja ya. Tunggu semuanya masak. Ini saja aku sudah takut membangunkan Mama karena suara ribut dari dapur."


"Baiklah aku tunggu saja di kamar. Mas, jangan banyakin bumbunya. Aku tak tahan sesuatu yang berbau."


"Iyah tenang saja sayang. Kembalilah ke kamar."

__ADS_1


Akhirnya kutinggalkan Saka sendiri di dapur. Aku merasa ngantuk jadinya. Sampai di kamar aku mengambil selimut dan bergelung di bawahnya. Barangkali karena suasana masih subuh, aku ngantuk dan akhirnya tertidur.


"Sayang...! Makanannya sudah siap. Tadaaannng..."


Lamat-lamat kudengar suara Saka masuk ke kamar. Namun mataku berat untuk membuka. Pipiku terasa dingin, aku menyentuhnya dan ternyata tangan Saka.


"Sayang, kamu mau makan sate sama soto kan? Tuh sudah siap semuanya. Makan yuk!"


"Mas... aku ngantuk." Jawabku tanpa ada sedikit rasa bersalah.


Astaga, aku sudah capek-capek bikin ini untuk kamu sayang. Tapi kamu malah bilang ngantuk? Padahal ini waktu tercepat untukku menyiapkan semuanya. Ah sayang, kalau tahu gitu kenapa kamu ngotot minta sate dan soto tadi.


"Baiklah kamu tidur saja lagi. Makannya masih bisa dipanasi lagi saat kamu bangun nanti." Ucapnya samar kudengar, lalu dia mengecup keningku lembut.


***


Saka sudah bersiap berangkat ke restoran. Aku terbangun saat dia menyentuh pipiku.


"Hei, sudah mau pergi ya? Maaf aku bangunnya telat. Gak sempat bikinin kamu sarapan."


"Tidak apa sayang, aku bisa melakukannya sendiri. Sate dan soto permintaan kamu sudah aku panasi. Kamu bisa makan nanti dengan Mama."


"Ah baik sekali suamiku ini. Terimakasih sayangku."


Cup!


Sebuah kecupan mendarat di bibirnya.


Saka lantas meraih pinggangku dan kita berdiri berhadapan. Aku memperbaiki kerah bajunya. Wajahnya memperlihatkan ekspresi aneh.


"Kamu menggodaku ya?"


"Menggoda apa sayang?"


"Tuh!" Tunjuknya dengan matanya ke arah bagian dadaku.


Rupanya kancing bajuku bagian atas ada yang lepas. Sehingga membuat dua gunung kembar milikku terlihat jelas olehnya.


"Ih dasar mesum. Cium saja. Ini cukup untuk mengantarmu segera pergi ke restoran bukan?"


Aku mengecup kilas bibirnya dan dia malah minta lebih. Aku pun melayani ciumannya yang lama dan menuntut itu. Tangannya sudah bergerilya kemana-mana dan saat itu aku perlahan menarik diriku.


"Kalau kamu keterusan, kamu tidak berangkat ke restoran jadinya."


"Kamu berhutang lagi padaku ya."


"Siapa yang ngutang? Lagian ngutang apaan." Ucapku pura-pura tidak tahu dengan apa yang dia maksud.


Ishh aku tahu kamu mau apa. Hehe. Ya sebenarnya salah aku juga sih. Belakangan karena kondisiku sedang tidak fit selama ngidam, jadinya aku untuk sementara tidak memberikan service yang seharusnya seorang isteri berikan. Dia pasti sangat merindukan milikku. Ah bersabarlah sayang. Haha.


Saka pun akhirnya berangkat. Dia melambaikan tangan padaku saat hendak pergi.


Mama menghampiriku saat baru saja mau masuk rumah.

__ADS_1


"Saka sudah pergi?"


"Iyah Mah, katanya ada meeting dengan beberapa klien-nya. Mama sudah sarapan?"


"Kamu sudah?"


"Belum Ma. Kalau begitu sarapan yuk Ma."


Di meja makan sudah tersaji aneka makanan. Tidak rugi rupanya menikah dengan seorang Chef. Semua makanan ini terasa sangat menggoda. Ingin segera kuhabiskan saat itu juga. Sayangnya yang terjadi malah sebaliknya. Dalam kondisi normal mungkin aku sudah memakan semua makanan itu dengan lahap. Tapi sekarang sedang ngidam, rasanya apapun makanannya tak mau turun dengan mulus melewati tenggorokan.


Aku mencoba sedikit, lalu tak lama kemudian lari lagi ke toilet dekat dapur. Oeeekk..! Muntah lagi.


Mama sampai kasihan melihat aku merasakan ngidam yang luar biasa.


"Mah kayaknya aku ke kamar saja. Pengen berbaring dan istirahat sebentar."


"Ya sudah tidak apa-apa. Istirahatlah!"


Meninggalkan Mama saat makan, jujur tidak ingin aku lakukan. Namun, aku segera ingin berbaring dan membuat pinggang lurus dulu. Sakit banget karena kelamaan berdiri.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Masa iya harus terus-menerus berbaring di sini sampai bosan?


Aku ingat sesuatu. Aku meraih ponsel dan menghubungi Nina.


Tuuttt...!


Suara nada sambung di sebrang sana. Belum ada jawaban. Namun setelah beberapa kali memanggil akhirnya diangkat juga.


"Halo..."


"Nina....!"


"Iyah, kangen ih. Gimana kabar kamu?"


"Aku sekarang kurusan."


"Kok bisa?"


"Kurusan tapi aku bahagia banget."


"Jangan-jangan kamu hamil ya? Beneran hamil?" Tanyanya antusias.


"Iyah, akhirnya Safeea akan ada adik baru."


"Bismillah insyallah doakan saja ya Nin."


"Sudah berapa bulan?"


"Memasuki trimester yang kedua sekarang."


"Ah senangnya. Jaga baik-baik kandunganmu Yang. Jangan pergi terus."


Setelah bertukar cerita cukup banyak, aku memutuskan mengakhiri panggilan itu dan janjian sama Nina di suatu tempat. Sekalian bertemux, sudah kangen berat .

__ADS_1


***


__ADS_2