
Liburan batal begitu saja gara-gara Tefan padahal aku juga menginginkan liburan itu. Sudah lama tidak pernah merasai liburan dan sekarang gagal begitu saja. Tidak dipungkiri aku juga membathin soal ini.
Kuputuskan untuk menelpon Nina. Aku butuh teman curhat dan selalu Nina-lah orangnya.
"Halo, Nin!"
Ucapku setelah smabungan terhubung ke nomor Nina. Suara Nina terdengar gembira ketika menjawab telponku, oleh karena itu aku memutuskan untuk tidak bercerita dulu. Melainkan membiarkan dia meluapkan kebahagiaannya.
"Yan...! Kebetulan sekali, tadinya aku mau telpon kamu. Aku punya berita gembira. Aku yakin kamu akan senang." Serunya heboh.
"Apa?"
"Aku hamil."
Wah mataku terbelalak begitu saja mendengar Nina mengucapkan dua kata itu. Terharu setelah penantian cukup lama akhirnya diberi kesempatan untuk hamil.
"Yang bener Nin? Kapan ngeceknya?" jawabku tak kalah antusias.
"Semalam aku cek pake test pack, tadinya aku gak mau cek karena aku juga biasa begitu. Haidnya kadang gak teratur. Tapi suami selalu bilang, cek aja dulu. Akhirnya aku cek dan ternyata ada dua garis merah. Aku bahagia banget, suami malah terharu sambil meluk aku erat-erat."
"Syukurlah, aku ikut bahagia Nin. Jaga baik-baik kandunganmu jangan capek-capek dulu, istirahat yang banyak. Katanya trimester pertama itu rentan. Coba cek ke dokter juga biar aman semuanya."
"Pasti, rencana sore ini akan menemui dokter kandungan. Oh Iyah Yan, kamu sudah di Lombok belum? Ciee yang lagi liburan berdua."
Mendengar pertanyaan Nina yang terlontar begitu saja aku jadi menghembuskan nafas panjang lalu lanjut bicara.
"Fiuhhh! Itu dia yang mau aku cerita sama kamu Nin. Acara liburanku gagal dan sekarang aku di rumah saja lagi malas ke mana-mana."
"Kok bisa?"
"Ya bisa, semua itu akibat perbuatan mantan suami kamu yang egois itu."
"Maksud kamu Tefan?"
"Memangnya kamu punya berapa mantan suami sih? Siapa lagi kalau bukan dia."
"Waktu itu kan gak sengaja kita berdua bertemu di sebuah cafe, nah sekarang dia tiba-tiba saja muncul mencegat mobil Saka saat hendak ke Bandara. Entah dia tahu dari mana yang pasti aku sangat marah sama dia. Belum lagi sifat kekanakan dua pria dewasa ini, mereka berkelahi di tepi jalan. Bergumul saling memukul sampai keduanya babak belur dan memilih menyudahi perkelahian mereka."
__ADS_1
"Ya ampun! Sudah pasti Saka cemburu sama kamu. Walauapun dia belum tahu masa lalu kamu seperti apa dengan Tefan tapi pria mana yang gak akan cemburu melihat perempuan yang tengah bersamanya diincar pria lain."
"Shhh... Aku kesal dibuatnya. Aku meninggalkan Tefan di sana dan meminta agar Saka mengantarku pulang. Aku tidak mau melanjutkan liburan dengan perasaan kesal. Mood-ku hancur begitu saja karena ulah mereka."
"Sebaiknya kamu jelasin semuanya pada Saka, sebelum terlambat. Kamu mencintai dia kan?"
"Entahlah Nin, aku masih ragu sama perasaanku. Tapi aku tidak menyangkal setiap kali Saka menyentuhku, selalu ada desiran tidak jelas. Tapi aku juga tidak mau berspekulasi, aku ingin memastikan sendiri perasaan itu."
"Dengan Tefan bagaimana?"
"Aku tidak akan mengecewakan orang tuaku Nin. Perasaan pada Tefan mungkin sudah pergi begitu saja saat dia tak mau berjuang untuk hubungan kita berdua."
"Kalau begitu hargai perasaan Saka, aku setuju kamu sama dia. Aku yakin dia bisa menjaga kamu dari Om Roy, atau bahkan dari Tefan sekali pun. Yang terpenting sekarang adalah kamu jujur pada Saka."
"Iyah, aku akan cerita semuanya ke dia. Kuharap dia mengerti agar aku yakin sama dia dan juga yakin sama perasaanku terhadapnya."
"Ya sudah, aku mau siap-siap nih ke butik. Mengenai Tefan jangan terlalu dipikir. Buang-buang energi dan waktu saja. Kamu pikirkan saja perasaan Saka. Ha ha ha..."
Sambungan telpon terputus dan aku mengirim pesan singkat pada Saka.
Pesan itu kukirim tanpa menunggu balasan. Aku tidur siang itu dengan perasaan damai. Bagus juga menghubungi Nina, dia selalu punya solusi terbaik.
***
Sorenya saat bangun tidur, aku mengecek ponsel kalau saja ada balasan dari Saka. Aku senyum sendiri saat melihat pesan dia.
Aku belum baik, aku masih terluka, itu semua gara-gara kamu. Kamu gak bisa bedain ya aku cemburu sama kamu. Awas saja kamu tiba di sini, akan kumakan kamu."
Aku letakkan ponsel di atas nakas kemudian ke kamar mandi. Aku ingin berendam sejenak ke dalam bak. Sudah lama rasanya tidak pernah menikmati berlama-lama berendam. Selama ini aku seperti dikejar waktu, selalu saja buru-buru, seperti tidak ada waktu santai.
Setelah berendam cukup lama dan membilas badan, aku pun berganti pakaian dan menemui Mama dan Papa di bawah.
"Tumben kamu gak ke mana-mana?" Sapa Mama yang sedang santai bersama Papa di ruang keluarga.
"Lagi malas keluar Ma."
"Loh bukannya kamu harusnya liburan bersama Saka?"
__ADS_1
"Batal." jawabku pendek dan mecomot satu biskuit dari toples.
"Kok bisa?"
"Saka sibuk," kilahku berbohong. Aku tidak mau Mama atau Papa sampai tahu kalau penyebab aku dan Saka tidak jadi berangkat itu karena ulah Tefan.
Jika aku jujur, tahu saja reaksi Mama akan seperti apa. Dia itu seperti orang alergi jika menyebut nama Tefan, apa lagi Om Roy. Bisa-bisa seharian juga Mama tidak akan kelar-kelar marahnya.
"Dia mendadak ada urusan yang katanya tidak bisa dia tinggalkan. Soal liburan katanya nanti dijadwal ulang." Lanjutku lagi.
Maaf ya Saka, kali ini kamu harus aku jadikan kambing hitam dulu. Aku hanya tidak mau Mama kepikiran jika harus jujur. Lagian itu juga salah kamu pakai berkelahi segala.
"Pa, gimana kondisi kaki Papa? Kemarin sudah ke dokter lagi kan?"
"Menurut dokter masih ada kemungkinan untuk bisa berjalan lagi, asal harus rajin terapi."
"Syukurlah, aku senang dengarnya. Aku rindu Papa bisa jalan lagi dan kita mancing lagi."
Aku mulai bergelayut manja pada Papa, karena aku anak satu-satunya jadi mungkin semasa kecil Papa sangat memanjakanku jadi kemanjaan itu terbawa hingga aku dewasa.
"Papa harus rajin terapi berarti. Tenang saja, Riana akan selalu temani Papa terapi. Biar makin semangat."
Papa tertawa melihatku, dia masih saja memperlakukan sama seperti waktu kecil. Rambutku dibelainya lembut dan kadang malah mencubit pipi.
"Kamu harus janji." ucap Papa kemudian sambil menyentil hidungku seperti anak kecil.
"Pasti. Kapan jadwal terapi Papa?"
"Dua kali seminggu. Senin dan Kamis."
"Baiklah, berarti Senin dan Kamis adalah waktu bersama Papa."
***
Halo semua... Terimakasih sudah baca novel saya, mohon dukungannya ya, untuk like, vote, komen dan jadikan favorit kamu.
.....
__ADS_1