
"Hei jagoan! Sudah puas kelilingnya?" ucap Tefan seraya menggendong Kiano.
"Om Ganteng, Kiano bukan anak kecil lagi. Turunin!" elak Kiano lucu.
Riana tak bisa menahan tawanya. Ekspresi Kiano yang tak suka ketika digendong dengan alasan sudah gede itu sangat-sangat menggemaskan.
"Oh ... jadi anak Bunda sekarang udah gede nih? Nggak perlu ditemani mandi sama bunda atau Kak Nadia lagi?" sentil Riana pada hidung anaknya.
"Emm ... tapi Kiano masih takut mandi sendiri Bun. Bunda kan tahu Kiano punya pengalaman buruk saat di kamar mandi."
Kiano itu punya kesan buruk dengan mandi sendiri di kamar mandi. Waktu itu masih di rumah kontrakan yang lama, dia ditinggal mandi sendiri di oleh bundanya. Terus tiba-tiba lampu di kamar mandi padam, gelap semuanya. Kiano nangis sampai tidak mau masuk kamar mandi lagi jika sendirian.
Entah itu siang atau malam, dia tetap tidak mau ke kamar mandi sendirian. Harus ditunggui. Ada-ada saja Kiano.
"Kiano merestui Om menikah dengan Bunda, kan?" tanya Tefan masih penasaran ingin mendengar pendapat Kiano.
"Tapi dengan syarat, Om Ganteng harus baik sama Bunda. Tidak akan nyakitin bunda, apalagi buat bunda nangis. Jika Kiano dengar, Om nyakitin Bunda maka Kiano akan sangat marah pada Om."
Wajah Kiano dibuat sedewasa mungkin, mulutnya dimonyongin agar terlihat seperti orang marah beneran. Astaga, Kiano kamu sangat menggemaskan.
"Janji!"
"Ok, Kiano pegang janji Om."
Akhirnya kedua pria itu pun sepakat. Mereka saling menautkan jari kelingking sebagai tanda kesepakatan.
Kini mereka bertiga duduk menghadap laut, persis seperti keluarga lengkap yang selalu diimpikan Kiano. Melihat Tefan begitu sayang pada Kiano, Riana menjadi sedikit melankolis. Dulu, dia tak pernah berharap akan ada lagi lelaki lain dalam hidupnya selain Kiano. Takut pria itu tak akan pernah bisa menyayangi Kiano dengan tulus. Namun, Riana melihat ketulusan Tefan dan itu membuatnya terharu sekaligus bahagia.
Usai makan malam, Tefan meminta Riana dan juga Kiano agar menginap saja di rumahnya. Rupanya Tefan tak rela jika malam itu berakhir dan menyisakan kesendirian lagi baginya.
"Malam ini menginap di sini ya?" tanya Tefan tapi dengan tatapan memohon.
"Boleh, Om?" jawab Kiano mendahului Bundanya.
"Boleh dong! Rumah ini terbuka lebar untuk Kiano dan bunda kapanpun ingin datang dan menginap. Suatu saat, rumah ini akan kita tinggali bersama juga kan?"
"Memangnya tetangga, Om tidak akan marah?" tanya Kiano polos yang disambut tawa oleh Riana dan Tefan.
Isi kepala Kiano memang ajaib. Mungkin di pikiran Kiano, tidak boleh menginap di rumah orang yang bukan keluarga (misal suami istri) nanti jatuhnya malah fitnah.
"Tetangga nggak pernah peduli sama Om, makanya sampai sekarang Om sendiri saja. Kiano mau kan tinggal di sini sama bunda? Biar Om tidak kesepian."
"Bisa om, Kiano mau. Bunda juga mau pasti, tapi setelah bunda nikah sama om dulu."
__ADS_1
Pintar sekali anak itu. Riana sangat baik dalam mendidik Kiano.
"Minggu depan ya?" jawab Tefan.
Kali ini Riana yang terkejut dibuatnya, mata Riana membulat ke arah Tefan.
"Kiano, lihat mata bunda tuh! Dia nggak mau nikah Minggu depan." Tefan berusah menggoda Riana.
"Lebih cepat lebih baik, Bun. Jangan menunda hal baik." Kiano berucap santai.
Haha. Astaga Kiano, kamu bikin malu bunda sayang. Duh, apa tidak terlalu mendadak ya? Malam ini saja baru lamaran, jika nikah Minggu depan aku belum mempersiapkan apapun. Mana bisa mendapatkan gaun pengantin dalam seminggu?
"Kok diam?" tanya Tefan.
"Apa tidak terlalu mendadak?"
"Tidak, sayang! Kamu tinggal bilang ya dan semua beres. Tidak perlu susah payah mengurus apapun."
"Gaun pengantinnya gimana?"
"Kan bisa kita cari besok! Berarti mau ya, nikah Minggu depan."
Tefan sudah memutuskan, Riana tak bisa lagi menolak. Kiano sedari tadi tersenyum ke arah dua orang yang sangat disayanginya itu.
"Kiano bahagia ... banget malam ini, Bun. Makan malam bersama, melihat senyum bunda yang malu-malu. Om ganteng yang baik banget dan sebentar lagi akan jadi Papa Kiano. Kiano sayang ... kalian!" tutur Kiano seraya memeluk Riana dan Tefan dengan tangan kecilnya.
***
"Sayang ... makan dulu yuk!" ucap Sheril pada suaminya --Raka-- ketika mereka sedang berada di pusat perbelanjaan di Bali.
Raka mengangguk cepat. Mereka segera mencari restoran yang cocok. Selain mereka, ada Ibu Raka dan juga kedua orang tua Sheril. Kedua adik Raka tampak masih sibuk berbelanja.
Tak sengaja, mata Riana tertuju pada dua gadis itu. Riana mengenalnya. Shena dan Serly adik Saka.
Apa kebetulan mereka berlibur di Bali?
Tefan yang menyadari Riana sedang kehilangan fokus saat memilih gaun, memperhatikan sorot mata Riana. Tefan merasa kalau Riana sedang memperhatikan dua gadis yang berbelanja di sebrang butik tempat mereka belanja.
"Ri ..., kamu kenal mereka?"
Riana mengangguk.
"Kalau begitu, kenapa tidak disapa? Sana, biar aku saja yang bicara dengan pemilik butiknya."
__ADS_1
Riana merasa sedikit terbantu dengan Tefan yang pengertian. Dia pun mendekati kedua gadis itu.
"Shena, Serly!" sapa Riana
Seketika dua gadis bernama Shena dan Serly itu terhenyak. Tak menyangka bisa bertemu Riana di tempat itu.
"Kak Riana ...!" jawab Shena gugup.
"Iyah. Kalian berlibur?"
"Emm ... iya kak. Sedang liburan!" jawab Serly.
"Mama sehat?"
"Sehat, Kak. Tuh di sana, mereka lagi makan di restoran." Shena keceplosan. Serly mencubit lengan Shena.
Mereka? Maksudnya siapa? Apa jangan-jangan apa yang kulihat sebelumnya benar Saka dan mereka menyembunyikan Saka dariku?
"Ah, enggak! Maksud Shena, Mama lagi makan sama teman-temannya. Iyah, begitu Kak." ucap Serly meluruskan.
Riana merasa ada yang disembunyikan oleh kedua mantan adik iparnya ini. Namun dia tak mau mengorek terlalu jauh.
"Begitu ya. Salam buat Mama." Ada nada getir begitu Riana mengatakan kalimat itu, sebab dia tahu bagaimana Mama mertuanya membencinya saat Saka meninggal. Dia dianggap menjadi penyebab meninggalnya suaminya sendiri.
"Iya, Kak. Nanti disalamin."
Riana pun pergi lagi untuk menemui Tefan. Pria yang akan menjadi suaminya sebentar lagi itu sedang mengangkat tinggi-tinggi sebuah gaun berwarna peach.
"Sayang, cantik ya!" ucap Tefan.
Riana yang kurang fokus tidak menimpali ucapan Tefan. Membuat pria itu harus mengulang kalimatnya agar Riana fokus lagi.
"Ya! Iyah cantik. Biar kucoba dulu." Riana mengambil gaun itu, tapi pikirannya sudah ke mana-mana.
Riana berputar-putar di depan cermin. Melihat dirinya dalam balutan gaun pengantin. Saka muncul dari balik tirai. Melihat Riana yang sedang mematut dirinya.
"Sayang, kamu cantik sekali!" ucap Tefan memuji.
"Terimakasih, pilihan kamu tidak salah. Gaunnya benar-benar sangat cantik."
Tefan memegang bahu Riana. Mereka bercermin dan melihat pantulan diri mereka masing-masing.
Aku sudah tak sabar menantikan waktu itu tiba.
__ADS_1
Tefan berbisik pelan di telinga Riana, seraya membalikkan tubuh wanita itu dan menciumnya dengan lembut.
Akhirnya ... dalam hitungan hari, kau akan segera jadi isteriku, Riana. Aku tak bisa menyembunyikan betapa aku sangat bahagia. Kuharap kau juga demikian.