Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Makan Malam (Part. 2)


__ADS_3

Pertama memasuki rumah Tefan yang lebih mirip istana itu, Riana tercengang. Kiano spontan berkata, "Wauuuww ... rumah Om Ganteng, besar banget!"


Tefan tersenyum melihat reaksi Tefan.


"Selamat datang di rumah kita!"


"Kita?" tanya Riana heran.


"Iyya, ini kan nanti juga bakal jadi rumah kita. Kita tinggal di sini bersama-sama, aku, kamu dan Kiano."


Riana hanya tersipu.


"Masuk yuk!"


Tefan menggandeng Riana, rupanya di taman belakang dengan latar hamparan laut dan pemandangannya di malam hari, Pak Bono sudah mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.


Candle light dinner, makan malam dengan cahaya lilin. Tirai putih tertiup angin, bunga mawar sebagai pelengkap romantisme malam itu.


"Duduk yuk!"


Riana mengangguk. Tefan bergegas menarik kursi untuk Riana dan Kiano.


Tefan menjentikkan jarinya, beberapa pelayan datang membawa menu. Menghidangkannya di depan mereka bertiga. Riana memakaikan celemek di dada Kiano agar makannya tidak mengenai langsung pakaiannya.


"Kiano, coba bertepuk tangan dua kali!" pinta Tefan.


Kiano pun bertepuk sebanyak dua kali. Setelah itu, muncul seorang pemain musik biola.


"Wah ... keren! Dari mana mereka datang, Om?"


"Sulap. Haha."


Tawa Tefan terdengar renyah di telinga Riana. Senyum di wajah Riana tak bisa terhapus begitu saja. Sejak tadi dia hanya bisa tersenyum melihat tingkah anaknya dan Tefan.


"Sekarang kita mulai makan malamnya!" ujar Tefan.


Tefan membuka semua menu makanan malam ini. Semua tampak enak, Kiano sangat riang gembira. Tapi ada sedikit hal yang mengganggu Riana. Steak itu! Melihat Steak pikirannya malah mengingat Saka lagi. Ingat bagaimana Saka mengajarinya dengan sabar hingga mendapatkan daging steak yang benar-benar lembut dan tentu saja tidak gosong.


"Ada apa, Ri?"


"Ah, tidak! Aku sedang berpikir bagaimana menghabiskan semua makanan ini."

__ADS_1


"Bunda ... mana bisa habis makanannya kalau cuma dipandangi. Ya dimakan dong Bunda! Mau Kiano ambilin?"


Riana agak malu sendiri dengan ucapan anaknya, Kiano bahkan sudah bisa menceramahi dirinya.


"Iya sayang! Kiano makan yang banyak ya, mumpung Om Ganteng lagi baik, pesanan makanan enak semua."


"Pasti, Bunda!"


Mereka pun makan, sesekali Tefan mencuri pandang ke arah Riana.


Kumohon kali ini Riana, terimalah lamaranku. Sesuatu yang pernah tertunda di masa lalu, aku ingin membuktikan ucapanku. Waktu masih kanak-kanak, kita pernah bermain pengantin-pengantin. Aku ingin mewujudkannya, karena tak ada kata terlambat yang ada hanyalah waktu yang belum tepat saja.


Usai makan, masuklah ke acara inti. Musik biola mengalunkan sebuah lagi romanti dari Train yang berjudul, *Marry Me.


...


And you're beautiful. Now that the wait is over. And love and has finally shown her my way. Marry me. Today and every day. Marry me...


...


Dan kamu cantik. Sekarang penantian telah berakhir. Dan cinta akhirnya menunjukkan padanya jalanku. Menikahlah denganku. Hari ini dan setiap hari. Menikahlah denganku* ...


Seorang pelayan perempuan datang membawa sebuah baki berpenutup. Di letakkan di depan Tefan.


Riana membuka. "Apa ini, Fan?"


Tefan menarik jemari tangan Riana lalu menggenggamnya. Terasa hangat untuk tangan Tefan yang sejak tadi sudah keringat dingin.


"Ri ... aku tahu, kita pernah gagal. Aku juga tahu, perjuangan kita sangat panjang hingga kita sampai pada hari ini. Karena itu, di depan anak lelakimu Kiano, aku ingin meminta. Menikahlah denganku!"


Riana tercekat. Matanya berkaca-kaca menahan haru. Riana menutup mulutnya dengan satu tangan. Tak menyangka jika makan malam tersebut merupakan malam di mana Tefan melamarnya.


Kiano seperti mengerti, Bundanya dan Om Ganteng memerlukan waktu berdua.


"Pak Bono, bisakah kau mengantarku berkeliling di rumah besar ini?"


"Tentu saja!"


Kini tinggal mereka berdua, cahaya lilin berpendar dan meliuk-liuk seiring arah angin.


"Maukah kau menikah denganku?"

__ADS_1


Genggaman tangan Tefan semakin erat di tangan Riana. Tatapan Tefan seakan menembus hingga ke dalam jantungnya. Ingin sekali Riana menghalau rasa bimbang dan ragu di dalam hatinya.


"Apakah keputusan ini adalah tepat?"


"Jika kamu masih ragu, kamu boleh menjawabnya kapan saja. Sekarang, maukah kau berdansa denganku?"


Riana mengangguk pelan. Mereka pun perlahan mulai berdansa, satu tangan Tefan berada di pinggang Riana. Sementara tangan Riana, melingkar di leher Tefan.


Musik biola terus mengalun. Tefan tak bisa menahan perasaannya, tiap kali dia dekat dengan Riana, sebanyak itu pula dia ingin menunjukkan betapa dia sangat mencintai wanita ini.


"Setelah bertahun-tahun, aku masih tergila-gila padamu."


Kali ini, Riana seperti menemukan diri Tefan yang dulu. Dulu sebelum semuanya menjadi sangat rumit dan menyebalkan. Riana kembali ke masa lalunya, bernostalgia untuk meyakinkan dirinya sekali lagi. Benarkah, dia masih sangat mencintai pria yang mendekapnya saat ini


"Memang aku benci saat kamu terlalu pengecut waktu itu, tetapi itu tidak membuatku berhenti mencintaimu. Itu seperti aku jatuh cinta padamu berulang kali. Pertemuan setelah perpisahan cukup lama, banyak mengajariku arti bersabar dalam cinta."


"Aku sungguh-sungguh. Kamu membuatku menjadi orang yang lebih baik. Aku beruntung memilikimu. Kamu membuat hidupku berharga."


"Fan ... kamu tahu. Kamu membuat hatiku hangat dan bahagia. Selama aku memiliki kamu di hidupku. Kurasa aku bisa melewati apapun di dunia ini."


"Jangan khawatir, aku akan selalu ada di hidupmu sampai akhir untuk mencintaimu dan melindungimu."


"*Promise?"


"Yeah! I'm promise*."


Tefan menelengkan kepalanya, sedikit menunduk, mencari keberadaan bibir Riana yang sejak tadi sudah sangat menggodanya.


Bibir Riana membuka. Seakan menunggu. Pelan tapi pasti, kini bibir mereka sudah saling merengkuh. Bertaut satu sama lain, ciuman yang terasa tak asing, mengingatkan banyak kenangan yang pernah ada dicantara mereka.


Cukup lama mereka berciuman. Semakin lama dan rasanya semakin menuntut. Kedua tangan Tefan menangkup leher Riana. Menjelajah di setiap lekuk tubuh wanita itu, pernah sangat dekat lalu tiada dan kini kembali dia merengkuh semuanya dengan bahagia.


"Aku mencintaimu, Riana!" ucap Tefan disela mereka saling memagut.


Riana membalas kecupan Tefan, "aku juga mencintaimu. Dulu, kini dan nanti." ucapnya lirih.


Malam itu adalah saksi, dua insan berucap janji. Apakah itu berarti Riana sudah menerima lamaran Tefan? Tak ada lagi keraguan di dalam hatinya. Kini di hatinya hanya ada pria itu.


Mereka berdiri menghadap ke laut. Melihat pemandangan alam Bali di malam hari. Letak villa Tefan memang di ketinggian. Dapat melihat Bali dengan segala keindahan panoramanya.


Tefan memeluk Riana dari belakang. Dagunya bersandar manja di lekuk bahu Riana. Sementara Riana masih merasakan hangat saat Tefan masih menggenggam erat kedua tangannya.

__ADS_1


Mereka telah lupa pada Kiano untuk sesaat. Dari jauh Kiano mengintip. Dia tersenyum sendiri melihat Bundanya dan juga Om ganteng berpelukan seperti itu.


"Apakah itu artinya, Om ganteng resmi jadi Papaku, Bun?" ucap Kiano tepat di belakang mereka.


__ADS_2