
Mobil yang mereka kendarai ternyata mengarah ke bangunan kosong yang kini tak jauh dari jarak mereka. Di depan bangunan itu ada satu buah motor dan satu buah mobil yang sepertinya itu adalah miliknya Femi.
Riana ingin segera melompat keluar dari mobil Tefan, namun pria itu menahan tangan Riana.
"Kita harus hati-hati, Riana. Jangan gegabah!"
"Tapi Kiano sama mereka, Fan. Aku nggak bisa biarin mereka menyakiti Kiano!" ucap Riana naik satu oktaf karena rasa panik dan cemas yang menderanya.
"Aku tahu, tapi kita tetap harus hati-hati Riana. Di dalam itu ada bahaya yang mengintai. Jangan sampai bisa membahayakan kamu juga."
"Aku tidak peduli bahaya apa yang akan menimpaku di dalam sana, Kiano harus selamat. Itu saja."
Akhirnya Tefan nyerah. Dia pun ikut turun dan mengikuti Riana tanpa rencana apapun.
Riana mendorong pintu bangunan tua itu, namun sepertinya terkunci. Tefan membantu Riana, hingga akhirnya mereka berhasil membuka pintu tersebut menggunakan batu besar.
Kedatangan mereka disambut anak buah Femi. Tefan menarik lengan Riana untuk bersembunyi di belakang Tefan. Salah satu dari mereka berdua menyerang Tefan. Tefan berhasil menghindar, lalu satu orang lagi melayangkan tinjunya ke arah Tefan namun meleset.
Riana tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk mencari di mana Femi menyembunyikan Kiano.
"Kiano ...!" panggil Riana.
Riana membuka satu persatu ruangan itu namun tak ada Kiano dan Femi di sana. Sampai satu suara tertangkap telinga Riana dan itu seperti bersumber dari ruangan paling ujung.
Riana segera mendekat. Dia mendorong pintu ruangan itu.
Krieeet ...!
Bunyi pintu terdorong. Ruangan itu gelap. Sangat gelap. Riana mengambil ponselnya untuk penerangan. Namun belum sempat menyalakan senter di ponselnya.
Bughhh ...!
Tiba-tiba sebuah hantaman benda tumpul mengenai bahunya. Disusul suara tawa perempuan yang lebih mirip kuntilanak, cocok dengan suasana gelap di ruangan itu.
"Bunda ...!" pekik Kiano.
Dengan rasa sakit yang dirasakan Riana di bahunya, dia pun perlahan bangun. Seketika lampu menyala. Femi sedang melingkarkan lengannya di leher Kiano. Sehingga anak itu tampak kesulitan untuk bicara dan bernafas karena sesak.
"Lepasin, Kiano!" teriak Riana.
"Tidak kusangka kamu berhasil menemukan kami di sini. Sudah kubilang padamu Riana, jangan pernah menggoda Tefan dan jadi perusak hubunganku dengannya."
"Dasar wanita tak tahu diri. Jika seorang pria tidak mencintai kamu, maka jangan memaksakan diri. Kiano tidak ada urusannya dengan masalah ini. Kenapa kamu harus mengorbankan anak kecil yang bahkan tidak tahu apa-apa?"
"Karena kamu sangat mencintai anak ini, maka hanya dengan cara ini kamu dengan sukarela melepaskan Tefan. Pilih anak ini selamat, atau hubungan kamu dengan Tefan yang kamu korbankan?"
__ADS_1
Riana melangkah maju. Selangkah demi selangkah.
"Aak ... Bunda ... sakit!"
"Kiano sayang, kamu anak yang hebat dan kuat. Bertahanlah!"
"Jangan mendekat! Berhenti di sana atau anak ini mati karena sesak."
"Lepaskan, Kiano!" teriak Riana.
Lalu Kiano seperti mendapat Ilham, anak itu pintar sekali. Dia menggigit lengan Femi yang menekan lehernya. Hingga wanita itu berteriak kesakitan dan melepaskan lengannya di leher Kiano.
Kiano berlari memeluk Bundanya. "Sayang kamu tidak apa-apa, kan?" Riana memeriksa tubuh Kiano.
"Tidak, Bun. Kiano baik-baik saja."
Riana segera berdiri dan meminta Kiano agar menyingkir sebentar ke tempat yang lebih aman. Femi hendak mendekat dan menampar Riana, namun tangan Femi hanya menggantung di udara. Sebab Riana lebih dulu menahan tangan wanita itu dengan sekuat tenaganya.
"Aku sudah peringatkan juga padamu, jangan pernah cari masalah denganku!" ucap Riana geram.
Lalu tangan Femi dia hempaskan dengan kasar. Wanita itu meringis kesakitan akibat cengkraman tangan Riana yang terlalu kuat.
Plak!
Satu tamparan keras menyentuh wajah Femi. Wanita itu menatap Riana dengan tajam.
Plak!
Satu tamparan mendarat lagi dengan keras ke pipi satunya. Kali ini Femi hanya bisa memegangi wajahnya yang sakit.
"Tentu aku berani. Itu ganjaran untuk yang sudah menculik anakku. Jangan pikir aku tak berani melawanmu, Fem. Aku diam selama ini hanya karena aku tidak mau buang tenagaku untuk melayani wanita sinting kayak kamu!"
"Arrhhh ... awas kau!" Femi menyerang Riana dengan menarik rambut Riana.
Riana sedikit kesulitan untuk membalas. Kiano melihat bundanya yang kesakitan tidak mau tinggal diam. Dia menarik baju Femi kuat-kuat, hingga nyaris mencekik leher Femi. Tarikan kuat di tangan Femi pun mengendur dan Riana tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk membalas Femi.
Riana mendorong wanita itu hingga jatuh tersungkur ke lantai kotor dipenuhi kecoa.
"Kiano, lari!" teriak Riana.
Kiano menuruti Bundanya, dia segera bergegas keluar dari ruangan itu.
"Bunda ... ayo!"
Riana melirik ke arah Kiano. Kemudian dia punya ide. Sebelum Femi berhasil berdiri, Riana segera ikut keluar dari ruangan itu. Kemudian menutup pintunya rapat-rapat dan menguncinya.
__ADS_1
Kiano tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kelincinya.
"Kerja bagus, sayang!" puji Riana pada Kiano.
"Riana ... buka! Buka ...!" Masih terdengar teriakan-teriakan dari Femi yang terkunci di dalam ruangan itu.
"Nikmatilah hari-harimu di dalam sana wanita gila!" ucap Riana sebelum meninggalkan tempat itu.
"Ayo sayang, kita bantu Om Ganteng melawan penjahat!"
"Ayo, Bun!"
Sampai di ruang depan, Tefan terlihat sudah membereskan dua orang anak buah Femi itu hingga tak berdaya.
"Om ...!" Kiano berlari ke arah Tefan, memeluk laki-laki itu dengan sayang.
"Kamu tidak apa-apa, jagoan?"
"Aman, Om. Kiano kan anak pintar!"
Riana tersenyum memperhatikan keakraban dua pria di depannya itu.
"Mana, Femi?"
"Terkunci di dalam ruangan di mana dia menyekap Kiano."
Ada gelak tawa yang coba disembunyikan Tefan dan Riana. Mereka bertiga pun meninggalkan tempat itu lalu pulang.
"Kamu memang jagoan!" cubit Tefan di pipi Kiano yang gembul itu.
"Bunda ... Om ganteng! Terimakasih ya sudah nolongin Kiano dari Tante jahat."
"Lain kali, Kiano harus lebih hati-hati ya sayang!" ucap Riana lembut pada Kiano yang saat ini tengah di pangkunya.
"Iya, Bun. Kiano pasti sudah membuat bunda khawatir ya? Tadinya Kiano takut, tapi ingat lagi kata-kata bunda bahwa Kiano anak yang hebat tidak boleh jadi penakut."
"Anak pintar. Fan, kita mampir sebentar beliin Kiano minum ya. Dia pasti sangat shock!"
"Sekalian saja kita makan siang bersama."
"Ye ... akhirnya bisa makan siang lengkap seperti ini. Om ganteng! Boleh tidak Kiano panggil, Papa?"
Tefan terkejut, lebih-lebih Riana. Namun dia tak bisa menahan Kiano karena melihat wajah Kiano yang sangat bahagia.
"Boleh. Kiano boleh panggil apa saja."
__ADS_1
"Berarti mulai sekarang, Kiano punya papa dong. Yeee!" serunya senang.
Tefan melayangkan senyum penuh makna ke arah Riana. Wanita itu hanya terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa.