
Pemakaman Papa telah selesai. Wangi bunga Kamboja menguar di sekitar pemakaman. Papa kini sudah tenang di sana. Aku masih duduk memegangi nisan Papa yang baru saja ditancapkan dalam ke tanah. Kali ini aku berusaha kuat, meski air mata masih terus mengalir.
Mama terlihat sangat lelah, matanya sembab karena menangis. Kehilangan teramat besar yang dialaminya, merupakan pukulan telak untuknya. Dia telah kehilangan cinta sejatinya, selama bersama Mama dan Papa tidak pernah terdengar sekalipun berdebat, apalagi bertengkar. Mereka selalu membagi kasih sayang satu sama lain dengan kelembutan.
Saka melirik ke arahku seraya mengangguk, mengajakku untuk berdiri dan memapah Mama yang masih dirundung sedih.
"Ma, ayo kita pulang. Papa sudah beristirahat dengan tenang."
Mama hanya mengangguk, sekali lagi dia mengusap nisan Papa di mana di sana tertulis nama Papa. Suami yang sangat dicintainya.
Pelan, Mama berdiri dan mengajakku untuk pergi dari pemakaman. Ada perasaan enggan, namun bagaimana pun juga, kita semua tidak boleh larut dalam kesedihan. Papa tidak akan suka itu.
Selama perjalanan pulang, tidak ada yang berbicara. Suasana dalam mobil sangat senyap. Saka melajukan mobilnya dengan hati-hati. Mama melihat keluar jendela, entah apa yang berkecamuk dalam hatinya. Namun yang kutahu, Mama pasti memikirkan Papa. Apalagi meninggalnya Papa adalah hal yang mengejutkan bagi kita semua.
Tak pernah terlintas di benak kita semua kalau Papa akan pergi begitu cepat. Tidak ada firasat apapun, apalagi tanda-tanda sakit, namun Papa pergi begitu saja.
Sesampai di rumah, Mama masih tak bicara. Dia langsung masuk kamar dan tidak keluar lagi. Aku dan Mas Saka pun masuk ke dalam kamar.
"Mas, bisakah untuk sementara kita tinggal di sini? Menemani Mama melewati masa berduka karena kehilangan Papa."
"Terserah kamu sayang, aku selalu ikut apapun yang kamu inginkan. Mama memang butuh kita di sini."
"Terimakasih karena kamu telah mengerti situasi ini. Dan maaf jika aku tidak bisa melayani kamu dengan baik saat ini."
"Tidak masalah sayang, kamu harus kuat. Kamu juga harus menghibur Mama. Dia pasti sangat terpukul."
"Heemm"
Sebelum tidur, aku melihat kondisi Mama terlebih dulu. Mama sudah tertidur, dia memeluk figura Papa. Melihat itu, hatiku sangat sedih, kasihan Mama. Aku mendekati Mama dan mencium kening Mama.
__ADS_1
"Selamat tidur Ma, Mama pasti kuat."
Aku keluar dari kamar Mama dan menutup pintu pelan. Agar tidak mengganggu Mama yang sudah tertidur.
***
Keesokan harinya, terdengar suara peralatan masak beradu. Aku melihat Saka sudah tidak ada lagi di sisiku. Ah jangan-jangan dia yang sekarang sedang sibuk di dapur. Aku bergegas masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Aku turun ke lantai bawah untuk melihat apa yang sedang terjadi di dapur. Aku melihat Saka sedang sibuk mengaduk nasi goreng, oh ternyata Mama juga ada di sana sedang membantu Saka menyiapkan sarapan pagi.
"Sepertinya hanya aku di rumah ini yang tak tahu diri. Hehe, kalian sudah di dapur aku malah masih asyik dengan mimpiku." Ucapku seraya mendekat ke samping Saka dan mencium aroma nasi goreng seafood yang begitu menggugah selera.
"Hai sayang, kamu sudah bangun."
"Sepertinya enak. Selamat pagi Ma! Mama sudah merasa lebih baik?"
"Sudah sayang. Sekarang siapkan piring di meja makan, sebentar lagi semuanya sudah siap dan mari kita semua sarapan." Jawab Mama tersenyum. Kali ini Mama seperti sudah berhasil mengatasi kesedihannya. Aku turut senang akan hal itu.
"Jangan! Tidak boleh seperti itu. Ini bawa ke meja makan, kamu boleh makan sepuasnya di meja makan."
"Kamu yang terbaik sayang." Jawabku seraya menatap manja ke arah Saka.
Bahkan ketika dia sedang masak, aura ketampanannya tidak pudar sama sekali. Malah semakin bertambah, setidaknya itu yang kulihat dari aura pria yang baru saja menjadi suamiku itu.
Kami semua sudah berada di meja makan dan bersiap menyantap sarapan pagi hari ini. Kulirik lagi wajah Mama yang tampak tenang. Dia benar-benar bisa mengatasi kesedihannya. Aku turut senang, semuanya akan segera membaik. Aku yakin itu.
"Ma, tidak apa-apa kan kita tinggal di sini sementara waktu?" Tanyaku pada Mama.
"Kamu ini bicara apa? Ini kan rumahmu juga, tentu boleh kamu tinggal di sini selama apapun yang kamu mau sayang. Justru Mama akan senang jika selamanya kamu tinggal di sini bersama Mama."
__ADS_1
"Baiklah. Kami akan menemani Mama di sini, iya kan sayang?" Tanyaku pada Saka.
"Tentu saja sayang, bila perlu kita tidak usah kembali ke apartemen. Kamu di sini saja, menemani Mama menikmati hari tuanya. Dan, aku mau kamu tidak usah kerja lagi. Biarkan asisten kepercayaan kamu yang mengurus semuanya."
"Mengenai hal itu, aku akan bicara dulu dengan Nia. Aku juga harus menyelesaikan beberapa urusan jika memang harus melepas usaha itu sayang."
"Baiklah. Lakukan yang terbaik sayang."
Selesai sarapan pagi, kita semua pergi mandi dan berganti pakaian. Hari ini, aku akan ke kantor pusat untuk mengecek semua penjualan selama aku meninggalkan toko. Saka akan kembali ke restoran juga akan melakukan hal yang sama.
Kita berdua berangkat bersama, Saka mengantarku terlebih dahulu ke kantor pusat. Sampai di kantor aku langsung bertemu dengan Nia.
"Bawa semua laporan keuangan masuk ke ruangan saya ya."
"Baik Bu. Segera saya siapkan."
Aku pun masuk ke dalam ruangan tempat di mana aku sering menghabiskan waktu. Tidak lama kemudian, Nia masuk membawa setumpuk Map berisi laporan keuangan selama beberapa minggu terakhir.
Setelah meletakkan map-map tersebut, Nia pamit untuk kembali ke mejanya. Namun sebelum itu dia mengucapkan turut berduka cita atas kepergian Papa yang begitu tiba-tiba .
"Turut berduka cita Bu. Semoga almarhum di tempatkan di sisi Tuhan yang Maha Esa."
"Terimakasih Nia."
Sepeninggal Nia dari ruanganku, aku segera mengecek tiap laporan itu dan mendapati semua laporan keuangan dalam kondisi stabil dan sangat baik. Ada beberapa peningkatan penjualan di beberapa toko. Tentunya itu membuatku bangga atas pencapaian yang selama ini telah dilakukan.
Aku bersyukur memiliki karyawan sekaligus asisten yang dapat dipercaya seperti Nia. Dia mengerjakan pekerjaan yang kuberikan dengan sangat baik. Jika memang tiba waktunya, maka segalanya kubiarkan Nia saja yang mengurus. Agar aku bisa lebih fokus ke keluarga, juga bisa merawat Mama.
Aku berjanji tidak akan pernah membiarkan Mama sendiri. Apalagi dia telah kehilangan orang yang sangat dicintainya. Walau Mama terlihat tegar, tapi aku sangat yakin Mama selalu memikirkan Papa dan itu terkadang membuatnya sedih.
__ADS_1
Kematian adalah sesuatu yang tak dapat kita hindari. Dia bisa saja datang tak diduga, kadang disaat kita tertidur, bekerja, atau bahkan di saat kita tengah menyanyikan lagu kesayangan kita. Jadi tak ada sesiapapun yang bisa menghindarinya. Semoga saja, saat waktu itu tiba, kita semua telah siap.
***