
Aku baru saja keluar dari rumah dengan mengendarai mobil milikku. Belum seberapa jauh dari rumah sebuah mobil hitam melaju cepat memepet mobilku dan berhenti begitu saja di depanku. Aku banting setir dan menginjak rem secara mendadak agar tidak menabrak mobil yang berhenti sembarangan itu.
Belum lagi aku mengatur nafas karena shock, 3 orang pria berbadan besar turun dari mobil itu dan menghampiriku. Orang itu memaksa membuka pintu mobilku jika tidak, dia mengancam akan menghancurkan mobil milikku. Dengan terpaksa akupun keluar dari mobil, namun belum lagi kulihat badan besar 3 pria tersebut, aku sudah dibekap dan tidak sadarkan diri begitu saja.
Aku tidak tahu siapa orang-orang ini, juga tidak tahu kemana orang ini akan membawaku. Aku hanya tahu ketika tersadar aku sudah berada di dalam ruangan besar di atas sebuah tempat tidur. Di mana ini batinku?
Ada perasaan takut yang menyelinap tiba-tiba. Derap langkah seseorang terdengar dari sini, mendekat ke arah pintu dan tak lama kemudian 'ceklek'. Pintu terbuka dan betapa terkejutnya aku melihat siapa yang datang.
"Apa mau kamu?" Teriakku ke arahnya.
Dia hanya tersenyum dan itu sangat membuatku kesal. Aku baru sadar ternyata tanganku terikat sehingga aku sedikit kesulitan.
"Ha ha ha... Riana, bukankah sudah ku katakan padamu, jika tak bisa memilikimu maka orang lain pun tidak bisa memiliki kamu. Dan sekarang kamu yang datang sendiri padaku, itu artinya kamu telah memilihku."
Ucapan itu benar-benar membuatku geram. Ingin sekali kutampar wajahnya yang mengesalkan itu.
"Kamu tak ubahnya seperti papamu, lakukan segala cara demi keinginanmu sendiri. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tidak akan pernah mau lagi sama kamu. Kamu seperti monster Tefan."
__ADS_1
"Kamu yang membuat aku jadi monster Riana, jangan lupakan itu. Apa susahnya kamu kembali lagi kepadaku. Bukankah kamu juga masih sangat mencintaiku? kamu bahkan rela mati untukku, bukan begitu Riana?"
"Cuiih...! Sampai matipun aku tidak akan pernah mau kembali lagi kepada seorang psikopat seperti dirimu."
"Kamu sungguh menggemaskan Riana, membuatku semakin bergairah. Tunggulah aku akan mendekat kepadamu."
Tiba-tiba Tefan berjalan ke arahku, membuatku takut dengan apa yang akan dilakukannya. Apalagi aku tidak berdaya karena kedua tanganku telah terikat.
Tefan menyusuri seluruh lekuk wajahku dengan tangannya. kemudian dia mendekatkan wajahnya, berusaha untuk mengecup bibirku. Namun aku menghindar dengan menatapnya tajam.
Tefan tertawa menakutkan, wajahnya seperti bergulung amarah yang siap menelan siapapun. Apa yang merasuki kamu sebenarnya Tefan? Kenapa kamu seperti ini sekarang?
Apakah ini karena pengaruh Papanya? Bagaimana mungkin?
Tefan lagi-lagi berusaha mendekat ke arahku. Sekarang dia semakin brutal ingin memakanku. Wajahnya sudah semakin dekat, bahkan bibirnya kini sudah menjelajahi leherku. Membuatku mendesah antara ingin menikmati dan juga sangat marah karena dia melakukan ini dengan buas. Apalagi dengan status kita saat ini yang bukan lagi pasangan.
Kumohon Saka tolong datanglah! Siapapun tolong aku.
__ADS_1
Air mataku perlahan jatuh membasahi pipiku, karena Tefan sudah benar-benar di luar kendali. Dia menyusuri setiap inchi tubuhku, meski aku memberontak dia akan semakin liar dan buas. Jika aku melawan dia akan menyakitiku dengan sebuah tamparan keras di wajahku.
Arghh Tefan, kumohon berhentilah! Ini sakit.
Aku terus mengerang kesakitan, dia terus menyerangku, meninggalkan jejak merah dan memar di tubuhku. Aku semakin tak berdaya, tubuhku terkunci di bawahnya. Aku hanya berharap ada seseorang yang akan menilongku sekarang.
Dia melakukannya dengan sangat kasar, kau biadab Tefan.
"Kenapa Riana? Bukankah dulu kamu mengatakan bahwa aku hebat dalam hal ini? Kamu menikmatinya Riana?"
Aku terus menangis, amarahku seperti di ubun-ubun. Aku menatap tajam ke arah Tefan dan dengan cepat kuludahi wajahnya. Dia membalasku dengan tamparan yang membuatku meringis kesakitan.
"Kamu yang menginginkannya Riana. Kamu yang ingin aku menyiksamu terus-terusan seperti ini. Jangan harap kamu bisa menikah seperti impian kamu bersama Priamu itu. Kamu akan di sini terus bersamaku dan melayaniku." Tawanya sangat licik.
Dia kemudian melakukan itu lagi dan lagi. Aku tidak tahu sudah berapa kali dia melakukannya, aku tidak lagi merasakan tubuhku. Semuanya seperti mati dan aku pun ingin mati saja. Bagaimana aku harus mengatakan ini pada Saka?
Dia terus menyiksaku dengan hujamannya lalu aku jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
Mengapa kau lakukan ini Tefan? Kau menculiknya hanya untuk melakukan ini padaku? Kau sungguh bejat, aku tidak akan pernah bisa memaafkan kamu lagi. Lebih baik kamu mati saja.