Complicated Love #2

Complicated Love #2
Musim Kedua: Kematian Saka


__ADS_3

Suara ambulans yang meraung-raung telah terdengar dari kejauhan. Semua orang berdiri dan beranjak ke depan. Tak terkecuali Riana yang meski dalam kondisi lemah, dia memaksakan diri untuk bisa menyambut jenazah suaminya.


Kiano sudah tidur sejak tadi. Sehingga Riana bisa dengan leluasa menyambut para tamu yang datang melayat. Tak lama kemudian mobil ambulans memasuki pekarangan rumahnya. Semua orang menunggu dengan cemas dan berbalut kesedihan.


Mama Saka turun lebih dulu. Disambut peluk dan jerit tangis adik Saka juga Riana. Petugas menurunkan brankar berisi jenazah Saka. Semua orang dilarang mendekat, apalagi untuk melihat jenazah Saka yang seluruh tubuhnya hangus terbakar.


Setelah jenazah diletakkan di atas tempat tidur yang telah disediakan pihak keluarga, semua orang berkerumun mendekat. Ingin tahu lebih jelas atau melihat bagaimana kondisi terakhir Saka. Namun jangankan melihat, dokter sudah berpesan bahwa tak ada yang boleh melihat jenazah itu. Bukan apa-apa, keseluruhan tubuh Saka menghitam hangus, tidak bisa dikenali lagi.


Mama Saka yang terus mendampingi kedatangan jenazah pun, tak diberi keleluasaan untuk melihat anak sulungnya itu. Dengan berat hati, Riana harus menerima kenyataan itu. Tidak bisa melihat wajah suaminya untuk terakhir kalinya. Hanya menatap tubuh kaku terbujur dan tertutup kain itu.


Riana pingsan, dia tak sanggup menerima kenyataan pahit itu. Hingga keesokan harinya, saat jenazah Saka hendak dikuburkan, dia kembali pingsan. Kiano diurus oleh pengurus rumah tangga di rumah Mamanya Saka. Hingga jenazah Saka dimasukkan ke dalam liang lahat, Riana seakan masih belum rela melepas kepergian suaminya itu.


Semua teramat pedih. Kenyataan bahwa dia baru saja membina rumah tangga yang membuat siapapun akan iba melihat kondisi Riana yang harus ikhlas ditinggal suami. Kini dia hanya menangis di atas pusara suaminya. Tanah yang masih basah, wangi bunga yang masih segar, tercium jelas di penciuman Riana.


Betapa Tuhan mengujiku dengan banyaknya cobaan. Pertama Ayahku, kedua Ibuku, dan sekarang suamiku. Aku tidak tahu apa aku sanggup melanjutkan hidup. Rasanya seperti ingin ikut mati saja. Kehilangan ini teramatlah berat.


Hari pertama dilaluinya masih dengan air mata. Kemudian hari demi hari makin terasa berat olehnya. Terus berlanjut saat seluruh usahanya mangkrak dan tak terurus. Usaha restoran Saka mengalami penurunan omzet hingga harus terpaksa tutup.


Mertuanya yang tiba-tiba berubah, seluruh anggota keluarga Saka yang berbalik membencinya. Menganggap bahwa kematian Saka adalah karena dirinya yang bernasib buruk. Pertama Ayahnya, kedua Ibunya, sekarang suaminya. Orang-orang di lingkaran keluarga Saka berasumsi bahwa semua itu karena dirinya yang terkutuk.


Kesedihan Riana semakin bertambah setiap harinya. Bertahun-tahun berlalu, dia membesarkan Kiano dengan tertatih. Apartemen beserta rumahnya terpaksa dia jual untuk bertahan hidup di rumah kontrakan kecil di bilangan Bandung. Ya, dia kembali ke Bandung. Tempat kelahirannya yang penuh dengan kenangan bersama ayah dan ibunya.


Kemudian hal itu tak bertahan lama, hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengadu nasib ke Bali. Dia tak pernah lagi mendengar kabar tentang keluarga Saka, keluarga Saka juga tak pernah bertanya lagi mengenai kondisi Riana dan juga anaknya. Beruntunglah bahwa Riana masih mendapatkan hak asuh anaknya. Jika tidak mungkin dunianya sudah runtuh dan hidupnya tak bisa bertahan lama.


Selama ini dia bertahan karena anaknya, Kiano. Dia rela melakukan pekerjaan apapun demi Kiano. Dia menghubungi temannya yang ada di Bali dan mau menerimanya untuk sementara waktu. Sahabat lamanya yang bernama Nina, tak pernah lagi dia kabari. Dia tak ingin menyusahkan Nina lagi. Baginya, dia sudah cukup menyakiti dan menyusahkan Nina di masa lalu. Dia tak ingin menambahnya lagi dengan terus meminta bantuan pada Nina.


Kini Riana sudah mampu menata hidupnya kembali. Meski harus terlunta-lunta di jalan pada awalnya. Dia memulai lagi bisnis barunya di dunia aksesoris. Meski bisnis tersebut tidak ada perubahan yang terlalu signifikan. Setidaknya dia masih mampu bertahan hidup bersama Kiano.


"Bunda...!" Panggil Kiano yang membuyarkan lamunan Riana siang itu.


"Ada apa, sayang?"


"Bunda kok dari tadi diam saja? Terus Bunda kenapa menangis? Bunda ingat Ayah ya? Sini Bun, Kiano peluk. Biar Bunda tidak sedih lagi dan rindu Bunda ke Ayah bisa sedikit terobati."


Riana takjub dengan kalimat Kiano yang terlihat dewasa sebelum waktunya. Dia mengerti kondisi dan apa yang tengah dirasakan Ibunya.

__ADS_1


Riana pun membentangkan tangan untuk memeluk tubuh kecil Kiano, anaknya. Riana mencium puncak kepala Kiano dengan penuh kasih sayang.


"Wah..., ada apa ini? Kok tiba-tiba ada adegan romantis begini? Peluk-pelukan segala lagi." Sapa Jen yang baru saja datang.


"Bunda lagi sedih, Tan. Kiano lagi berusaha menghibur Bunda biar tidak sedih lagi. Bunda pasti lagi ingat ayah, makanya dia nangis."


Ucapan polos Kiano membuat Jeni terperangah sekaligus tak percaya dengan kedewasaan berpikir Kiano.


"Ooh..., manis sekali!" Jeni pun memeluk Kiano memberikan penghargaan untuk Kiano yang sudah membuat Ibunya tak sedih lagi.


Riana hanya tersenyum melihat pemandangan indah di depannya itu.


"Eh, hari ini gimana? Siap tidak bertemu dengan orang yang kemarin aku ceritain ke kamu?"


"Orang yang mana?"


"Itu loh pemilik resort yang tempo hari kuceritakan padamu. Yuk, ke tempat dia yuk!"


"Memangnya harus sekarang ya? Mendadak sekali."


"Oh gitu."


"Ya udah ayuk!"


Riana terlihat berpikir sejenak, dia belum memutuskan apapun tapi Jeni sudah menariknya lagi untuk keluar dan masuk ke dalam mobil dia. Kiano sampai ketinggalan di dalam karena lupa.


"Eh, Kiano mana Jen?" Tanya Riana sudah panik.


"Astaga. Kiano masih di dalam. Tunggu sebentar, aku panggil dia dulu. Hehe."


Jeni turun dari mobil dan masuk ke dalam toko untuk memanggil Kiano. Anak itu rupanya sedang asyik bermain mobil-mobilan. Jeni geleng-geleng kepala, bagaimana bisa anak itu seanteng itu padahal tidak ada orang satu pun.


Kiano, Kiano..., kamu memang anak yang pintar. Tidak pernah menyusahkan bundanya. Gemes deh.


Jeni pun berjalan keluar dengan menenteng tangan kecil Kiano. Saat sampai di mobil, Riana pun memeluk Kiano. Dia tak bisa bayangin bagaimana rasanya jika harus kehilangan anak semata wayangnya juga. Huh.

__ADS_1


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Kiano sibuk melihat ke arah pemandangan sepanjang jalan. Dia terus saja berbicara, bertanya dan riang sendirian. Riana mengawasi Kiano dengan sesekali menengok ke belakang atau melihat dari balik kaca spion.


Setelah perjalan kurang lebih 45 menit, mereka pun memasuki area Resort yang sangat luas. Di sana terdapat aneka permainan, taman, kolam renang dan banyak fasilitas lagi yang lainnya. Riana sampai takjub melihat itu semua. Kiano dengan riang melompat-lompat ingin segera turun dan menikmati semua fasilitas yang baru saja dilihatnya.


"Ini sih luas banget, Jen. Orangnya sudah pasti konglomerat ini." Gumam Riana menatap takjub ke sekitar.


"Yaps, benar sekali. Gimana indah banget kan? Kalau kamu beruntung, kamu bisa kerja di sini dengan gaji yang lumayan banget."


Riana menelan ludah. Sudah lama dia tak pernah memegang uang banyak. Haha.


Riana sempat melihat nama resort itu, Ri' Resort. Itulah nama resort terluas dan terindah di Bali itu yang pernah dilihatnya. Riana masih takjub dan tak berhenti mengagumi setiap yang dilihatnya.


Mobil berhenti di parkiran yang letaknya tak begitu jauh dari pintu lobi. Mereka pun turun dan segera menuju lobi.


Jeni menunjukkan kartu nama dan juga bukti janji temu dengan pemilik resortnya langsung. Setelah resepsionis memeriksa semuanya dan dia juga sudah menghubungi asisten pemilik resort itu, mereka pun disuruh menunggu di suatu tempat yang terbilang privat.


Riana dan Jen juga Kiano tak henti memuji seluruh pernak pernik klasik yang dilihatnya sepanjang jalan menuju ruangan pertemuan.


Hingga tibalah mereka di sebuah tempat dengan pemandangan laut di bawahnya, angin sepoi-sepoi dan juga berbagai bunga di sekitarnya.


Riana bukan takjub lagi, tapi dia sangat terpesona, hingga dia harus terdiam cukup lama memandangi semua ciptaan Tuhan itu.


Merekapun duduk di sebuah kursi yang disediakan di tempat itu. Tak lama seseorang muncul untuk memberitahukan bahwa sebentar lagi bosnya akan keluar.


Lima belas menunggu. Orang yang ditunggu-tunggu itupun datang. Riana belum melihat ke arah orang itu datang. Namun saat Kiano berteriak, "Om Ganteng!!!" Semua yang dilihat Riana mendadak berubah abu-abu.


Riana terkejut, begitu juga Jeni yang terpana melihat Kiano berlari menyongsong kedatangan orang yang sejak tadi ditunggu-tunggu itu. Riana, bengong melihat pemandangan itu. Dia kelabakan tidak tahu harus berbuat apa.


*


*


*


Terimakasih sudah mampir. Jika ada poin bolehlah vote novel ini hehe. Biar author makin semangat untuk menulis lagi. jangan lupa untuk tinggalkan komen dan juga like ya.

__ADS_1


__ADS_2