
"Riana..."
Tidak peduli berapa kali dia memanggil aku tetap melangkah pergi. Tadinya aku sangat mules, namun jadi tidak lagi. Aku meninggalkan toilet yang bahkan aku masuk ke sana juga belum. Sial.
Aku bergegas meraih tasku di meja, Brenda dan Nia terperangah melihat perubahanku. Mungkin dia berasumsi bahwa aku baru saja bertemu setan di toilet. Bukan, bukan setan ini bahkan lebih dari setan yang aku tidak ingin lagi bertemu dengannya.
"Brenda aku pergi dulu ya, ada hal penting yang harus kuselesaikan. Nia, kita pergi!" Ucapku dengan segera lalu beranjak pergi dari toilet.
Malang tak dapat dihindari, mungkin kali ini memang takdirku harus bertemu dia lagi di sini.
"Riana Please! Sebentar saja." Tefan lagi-lagi meraih lenganku yang saat tadi sudah keluar dari Kafe.
Nia terheran-heran dengan sendirinya, lalu aku memberi kode padanya untuk menunggu di mobil.
"Oke sekarang kamu bilang apa yang ingin kamu katakan. Aku buru-buru, tidak punya waktu hanya untuk bersantai-santai di sini."
"..."
Dia diam.
Setelah diamnya yang berasa cukup lama, akhirny dia bicara satu hal yang bikin aku tidak habis pikir apa yang sedang ada dalam kepalanya.
"Aku merindukanmu."
Apa-apaan sih nih orang. Baru saja ketemu beberapa menit yang lalu sudah seberani ini mengungkap rindunya padaku. Hebat yah.
"Sudah?" Tanyaku ketus dengan raut wajah tak bersahabat.
Aku sengaja memasang tampang seperti itu, agar dia berhenti menggangguku. Semua sudah berubah, jangan harap ada Riana yang dulu lagi.
"Baiklah aku tidak akan menahanmu jika kamu mau pergi sekarang." Jawabnya dengan nada pelan namun terdengar sangat getir.
Maafkan aku, karena semua sudah berbeda sekarang.
Aku pergi tanpa sepatah kata perpisahan untuknya. Aku masuk ke dalam mobil dan kulihat dia sedang meremas rambutnya dan mengusap wajahnya.
Jadi dia ada di sini sekarang? Ah mengapa hatiku menjadi tidak tenang. Setelah Papanya kenapa sekarang aku harus berhubungan lagi dengan anaknya sekarang?
Mobil yang kukemudikan perlahan menjauh dari Kafe, Nia yang sedari tadi hanya diam akhirnya bicara.
"Mba baik-baik saja? Siapa pria tadi?" Tanyanya hati-hati, mungkin takut aku tersinggung.
"Aku baik-baik saja. Tadi itu bukan siapa-siapa."
Maaf aku harus berbohong padamu Nia, bukannya aku tidak ingin berbagi kisah hidupku. Aku hanya berusaha menjaga suasana hatiku sekarang yang mulai seperti memburuk karena pertemuan tak disengaja tadi.
"Oh!" Jawabnya pendek.
Akhirnya kembali diam lagi. Suasana di mobil begitu sunyi, hanya terdengar deru mobil dan klakson beberapa mobil yang lalu lalang.
"Nia, mau aku antar ke mana? Balik ke kantor atau ada yang ingin kau kerjakan dulu di tempat lain?"
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah janjian dengan tunanganku di pusat perbelanjaan. Jika mba tidak merasa keberatan, aku minta di antar ke sana."
"Baiklah. Sekalian saja. Aku juga mau ke restoran Saka siang ini."
"Saka akan masak lagi untuk mba ya? Wah kayaknya seru tiap hari dimasakin terus sama pasangan. Sayangnya tunanganku sama sekali tidak bisa memasak."
"Ha ha ... Kamu ini ada-ada saja. Lagian siapa yang berpasangan sama Saka."
"Loh mba, bukannya kalian sangat dekat? Walaupun di awal-awal terlihat kayak anjing sama kucing. Gak mau akur gitu."
"Kamu perhatiin sampai segitunya?"
"Ya elah mba, sudah jadi rahasia umum. Bukan cuma aku kali yang perhatiin mba. Semua karyawan juga melakukan hal yang sama."
"Oh jadi sekarang aku tahu selama ini kalian bergosip ya tentang bos kamu."
Nia tersenyum mendengarku berkata seperti itu. Mungkin dia tahu kalau aku berkata itu bukan karena marah.
"Sedikit. He he. Lagian mba sama Mas Saka cocok tahu."
"Ya ya... whatever you say-lah."
Aku berhentikan mobil di depan salah satu pusat perbelanjaan yang terlihar begitu megah.
"Makasih mba. Hati-hati yah!"
Setelah dadah dadah aku pun pergi dari sana dan melanjutkan perjalanan ke arah restoran Saka.
***
"Siang." Kubalas dengan senyuman.
"Mas Saka di tempat biasa mba, mau aku antar?" Ucap pelayan perempuan yang baru saja mengantarkan pesanan.
"Baik. Antar aku ke sana."
Aku pun mengikuti langkah pelayan itu, tidak lama kemudian aku akhirnya sampai di sebuah dapur yang sangat besar dan luas, di dominasi warna putih keemasan. Walaupun dapur merupakan pusat semua kegiatan masak-memasak, tapi dapur tersebut kelihatan sangat bersih.
Rupanya Saka sangat menjaga kesterilan dari seluruh bahan dan alat masak memasaknya. Semua tampak sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Aku lalu mendekat ke arah Saka yang terlihat sedang sibuk memasak sesuatu.
"Perlu aku bantu?"
"Aku tidak mau kamu kotor."
"Tidak kok, lagian aku mau belajar masak dari kamu."
"Bener nih?"
"Bener."
__ADS_1
"Ya sudah, sinih. Jangan lupa pakai celemek dan sarung tangan atau cuci tangan kamu dulu."
"Siap Tuan Bos!"
Saka tertawa melihat tingkahku. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti orang yang tidak habis pikir aku bersikap seperti itu.
Proses masak memasak berlangsung seru, sangat terlihat kalau Saka sangat mencintai hobi dan profesinya sebagai koki.
Aku hanya membantu sekedar saja. Terkadang malah merecoki Saka yang sedang masak. Lalu tertawa karena tingkah konyol itu.
Selesai masak memasak, Saka membawaku ke salah satu ruangan yang terbilang privat. Di sana aku disuruh duduk dan menunggu masakan tadi dibawa masuk oleh pelayan.
Kita berdua menikmati makan siang bersama. Bukannya serius makan, Saka malah lebih banyak menatapku. Aku yang menyadari itu jadi kikuk sendiri.
"Memangnya kamu akan kenyang ya jika hanya menatapku seperti itu terus?"
"Aku tidak bisa menghalau mataku dari menatapmu. Kamu cantik Riana."
Deg!
Aku terkejut dengan ucapannya barusan. Dia memujiku setinggi langit. Memangnya tidak takut kecewa apa?
"Kamu ini muji terus ya. Gak bosan?"
"Nggak."
"Kamu itu memang cantik dan aku tidak akan pernah bosan."
Ucapnya lagi meyakinkan.
Akhirnya aku berhenti makan dan menatapnya dalam. Seperti mencari keseriusan itu, benarkah ada di sana? Lalu yang kudapati hanyalah matanya yang tenang dan seperti pusaran air membawaku hanyut ke dalamnya.
"Kamu serius dengan ucapanmu? Aku tidak mau kamu kecewa."
"Aku serius."
Lalu dia bergeser dari tempat duduknya dan mendekat padaku. Berdiri di sisiku dan meraih pundakku untuk ikut berdiri mensejajari tubuhnya.
"Riana, aku tidak pernah main-main dengan perasaanku. Sejak pertama kali bertemu dengan kamu, aku sudah yakin menempatkan hatiku."
Hatiku bedesir mendengar setiap kalimat yang diucapkannya. Aku hanya terdiam, sementara jarak kami sudah sangat dekat. Dia mengambil kedua tanganku dan menaruhnya di pinggangnya. Lalu kedua tangannya menyentuh tengkukku dan perlahan dia menunduk dan merengkuh bibirku lewat bibirnya.
Bibir kami bertemu dan lumatan-lumatan kecil pun perlahan dilakukan oleh Saka. Lalu berangsur menjadi lumatan besar yang membuat aku kesulitan untuk bernafas. Dia akhirnya melepas lumatan itu seperti memberiku ruang dan waktu untuk bernafas sejenak sebelum akhirnya dia kembali melumat bibirku atas bawah. Memaksa aku agar membuka mulut dan membiarkan lidahnya memasuki rongga mulutku.
Ciuman itu berlangsung beberapa menit sampai akhirnya dia menarik bibirnya dan mengecup keningku lembut.
*Ah jangan tanya perasaanku seperti apa. Kalian tentu tahu itu.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung*....